Bagian 10 - Uap Dari Panas Bumi
Angin malam berembus lebih kencang dari biasanya, membawa aroma asin laut bercampur bau tanah basah yang anehnya semakin tajam sejak kabar proyek pembangkit listrik itu sampai ke telinga Aluna dan Nisa. Desa itu tak pernah benar-benar sunyi, tetapi malam itu kesunyian terasa seperti sesuatu yang hidup. Mengintai, menunggu, bernapas di sela-sela dinding kayu rumah sepupu Nisa.
Aluna duduk di tepi ranjang dengan ponsel di tangan. Layar yang semula terang kini redup, menyisakan bayangan wajahnya sendiri yang tampak pucat. Percakapan dengan tim kantor masih terngiang jelas di kepalanya. Proyek pembangkit listrik di Flores. Investasi besar. Lokasi strategis. Dan yang paling mengganggu, tanah yang akan dipakai berada tak jauh dari desa tempat mereka menginap.
Nisa berdiri di dekat jendela, menyingkap tirai tipis yang bergerak perlahan tertiup angin. "Kamu yakin ini cuma kebetulan?" tanyanya pelan.
Aluna tak langsung menjawab. Sejak mereka datang, terlalu banyak hal ganjil terjadi. Genteng rumah Ibu Susi bocor tanpa sebab jelas. Warga satu per satu mengalami penyakit kulit misterius, bercak merah yang tak kunjung sembuh, terasa panas seperti terbakar dari dalam. Anak Ibu Susi yang baru pulang dari tanah rantau menghilang tanpa jejak. Dan setiap kali mereka berniat pergi, selalu ada halangan seolah desa itu menahan mereka.
"Kebetulan terlalu sering terjadi di sini," gumam Aluna akhirnya.
Ia bangkit dan menghampiri Nisa. Dari jendela, jalan desa tampak lengang. Hanya lampu-lampu redup di beberapa rumah yang menyala seperti kunang-kunang sekarat. Namun di ujung jalan, dekat pohon besar yang akarnya mencuat ke permukaan tanah, Aluna merasa melihat sesuatu. Sosok tinggi, kurus, berdiri terlalu diam untuk disebut manusia.
Nisa ikut menatap. "Kenapa, Lun?"
"Gak ... mungkin cuma bayangan."
Di kamar kecil itu, Aluna dan Nisa kini duduk berhadapan di lantai. Ponsel, buku catatan, dan satu kamera saku milik Nisa tergeletak di antara mereka.
"Kalau kita memang harus kirim laporan," kata Nisa pelan, "kita mulai dari yang masuk akal dulu."
Aluna mengangguk. "Air sumur. Atap bocor. Penyakit kulit. Tekanan fasilitas naik."
Ia membuka catatan di ponselnya, mencoba menyusun poin-poin yang bisa dipahami orang kantor, tanpa menyentuh bagian yang sulit dijelaskan.
"Besok pagi kita wawancara beberapa warga," lanjut Nisa. "Jangan bilang soal proyek dulu. Bilang aja buat tugas kampus atau semacamnya."
Aluna hampir tersenyum. "Kita udah lulus."
"Ya pokoknya alasan netral."
Pagi datang tanpa matahari.
Langit tetap abu-abu, seolah malam tidak pernah benar-benar pergi. Aluna dan Nisa memulai dari rumah paling dekat—rumah Pak Harun, pria paruh baya yang sehari-hari bekerja sebagai teknisi di fasilitas panas bumi.
Pak Harun duduk di teras dengan lengan digulung sampai siku. Bercak kemerahan terlihat jelas di kulitnya.
"Boleh kami tanya sedikit, Pak?" ujar Nisa sopan.
Pak Harun menatap mereka beberapa detik sebelum mengangguk. "Tanya saja."
Aluna mengaktifkan perekam suara di ponselnya.
"Kapan mulai terasa perubahan, Pak?" tanyanya hati-hati.
Pak Harun menghela napas. "Sekitar dua minggu lalu. Tekanan uap naik. Katanya normal. Tapi sejak itu air sumur jadi agak aneh."
"Aneh bagaimana?"
"Kadang keruh. Kadang ada bau." Ia menatap telapak tangannya. "Lalu kulit mulai gatal."
"Sudah dilaporkan ke atasan di fasilitas?" tanya Nisa.
Pak Harun tersenyum tipis tanpa humor. "Sudah. Jawabannya selalu sama. Aman."
Aluna mencatat cepat.
"Apakah ada kejadian lain? Misalnya suara atau getaran?"
Pak Harun terdiam.
Angin berhenti sesaat. Suasana terasa lebih sunyi.
"Ada," katanya pelan. "Kadang malam terdengar suara seperti siulan dari arah danau."
Jantung Aluna berdegup lebih cepat.
"Siulan?" ulangnya.
Pak Harun mengangguk. "Dulu tidak pernah ada."
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar dentuman rendah. Semua menoleh ke arah fasilitas.
Pak Harun berdiri perlahan. "Tekanannya lagi."
Aluna menghentikan rekaman. Namun, ketika ia memeriksa layar, perekamannya kosong. Durasi: 00:00.
