Uap Dari Panas Bumi

Reads
359
Votes
42
Parts
11
Vote
Report
Penulis Rahmayanti Kasman Putri

Bagian 8 - Bergegas Pulang

Langit pagi ini berwarna abu pucat, seperti sisa hujan semalam masih menggantung enggan pergi. Udara terasa lebih lembap dari biasanya, dan bau belerang samar masih tercium di sela-sela angin.

Aluna berdiri depan cermin kecil di kamar, memperhatikan bercak kemerahan di lehernya. Tidak terlalu besar, tetapi jelas berbeda dari kemarin. Kulitnya terasa panas jika disentuh.

Di belakangnya, Nisa sedang memasukkan pakaian ke dalam ransel dengan gerakan cepat dan gelisah.

"Kita nggak bisa nunggu lebih lama lagi, Luna," katanya tegas. "Semakin hari makin aneh."

Aluna mengangguk pelan. "Iya. Kita pulang hari ini."

Keputusan itu terasa seperti napas panjang yang akhirnya dilepaskan. Beberapa hari terakhir ini dipenuhi hal-hal yang terlalu sulit dijelaskan. Atap bocor dengan air keruh, warga yang mendadak mengalami iritasi kulit, suara-suara aneh dari arah danau dan perasaan seolah desa ini perlahan berubah menjadi sesuatu yang asing.

Nisa menutup ranselnya keras. "Aku udah chat travel di kota. Katanya siang ini ada mobil yang bisa jemput sampai jalan utama."

Aluna mencoba tersenyum. "Baguslah."

Namun entah kenapa, dadanya tidak sepenuhnya lega.

Dari tempat yang berbeda, terlihat ada Susi yang lebih pucat pagi itu. Ia berdiri di dapur sambil mengaduk teh, lengan panjangnya menutupi kulit yang masih memerah.

"Mau pulang?" tanyanya pelan saat Nisa memberi tahu.

"Iya, Bu," jawab Nisa hati-hati. "Ada urusan mendadak."

Susi tersenyum tipis, tetapi ada sesuatu yang ganjil dalam tatapannya. "Cepat banget."

Aluna merasa seperti sedang diuji. "Maaf, Bu. Nanti kami balik lagi."

Susi tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap mereka beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.

Lalu terdengar suara retakan kecil dari atap dapur.

Tek.

Ketiganya mendongak.

Tidak ada hujan.

Namun setetes air jatuh tepat di meja kayu.

Plok.

Air itu keruh. Dan bau belerang terasa lebih tajam.

Nisa menelan ludah. "Gentengnya bocor lagi?" tanyanya.

Susi tidak menjawab. Ia hanya memandangi tetesan itu dengan ekspresi kosong.

Menjelang ke siang hari, mereka berdiri di tepi jalan desa menunggu mobil jemputan. Tas sudah di punggung. Jantung Aluna berdetak lebih cepat dari biasanya.

Desa tampak lebih sunyi hari itu.

Beberapa warga berdiri di depan rumah masing-masing, memandangi mereka tanpa senyum.

Seolah kepergian mereka adalah sesuatu yang aneh.

"Jam dua belas harusnya udah sampai," gumam Nisa sambil melihat ponselnya.

Tepat pukul dua belas lewat sepuluh menit, ponsel Nisa bergetar.

Ia menjawab cepat. "Halo?"

Aluna memperhatikan wajah sahabatnya berubah perlahan.

"Putar balik? Kenapa?" suara Nisa meninggi.

Beberapa detik hening.

"Longsor?"

Jantung Aluna mencelos.

Nisa menutup telepon dengan tangan gemetar. "Jalan utama ke kota ketutup longsor. Katanya semalam hujan bikin tanah turun."

"Serius?" bisik Aluna.

"Iya. Mobilnya nggak bisa masuk."

Hening.

Angin berembus lebih dingin.

Aluna menoleh ke arah lereng bukit. Tanah di sana memang terlihat lebih gelap, seolah baru saja tergerus.

"Tapi hujannya nggak deras," gumamnya.

Nisa menggeleng pelan. "Katanya cuma satu sisi. Tapi cukup buat nutup jalan."

Seolah belum cukup, terdengar suara gemuruh jauh dari arah fasilitas panas bumi.

Dentuman rendah.

Tanah bergetar tipis.

Beberapa warga langsung menoleh ke arah yang sama.

"Tekanannya naik lagi," terdengar seseorang berbisik.

Aluna merasakan ponsel di sakunya bergetar. Ia membeku. Pelan-pelan, ia mengeluarkannya. Layar menyala sendiri. Tidak ada notifikasi. Namun, kamera aktif. Menampilkan wajahnya dan Nisa berdiri di pinggir jalan.

Dan di belakang mereka, tampak siluet gelap berdiri di tengah jalan desa. Tinggi. Diam. Menghadap lurus ke arah mereka.

Aluna menoleh cepat.

