16. Sampai Jumpa
Mobil silver itu langsung melaju sedikit lebih kencang ketika sudah memasuki jalanan aspal Sekotong. Pepohonan di kanan- kiri berkelebat, seolah mengantar kepulangan Nadine menuju bandara.
Pandangan Nadine menerawang ke luar jendela. Masih tergambar jelas bagaimana Pak Layang dan para warga berkumpul mengantar kepergiannya. Dan bagaimana Manda— nampak paling bersedih saat Nadine melambai memasuki mobil.
Nadine tersenyum. Tentu ia akan sangat merindukan anak itu.
Lalu ia melirik ke arah rear view mirror, menatap pantulan mata Raka yang sedang fokus menyetir mobil.
Lalu tanpa sengaja, pandangan keduanya bertemu. Raka mengulurkan tangan, mengatur posisi kaca.
"Mbak Ok?"
Nadine mengangguk. Lalu menggeleng. "Nggak tahu."
"Jawaban jujur."
Nadine mencondongkan badan. "Apa kita berdua ini sedang berpura- pura nggak ada yang terjadi?"
Raka menggeleng. "Nggak."
"Terus, kenapa—" Nadine melirih, seperti tengah berusaha memahami sesuatu. "rasanya ini biasa saja?"
"Karena tak ada sesuatu yang rusak di antara kita," jawab Raka, fokus dengan kemudinya. "Yang ada cuma— bahwa kita memahami perasaan masing- masing."
Nadine mengangguk.
Memahami perasaan masing- masing.
Kejelasan.
Memasuki area bandara, Nadine merasa ada sesuatu yang terasa sesak di dada. Namun tidak seperti perasaan sesak yang setahun ini ia rasakan.
Perasaannya kali ini— terasa hidup.
Saat mobil berhenti di area dropzone, Nadine menghela nafas. Ia memperhatikan Raka yang bergegas menuju pintu belakang menurunkan kopor dan tas travel nya.
Bahwa sebentar lagi, ia akan meninggalkan Lombok dan kembali ke kehidupannya.
Bahwa sebentar lagi, ia akan meninggalkan perasaan ini.
Dan lelaki ini.
Nadine membuka pintu, melangkah turun. Raka menyerahkan tas dan kopor kepada Nadine. Lalu keduanya terdiam beberapa lama.
Saling berhadapan.
Saling bertatapan.
"Nggak pake pidato perpisahan, Mbak," ucap Raka memecah kebisuan.
Nadine tertawa. "Iya."
"Setelah ini, Mbak Nadine kembali ke Singapore," Raka menatap papan arah bertuliskan Departure di atas. "Mbak selesaikan apa yang perlu di selesaikan."
Nadine hanya mengangguk, memegangi handle kopornya.
"Terus, kamu?"
"Ya, aku tetap di sini," Raka mengangkat bahu. "Menjadi personal guide. Menemani tamu snorkeling. Gigitin kuku ngelihatin mereka ciuman sambil nge-sunset. Ya, yang semacam itu."
Nadine nyengir. "Kasihan."
Lalu keduanya kembali terdiam. Calon penumpang lain di sekitar mereka telah meninggalkan drop zone. Namun Raka dan Nadine masih berdiri berhadapan di samping mobil.
Entah apa yang mereka tunggu.
"Iya?" tanya Nadine— melihat ada sesuatu yang seolah ingin Raka ungkapkan.
Raka menggeleng, menggaruk belakang kepala.
"Nggak ada. Saya cuman ngebayangin aja, gimana rasanya jadi Rangga di bandara. Raka dan Rangga, kan mirip- mirip gitu namanya.."
"Rangga?" Nadine menyipit.
"Never mind," Raka nyengir. Nadine adalah orang Singapore, jadi wajar jika dia tidak paham. "Mbak nggak tahu lah."
"Tahu kok," ujar Nadine datar. "Ada Apa Dengan Cinta kan?"
"..."
Raka cuma bisa membeku di tempat saat Nadine mendekat, memegangi pipinya dengan satu tangan.
Dan lalu menciumnya.
Ringan.
Sekilas.
Namun sangat membekas.
"Kami cewek Singapore juga tahu kok, Nicholas Saputra," Nadine nyengir, berbalik menyeret kopor nya memasuki pintu sliding. "Dan nggak ya, Raka. Kamu nggak mirip sama sekali dengan Rangga."
Pintu kaca itu terbuka otomatis saat Nadine melangkah masuk. Dingin hawa AC seketika menyambutnya. Nadine berhenti sejenak— menengok ke belakang.
Raka masih berdiri di sana, menyandar pada mobil dengan kedua tangan di saku. Tak ada lambaian tangan.
Raka hanya menatapnya, dengan sebuah senyum tipis.
Yang dengan itu saja seolah cukup untuk mengucapkan 'Sampai Jumpa'.
Nadine kembali melangkah menuju counter check in. Sambil mengantri, ia meraih ponselnya dari dalam saku.
Sejenak Nadine menatap gelang Subahnale di tangannya— memikirkan sesuatu.
Lalu ia menatap layar ponselnya.
Dan mengganti wallpaper foto Barrack itu.
Dengan fotonya sendiri yang tengah berselfie.
Di atas bukit Amirta.
Dengan poni yang telah disibak ke belakang oleh Raka.
Memperlihatkan Nadine yang tersenyum lebar, dengan bekas luka memanjang di wajah kanannya yang terekspos jelas.
"..."
Dan sebuah kalimat yang pernah diucapkan Raka, kembali terngiang di telinganya.
"Kalau poninya enggak nutupin, kelihatan lebih cantik."
Pandangan Nadine menerawang ke luar jendela. Masih tergambar jelas bagaimana Pak Layang dan para warga berkumpul mengantar kepergiannya. Dan bagaimana Manda— nampak paling bersedih saat Nadine melambai memasuki mobil.
