315 Kilometer [end]

Reads
289
Votes
13
Parts
13
Vote
Report
315 kilometer [end]
315 Kilometer [end]
Penulis Andi Yudaprakasa

1. Keberangkatan

05.30 WIB
315 km menuju Banyuwangi

Langit nampak gelap oleh awan yang menggelayut

Sebagian besar lampu- lampu gedung yang menjulang dan rumah- rumah telah dimatikan. Jalanan kompleks perkampungan di sudut kota itu nampak masih lengang dan sunyi— dengan hanya suara orang mengaji yang terdengar dari mushola selepas ibadah subuh tadi.

Di ujung jalan, nampak seorang lelaki yang tengah mendorong motor keluar pagar dari sebuah rumah kost besar.

Melihat penampilannya yang mengenakan jaket outdoor, celana jeans, delta boots dan sebuah ransel militer, sudah bisa dipastikan ia hendak melakukan sebuah perjalanan jauh. Ia memarkir motor itu di depan pagar, lalu menyalakan mesin.

-Brumm

Suara knalpot dua silinder motor scrambler hijau itu terdengar mendengung pada RPM langsam.

Ia menutup pagar kost, lalu berjalan kembali menuju motor sambil melempar puntung rokok filternya ke tanah, menginjaknya sampai padam.

Lelaki itu menaiki motor, mengaitkan tali helm pilot nya.
Sejenak ia melirik jam tangannya.
Sebenarnya Yatra berencana untuk pulang siang ini— namun ada satu hal yang mengharuskannya berangkat sekarang.

Suara klik ringan terdengar saat kakinya menginjak tuas perseneling— masuk ke gear satu.
Lalu ia pun melajukan motor pelan meninggalkan kost nya.

Motor 250cc itu keluar dari wilayah perkampungan, memasuki jalan raya Surabaya yang nampak masih begitu kosong.
Jalanan yang setiap harinya selalu padat sesak oleh kendaraan ini kini terasa sangat berbeda.

Adalah Yatra Prawira, seorang lelaki berusia 26 tahun, yang saat ini tengah bekerja di sebuah perusahaan finance swasta.
Ia berasal dari Banyuwangi, tepatnya di daerah Ketapang. Dan pagi ini, ia akan berkendara sejauh 300 kilometer untuk pulang menuju kampung halaman.

Sudah sejak dua minggu lalu, rekan- rekan kerja di kantornya begitu heboh merencanakan liburan bersama mereka. Sebab di akhir bulan ini, akan ada long weekend; dua tanggal merah berturut di hari Kamis dan Jumat, yang kemudian dilanjut dengan libur rutin Sabtu dan Minggu.

-----

"Bali! Pokoknya kita harus ke Bali!" Bayu, nampak antusias menscroll layar komputernya. Ia tengah membaca artikel tentang spot- spot yang wajib dikunjungi saat liburan ke pulau dewata.

"Pokoknya liburan ini kita harus dapat vibes sunset, pantai dan bule- bule berbikini," seru Bayu sambil kedua tangannya meng-gestur membentuk dua bulatan di depan dada.

"Ah, males," Nitya menatap Bayu hina. "Kelihatan banget niat aslimu kepingin ke Bali. Gini deh Yu, ini kan long weekend. Orang- orang pasti tumpah ruah di Bali. Udah macet, penuh wisatawan pula. Males!"

"Gimana kalau ke Jogja aja? Vibes nya kan budaya Jawa banget tuh?" Santi mengusulkan opsi lain. "Keraton, tari tradisional, gamelan, museum. Romantis nggak sih?"

"Gamelan dan museum?" sanggah Riski. "Malah horor jatohnya. Kamu nggak pernah nonton film keramat?"

"Jogja sih lebih cocok buat karyawisata anak SD!" tambah Bayu meremehkan. "Long weekend itu vibes nya harus yang woles. Pantai. Chek in hotel— lalu uhuy!"

"Kamu waktu bayi enggak di yasin in ya?" Nitya mencibir Bayu sambil menyeruput gelas teh nya. "Otak kok isinya material dewasa semua."

"Atau gimana kalau nanjak Semeru?"

"Males ih, kita ini pinginnya liburan. Bukan nyiksa betis."

"..."

"..."