"Loh?" bisiknya.
Ia mencoba lagi. Rekam. Suara angin tertangkap jelas.
Tetapi saat Pak Harun kembali bicara, suara itu tidak masuk. Seolah ponsel hanya merekam bagian tertentu. Nisa menatap layar dengan alis terangkat. "Kok bisa?"
Pak Harun memandang mereka dengan tatapan sulit ditebak. "Kadang alat tidak bekerja baik di sini."
Kalimat itu terdengar biasa. Tapi, nadanya tidak.
Rumah kedua adalah milik Ibu Ranti, yang kulit tangannya mulai mengelupas tipis.
"Air hujan sekarang beda," katanya. "Kalau kena kulit lama-lama perih."
Aluna meminta izin mengambil sampel air dari ember penampung hujan. Airnya terlihat sedikit kehijauan. Nisa memotretnya. Namun ketika foto diperiksa, warna air terlihat jernih. Padahal, di ember jelas berbeda.
"Kamera kamu rusak?" tanya Aluna pelan.
Nisa menggeleng. "Tadi malam normal."
Mereka saling pandang.
Seolah ada sesuatu yang memilih apa yang boleh terdokumentasi.
Waktu terus berlalu. Tak sadar hari sudah menjelang siang. Tanpa rasa lelah mereka berjalan mendekati danau. Beruntung kabut siang itu menggantung lebih rendah. Air tampak lebih gelap.
Aluna berdiri di tepi, mencoba mengambil foto permukaan danau. Di layar ponsel, air tampak biasa. Namun ketika ia sedikit memiringkan sudut, siluet gelap terlihat berdiri jauh di tengah.
Ia membeku.
"Nis..."
Nisa mendekat.
Di layar, sosok itu jelas—tinggi, diam, menghadap ke arah mereka. Tetapi saat Nisa mengangkat pandangan dari layar ke danau, kosong.
"Masih ada?" bisik Nisa.
Aluna menatap layar.
Sosok itu perlahan mengangkat tangan. Menunjuk ke arah fasilitas. Lalu layar tiba-tiba mati. Baterai 70% berubah menjadi 1%. Kemudian, ponsel mati total.
Nisa menarik napas tajam. "Ini nggak normal."
Aluna menelan ludah. "Kita tetap kirim laporan. Apa pun yang bisa."
Berbekal ponsel cadangan milik Aluna, siang itu mereka berhasil mendapatkan sedikit sinyal di ujung desa.
Aluna mengetik laporan singkat untuk Arman:
Tekanan meningkat. Air berubah warna. Warga alami iritasi. Dokumentasi visual terganggu. Dugaan dampak lingkungan serius.
Ia menekan kirim.
Pesan tertunda beberapa detik.
Lalu terkirim.
Beberapa menit kemudian, balasan masuk.
Terima. Hati-hati. Jangan ambil risiko berlebihan.
Aluna membeku.
Aluna menghela napas. Untuk pertama kalinya, ia merasa ada jembatan antara desa ini dan dunia luar.Tapi saat Aluna hendak mematikan layar, notifikasi lain muncul.
Bukan dari Arman. Tidak ada nama pengirim. Hanya satu pesan pendek:
Jangan gali lebih dalam.
Nisa menatapnya. "Siapa?"
"Tidak ada nama."
Mereka mencoba membalas. Pesan gagal terkirim. Nomor juga tidak bisa dilacak. Angin mendadak berembus kencang, membuat pepohonan di sekitar danau bergoyang. Kabut bergerak lebih cepat, seperti pusaran tipis. Dan untuk sesaat, dari arah fasilitas terdengar suara panjang. Bukan dentuman. Bukan mesin. Melainkan sesuatu yang menyerupai siulan ... namun lebih dalam. Lebih berat. Seolah datang dari bawah tanah.
Aluna merasakan kesadaran mengerikan merayap dalam pikirannya. Mereka tidak hanya berhadapan dengan proyek yang mungkin bermasalah. Mereka juga tidak hanya berhadapan dengan fenomena alam. Ada sesuatu yang mengatur apa yang bisa direkam. Apa yang bisa dilihat. Apa yang bisa dikirim keluar desa. Dan sesuatu itu, baru saja memperingatkan mereka. Kabut semakin tebal saat malam turun. Lampu-lampu desa redup satu per satu. Aluna berdiri di jendela kamar, menatap kegelapan. Di kejauhan, di antara uap fasilitas dan bayangan danau, ia melihat siluet itu lagi. Lebih dekat dari sebelumnya.
Other Stories
Bungkusan Rindu
Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...
Kala Kisah Tentang Cahaya
Kala, seorang gadis desa yang dibesarkan oleh neneknya, MbahRum. tumbuh dalam keterbatasan ...
315 Kilometer [end]
Yatra, seorang pegawai kantoran di Surabaya, yang merasa jenuh dengan kehidupan serba hedo ...
Jogja With You
Tertinggal kereta mungkin tidak selamanya menjadi hal buruk. Mungkin Tuhan mau kamu bertem ...
Dua Bintang
Bintang memang selalu setia. Namun, hujan yang selalu turun membuatku tak menyadari keha ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...