BONUS: Satu Tahun Kemudian
Matahari bersinar sedikit terik.
Raka berdiri menyandar pada sebuah truk Mitsubishi Strada hijau dengan tulisan ESCAPE besar pada body sampingnya. Topi safari yang ia kenakan lumayan melindunginya dari panas dan silau.
Ia mengembus asap putih panjang, menikmati setiap isapan rajangan tembakau lokal yang terasa manis. Sedikit rokok untuk menghilangkan jenuh tatkala menunggu.
Raka melirik sekilas jam tangannya. Sudah sekitar setengah jam lalu pesawat itu mendarat. Sebentar lagi pasti tamunya telah selesai mengambil luggage dan proses imigrasi.
Raka melempar puntung rokoknya ke tanah, menginjaknya mati sambil berjalan menuju area pick up.
Ratusan orang, penjemput baik pribadi maupun travel berdesakan. Riuh memenuhi area Arrival. Raka berjalan dengan kedua tangan di saku, melewati kerumunan orang- orang itu.
Lalu berdiri menyandar santai pada kolom beton bangunan.
Matanya menyisir wajah- wajah tamu yang datang.
Tamunya kali ini adalah seorang VIP, orang penting yang akan berpengaruh pada perkembangan ESCAPE ke depannya.
Seorang desainer perhiasan, yang juga merupakan seorang investor di perusahaan mereka.
Raka menyipit, berusaha lebih fokus memperhatikan puluhan orang yang baru saja keluar dari arrival gate.
Namun yang ia lihat hanyalah sekelompok turis, atau couple, atau tamu lokal.
"Mana sih—"
"—kamu bikin aku nunggu di sini," ujar sebuah suara lembut tiba- tiba dari sebuah gerai kecil di area penjemputan.
Raka menoleh ke arah gerai di sampingnya itu.
"Kamu nggak bawa paging board," ujar perempuan itu. "Gimana tamu mu bisa menemukan kamu?"
Raka menunjuk ke arah perempuan itu. "Buktinya, kamu menemukan aku."
Perempuan itu menyipit dengan bibir cemberut.
"Iya deh, sori. Jangan cemberut gitu," Raka tersenyum, bergegas meraih kopor dan travel bag milik tamu VIP nya itu. Sebuah kopor besar dengan stiker AMIRTA kini berpindah ke tangan Raka.
"Ayo, kita ke mobil sekarang."
AMIRTA, adalah brand milik Nadine yang berfokus pada perhiasan etnik dengan bahan- bahan dari Lombok, terutama dari Segare: mutiara, kulit kerang, bebatuan pantai, dan tentu saja— tenun Subahnale.
Berkat relasinya dulu saat masih di dunia model, dengan bantuan Tasya dan Joshua, kini AMIRTA menjadi salah satu brand yang cukup booming di Singapore.
Nadine berjalan di samping Raka— nampak kontras dengan penampilan outdoor lelaki itu.
Nadine nampak manis mengenakan blouse simple dan celana katun. Rambut bob nya bergoyang pelan, kini tanpa poni yang menutupi bekas lukanya.
"Kamu mau makan dulu?" tanya Raka membawa Nadine menuju Strada yang terparkir di samping pick up zone.
Sekarang Raka menggunakan aku-kamu dalam percakapan mereka.
Nadine menggeleng. "Langsung ke Segare saja. Aku kangen sama Manda."
Raka meletakkan barang- barang Nadine di kabin tengah. Lalu ia duduk di kursi sopir.
Nadine duduk di kursi sebelahnya, menyibak rambut bobnya sejenak, menghilangkan hawa panas di tengkuk.
"..."
"Apa?" tanya Nadine menoleh ke arah Raka yang menatapnya lekat.
"No kiss?"
"Enak saja," Nadine nyengir, menyalakan AC dashboard.
"Kan aku pacarmu—"
"—aku investormu," sela Nadine cepat, menikmati embusan hawa sejuk di lehernya. "Selama kamu masih pakai seragam ESCAPE, be professional ya Raka."
"Ih, bawa- bawa pangkat," Raka mencibir, men-starter mesin truknya. Lalu melajukan kendaraan besar itu menuju pintu keluar bandara. "Nggak asyik mainnya."
Nadine mengambil sebuah botol jamu dingin di dalam cooler box.
"Kamu investor, dan aku pacar kamu," ucap Raka sambil mengantri portal keluar. "Bisa dong, promosiin aku jadi CEO ESCAPE?"
Nadine menyeruput jamu sambil memutar bola matanya.
Raka terkekeh melihat reaksi Nadine. "Nggak ada romantis- romantisnya."
"Biarin."
"Tapi, aku seneng kamu datang," ucap Raka sambil melepas topi safarinya.
"Kamu potong rambut?" tanya Nadine, sedikit pangling melihat Raka berambut pendek rapi. Terlihat cocok dengan perawakan dan penampilannya yang adventure banget.
"Iya," jawab Raka mengusap rambut barunya. "Kelihatan lebih ganteng kan?"
Nadine melirik, dengan wajah yang agak bersemu. "Lumayan."
"Jadi mirip Rangga?"
"NGGAK."
Raka berdiri menyandar pada sebuah truk Mitsubishi Strada hijau dengan tulisan ESCAPE besar pada body sampingnya. Topi safari yang ia kenakan lumayan melindunginya dari panas dan silau.
