12. Satu Alasan
He said "one day,
You'll leave this world behind"
So live a life, you will remember..
Lagu Night_Avicii itu mengiringi sebuah video yang dikirim Nitya ke grup ANALIS - AHLINYA ANAL
Video yang menampilkan keseruan liburan tim analis Yatra di Bali. Potongan foto- foto satu detik yang dikompilasi, menampilkan sunset, pantai, bunga kamboja, villa rustik, pesta malam, dan wajah ceria Nitya, Santi, Bayu dan Riski.
Nitya: @Yatra really wish you were here
Santi: Senin ketemu di kantor ya. Aku bawain oleh- oleh.
Bayu: Riski semalem mainnya kasar. Perih banget nih aku T_T [mengirim stiker WA pria jomok]
Nitya: @Yatra can't you just kick this motherfucker out?
Yatra tersenyum tipis menatap layar ponselnya, membalas pesan mereka dengan emot tertawa. Mereka tidak perlu tahu keadaannya saat ini. Ia akan minta ijin tidak masuk kantor setelah mereka kembali dari Bali.
Yatra ingin menemani ibunya, setidaknya hingga sampai tujuh harian Baoak
"Mas, monggo kembaliannya," ujar seorang pedangang menyerahkan lembarang uang pecah.
Yatra mengangguk, memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
Lalu ia mengendarai scramblernya pulang dari pasar, Dengan sebuah kantong belanjaan besar menggantung di setang.
Belanjaan itu untuk memasak makanan bagi tamu- tamu tahlilan nanti malam.
Yatra melajukan motornya pelan melewati jalanan desa. Menikmati suasana pagi di desa, yang terasa berbeda setelah kepergian Bapak.
Menatap para warga yang sedang sibuk di sawah mereka.
Anak- anak berangkat sekolah menaiki gerobak sapi.
Ibu- ibu berdiri berkumpul di jalan depan, menenteng belanja, menggendong bayi sambil mengobrol riang.
Kehidupan masih berjalan seperti biasa, seolah kepergian Bapak hanyalah sebuah titik tak berarti yang menghilang begitu saja.
So live a life you will remember.
Benar sekali.
Kita harus menjalani hidup yang akan kita ingat ke depan.
Hidup yang meninggalkan kesan.
Namun Yatra kini sadar, bahwa hidup berkesan bukan hanya tentang bersenang- senang.
Tapi menjalani hidup sebaik- baiknya.
Seperti Bapak, yang meninggalkan kesan bagi Yatra.
Bapak yang berjuang, dengan segala keterbatasan untuk menghidupi keluarganya. Walaupun tidak sempurna, tapi Bapak berhasil membawa kehangatan dalam rumah sederhana itu.
----
Seminggu yang lalu, Yatra mengirim kabar bahwa ia akan pulang. Bapak dan Ibu begitu gembira karena Yatra akhirnya akan mengunjungi mereka setelah hampir setahun terus di Surabaya.
Seminggu yang lalu, Yatra merasa semuanya akan baik- baik saja. Ia sudah merencakan untuk berangkat Kamis siang, berkendara santai sembari menikmati perjalanan pulang.
Namun tiga hari yang lalu, Ibu mengabari Yatra bahwa masuk rumah sakit. Bapak ditemukan pingsan di kebun.
Bapak memaksakan diri kerja lebih— overexcited karena Yatra akan pulang.
Ia bahkan banyak menyiapkan ini itu di rumah 'buat Yatra nanti kalau sudah pulang' katanya.
Yatra sempat hendak pulang lebih awal, namun Bapak yang saat itu sadar bilang tidak usah. Bapak hanya butuh istirahat.
Dan tadi dinihari, Ibu mengabari Yatra: Bapak sudah tidak ada.
Karena itu Yatra segera berangkat subuh, agar secepatnya bisa sampai di rumah.
Kini Bapak sudah tidak ada.
Kebun sepetak itu sudah tidak ada yang mengurus.
