9. Menuju Laut
Jam 16.00 WITA
Nadine terlihat bersiap di dalam ruang utama base ESCAPE. Ia mengenakan bikini dengan t-shirt longgar sebagai luaran. Rambutnya ia ikat tinggi, membiarkan wajahnya terlihat penuh.
Nadine berdiri di dekat meja, sementara Pak Layang nampak membongkar box container peralatan snorkeling. Pak Layang menjajarkan beberapa fin, google dan pipa snorkel di meja agar Nadine bisa memilih sendiri dan melakukan fitting strap karet nya.
Pak Layang masih membongkar box container sambil memberikan briefing singkat mengenai gugusan karang di luar teluk Segare. Ia juga menjelaskan apa- apa yang boleh dan tidak boleh di lakukan selama melakukan snorkeling.
"Jika memang nanti ada yang tidak paham,, Raka yang akan menjelaskan di sana," Pak Layang berdiri memperhatikan postur Nadine dari atas sampai bawah.
"Hmm.. Mbak Nadine ini tingginya seperti bule ya."
Lalu ia memperlihatkan sebuah scubasuit kepada Nadine. "Yang fullbody untuk ukuran perempuan seperti Mbak Nadine hanya ada yang model one-piece seperti ini."
Nadine mengangguk. "Nggak apa Pak."
"Baiklah," Pak Layang mengajak Nadine keluar ruangan.
Raka tengah menunggu di samping cooler box yang berisi botol jamu, air putih, dan beberapa kaleng soda. Ia juga membawa beberapa potong ubi kukus untuk mengganjal perut.
Raka mengangkat cooler box itu di satu bahu. Ia melihat jam tangan g-shock nya. "Kalau berangkat sekarang, kita akan punya banyak waktu di sana."
"Oke," Nadine tersenyum dan berjalan di belakang Raka penuh antusias. Pak Layang ikut berjalan membawakan perlengkapan snorkeling Nadine menuju pantai.
Sebuah perahu cadik— perahu nelayan tradisional dengan dua pelampung di kanan dan kiri, telah siap di lokasi. Perahu itu milik ayah Raka, dan memang sedang tidak dipakai. Sebab subuh tadi para warga telah mengangkat jaring mereka.
Raka membantu Nadine memanjat naik perahu, sementara Pak Layang standby untuk melepas tali tambatnya.
"Have fun ya Mbak Nadine," Pak Layang melambaikan tangan.
"Iya Pak," Nadine tersenyum lebar, balas melambaikan tangan.
-BRUUUMM!!
Sebuah raungan mesin terdengar saat Raka menarik starter motornya. Lalu perlahan, perahu cadik itu bergerak meninggalkan pantai.
Perahu melaju pelan membelah ombak yang tenang, keluar dari area teluk Segare yang diapit oleh bukit Amirta.
Nadine memicingkan mata, merasakan hangat siraman mentari sore. Aroma asin laut yang memenuhi hidung, percikan air yang mendinginkan tubuh. Dan goyangan perahu oleh ombak kecil.
Rasanya di sini benar- benar bebas. Tak ada apapun, siapapun. Hanya ada horizon luas yang membentang sejauh mata memandang.
Lalu Nadine menoleh, tanpa sengaja bertatapan mata dengan Raka yang sedang sibuk mengatur arah haluan perahu.
Dan keduanya tersenyum.
Perahu itu melaju menuju ke arah Utara sejauh beberapa kilometer, menuju sebuah tempat yang dipenuhi dengan gugusan terumbu karang di bawah mereka. Airnya jernih, ombaknya tenang.
Inilah Nirvana Reef.
"Kita sudah sampai," Raka melempar angkor kecil untuk menambatkan perahu, lalu menurunkan tangga di tepiannya. Tangga itu hanya berupa tali tampar dengan kayu- kayu yang diikat sebagai pijakan. "Pakai diving suit nya Mbak."
"Oke," Nadine berdiri mencopot t-shirt luarannya.
Ia pun mengenakan baju selam one piece itu— dengan mengenakan bikini sebagai dalaman.
Dan baru ia menyadari bahwa risleting baju ini ada di bagian punggung. Nadine nampak sedikit kesulitan untuk meraihnya.
"Kaku amat badannya, tangannya nggak nyampe," gumam Raka tiba- tiba, membantu menutup risleting punggung Nadine. "Katanya model?"
"Cerewet," sungut Nadine memutar bola mata, sambil memakai sepatu katak. Lalu ia mengenakan google, mengatur posisi karetnya agar pas dengan lekuk kepala.
