C. Kehidupan Baru
Pagi hari di Surabaya terasa begitu berbeda dengan desanya di Banyuwangi. Jika di desa kehidupan dimulai sejak subuh hari, di sini perang dimulai bersamaan dengan naiknya matahari. Padat kendaraan tumpah ruah memenuhi jalan arteri— orang kerja, sekolah dan lainnya.
Suara klakson.
Riuh.
Kacau.
Tapi membuat Yatra merasa hidup. Darah mudanya tertantang untuk menaklukkan jalanan. Ia mengendarai motor Ninja hijaunya meliuk, melakukan filtering di antara celah mobil yang berjalan lambat.
Suara stereo dua silindernya seolah menjadi musik penyemangatnya menuju kantor.
Motor itu berbelok menuju sebuah gedung kantor yang terletak di daerah Ngagel. Seorang satpam mengangguk padanya saat ia memarkir motornya di dekat pos.
Yatra berdiri sejenak menatap gedung finance yang telah semingguan ini menjadi tempatnya bekerja. Ia menarik nafas— melangkah masuk menuju kehidupan barunya.
Yatra meletakkan tas ransel laptopnya di meja yang terelerak di tengah ruangan, tidak terlalu dekat jendela ataupun dekat dengan ruang Kacab. Ini adalah wilayah netral.
Tak lupa segelas kopi panas yang ia bawa dari pantry tadi. Uap panasnya mengepul mengisi ruang kantor itu.
Yatra melempar dirinya di kursi, menyalakan PC dan lalu menyisip kopinya selagi proses boot up.
"Ahh!' Yatra mencecap kopi pahitnya- membuatnya terbangun. Lalu ia pun segera melakukan log in, membuka Outlook yang menampilkan 15 email tak terbaca.
Subject: Clinet Financial Statement — PT. Sura Steel
Subject: Reminder: Agenda Komite Kredit
"Pagi—" sapa suara lembut di belakangnya. "Masih jam segini udah bukain email?"
Yatra berputar di kursinya, mendapati sesosok perempuan berdiri di meja sebelahnya. Perempuan berambut bob yang nampak cocok mengenakan kemeja seragam dan celana katun ketat.
Nitya.
"Iya. Curi start dikit," jawab Yatra.
"Masih seminggu sih, masih semangat banget," ujar Nitya meletakkan tas laptopnya ke atas meja. Ia mencondongkan badan, membaca judul inbox email Yatra. Lalu menunjuk layar dengan jarinya.
"Sura Steel kamu yang handle?"
"Iya," jawab Yatra lagi. "Kemarin baru aja dikasih."
"Hati- hati sama Sura Steel ya, itu PT favorit anak marketing," Nitya menggigit karet, mengikat rambutnya ke belakang.
"Hati- hati ini maksudnya—" Yatra mengernyit, mencoba mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai klien yang akan ia tangani. "Hati- hati yang bahaya, atau yang bagimana?"
"Ya tergantung kamu, mau bakal diteponin sama marketing malem- malem apa enggak," Nitya duduk di kursinya, merapikan sekilas meja kerjanya.
Yatra mengernyit, menggeleng. "Sori, aku bingung maksudnya."
"Well, selamat datang di Kredit Analis," Nitya tersenyun mengedipkan mata. "Kita semua bingung kok di sini."
Yatra terkekeh canggung— seolah mendapat gambaran bagaimana pekerjannya ke depan akan berlangsung. Tapi ia mengangguk, merasa nyaman dengan sambutan para staff seniornya.
Pekerjaan sebagai analis yang berkutat dengan angka sangat menuntut konsentrasi, membuat waktu berlalu begitu cepat tanpa terasa.
Menjelang jam istirahat siang, Yatra masih terlihat sibuk dengan keyboard dan excel sheet nya.
Yatra tengah mengerjakan financial statement milik Sura Steel. Revenue Q1 dan Q2 stabil. Margin net profit yang tidak terlalu besar. Dan hutang yang sedikit mengalami peningkatan.
Yatra pun melakukan penghitungan DSCR. Hasilnya adalah 1.18.
"Wah, mepet sekali," gumam Yatra menyandar pada kursi. Idealnya hasil rasio yang diinginkan adalah 1.25— sedangkan 1.18 walaupun sebenarnya masih terbilang aman, namun terlalu mepet.
Yatra pun melakukan adjustment pada perhitungan skenario; bagaimana jika revenue Q3 turun hingga 10%?
Hasil rasionya langsung drop ke 0.95.
Sangat tidak aman.
