Escape

Reads
16
Votes
0
Parts
6
Vote
Report
Penulis Andi Yudaprakasa

3. Segare

Menjelang siang, mobil Avanza silver itu telah melewati wilayah pelabuhan Lembar, dan kini menuju ke arah Barat memasuki wilayah Sekotong.
Jalur di wilayah ini berkelok- kelok dengan perbukitan hijau di satu sisi jalan, dan perairan selat Lombok di sisi lainnya.

Lalu mobil itu berbelok ke kanan keluar dari jalan aspal, dan memasuki jalur hutan yang berbatu. Pepohonan besar menaungi jalanan itu, membuatnya terasa begitu teduh bahkan di tengah hari seperti ini.

Jalur hutan sepanjang empat kilometer— tak terlalu panjang, namun membutuhkan waktu 45 menit untuk ditempuh karena medan yang kurang bersahabat.
Raka harus berjalan sangat perlahan agar mobil avanzanya tidak berguncang terlalu keras.

Mobil silver itupun melewati gapura sederhana dan akhirnya tiba di tujuan mereka: Desa Segare.

Raka melanjukan mobilnya melewati jalan desa menuju sebuah bangunan yang terletak agak di ujung: base ESCAPE.
Mobil itupun berhenti di bawah sebuah pohon ketapang.

"Akhirnya sampai juga," gumsm Raka mematikan mesin dan memasang rem tangan, lalu berbalik hendak membangunkan Nadine.

Namun untuk beberapa saat, Raka justru terdiam di tempat. Ia terpaku mendapati sosok Nadine yang terlelap dengan kepala menyandar pada jendela mobil.

Rambut panjangnya terurai, membingkai paras lembut dengan mata terpejam itu. Cercah cahaya mentari menerobos dedaunan, menembus jendela mobil dan jatuh lembut menyinari wajah Nadine— menambah pesona alaminya.
Bahkan dengan bekas luka itu di wajahnya.

"Mbak? Mbak Nadine?" Raka mengulurkan tangannya ragu, menyentuh pergelangan Nadine. "Mbak? Kita sudah sampai."

"Hmmm?" Nadine membuka matanya malas, dan beranjak turun dari mobil dengan kepala yang sedikit pusing. "Kita sudah di Segare?"

"Iya Mbak," Raka tersenyum dan menurunkan barang- barang Nadine.

Seorang lelaki paruh baya, berjalan keluar dari bangunan base ESCAPE. Lelaki itu berperawakan tambun berjalan mendekati Nadine. "Selamat datang di Segare, Mbak Nadine."

"..." Nadine yang masih setengah sadar tak merespon.

"Saya Layang, penanggung jawab ESCAPE," ujarnya memperkenalkan diri. Ia pun merentangakan tangan mengarahkan Nadine untuk memasuki bangunan base untuk melakukan registrasi.
"Mari ikut saya. Biar Raka membawa barang- barang Mbak Nadine menuju villa."

Sambil melakukan proses check in dan registrasi, Pak Layang pun memberikan insight mengenai Desa Segare dan proyek ESCAPE.

Desa Segare adalah sebuah desa nelayan yang terletak di tepi pantai. Desa ini diapit oleh perbukitan yang membentuk huruf U, sehingga arus di sekitar desa sangat tenang dan aman.

Desa ini hanya memiliki 32 kepala keluarga, dengan rumah- rumah kayu sederhana yang saling berhadapan. Di sisi Utara adalah pantai dengan belasan perahu cadik, dan di sisi selatannya adalah sebuah perkebunan singkong— sebab kondisi tanahnya hanya memungkinkan warga desa menanam komoditas tersebut.

Tepat di tepi pantai, dibangun lima unit villa kecil untuk para tamu ESCAPE. Nadine akan tinggal di sini selama seminggu.

Sebagian dari revenue ESCAPE akan digunakan untuk kesejahteraan desa. Bahkan staff dan para guide nya adalah warga lokal yang bekerja di sela pencaharian utama mereka.

"Jadi kami ingin ada timbal balik antara ESCAPE dan Segare."

Pak Layang menyodorkan sebuah folder berisi berbagai pilihan paket kegiatan tour; baik yang insite maupun di luar wilayah Segare.
"Saya dan Mbak Tasya sudah menyusun itinerary khusus untuk Mbak Nadine, namun barangkali Mbak ingin ada perubahan?"

Nadine membolak- balik lembaran file tersebut. "Boleh saya bawa folder ini ke villa? Saya mau mempelajarinya dulu."

"Tentu saja," Pak Layang mengangguk. "Dan untuk kegiatan hari ini—"

Nadine menggeleng pelan. "Saya agak capek Pak. Mungkin untuk hari ini saya mau bersantai saja di Villa. Bisa kan?"

"Baiklah," Pak Layang menepukkan tangan gemuknya. "Kalau begitu mari ikut saya menuju Villa Mbak Nadine."

Pak Layang membawa Nadine menyuju villa yang terletak agak ke ujung. Di sana, Raka terlihat melakukan final touch up setelah membawa barang- barang Nadine.

Villa itu berupa bangunan dengan material full kayu— untuk mengurangi resiko korosi sebab lokasinya yang terletak tepat di tepi pantai.

Bangunan itu terbagi menjadi tiga ruangan: kamar tidur, kamar mandi dan ruang utama sekaligus dapur. Furnitur dan interiornya dikonsep dengan tema rustic, dan model rumah panggung menghadap ke Utara, ke arah laut.

Pepohonan pinus meneduhi area itu dari terik matahari. Kilaunya membuat pantulan menyengat di permukaan air laut.

"Ini posisi villa ku paling ujung," Nadine menoleh ke arah samping Villa nya yang berbatasan langsung dengan hutan. "Nggak apa kah?"

"Mbak Nadine nggak usah kuatir," Raka mencoba menenangkan. "Villa- villa lainnya terisi dengan tamu lain kok. Mbak nggak sendirian."

"Oh ya?" Nadine melongok ke arah villa lain yang berjajar dengan villa nya. "Kok sepi banget?"

"Mereka sedang day-tour dengan guide personal nya," jawab Raka. "Jadi seringkali para tamu ESCAPE tidak ada di villa saat siang hari."

Nadine mengangguk.

Raka pun menunjuk sebuah rumah tak jauh di belakang villa. "Saya tinggal di situ. Kalau ada apa- apa, Mbak bisa kontak saya. Saya akan langsung menemui Mbak Nadine di sini."

Nadine mengecek ponselnya yang menunjukan bar sinyal penuh. Tidak terlalu buruk.

"..." Raka mengangguk setelah memastikan Nadine merasa nyaman dengan Villa nya. "Mungkin Mbak Nadine perlu sesuatu sekarang?"

Nadine menggeleng. "Aku akan unpack barang- barangku. Mungkin untuk hari ini, aku mau istirahat saja di villa."


Other Stories
Desa Di Ujung Senja

Namaku Anin, aku hanya ingin berlibur ke rumah oma untuk mengisi liburanku seperti biasany ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Rembulan Di Mata Syua

Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek s ...

Final Call

Aku masih hidup dalam kemewahan—rumah, mobil, pakaian, dan layanan asisten—semua berka ...

Makna Dibalik Kalimat (never Ending)

Rangkaian huruf yang menjadi kata. Rangkaian kata yang menjadi kalimat. Kalimat yang mungk ...

Relung

Edna kehilangan suaminya, Nugraha, secara tiba-tiba. Demi ketenangan hati, ia meninggalkan ...

Download Titik & Koma