Escape [end]

Reads
471
Votes
18
Parts
18
Vote
Report
Penulis Andi Yudaprakasa

13. Subahnale

-cuit. cuit.

Suara khas burung kingfisher riuh mewarnai pepohonan pinus. Permukaan air yang tengah surut membuat banyak hewan laut kecil terperangkap di kubangan- kubangan, sehingga burung- burung berbulu biru itu beterbangan menyambar di sekitar pantai.

Nadine membasuh wajahnya, dan sejenak memperhatikan dirinya di cermin. Matanya sedikit bengkak. Ia terlihat sedikit kacau.
Seharian kemarin ia benar- benar mengurung dirinya di dalam villa.
Tak melakukan apa- apa, bahkan menyelesaikan bacaan novelnya pun tidak.

Dan hari ini adalah hari keenam.
Hari terakhirnya berada di sini, di desa Segare. Besok ia akan check out, dan terbang ke Singapore pada siang harinya.

Namun anehnya Nadine merasa ada yang hampa.
Perasaannya yang kemarin sempat agak lega, kini terasa ada yang sesak kembali.
Ada sesuatu yang menggantung, justru muncul saat masa berliburnya hampir selesai di sini.

Nadine bahkan tak tahu, akan melakukan apa ia hari ini. Ia baru saja hendak merebus air untuk teh ketika seseorang di luar mengetuk pintu.

-tok. tok.

Ah. Nadine lupa memasang tanda DND di depan.
Jam segini, biasanya ada yang mengantar makan— semoga saja bukan Raka.

"Iya?" tanya Nadine.

"Selamat pagi, Kak," sebuah suara lembut terdengar. "Aku mengantarkan sarapan."

Nadine bernafas lega. Rupanya gadis kecil —yang ia temui di malam begibung— itu lagi. Nadine bergegas menuju pintu depan untuk menemuinya, sekedar menunjukkan sopan.

"Hai, terima kasih ya," Nadine membungkuk dan menerima nampan sarapan dari tangan gadis itu.

Gadis itu terdiam, menatap wajah Nadine lekat. "Kak Nadine kelihatan sedih. Habis menangis ya?"

"Eh," Nadine segera memasang senyum lebar. "Nggak sedih kok. Siapa yang— kamu kok tahu namaku?"

"Ya karena Kak Nadine adalah tamu ESCAPE yang tinggal di desa terus, ke mana- mana selalu sama Raka," gadis itu mengangkat tangannya

Nadine menghela nafas. Anak ini saja sampai tahu ia sering bersama Raka.

Gadis itu mengusap pipi dan luka memanjang di wajah Nadine- dan anehnya Nadine tak merasa risih. Tangan gadis itu terasa lembut, mungil dan sejuk. Nyaman.
"Kak Nadine sedih gara- gara Raka?"

"Nggak, bukan Raka," Nadine memegangi tangan gadis itu. "Cuma— perasaanku sendiri. Omong- omong aku belum tahu namamu?"

"Namaku Manda," jawabnya lirih. "Mandalika."

Nadine tersenyum, melepas tangan Manda dari pipinya.. "Terima kasih sudah perhatian sama aku."

Manda ikut tersenyum. Sejenak ia terdiam seperti tengah memikirkan sesuatu, lalu ia berkata.
"Mungkin lebih baik Kak Nadine ikut sama aku."

Nadine mengernyit. "Ke mana?"

"Aku mau belajar nyesek ke rumah Ina Baiq."

-----

Manda membawa Nadine menuju satu rumah yang ada di tengah desa. Di sana, nampak beberapa anak perempuan lain yang sudah berkumpul di teras.
Anak- anak itu sedang belajar untuk nyesek atau menenun kain khas Lombok. Sebab secara tradisional, anak gadis baru dianggap dewasa dan siap menikah jika sudah menguasai keterampilan sesek.

Seorang perempuan paruh baya berada di tengah mereka. Ia adalah Ina Baiq (ina: ibu)— tokoh perempuan penjaga adat di desa Segare.

Melihat kedatangan Nadine, Ina Baiq tersenyum ramah. Seolah ia bisa membaca apa yang Nadine rasakan dengan hanya melihat wajahnya saja.
Anak- anak perempuan itu juga nampak senang dengan kedatangan Nadine— mereka mengerumuninya dan menghujani gadis itu dengan banyak pertanyaan.
Terutama Manda yang begitu lekat dengan Nadine.

"Kalian jangan ganggu Kak Nadine ya. Dia tamunya Raka,," Ina Baiq dengan suara paraunya.

"Iya Ina!!" sahut mereka tertawa.

