Escape [end]

Reads
501
Votes
18
Parts
18
Vote
Report
Penulis Andi Yudaprakasa

12. Perasaan Nadine

Suara debur ombak terdengar nyaring di luar villa. Angin mendesau, membuat dedaunan berkerisik. Dengan suara burung dan serangga malam yang berisik.

Nadine berbaring di atas ranjang—mengenakan kaos dan celana santai. Pandangnya menerawang langit- langit kayu. Ingatannya kembali pada momen singkat di saat matahari tenggelam tadi sore.
Dengan jari menekan lembut bibirnya sendiri.

Bagaimana bisa aku melakukannya?

Pertanyaan itu terus berputar dalam kepalanya sejak tadi sore. Dalam perjalanan pulang dari Nirvana reef. Saat ia mandi memberishkan diri.

Ciuman itu nyata.
Dan bukan Raka— tapi Nadine lah yang melakukannya.

Nadine menggerutu sambil memutar badan ke samping, menatap kosong tembok anyaman bambu di depan matanya.

Nadine baru mengenal Raka hanya sekitar empat hari. Lalu kenapa?

Hanya karena begibung ikan bakar bersama warga di base ESCAPE?
Hanya karena Raka sering berkunjung ke villa memastikan keadaan dan kenyamanan Nadine sebagai tamu?
Hanya karena Raka mengulurkan tangan, menuntunnya mendaki bukit Amirta?
Menyibak poninya?
Dan berkata bahwa ia cantik?

Jari Nadine bergeser dari bibir, menyusuri bekas luka memanjang vertikal di wajah kanannya.

Mungkin— itu.

Di Singapore, para fotografer menghindari mengambil angle dari sudut kanan. Teman- temannya berpura- pura tak melihat itu. Dan orang asing selalu menatap bekas lukanya lekat.

Tapi Raka?
Raka melihat wajahnya secara utuh. Sebagai Nadine.

Hanya karena itu kah? Hanya karena Raka memandanginya tidak sebagai orang yang 'cacat'?

Nadine bergelung makin rapat, memeluk lututnya di atas ranjang.

Apakah selama ini sebenarnya ia merasa kesepian?
Apakah sehaus itu Nadine dengan perhatian?

Empat hari, Nadine.
Empat hari, dan kamu sudah mencium lelaki itu?

Dan Nadine merasakan sesak di dalam dadanya.
Apakah Raka akan menganggapnya sebagai perempuan gampangan?

Gadis dari gemerlap modern Singapore.
Seorang model.
Datang berlibur ke sebuah desa nelayan terpencil jauh dari asalnya, dan mencium seorang lelaki pertama yang benar- benar baik padanya?

Bahkan dulu Barrack—

Astaga.
Nadine sampai lupa.

Selama empat hari tinggal di sini, dengan Raka selalu berada di sekitarnya, ia bahkan sampai lupa dengan sosok Barrack.

Bahkan, selama empat hari berada di sini, Nadine bisa tidur jauh lebih nyenyak daripada malam- malamnya tidur beralas ranjang super nyaman di apartemennya di Singapore.

Di sini, mimpi buruk itu mulai berkurang.
Dan di sini, ia bisa tertawa.
Bebas.

Tapi, apakah lantas itu bisa menjadi pembenaran?

Nadine meraih ponsel yang tergeletak di dekat kepalanya. Ibu jarinya mengusap pelan wajah Barrack yang menjadi wallpaper nya.

"Barry—" lirih Nadine. "Aku harus bagaimana?"

-----

Hari kelima.

Sebuah papan kayu kecil bertuliskan DO NOT DISTURB tergantung di handel pintu depan villa. Nadine benar- benar tak ingin bertemu siapapun— terlebih Raka.

Sarapan dan makan siang hanya diantar sampai depan pintu.
Pesan dan teks terkirim ia biarkan tak terbaca.
Nadine hanya berbaring di sofa, menatap kipas angin yang berputar pelan di atasnya.
Sebuah cangkir kopi berada di meja samping, mengepulkan uap dengan aroma pekat.

Apakah benar ia merasa senyaman itu dengan Raka?
Dan kalaupun benar— lalu apa?

Ia dan Raka hanyalah seorang tamu dan guide, yang kebetulan bertemu di sini.
Dengan keadaan perasaan Nadine yang berantakan.
Apakah ia harus menyerah dan membuka diri kepada Raka?
Dan kalaupun Raka juga merasakan hal yang sama kepadan Nadine—
Lalu apa?

Memangnya ada apa di antara mereka berdua?
Sebuah chemistry?
Sebuah momen singkat?

Atau sebuah perasaan yang tak seharusnya muncul?

Setelah ini masa liburan ini berakhir, ia akan pulang ke Singapore. Kembali ke kehidupannya yang datar, dan tak tertata.
Dan Raka akan masih tetap di sini, di desa indah ini. Masih bekerja sebagai personal guide, melayani tamu lainnya.

Ya. Nadine hanyalah seorang tamu.
Dan Raka hanyalah personal guide.
Bukankah begitu?

Nadine menggigit bibirnya.
Matanya terasa panas, pandangannya mengabur.

Dan setitik air mengalir dari sudutnya.


Other Stories
People Like Us

Setelah 2 tahun di Singapura,Diaz kembali ke Bandung dengan kenangan masa lalu & konflik k ...

Haruskah Bertemu?

Aku bertemu dengan wanita di gerbong yang sama dengan satu kursi juga. Dia sangat riang se ...

Daisy’s

Kisah Tiga Bersaudari ...

Turut Berduka Cinta

Faris, seorang fasilitator taaruf dengan tingkat keberhasilan tinggi, dipertemukan kembali ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Teka-teki Surat Merah

Seorang gadis pekerja klub malam ditemukan tewas dalam kantong plastik di taman kota, meng ...

Download Titik & Koma