8. Hari Keempat
"Kalau poninya enggak nutupin, kelihatan lebih cantik."
Kalimat Raka kemarin terus terngiang di telinga Nadine. Pagi ini— dihari keempat, Nadine mengawali pagi dengan berdiri di depan cermin wastafel di villa nya.
Ia memegangi poninya, membuka dan menutup berulang kali sambil memperhatikan wajah dan lukanya.
Masa sih aku cantik, kalau luka ini kelihatan?
Nadine ingin mempercayai ucapan Raka, tapi ia merasa ragu. Ia tak pernah tampil di depan umum dengan membiarkan lukanya terekspos jelas.
"Ugh, Raka sialan," Nadine berdecak sebal, namun toh ia mengikat poninya ke belakang.
Gadis itu merebus air, hendak membuat kopi. Hari ini ia ingin menyelesaikan membaca novel yang dibawanya. Short-hiking kemarin membuat pahanya sedikit nyeri.
-tok. tok.
Sebuah ketukan terderngar di pintu depan Villa. Seperti biasa, akan ada yang membawakannya sarapan. Nadine membuka pintu, dan mendapati gadis itu— gadis kecil yang membawakannya makanan di acara begibung, kini sedang membawakannya nampan sarapan.
"Loh?" Nadine segera membungkuk, menyetarakan tinggi badan. "Terima kasih. Kenapa kamu yang antar? Raka mana?"
Gadis itu menggeleng. "Raka tidak ada. Dia ikut bapak- bapak semua ke laut sejak subuh."
"Ah, baiklah," Nadine menerima nampan itu dari si gadis kecil. Nadine baru ingat bahwa kebanyakan staff ESCAPE adalah warga desa Segare, yang melayani tamu di luar pekerjaan harian mereka. "Terima kasih."
Gadis itu tak beranjak. Ia masih berdiri, sama seperti malam itu. Menatap lekat wajah Nadine, tepat di bekas luka panjangnya.
Namun kali ini gadis itu tersenyum, menyentuh wajah Nadine.
"Kakak cantik kalau tidak pakai poni."
Lalu gadis itu berbalik pergi, meninggalkan Nadine yang berdiri diam di ambang pintu dengan sebuah senyum.
-----
Matahari hampir mencapai puncak.
Nadine nampak bersantai di sofanya, dengan piring kotor dan nampan sarapan di meja. Ia memang membaca novel, namun berkali- kali ia kehilangan fokus.
Pikirannya melayang kembali ke sore hari kemarin.
Bagaimana Raka menggandeng tangannya.
Bagaimana Raka menyibak poninya.
Dan bagaimana Raka berucap santai memuji dirinya.
Nadine menatap tangannya sendiri, dan mengingat bagaimana tangan kasar Raka terasa hangat menggenggamnya.
Raka?
Loh? Kenapa juga aku mengingat- ingat Raka?
"Duh—" Nadine menggeletakkan novel itu kasar. "Raka sialan! Aku jadi susah sendiri kan?"
Dan lagi, ini sudah hampir siang. Biasanya ia sudah muncul menemuinya di villa, menanyakan itinerary kegiatan atau melakukan make-up room.
Tapi hari ini, sejak pagi ia tidak muncul.
Tuh kan?
Aku jadi ingat Raka lagi.
"Huffft.." Nadine mengembus nafas panjang, memijit dahinya. "Awas aja Raka kalau nanti ke sini."
Nadine meraih kopinya yang telah dingin, hendak meminumnya, tepat ketika—
"Mbak?" seseorang memanggil dari luar pintu. "Mbak Nadine?"
Suara Raka.
"Iya," Nadine tersenyum tipis— lupa dengan perasaan sebalnya.
Ia beranjak dari sofa, membuka pintu depan. Dan lalu mendapati sebuah hewan besar, dengan tubuh beruas, dengan kaki- kaki panjang tepat di depan wajahnya.
"AAAAAAAAHHHH!!!" Nadine terpekik, refleks mundur beberapa langkah.
Raka ikut terkejut dan segera menurunkan tangannya yang sedang memegang hewan laut. "Sori."
Nadine mengerjapkan mata, mengelus dada. Ia memperhatikan lekat hewan di tangan Raka. "Itu.. lobster?"
"Iya Mbak," Raka tersenyum lebar. "Ini saya tangkap tadi saat membantu warga mengangkat jaring mereka. Ukurannya lumayan, bisa buat makan siang Mbak Nadine."
"..."
"Makanya saya mau konfirmasi dulu, apakah Mbak Nadine ada alergi dengan makanan sejenis crustacea seperti ini," Raka menggenggam antena lobster yang masih bergoyang- goyang di tangannya. "Bagaimana?"