Dan juga ibu— ia sendirian di sini.
Ketika Yatra berbincang dengan ibu tentang bagaimana kedepannya, ibu menyerahkan sesuatu padanya.
"Ini Le," ujar ibu menyodorkan buku tabungan milik Bapak— yang membuat Yatra terkejut saat melihat isinya.
Uang hasil panen Bapak sebagian besar selalu ditabung.
Dan bahkan seluruh uang kiriman Yatra setiap bulan, ibu tabung jadi satu di situ.
"Bapak selalu bilang ini nanti buat kamu. Buat kamu nikah nanti, buat kamu hidup di Surabaya karena Bapak nggak bisa ngasih kamu hidup macam- macam saat kamu kecil."
"Tabungan ku sudah banyak Bu," Yatra menggeleng. "Lebih baik buat ibu saja."
Ibu hanya tersenyum. "Ibu sekarang sendirian. Tidak banyak butuhnyai. Ibu sendiri punya tabungan yang lumayan kok kalau cuma buat sehari- hari."
"..."
"Lagipula ini keinginan Bapakmu," Ibu mendorong buku tabungan itu ke tangan Yatra. "Ibu juga setuju sama Bapak. Jalan kamu masih panjang, kamu lebih butuh ini."
Membuat Yatra termenung semalaman. Tentang kehidupannya di Surabaya, tentang kehidupan ibu di sini.
Ibu yang sudah berusia, entah sampai kapan akan menjalani sisa hidup sendirian di sini.
Membuat Yatra sempat berpikir.
Apa mungkin lebih baik ia resign saja dari finance dan kembali tinggal di sini?
Menemani ibu dan mengurus kebun Bapak?
Ia bisa menggunakan uang tabungan Bapak untuk memperluas kebun, dan mungkin membuat kandang ayam atau lainnya.
Tapi bayangan tentang ketidak pastian income sebagai petani setiap panen membuatnya sedikit maju mundur. Terlalu banyak faktor X. Harga pupuk yang naik turun, hama, faktor cuaca, harga panen.
Yatra masih ragu untuk meninggalkan pekerjaannya di Surabaya.
Yatra terbiasa menerima gaji dan bonus besar setiap bulan. Ia adalah kredit analis, berkutat dengan angka, menghitung certainty, menganalisa kepastian.
Yatra butuh satu alasan lagi untuknya merasa mantap resign dari finance— alasan apa saja, entah apapun itu.
-BRUUUMMM.
Suara dengung RPM rendah motornya membuat Yatra tersadar kembali.
Ia memarkir motornya di depan teras, menenteng belanjaan besar dari pasar ke dalam.
Ibu ada di ruang depan, menyapu lantai agar bersih sebelum menata karpet.
"Sudah Bu," Yatra mengangkat belanjaan di tangannya.
"Ya sudah, bawain saja ke dapur," ujar ibu tersenyum kepada Yatra.
Sebuah senyuman yang dipaksakan di wajahnya yang sedikit muram. Namun kondisi ibu jauh lebih baik ketimbang kemarin. Ibu menjadi lebih tenang setelah Yatra datang.
Jujur, berat sekali bagi Yatra jika harus kembali ke Surabaya setelah semua ini. Tapi bagaimana—
Tuhan, kalau memang Yatra lebih baik meninggalkan Surabaya dan tinggal dengan ibu di sini, tolong tunjukkan satu alasan lagi baginya.
"Ibu masaknya gimana?" Yatra berhenti di dekat meja, menyisip kopi panas yang nampaknya baru saja dibuatkan ibu. Uap nya mengepul menguarkan aroma pekat. "Biasanya kan ibu- ibu datang bantuin masak?"
"Ya sekarang masih pagi toh. Ibu- ibu masih pada sibuk di rumah. Masaknya juga nanti sore kok," jawab ibu tanpa menoleh, masih sibuk dengan kegiatannya.
"Lagipula, sudah ada yang datang kok. Tuh lagi bantuin potongin bahan di belakang."