Yatra menarik nafas panjang. Nitya bilang bahwa Sura Steel adalah kesayangan anak Marekting— namun skenario menunjukkan bahwa rasionya tidak memungkinkan. Ia tidak boleh mengecewakan klien satu ini.
Maka di sinilah tugasnya sebagai analis diperlukan.
Yatra pun mengetik sebuah memo di sistem untuk dikirim kepada divisi Marketing:
Resiko: sensitif dengan penurunan revenue.
Mitigasi: pengurangan jumlah pinjaman yang akan disetujui atau dengan meminta tambahan kolateral.
Yatra menarik nafas panjang sambil mengamati jam di tangannya. Sudah tengah hari— saatnya secangkir kopi.
-----
"Thank you ya!" Riski, anak marketing, menepuk pundak Yatra saat ia tengah berjalan keluar lobby kantor. "Udah mau bikin rekom buat Sura Steel."
Langit Surabaya telah berwarna merah, dengan siluet gedung- gedung tinggi yang berdiri dingin dan angkuh. Belasan staff kantor finance tersebut sebagian telah meninggalkan halaman gedung.
Yatra mengangguk pelan, membalas sapaan Riski yang berbelok ke arah kantin.. "Aman."
Yatra berjalan menuju area parkir di sebelah pos satpam. Sejenak ia berhenti, mendongak menatap ke kejauhan. Memperhatikan burung- burung gereja yang terbang berkelompok pulang— seperti yang biasa ia lihat saat masih di desa.
"Aku bisa," gumam Yatra pada dirinya sendiri.
Perjalanan masih panjang, namun Yatra merasa optimis bahwa ia bisa bertahan bahkan berjuang untuk terus maju di sini.
Masa depannya akan ditentukan dengan angka, keputusan, dan approval nya sebagai seorang analis.
Yang pasti, Yatra merasa bahwa ada sebuah progress yang sedang ia lakukan.
Ia akan hidup, bukan sebagai lelaki yang terkurung sebuah kotak kecil bernama kebun di desa.
Tapi sebagai lelaki yang mengadu nasib di ibukota.
Yatra menaiki motor fairing 250cc nya dan menyalakan mesin. Yang segera menyambutnya dengan suara dengung ngebass dari knalpot nya.
Raka menginjak tuas perseneling.
Lalu melaju pelan meninggalkan kantor, membaur dengan padatnya kendaraan di jalanan Surabaya.
Suara klakson.
Riuh.
Kacau.
Tapi membuat Yatra merasa hidup. Darah mudanya tertantang untuk menaklukkan jalanan. Ia mengendarai motor Ninja hijaunya meliuk, melakukan filtering di antara celah mobil yang berjalan lambat.
Suara stereo dua silindernya seolah menjadi musik penyemangatnya menuju kantor.
Motor itu berbelok menuju sebuah gedung kantor yang terletak di daerah Ngagel. Seorang satpam mengangguk padanya saat ia memarkir motornya di dekat pos.
Yatra berdiri sejenak menatap gedung finance yang telah semingguan ini menjadi tempatnya bekerja. Ia menarik nafas— melangkah masuk menuju kehidupan barunya.
Yatra meletakkan tas ransel laptopnya di meja yang terelerak di tengah ruangan, tidak terlalu dekat jendela ataupun dekat dengan ruang Kacab. Ini adalah wilayah netral.
Tak lupa segelas kopi panas yang ia bawa dari pantry tadi. Uap panasnya mengepul mengisi ruang kantor itu.
Yatra melempar dirinya di kursi, menyalakan PC dan lalu menyisip kopinya selagi proses boot up.
"Ahh!' Yatra mencecap kopi pahitnya- membuatnya terbangun. Lalu ia pun segera melakukan log in, membuka Outlook yang menampilkan 15 email tak terbaca.
Subject: Clinet Financial Statement — PT. Sura Steel
Subject: Reminder: Agenda Komite Kredit
"Pagi—" sapa suara lembut di belakangnya. "Masih jam segini udah bukain email?"
Yatra berputar di kursinya, mendapati sesosok perempuan berdiri di meja sebelahnya. Perempuan berambut bob yang nampak cocok mengenakan kemeja seragam dan celana katun ketat.
Nitya.
"Iya. Curi start dikit," jawab Yatra.
"Masih seminggu sih, masih semangat banget," ujar Nitya meletakkan tas laptopnya ke atas meja. Ia mencondongkan badan, membaca judul inbox email Yatra. Lalu menunjuk layar dengan jarinya.
"Sura Steel kamu yang handle?"
"Iya," jawab Yatra lagi. "Kemarin baru aja dikasih."
"Hati- hati sama Sura Steel ya, itu PT favorit anak marketing," Nitya menggigit karet, mengikat rambutnya ke belakang.