Jalanan kosong. Ia kembali menatap layar. Sosok itu lebih dekat sekarang. Kabut tipis mulai muncul di sekitar kakinya.

"Luna ..." suara Nisa bergetar.

"Kamu lihat nggak?" bisik Aluna.

"Apa?"

Aluna tidak menjawab. Ia menjatuhkan ponsel. Begitu layar menyentuh tanah, kamera mati. Langit yang tadi hanya mendung tipis kini berubah lebih gelap. Angin berhenti mendadak. Sunyi, terlalu sunyi. Tiba-tiba, terdengar suara siulan panjang. Naik turun. Siulan itu, datangnya dari segala arah. Beberapa warga menutup telinga.

"Masuk rumah!" teriak seseorang.

Aluna merasakan dada sesak. Ini bukan kebetulan. Longsor, tekanan fasilitas naik, jalanan tertutup dan sosok itu muncul tepat saat mereka hendak pergi. Seolah desa ini menarik mereka kembali.

Akhirnya, tanpa pikir panjang, saat itu juga mereka langsung kembali ke rumah Susi. Tidak membutuhkan waktu begitu lama, mereka sudah sampai di rumah. Saking terburu-burunya untuk balik, tas yang dibawa pun belum dibongkar. Namun, diletakkan lagi di sudut kamar.

Nisa duduk di tepi kasur, wajahnya pucat. "Kita bisa nunggu sampai jalan dibersihkan. Besok mungkin."

Aluna tidak menjawab.

Ia berdiri di dekat jendela, memandangi jalan desa yang kini kosong. Dari arah kejauhan terlihat kabut mulai turun lebih cepat dari biasanya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu sebanyak tiga kali. Susi yang saat itu sedang duduk di ruang tamu, akhirnya berdiri, siap membukakan pintu. Pelan, sangat pelan.

Nisa menoleh. "Siapa?"

Tidak ada jawaban.

Tidak ada siapa-siapa di luar.

Tetapi, tepat di depan ambang pintu, ada jejak kaki basah. Jejak itu mengarah masuk. Jejak yang berasal dari tanah bercampur sisa air kehijauan. Tak lupa, membawa bau belerang menyengat. Aluna yang sadar akan hal itu langsung mundur selangkah. Jejak itu berhenti di tengah ruang tamu. Kemudian, menghilang seolah diserap lantai.

Susi segera menutup pintu perlahan tanpa berkata apa-apa. Wajahnya tidak lagi menunjukkan keterkejutan. Melainkan sesuatu yang lebih mengerikan. Penerimaan. Malam turun lebih cepat.

Lampu-lampu desa menyala kian redup. Dari arah danau, terdengar suara gemuruh pelan seperti air mendidih jauh di bawah tanah.

Nisa memeluk lututnya di kasur. "Ini nggak masuk akal."

Aluna akhirnya berkata pelan, "Mungkin ... emang nggak dimaksudkan untuk masuk akal."

"Kamu maksudnya?"

Aluna menatap jendela yang kini dipenuhi embun.

"Sejak kita datang, semuanya berubah. Atap bocor. Orang-orang sakit. Jalan longsor tepat saat kita mau pergi."

Nisa terdiam.

"Seolah ..." lanjut Aluna, "... ada sesuatu yang nggak mau kita pergi."

Hening menggantung di antara mereka. Di luar, siulan itu terdengar lagi. Lebih dekat.

Dan untuk pertama kalinya, Aluna merasa yakin akan satu hal, bahwa desa ini tidak hanya menjadi tempat mereka berlibur. Ia menjadi ruang tertutup. Perangkap. Dan penunggunya sudah sadar bahwa dua orang tamu ini sedang berusaha kabur.

Sementara kabut semakin tebal di luar, menelan jalan, menelan halaman, menelan jarak—

Aluna tahu bahwa pulang bukan lagi soal kendaraan atau longsor.

Melainkan soal izin.

Dan sejauh ini ...

Izin itu belum diberikan.

Other Stories
Kisah Cinta Super Hero

cahyo, harus merelakan masa mudanya untuk menjaga kotanya dari mutan saat dirinya menjadi ...

Menjamah Jauh: Tentang Kota Dan Kenangan

Kadang, cerita liburan tak selalu berakhir indah. Musim panas tahun lalu di Malang, Tama m ...

Perjalanan Terakhir Bersama Bapak

Sepuluh tahun setelah kepergian ibunya saat melahirkan Ale, Khalil tumbuh dengan luka yang ...

Kehidupan Yang Sebelumnya

Aku menunggu kereta yang akan membawaku pulang. Masih lama sepertinya. Udara dingin yang b ...

Yang Dekat Itu Belum Tentu Lekat

Dua puluh tahun sudah aku berkarya disini. Di setiap sudut tempat ini begitu hangat, penuh ...

Hotel Tanpa Cermin

Kala memilih menetap sementara di sebuah hotel yang terasa berbeda dari tempat-tempat yang ...

Download Titik & Koma