"Kamu cuma pakai begitu itu?" tanya Nadine saat melihat Raka bersiap dengan hanya mengenakan celana pendek kargo, sepatu katak dan google tanpa pipa snorkel.
"Aquaman mah bebas," jawab Raka asal.
Raka juga membawa sebuah besi panjang dengan kait di ujung yang biasa digunakan warga Segare untuk madak— mencari kerang, kepiting dan ikan kecil di sela karang. Di bagian sabuk, Raka menggantung sebuah botol kecil.
Keduanya lalu duduk di tepi perahu, bersiap untuk turun. Kaki mereka telah berada di dalam air.
"Sebentar," Raka mengulurkan tangan, membetulkan posisi google Nadine. Raka memperhatikan tepian google itu yang menekan bekas luka di wajahnya. "Lukanya sakit?"
Nadine menggeleng.
Lalu Raka menciduk air laut dengan tangan, dan mengguyurkannya ke wajah Nadine. Untuk memastikan bahwa google gadis itu telah kedap air.
"Kedalaman rata- rata di area koral ini sekitar empat meter," ujar Raka memberi penjelasan singkat. "Jangan menginjak gugusan koral— butuh puluhan tahun sampai mereka bisa tumbuh seukuran di bawah ini."
Nadine menatap lekat gugusan koral di bawahnya— di dalam air jernih yang bergelombang. Pantulan kilau matahari membuatnya samar. Namun Nadine melihat banyak pergerakan di bawah sana.
Jantungnya berdebar- debar, tak sabar ingin segera menyelam.
"Siap?" tanya Raka.
Nadine memasang mouthpiece pipa snorkel di mulutnya. Lalu mengangguk pelan.
"Tiga."
Nadine menarik nafas panjang, mengisi paru- parunya dengan udara.
"Dua."
Nadine mengenggam tangan Raka. Hangat.
"Satu."
Dan Nadine mendorong dirinya dari tepi perahu. Meluncur ke dalam air yang menyambut di bawah.
-BYUUURRR!!!!
Nadine terlihat bersiap di dalam ruang utama base ESCAPE. Ia mengenakan bikini dengan t-shirt longgar sebagai luaran. Rambutnya ia ikat tinggi, membiarkan wajahnya terlihat penuh.
Nadine berdiri di dekat meja, sementara Pak Layang nampak membongkar box container peralatan snorkeling. Pak Layang menjajarkan beberapa fin, google dan pipa snorkel di meja agar Nadine bisa memilih sendiri dan melakukan fitting strap karet nya.
Pak Layang masih membongkar box container sambil memberikan briefing singkat mengenai gugusan karang di luar teluk Segare. Ia juga menjelaskan apa- apa yang boleh dan tidak boleh di lakukan selama melakukan snorkeling.
"Jika memang nanti ada yang tidak paham,, Raka yang akan menjelaskan di sana," Pak Layang berdiri memperhatikan postur Nadine dari atas sampai bawah.
"Hmm.. Mbak Nadine ini tingginya seperti bule ya."
Lalu ia memperlihatkan sebuah scubasuit kepada Nadine. "Yang fullbody untuk ukuran perempuan seperti Mbak Nadine hanya ada yang model one-piece seperti ini."
Nadine mengangguk. "Nggak apa Pak."
"Baiklah," Pak Layang mengajak Nadine keluar ruangan.
Raka tengah menunggu di samping cooler box yang berisi botol jamu, air putih, dan beberapa kaleng soda. Ia juga membawa beberapa potong ubi kukus untuk mengganjal perut.
Raka mengangkat cooler box itu di satu bahu. Ia melihat jam tangan g-shock nya. "Kalau berangkat sekarang, kita akan punya banyak waktu di sana."
"Oke," Nadine tersenyum dan berjalan di belakang Raka penuh antusias. Pak Layang ikut berjalan membawakan perlengkapan snorkeling Nadine menuju pantai.
Sebuah perahu cadik— perahu nelayan tradisional dengan dua pelampung di kanan dan kiri, telah siap di lokasi. Perahu itu milik ayah Raka, dan memang sedang tidak dipakai. Sebab subuh tadi para warga telah mengangkat jaring mereka.
Raka membantu Nadine memanjat naik perahu, sementara Pak Layang standby untuk melepas tali tambatnya.
"Have fun ya Mbak Nadine," Pak Layang melambaikan tangan.
"Iya Pak," Nadine tersenyum lebar, balas melambaikan tangan.