Nadine tak menjawab. Ia terdiam menelan ludah memperhatikan Raka yang berdiri di depan pintu.
Raka sepertinya baru saja pulang dari laut. Rambut gondrongnya basah, dengan sebuah google di kepalanya. Ia hanya mengenakan celana pendek kargo. Dan—
Nadine harus menarik ucapannya. Raka bukannya kurus. Ia bertubuh sleeper built, yang baru terlihat bentuknya saat bertelanjang dada. Lengan dan dada yang terbentuk kering, dengan tetes air yang berjatuhan.
Wajah Nadine terasa panas. Namun ia segera menguasai diri. "Nggak- aku nggak alergi."
"Baiklah," Raka mengangguk. "Saya akan minta warga untuk bakarkan lobster ini buat Mbak."
"Loh, emang nggak apa itu buat aku?" Nadine sedikit ragu. "Bukannya lobster mahal."
Raka tertawa. "Di sini sih lobster liar mbak. Warga biasanya menyelam berburu lobster di karang- karang sana. Mereka biasanya nangkap untuk dikonsumsi sendiri."
Nadine terdiam.
Menyelam?
Berburu lobster?
Kedengarannya menyenangkan.
Dan bukankah kegiatan menyelam juga ada dalam opsi kegiatan ESCAPE?
"Raka," tanya Nadine. "Kalau berburu lobster lagi bisa?"
"Loh, satu seukuran ini masih kurang?" Raka menatap Nadine bingung. "Badan Mbak ramping gitu makannya banyak juga ya."
"Bukan dong, aduh—" Nadine sedikit teriritasi. "Maksudku, aku ingin coba tangkap lobster. Bisa nggak?"
"Ya bisa dong," Raka mengangkat bahu.
"Di base ESCAPE ada peralatan snorkeling lengkap. Saya akan infokan ke Pak Layar. Kalau Mbak Nadine mau, baru sore ini bisa berangkat. Sebab saya juga harus persiapkan perahu dan yang lain."
"Iya!" Nadine mengangguk cepat.
"Aku mau!!"
Kalimat Raka kemarin terus terngiang di telinga Nadine. Pagi ini— dihari keempat, Nadine mengawali pagi dengan berdiri di depan cermin wastafel di villa nya.
Ia memegangi poninya, membuka dan menutup berulang kali sambil memperhatikan wajah dan lukanya.
Masa sih aku cantik, kalau luka ini kelihatan?
Nadine ingin mempercayai ucapan Raka, tapi ia merasa ragu. Ia tak pernah tampil di depan umum dengan membiarkan lukanya terekspos jelas.
"Ugh, Raka sialan," Nadine berdecak sebal, namun toh ia mengikat poninya ke belakang.
Gadis itu merebus air, hendak membuat kopi. Hari ini ia ingin menyelesaikan membaca novel yang dibawanya. Short-hiking kemarin membuat pahanya sedikit nyeri.
-tok. tok.
Sebuah ketukan terderngar di pintu depan Villa. Seperti biasa, akan ada yang membawakannya sarapan. Nadine membuka pintu, dan mendapati gadis itu— gadis kecil yang membawakannya makanan di acara begibung, kini sedang membawakannya nampan sarapan.
"Loh?" Nadine segera membungkuk, menyetarakan tinggi badan. "Terima kasih. Kenapa kamu yang antar? Raka mana?"
Gadis itu menggeleng. "Raka tidak ada. Dia ikut bapak- bapak semua ke laut sejak subuh."
"Ah, baiklah," Nadine menerima nampan itu dari si gadis kecil. Nadine baru ingat bahwa kebanyakan staff ESCAPE adalah warga desa Segare, yang melayani tamu di luar pekerjaan harian mereka. "Terima kasih."
Gadis itu tak beranjak. Ia masih berdiri, sama seperti malam itu. Menatap lekat wajah Nadine, tepat di bekas luka panjangnya.
Namun kali ini gadis itu tersenyum, menyentuh wajah Nadine.
"Kakak cantik kalau tidak pakai poni."
Lalu gadis itu berbalik pergi, meninggalkan Nadine yang berdiri diam di ambang pintu dengan sebuah senyum.
-----
Matahari hampir mencapai puncak.
Nadine nampak bersantai di sofanya, dengan piring kotor dan nampan sarapan di meja. Ia memang membaca novel, namun berkali- kali ia kehilangan fokus.
Pikirannya melayang kembali ke sore hari kemarin.
Bagaimana Raka menggandeng tangannya.
Bagaimana Raka menyibak poninya.
Dan bagaimana Raka berucap santai memuji dirinya.