Yatra mengangguk, meletakkan kopinya ke meja. "Tumben kopinya enak Bu? Biasanya ibu bikinnya kemanisan, seleranya Bapak."
"Bukan ibu yang bikin," Ibu hanya tersenyum simpul. "Gitu ya? Kopi buatan ibu gak enak ya?"
Yatra hanya terkekeh, lalu berjalan menuju dapur untuk meletakkan barang belanjaannya. Suara ketukan pisau pada talenan kayu terdengar nyaring saat Yatra masuk.
Terlihat seorang perempuan, tengah merajang bawang merah, berdiri di samping meja membelakangi Yatra. Perempuan itu berambut panjang bergelombang, mengenakan kaos polos dengan celana kulot batik.
Yatra menyipitkan mata. Rasanya ia tak pernah mengenal ada ibu- ibu di desa dengan perawakan seperti ini.
"Permisi," Yatra meletakkan barang belanjaan itu di meja. "Ini bahan masakannya."
Perempuan itu menoleh— terkejut sampai menahan nafas saat melihat Yatra tiba- tiba ada di belakangnya. Ia langsung menunduk gugup dengan wajah sedikit memerah.
"Iya, Mas."
"..."
"Kamu, yang bikin kopi?" tanya Yatra.
Perempuan itu mengangguk pelan. Ia meraih kantong belanjaan di samping, menyeretnya mendekat— lanjut mengiris bawang merah.
Yatra tersenyum tipis. Kelihatannya, ia menemukan satu alsan terakhir itu.
Dan siapa sangka alasan itu adalah putri dari Pak Dibyo, adik kelasnya saat di SD dulu.
"Kopinya enak—" ujar Yatra. "Resti."
You'll leave this world behind"
So live a life, you will remember..
Lagu Night_Avicii itu mengiringi sebuah video yang dikirim Nitya ke grup ANALIS - AHLINYA ANAL
Video yang menampilkan keseruan liburan tim analis Yatra di Bali. Potongan foto- foto satu detik yang dikompilasi, menampilkan sunset, pantai, bunga kamboja, villa rustik, pesta malam, dan wajah ceria Nitya, Santi, Bayu dan Riski.
Nitya: @Yatra really wish you were here
Santi: Senin ketemu di kantor ya. Aku bawain oleh- oleh.
Bayu: Riski semalem mainnya kasar. Perih banget nih aku T_T [mengirim stiker WA pria jomok]
Nitya: @Yatra can't you just kick this motherfucker out?
Yatra tersenyum tipis menatap layar ponselnya, membalas pesan mereka dengan emot tertawa. Mereka tidak perlu tahu keadaannya saat ini. Ia akan minta ijin tidak masuk kantor setelah mereka kembali dari Bali.
Yatra ingin menemani ibunya, setidaknya hingga sampai tujuh harian Baoak
"Mas, monggo kembaliannya," ujar seorang pedangang menyerahkan lembarang uang pecah.
Yatra mengangguk, memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
Lalu ia mengendarai scramblernya pulang dari pasar, Dengan sebuah kantong belanjaan besar menggantung di setang.
Belanjaan itu untuk memasak makanan bagi tamu- tamu tahlilan nanti malam.
Yatra melajukan motornya pelan melewati jalanan desa. Menikmati suasana pagi di desa, yang terasa berbeda setelah kepergian Bapak.
Menatap para warga yang sedang sibuk di sawah mereka.
Anak- anak berangkat sekolah menaiki gerobak sapi.
Ibu- ibu berdiri berkumpul di jalan depan, menenteng belanja, menggendong bayi sambil mengobrol riang.
Kehidupan masih berjalan seperti biasa, seolah kepergian Bapak hanyalah sebuah titik tak berarti yang menghilang begitu saja.
So live a life you will remember.
Benar sekali.
Kita harus menjalani hidup yang akan kita ingat ke depan.