-BRUUUMM!!
Sebuah raungan mesin terdengar saat Raka menarik starter motornya. Lalu perlahan, perahu cadik itu bergerak meninggalkan pantai.
Perahu melaju pelan membelah ombak yang tenang, keluar dari area teluk Segare yang diapit oleh bukit Amirta.
Nadine memicingkan mata, merasakan hangat siraman mentari sore. Aroma asin laut yang memenuhi hidung, percikan air yang mendinginkan tubuh. Dan goyangan perahu oleh ombak kecil.
Rasanya di sini benar- benar bebas. Tak ada apapun, siapapun. Hanya ada horizon luas yang membentang sejauh mata memandang.
Lalu Nadine menoleh, tanpa sengaja bertatapan mata dengan Raka yang sedang sibuk mengatur arah haluan perahu.
Dan keduanya tersenyum.
Perahu itu melaju menuju ke arah Utara sejauh beberapa kilometer, menuju sebuah tempat yang dipenuhi dengan gugusan terumbu karang di bawah mereka. Airnya jernih, ombaknya tenang.
Inilah Nirvana Reef.
"Kita sudah sampai," Raka melempar angkor kecil untuk menambatkan perahu, lalu menurunkan tangga di tepiannya. Tangga itu hanya berupa tali tampar dengan kayu- kayu yang diikat sebagai pijakan. "Pakai diving suit nya Mbak."
"Oke," Nadine berdiri mencopot t-shirt luarannya.
Ia pun mengenakan baju selam one piece itu— dengan mengenakan bikini sebagai dalaman.
Dan baru ia menyadari bahwa risleting baju ini ada di bagian punggung. Nadine nampak sedikit kesulitan untuk meraihnya.
"Kaku amat badannya, tangannya nggak nyampe," gumam Raka tiba- tiba, membantu menutup risleting punggung Nadine. "Katanya model?"
"Cerewet," sungut Nadine memutar bola mata, sambil memakai sepatu katak. Lalu ia mengenakan google, mengatur posisi karetnya agar pas dengan lekuk kepala.
"Kamu cuma pakai begitu itu?" tanya Nadine saat melihat Raka bersiap dengan hanya mengenakan celana pendek kargo, sepatu katak dan google tanpa pipa snorkel.
"Aquaman mah bebas," jawab Raka asal.
Raka juga membawa sebuah besi panjang dengan kait di ujung yang biasa digunakan warga Segare untuk madak— mencari kerang, kepiting dan ikan kecil di sela karang. Di bagian sabuk, Raka menggantung sebuah botol kecil.
Keduanya lalu duduk di tepi perahu, bersiap untuk turun. Kaki mereka telah berada di dalam air.
"Sebentar," Raka mengulurkan tangan, membetulkan posisi google Nadine. Raka memperhatikan tepian google itu yang menekan bekas luka di wajahnya. "Lukanya sakit?"
Nadine menggeleng.
Lalu Raka menciduk air laut dengan tangan, dan mengguyurkannya ke wajah Nadine. Untuk memastikan bahwa google gadis itu telah kedap air.
"Kedalaman rata- rata di area koral ini sekitar empat meter," ujar Raka memberi penjelasan singkat. "Jangan menginjak gugusan koral— butuh puluhan tahun sampai mereka bisa tumbuh seukuran di bawah ini."
Nadine menatap lekat gugusan koral di bawahnya— di dalam air jernih yang bergelombang. Pantulan kilau matahari membuatnya samar. Namun Nadine melihat banyak pergerakan di bawah sana.
Jantungnya berdebar- debar, tak sabar ingin segera menyelam.
"Siap?" tanya Raka.
Nadine memasang mouthpiece pipa snorkel di mulutnya. Lalu mengangguk pelan.
"Tiga."
Nadine menarik nafas panjang, mengisi paru- parunya dengan udara.
"Dua."
Nadine mengenggam tangan Raka. Hangat.
"Satu."
Dan Nadine mendorong dirinya dari tepi perahu. Meluncur ke dalam air yang menyambut di bawah.
-BYUUURRR!!!!
Other Stories
Pra Wedding Escape
Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...
Plan B
Ketika liburan mereka gagal, tiga orang bersahabat mengambil rute lain. Desa pegunungan ya ...
Nona Manis ( Halusinada )
Dia berjalan ke arah lemari. Hatinya mengatakan ada sebuah petunjuk di lemari ini. Benar s ...
Kepingan Hati Alisa
Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...
.
. ...
Impianku
ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...