"Nah, coba sekarang kita tanya sama yang diem aja dari tadi," Santi berbalik, menoleh ke arah Yatra yang nampak sibuk mengetik report excel nya. "Kamu ada ide nggak buat long weekend depan?"

"Terserah kalian," jawab Yatra tak menoleh dari layar komputernya. "Aku nggak ikut."

"Nggak ikut?" Riski mengernyit. "Masa nggak ikut? Nggak asyik banget sih kamu?"

"Hah? Yang bener dong?" Santi menunjuk ke arah Riski dan Bayu. "Kamu nggak ikut, berarti aku sama Nitya harus liburan cuma sama dua biawak ini?"

"Yatra, ikut dong ya?" Nitya mencoba merayu, mengedipkan matanya.
"Nanti tante kasih sesuatu deh."

"Aku juga mau tuh dikasih sesuatu'" timpal Bayu.

Nitya melempar kertas ke kepala Bayu.

Yatra menarik nafas panjang sambil menyandarkan punggung pada kursi. Ia sejenak menatap wajah- wajah rekan kantornya ini.
"Aku mau pulang."

"Pulang?" Santi memiringkan kepalanya.

"Iya. Long weekend ini aku mau pulang ke Banyuwangi," Yatra melipat lengan, mengusap dagunya. "Udah hampir setahun aku gak pulang, guys. Masa setiap liburan aku harus jalan terus sama kalian?"

"..."

"Ya— iya juga sih," Nitya dan yang lain berpandangan satu sama lain. Mereka merasa sedikit bersalah sebab setiap kali ada liburan, dengan seenaknya mereka selalu menyeret Yatra begitu saja.

Nitya dan yang lain berasal dari Surabaya dan sekitarnya, sehingga setiap weekend mereka sering kali pulang bertemu dengan orang tua.
Tapi Yatra?

Ia berasal dari Banyuwangi— sebuah kabupaten yang berkarak ratusan kilometer dari sini.
Bisa memiliki waktu luang untuk pulang adalah hal mewah untuknya.

"Kalau begitu, mungkin buat long weekend kali ini lebih baik kita nggak ke mana- mana," ucap Bayu

"Yah, gimana sih?" lirih Riski terdengar agak kecewa.

"Kamu yang gimana? Masa kita seneng- seneng Yatra nggak ikut?" Santi menyikut pelan lengan Riski.

Yatra mengangkat alis. "Santai dong. Kalian berangkat aja. Aku ini mau pulang— bukan berangkat perang. Ya aku nanti di Banyuwangi juga seneng- seneng kok."

Nitya mengulurkan tangannya. "Tra, beneran nggak apa nih?'

"Iya," Yatra menunjuk Riski dan Bayu dengan gerakan kepala. "Kamu sama Santi berangkat aja sama mereka. Tapi kalian berdua harus hati- hati."

"Hati- hati?" Santi mengernyit.

"Sekarang lagi musim kawin biawak."

"Ah, Yatra taik!" Bayu dan Riski tertawa.

-----

-bruumm...

Pergelangan Yatra berputar pelan membuka gas setangnya— membuat motor itu melaju sedikit lebih kencang.

Suara sapu korek para petugas kebersihan terdengar nyaring beradu dengan aspal penuh dedaunan.
Becak dan motor para penjual sayuran berlalu lalang, seawal ini untuk menuju ke pasar.
Lampu- lampu pucat jalanan berkelebat ke belakang, mengiringi motor scrambler hijau itu menyusuri jalanan.
Meninggalkan kota Surabaya.

Untuk menempuh jarak 315 kilometer ke ujung Timur Pulau Jawa













Other Stories
Suara Dari Langit

Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...

Pertemuan Di Ujung Kopi

Dari secangkir kopi yang tumpah, Aira tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berpapasan kemba ...

Bungkusan Rindu

Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...

Di Bawah Atap Rumah Singgah

Vinna adalah anak orang kaya. Setelah lulus kuliah, setiap orang melihat dia akan hidup me ...

Bukan Cinta Sempurna

Pesona kepintarannya terpancar dengan jelas, rambut sebahunya yang biasanya dikucir ekor ...

Just, Open Your Heart

Muthia terjebak antara cinta lama yang menyakitkan dan cinta baru dari bosnya yang penuh k ...

Download Titik & Koma