Nadine menatap tangannya sendiri, dan mengingat bagaimana tangan kasar Raka terasa hangat menggenggamnya.
Raka?
Loh? Kenapa juga aku mengingat- ingat Raka?
"Duh—" Nadine menggeletakkan novel itu kasar. "Raka sialan! Aku jadi susah sendiri kan?"
Dan lagi, ini sudah hampir siang. Biasanya ia sudah muncul menemuinya di villa, menanyakan itinerary kegiatan atau melakukan make-up room.
Tapi hari ini, sejak pagi ia tidak muncul.
Tuh kan?
Aku jadi ingat Raka lagi.
"Huffft.." Nadine mengembus nafas panjang, memijit dahinya. "Awas aja Raka kalau nanti ke sini."
Nadine meraih kopinya yang telah dingin, hendak meminumnya, tepat ketika—
"Mbak?" seseorang memanggil dari luar pintu. "Mbak Nadine?"
Suara Raka.
"Iya," Nadine tersenyum tipis— lupa dengan perasaan sebalnya.
Ia beranjak dari sofa, membuka pintu depan. Dan lalu mendapati sebuah hewan besar, dengan tubuh beruas, dengan kaki- kaki panjang tepat di depan wajahnya.
"AAAAAAAAHHHH!!!" Nadine terpekik, refleks mundur beberapa langkah.
Raka ikut terkejut dan segera menurunkan tangannya yang sedang memegang hewan laut. "Sori."
Nadine mengerjapkan mata, mengelus dada. Ia memperhatikan lekat hewan di tangan Raka. "Itu.. lobster?"
"Iya Mbak," Raka tersenyum lebar. "Ini saya tangkap tadi saat membantu warga mengangkat jaring mereka. Ukurannya lumayan, bisa buat makan siang Mbak Nadine."
"..."
"Makanya saya mau konfirmasi dulu, apakah Mbak Nadine ada alergi dengan makanan sejenis crustacea seperti ini," Raka menggenggam antena lobster yang masih bergoyang- goyang di tangannya. "Bagaimana?"
Nadine tak menjawab. Ia terdiam menelan ludah memperhatikan Raka yang berdiri di depan pintu.
Raka sepertinya baru saja pulang dari laut. Rambut gondrongnya basah, dengan sebuah google di kepalanya. Ia hanya mengenakan celana pendek kargo. Dan—
Nadine harus menarik ucapannya. Raka bukannya kurus. Ia bertubuh sleeper built, yang baru terlihat bentuknya saat bertelanjang dada. Lengan dan dada yang terbentuk kering, dengan tetes air yang berjatuhan.
Wajah Nadine terasa panas. Namun ia segera menguasai diri. "Nggak- aku nggak alergi."
"Baiklah," Raka mengangguk. "Saya akan minta warga untuk bakarkan lobster ini buat Mbak."
"Loh, emang nggak apa itu buat aku?" Nadine sedikit ragu. "Bukannya lobster mahal."
Raka tertawa. "Di sini sih lobster liar mbak. Warga biasanya menyelam berburu lobster di karang- karang sana. Mereka biasanya nangkap untuk dikonsumsi sendiri."
Nadine terdiam.
Menyelam?
Berburu lobster?
Kedengarannya menyenangkan.
Dan bukankah kegiatan menyelam juga ada dalam opsi kegiatan ESCAPE?
"Raka," tanya Nadine. "Kalau berburu lobster lagi bisa?"
"Loh, satu seukuran ini masih kurang?" Raka menatap Nadine bingung. "Badan Mbak ramping gitu makannya banyak juga ya."
"Bukan dong, aduh—" Nadine sedikit teriritasi. "Maksudku, aku ingin coba tangkap lobster. Bisa nggak?"
"Ya bisa dong," Raka mengangkat bahu.
"Di base ESCAPE ada peralatan snorkeling lengkap. Saya akan infokan ke Pak Layar. Kalau Mbak Nadine mau, baru sore ini bisa berangkat. Sebab saya juga harus persiapkan perahu dan yang lain."
"Iya!" Nadine mengangguk cepat.
"Aku mau!!"
Other Stories
Kk
jjj ...
The Museum
Mario Tongghost, penangkap hantu asal Medan, menjadi penjaga malam di Museum Bamboe Kuning ...
(bukan) Tentang Kita
Tak sanggup menanggung rada sakit akibat kehilangan, Arga, seorang penulis novel romantis ...
Ophelia
Claire selalu bilang, kematian Ophelia itu indah, tenang dan lembut seperti arus sungai. T ...
Cinta Dua Rasa
Aruna merasa memiliki kehidupan yang sempurna setelah dinikahi oleh Saka, seorang arsitek ...
Kidung Vanili
Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...