Ia mengembus asap putih panjang, menikmati setiap isapan rajangan tembakau lokal yang terasa manis. Sedikit rokok untuk menghilangkan jenuh tatkala menunggu.
Raka melirik sekilas jam tangannya. Sudah sekitar setengah jam lalu pesawat itu mendarat. Sebentar lagi pasti tamunya telah selesai mengambil luggage dan proses imigrasi.
Raka melempar puntung rokoknya ke tanah, menginjaknya mati sambil berjalan menuju area pick up.
Ratusan orang, penjemput baik pribadi maupun travel berdesakan. Riuh memenuhi area Arrival. Raka berjalan dengan kedua tangan di saku, melewati kerumunan orang- orang itu.
Lalu berdiri menyandar santai pada kolom beton bangunan.
Matanya menyisir wajah- wajah tamu yang datang.
Tamunya kali ini adalah seorang VIP, orang penting yang akan berpengaruh pada perkembangan ESCAPE ke depannya.
Seorang desainer perhiasan, yang juga merupakan seorang investor di perusahaan mereka.
Raka menyipit, berusaha lebih fokus memperhatikan puluhan orang yang baru saja keluar dari arrival gate.
Namun yang ia lihat hanyalah sekelompok turis, atau couple, atau tamu lokal.
"Mana sih—"
"—kamu bikin aku nunggu di sini," ujar sebuah suara lembut tiba- tiba dari sebuah gerai kecil di area penjemputan.
Raka menoleh ke arah gerai di sampingnya itu.
"Kamu nggak bawa paging board," ujar perempuan itu. "Gimana tamu mu bisa menemukan kamu?"
Raka menunjuk ke arah perempuan itu. "Buktinya, kamu menemukan aku."
Perempuan itu menyipit dengan bibir cemberut.
"Iya deh, sori. Jangan cemberut gitu," Raka tersenyum, bergegas meraih kopor dan travel bag milik tamu VIP nya itu. Sebuah kopor besar dengan stiker AMIRTA kini berpindah ke tangan Raka.
"Ayo, kita ke mobil sekarang."
AMIRTA, adalah brand milik Nadine yang berfokus pada perhiasan etnik dengan bahan- bahan dari Lombok, terutama dari Segare: mutiara, kulit kerang, bebatuan pantai, dan tentu saja— tenun Subahnale.
Berkat relasinya dulu saat masih di dunia model, dengan bantuan Tasya dan Joshua, kini AMIRTA menjadi salah satu brand yang cukup booming di Singapore.
Nadine berjalan di samping Raka— nampak kontras dengan penampilan outdoor lelaki itu.
Nadine nampak manis mengenakan blouse simple dan celana katun. Rambut bob nya bergoyang pelan, kini tanpa poni yang menutupi bekas lukanya.
"Kamu mau makan dulu?" tanya Raka membawa Nadine menuju Strada yang terparkir di samping pick up zone.
Sekarang Raka menggunakan aku-kamu dalam percakapan mereka.
Nadine menggeleng. "Langsung ke Segare saja. Aku kangen sama Manda."
Raka meletakkan barang- barang Nadine di kabin tengah. Lalu ia duduk di kursi sopir.
Nadine duduk di kursi sebelahnya, menyibak rambut bobnya sejenak, menghilangkan hawa panas di tengkuk.
"..."
"Apa?" tanya Nadine menoleh ke arah Raka yang menatapnya lekat.
"No kiss?"
"Enak saja," Nadine nyengir, menyalakan AC dashboard.
"Kan aku pacarmu—"
"—aku investormu," sela Nadine cepat, menikmati embusan hawa sejuk di lehernya. "Selama kamu masih pakai seragam ESCAPE, be professional ya Raka."
"Ih, bawa- bawa pangkat," Raka mencibir, men-starter mesin truknya. Lalu melajukan kendaraan besar itu menuju pintu keluar bandara. "Nggak asyik mainnya."
Nadine mengambil sebuah botol jamu dingin di dalam cooler box.
"Kamu investor, dan aku pacar kamu," ucap Raka sambil mengantri portal keluar. "Bisa dong, promosiin aku jadi CEO ESCAPE?"
Nadine menyeruput jamu sambil memutar bola matanya.
Raka terkekeh melihat reaksi Nadine. "Nggak ada romantis- romantisnya."
"Biarin."
"Tapi, aku seneng kamu datang," ucap Raka sambil melepas topi safarinya.
"Kamu potong rambut?" tanya Nadine, sedikit pangling melihat Raka berambut pendek rapi. Terlihat cocok dengan perawakan dan penampilannya yang adventure banget.
"Iya," jawab Raka mengusap rambut barunya. "Kelihatan lebih ganteng kan?"
Nadine melirik, dengan wajah yang agak bersemu. "Lumayan."
"Jadi mirip Rangga?"
"NGGAK."
Other Stories
Cinta Di Ibukota
Sari, gadis desa yang polos, terjerat dalam hubungan berbahaya dengan fotografer ambisius ...
Mozarella Bukan Cinderella
Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...
Romance Reloaded
Luna, gadis miskin jenius di dunia FPS, mendadak viral setelah aksi no-scope gila di turna ...
Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik
Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...
Blind
Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...
Love Of The Death
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...