Hidup yang meninggalkan kesan.
Namun Yatra kini sadar, bahwa hidup berkesan bukan hanya tentang bersenang- senang.
Tapi menjalani hidup sebaik- baiknya.
Seperti Bapak, yang meninggalkan kesan bagi Yatra.
Bapak yang berjuang, dengan segala keterbatasan untuk menghidupi keluarganya. Walaupun tidak sempurna, tapi Bapak berhasil membawa kehangatan dalam rumah sederhana itu.
----
Seminggu yang lalu, Yatra mengirim kabar bahwa ia akan pulang. Bapak dan Ibu begitu gembira karena Yatra akhirnya akan mengunjungi mereka setelah hampir setahun terus di Surabaya.
Seminggu yang lalu, Yatra merasa semuanya akan baik- baik saja. Ia sudah merencakan untuk berangkat Kamis siang, berkendara santai sembari menikmati perjalanan pulang.
Namun tiga hari yang lalu, Ibu mengabari Yatra bahwa masuk rumah sakit. Bapak ditemukan pingsan di kebun.
Bapak memaksakan diri kerja lebih— overexcited karena Yatra akan pulang.
Ia bahkan banyak menyiapkan ini itu di rumah 'buat Yatra nanti kalau sudah pulang' katanya.
Yatra sempat hendak pulang lebih awal, namun Bapak yang saat itu sadar bilang tidak usah. Bapak hanya butuh istirahat.
Dan tadi dinihari, Ibu mengabari Yatra: Bapak sudah tidak ada.
Karena itu Yatra segera berangkat subuh, agar secepatnya bisa sampai di rumah.
Kini Bapak sudah tidak ada.
Kebun sepetak itu sudah tidak ada yang mengurus.
Dan juga ibu— ia sendirian di sini.
Ketika Yatra berbincang dengan ibu tentang bagaimana kedepannya, ibu menyerahkan sesuatu padanya.
"Ini Le," ujar ibu menyodorkan buku tabungan milik Bapak— yang membuat Yatra terkejut saat melihat isinya.
Uang hasil panen Bapak sebagian besar selalu ditabung.
Dan bahkan seluruh uang kiriman Yatra setiap bulan, ibu tabung jadi satu di situ.
"Bapak selalu bilang ini nanti buat kamu. Buat kamu nikah nanti, buat kamu hidup di Surabaya karena Bapak nggak bisa ngasih kamu hidup macam- macam saat kamu kecil."
"Tabungan ku sudah banyak Bu," Yatra menggeleng. "Lebih baik buat ibu saja."
Ibu hanya tersenyum. "Ibu sekarang sendirian. Tidak banyak butuhnyai. Ibu sendiri punya tabungan yang lumayan kok kalau cuma buat sehari- hari."
"..."
"Lagipula ini keinginan Bapakmu," Ibu mendorong buku tabungan itu ke tangan Yatra. "Ibu juga setuju sama Bapak. Jalan kamu masih panjang, kamu lebih butuh ini."
Membuat Yatra termenung semalaman. Tentang kehidupannya di Surabaya, tentang kehidupan ibu di sini.
Ibu yang sudah berusia, entah sampai kapan akan menjalani sisa hidup sendirian di sini.
Membuat Yatra sempat berpikir.
Apa mungkin lebih baik ia resign saja dari finance dan kembali tinggal di sini?
Menemani ibu dan mengurus kebun Bapak?
Ia bisa menggunakan uang tabungan Bapak untuk memperluas kebun, dan mungkin membuat kandang ayam atau lainnya.
Tapi bayangan tentang ketidak pastian income sebagai petani setiap panen membuatnya sedikit maju mundur. Terlalu banyak faktor X. Harga pupuk yang naik turun, hama, faktor cuaca, harga panen.
Yatra masih ragu untuk meninggalkan pekerjaannya di Surabaya.
Yatra terbiasa menerima gaji dan bonus besar setiap bulan. Ia adalah kredit analis, berkutat dengan angka, menghitung certainty, menganalisa kepastian.