"Hati- hati ini maksudnya—" Yatra mengernyit, mencoba mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai klien yang akan ia tangani. "Hati- hati yang bahaya, atau yang bagimana?"
"Ya tergantung kamu, mau bakal diteponin sama marketing malem- malem apa enggak," Nitya duduk di kursinya, merapikan sekilas meja kerjanya.
Yatra mengernyit, menggeleng. "Sori, aku bingung maksudnya."
"Well, selamat datang di Kredit Analis," Nitya tersenyun mengedipkan mata. "Kita semua bingung kok di sini."
Yatra terkekeh canggung— seolah mendapat gambaran bagaimana pekerjannya ke depan akan berlangsung. Tapi ia mengangguk, merasa nyaman dengan sambutan para staff seniornya.
Pekerjaan sebagai analis yang berkutat dengan angka sangat menuntut konsentrasi, membuat waktu berlalu begitu cepat tanpa terasa.
Menjelang jam istirahat siang, Yatra masih terlihat sibuk dengan keyboard dan excel sheet nya.
Yatra tengah mengerjakan financial statement milik Sura Steel. Revenue Q1 dan Q2 stabil. Margin net profit yang tidak terlalu besar. Dan hutang yang sedikit mengalami peningkatan.
Yatra pun melakukan penghitungan DSCR. Hasilnya adalah 1.18.
"Wah, mepet sekali," gumam Yatra menyandar pada kursi. Idealnya hasil rasio yang diinginkan adalah 1.25— sedangkan 1.18 walaupun sebenarnya masih terbilang aman, namun terlalu mepet.
Yatra pun melakukan adjustment pada perhitungan skenario; bagaimana jika revenue Q3 turun hingga 10%?
Hasil rasionya langsung drop ke 0.95.
Sangat tidak aman.
Yatra menarik nafas panjang. Nitya bilang bahwa Sura Steel adalah kesayangan anak Marekting— namun skenario menunjukkan bahwa rasionya tidak memungkinkan. Ia tidak boleh mengecewakan klien satu ini.
Maka di sinilah tugasnya sebagai analis diperlukan.
Yatra pun mengetik sebuah memo di sistem untuk dikirim kepada divisi Marketing:
Resiko: sensitif dengan penurunan revenue.
Mitigasi: pengurangan jumlah pinjaman yang akan disetujui atau dengan meminta tambahan kolateral.
Yatra menarik nafas panjang sambil mengamati jam di tangannya. Sudah tengah hari— saatnya secangkir kopi.
-----
"Thank you ya!" Riski, anak marketing, menepuk pundak Yatra saat ia tengah berjalan keluar lobby kantor. "Udah mau bikin rekom buat Sura Steel."
Langit Surabaya telah berwarna merah, dengan siluet gedung- gedung tinggi yang berdiri dingin dan angkuh. Belasan staff kantor finance tersebut sebagian telah meninggalkan halaman gedung.
Yatra mengangguk pelan, membalas sapaan Riski yang berbelok ke arah kantin.. "Aman."
Yatra berjalan menuju area parkir di sebelah pos satpam. Sejenak ia berhenti, mendongak menatap ke kejauhan. Memperhatikan burung- burung gereja yang terbang berkelompok pulang— seperti yang biasa ia lihat saat masih di desa.
"Aku bisa," gumam Yatra pada dirinya sendiri.
Perjalanan masih panjang, namun Yatra merasa optimis bahwa ia bisa bertahan bahkan berjuang untuk terus maju di sini.
Masa depannya akan ditentukan dengan angka, keputusan, dan approval nya sebagai seorang analis.
Yang pasti, Yatra merasa bahwa ada sebuah progress yang sedang ia lakukan.
Ia akan hidup, bukan sebagai lelaki yang terkurung sebuah kotak kecil bernama kebun di desa.
Tapi sebagai lelaki yang mengadu nasib di ibukota.
Yatra menaiki motor fairing 250cc nya dan menyalakan mesin. Yang segera menyambutnya dengan suara dengung ngebass dari knalpot nya.
Raka menginjak tuas perseneling.
Lalu melaju pelan meninggalkan kantor, membaur dengan padatnya kendaraan di jalanan Surabaya.
Other Stories
Dia Bukan Dia
Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...
Dari 0 Hingga 0
Tentang Rima dan Faldi yang menikah ketika baru saja lulus sekolah dengan komitmen ingin m ...
Impianku
ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...
Hati Yang Terbatas
Kinanti termenung menatap rinai hujan di balik jendela kaca kamarnya. Embun hujan mengh ...
Mozarella Bukan Cinderella
Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...