Nadine tersenyum. Tentu ia akan sangat merindukan anak itu.
Lalu ia melirik ke arah rear view mirror, menatap pantulan mata Raka yang sedang fokus menyetir mobil.
Lalu tanpa sengaja, pandangan keduanya bertemu. Raka mengulurkan tangan, mengatur posisi kaca.
"Mbak Ok?"
Nadine mengangguk. Lalu menggeleng. "Nggak tahu."
"Jawaban jujur."
Nadine mencondongkan badan. "Apa kita berdua ini sedang berpura- pura nggak ada yang terjadi?"
Raka menggeleng. "Nggak."
"Terus, kenapa—" Nadine melirih, seperti tengah berusaha memahami sesuatu. "rasanya ini biasa saja?"
"Karena tak ada sesuatu yang rusak di antara kita," jawab Raka, fokus dengan kemudinya. "Yang ada cuma— bahwa kita memahami perasaan masing- masing."
Nadine mengangguk.
Memahami perasaan masing- masing.
Kejelasan.
Memasuki area bandara, Nadine merasa ada sesuatu yang terasa sesak di dada. Namun tidak seperti perasaan sesak yang setahun ini ia rasakan.
Perasaannya kali ini— terasa hidup.
Saat mobil berhenti di area dropzone, Nadine menghela nafas. Ia memperhatikan Raka yang bergegas menuju pintu belakang menurunkan kopor dan tas travel nya.
Bahwa sebentar lagi, ia akan meninggalkan Lombok dan kembali ke kehidupannya.
Bahwa sebentar lagi, ia akan meninggalkan perasaan ini.
Dan lelaki ini.
Nadine membuka pintu, melangkah turun. Raka menyerahkan tas dan kopor kepada Nadine. Lalu keduanya terdiam beberapa lama.
Saling berhadapan.
Saling bertatapan.
"Nggak pake pidato perpisahan, Mbak," ucap Raka memecah kebisuan.
Nadine tertawa. "Iya."
"Setelah ini, Mbak Nadine kembali ke Singapore," Raka menatap papan arah bertuliskan Departure di atas. "Mbak selesaikan apa yang perlu di selesaikan."
Nadine hanya mengangguk, memegangi handle kopornya.
"Terus, kamu?"
"Ya, aku tetap di sini," Raka mengangkat bahu. "Menjadi personal guide. Menemani tamu snorkeling. Gigitin kuku ngelihatin mereka ciuman sambil nge-sunset. Ya, yang semacam itu."
Nadine nyengir. "Kasihan."
Lalu keduanya kembali terdiam. Calon penumpang lain di sekitar mereka telah meninggalkan drop zone. Namun Raka dan Nadine masih berdiri berhadapan di samping mobil.
Entah apa yang mereka tunggu.
"Iya?" tanya Nadine— melihat ada sesuatu yang seolah ingin Raka ungkapkan.
Raka menggeleng, menggaruk belakang kepala.
"Nggak ada. Saya cuman ngebayangin aja, gimana rasanya jadi Rangga di bandara. Raka dan Rangga, kan mirip- mirip gitu namanya.."
"Rangga?" Nadine menyipit.
"Never mind," Raka nyengir. Nadine adalah orang Singapore, jadi wajar jika dia tidak paham. "Mbak nggak tahu lah."
"Tahu kok," ujar Nadine datar. "Ada Apa Dengan Cinta kan?"
"..."
Raka cuma bisa membeku di tempat saat Nadine mendekat, memegangi pipinya dengan satu tangan.
Dan lalu menciumnya.
Ringan.
Sekilas.
Namun sangat membekas.
"Kami cewek Singapore juga tahu kok, Nicholas Saputra," Nadine nyengir, berbalik menyeret kopor nya memasuki pintu sliding. "Dan nggak ya, Raka. Kamu nggak mirip sama sekali dengan Rangga."
Pintu kaca itu terbuka otomatis saat Nadine melangkah masuk. Dingin hawa AC seketika menyambutnya. Nadine berhenti sejenak— menengok ke belakang.
Raka masih berdiri di sana, menyandar pada mobil dengan kedua tangan di saku. Tak ada lambaian tangan.
Raka hanya menatapnya, dengan sebuah senyum tipis.
Yang dengan itu saja seolah cukup untuk mengucapkan 'Sampai Jumpa'.
Nadine kembali melangkah menuju counter check in. Sambil mengantri, ia meraih ponselnya dari dalam saku.
Sejenak Nadine menatap gelang Subahnale di tangannya— memikirkan sesuatu.
Lalu ia menatap layar ponselnya.
Dan mengganti wallpaper foto Barrack itu.
Dengan fotonya sendiri yang tengah berselfie.
Di atas bukit Amirta.
Dengan poni yang telah disibak ke belakang oleh Raka.
Memperlihatkan Nadine yang tersenyum lebar, dengan bekas luka memanjang di wajah kanannya yang terekspos jelas.
"..."
Dan sebuah kalimat yang pernah diucapkan Raka, kembali terngiang di telinganya.
"Kalau poninya enggak nutupin, kelihatan lebih cantik."
Other Stories
Hati Diatas Melati ( 17+ )
Melati adalah asisten pribadi yang perfeksionis dengan penampilan yang selalu tertutup dan ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak ...
Manusia Setengah Siluman
Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...
After Honeymoon
Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...
Arti Yang Tak Pernah Usai
Siapa sangka liburan akhir tahun beberapa mahasiswa ini membawa dua insan menyelesaikan se ...
Di Bawah Langit Al-ihya
Tertulis kisah ini dengan melafazkan nama-Mu juga terbingkailah namanya. Berharap mega t ...