Yatra butuh satu alasan lagi untuknya merasa mantap resign dari finance— alasan apa saja, entah apapun itu.
-BRUUUMMM.
Suara dengung RPM rendah motornya membuat Yatra tersadar kembali.
Ia memarkir motornya di depan teras, menenteng belanjaan besar dari pasar ke dalam.
Ibu ada di ruang depan, menyapu lantai agar bersih sebelum menata karpet.
"Sudah Bu," Yatra mengangkat belanjaan di tangannya.
"Ya sudah, bawain saja ke dapur," ujar ibu tersenyum kepada Yatra.
Sebuah senyuman yang dipaksakan di wajahnya yang sedikit muram. Namun kondisi ibu jauh lebih baik ketimbang kemarin. Ibu menjadi lebih tenang setelah Yatra datang.
Jujur, berat sekali bagi Yatra jika harus kembali ke Surabaya setelah semua ini. Tapi bagaimana—
Tuhan, kalau memang Yatra lebih baik meninggalkan Surabaya dan tinggal dengan ibu di sini, tolong tunjukkan satu alasan lagi baginya.
"Ibu masaknya gimana?" Yatra berhenti di dekat meja, menyisip kopi panas yang nampaknya baru saja dibuatkan ibu. Uap nya mengepul menguarkan aroma pekat. "Biasanya kan ibu- ibu datang bantuin masak?"
"Ya sekarang masih pagi toh. Ibu- ibu masih pada sibuk di rumah. Masaknya juga nanti sore kok," jawab ibu tanpa menoleh, masih sibuk dengan kegiatannya.
"Lagipula, sudah ada yang datang kok. Tuh lagi bantuin potongin bahan di belakang."
Yatra mengangguk, meletakkan kopinya ke meja. "Tumben kopinya enak Bu? Biasanya ibu bikinnya kemanisan, seleranya Bapak."
"Bukan ibu yang bikin," Ibu hanya tersenyum simpul. "Gitu ya? Kopi buatan ibu gak enak ya?"
Yatra hanya terkekeh, lalu berjalan menuju dapur untuk meletakkan barang belanjaannya. Suara ketukan pisau pada talenan kayu terdengar nyaring saat Yatra masuk.
Terlihat seorang perempuan, tengah merajang bawang merah, berdiri di samping meja membelakangi Yatra. Perempuan itu berambut panjang bergelombang, mengenakan kaos polos dengan celana kulot batik.
Yatra menyipitkan mata. Rasanya ia tak pernah mengenal ada ibu- ibu di desa dengan perawakan seperti ini.
"Permisi," Yatra meletakkan barang belanjaan itu di meja. "Ini bahan masakannya."
Perempuan itu menoleh— terkejut sampai menahan nafas saat melihat Yatra tiba- tiba ada di belakangnya. Ia langsung menunduk gugup dengan wajah sedikit memerah.
"Iya, Mas."
"..."
"Kamu, yang bikin kopi?" tanya Yatra.
Perempuan itu mengangguk pelan. Ia meraih kantong belanjaan di samping, menyeretnya mendekat— lanjut mengiris bawang merah.
Yatra tersenyum tipis. Kelihatannya, ia menemukan satu alsan terakhir itu.
Dan siapa sangka alasan itu adalah putri dari Pak Dibyo, adik kelasnya saat di SD dulu.
"Kopinya enak—" ujar Yatra. "Resti."
Other Stories
Jodoh Nyasar Alina
Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...
Luka
LUKA Tiga sahabat. Tiga jalan hidup. Tiga luka yang tak kasatmata. Moana, pejuang garis ...
DAMKAR VS BANASPATI
test ...
Itsbat Cinta
Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...
Aruna Yang Terus Bertanya
Cuplikan perjalanan waktu hidup Aruna yang selalu mempertanyakan semua hal dalam hidupnya, ...
Balada Cinta Kamilah
Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...