Nadine tersenyum canggung. Rupanya di desa ini ia sudah identik dengan Raka.

Matahari semakin naik, membuat suasana terasa agak terik menyengat. Namun pepohonan rindang dan lebat di sekitar Segare menjadikannya terasa sejuk dan teduh. Terlebih di teras Ina Baiq, suasananya nampak hangat dan ceria.

Anak- anak itu memakaikan kain jarik dipinggang Nadine —yang hanya mengenakan celana pendek— membuatnya lebih membaur dengan penampilan dan nilai budaya lokal.

Nadine duduk di dekat perempuan tua itu, berbincang dengannya, mengamatinya mengerjakan tenun manual menggunakan alat kayu gedokan.
Sementara Manda berdiri di belakang Nadine, sibuk menata rambut Nadine yang lembut bergelombang.

Nadine seolah terpesona dengan keterampilan tangan Ina Baiq, di mana tangan keriput itu memiliki pikiran sendiri menata benang katun membentuk motif geomteris segi enam. Kain itu didominasi warna netral dan gelap.
Sederhana dan sekaligus indah.

"Bagus ya Ina," Nadine menggeleng takjub. "Motif apa ini namamya?"

"Kami menyebutnya Subahnale," jawab Ina Baiq. "Maksudnya "Subhanallah", atau semacam zikir bagi para penenunnya. Pola ini menggambarkan nilai filosofis ketuhanan para perempuan Sasak."

Nadine terdiam menyimak. Perempuan- perempuan sederhana ini memasukkan unsur ketuhanan bahkan dalam kegiatan mereka sehari- hari.

"Karena itu warnanya lebih kalem ketimbang songket, sebab ini adalah perlambang kerendahan hati perempuan Lombok di hadapan sang Pencipta."

"..."

"Pola rumit ini juga mengajarkan kami tentang kesabaran, untuk tidak mudah menyerah menyelesaikan motif ini benang demi benang hingga menjadi sebuah kain," Ina Baiq terus melanjutkan pengerjaannya. "Agar para perempuan mampu tegar menjalani kehidupan nyata."

Nadine menatap pola Subahnale di depan matanya.
Mengajarkan para perempuan Sasak untuk tidak menyerah.

Manda menunduk dan berbisik dari belakang. "Makanya aku bawa Kak Nadine ke sini biar Ina Baiq banyak cerita sama Kakak. Soalnya aku capek ngerjain tenun."

Nadine tersenyum. "Nakal ya kamu."

Manda cekikikan. Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku bajunya. "Ini buat Kak Nadine. Aku yang membuatnya."

Nadine terdiam melihat sebuah gelang di tangan Manda. Gelang yang terbuat dari kain tenun, bermotif Subahnale. Gelang yang sederhana, namun memiliki filosofi kuat di dalamnya.

"Rapi sekali," Nadine menerimanya dengan senang hati. "Ini pasti bikinnya susah. Beneran buat aku?"

"Iya Kak," jawab Manda, menyisipkan bunga di gelungan rambut Nadine. "Biar kak Nadine kuat dan tidak mudah menyerah."

"..."

"Sini aku pakaikan," Manda bergeser, dan mulai mengikat gelang itu di tangan Nadine.

Sementara Nadine hanya bisa menahan nafas— menahan perasaannya agar tidak menangis di tempat itu.
Rasanya, ada sesuatu yang baru saja terbuka dalam pikirannya.
Sesuatu yang bahkan tak pernah ia dapatkan selama di Singapore.

Manda tersenyum melihat ekspresi terharu Nadine.
Begitupun Ina Baiq.

Perempuan tua itu memegangi lengan Manda.
"Hasil kerajinanmu membuat Kakak itu senang. Berarti kamu berhasil menyampaikan Subahnale kepada pemakainya."

Manda yang berdiri di hsdapan Nadine, mengusap wajah gadis itu, mengangkat dagunya— sedikit mendongak.
"Kak Nadine jangan sedih terus."

"..."

Nadine mengangguk, lalu mendekap Manda erat.

Terima.kasih Manda, Ina Baiq.






Other Stories
Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Painted Distance (tamat)

Dara memutuskan untuk pergi ke Sapporo bukan hanya sekadar liburan. Perjalanannya di kota ...

Luka

LUKA Tiga sahabat. Tiga jalan hidup. Tiga luka yang tak kasatmata. Moana, pejuang garis ...

Jjjjjj

ghjjjj ...

Kelabu

Kulihat Annisa tengah duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai bersama seorang anak ...

DARAH NAGA

Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...

Download Titik & Koma