The Pavilion

Reads
25
Votes
3
Parts
2
Vote
Report
The pavilion
The Pavilion
Penulis Rendy Alfariz

BAB 1 • Suara Mesin •

BAB 1: Suara Mesin




Fajar baru saja menyingsing di langit Jakarta ketika bus pariwisata eksekutif berwarna biru metalik itu mulai memanaskan mesinnya di halaman sekolah. Suara mesinnya yang berat seolah menjadi musik pembuka bagi petualangan yang sudah direncanakan selama hampir satu tahun. Di depan bus, terpasang spanduk kain bertuliskan: "FAMGATHERING KELAS XII-IPA 3: GOES TO CENTRAL JAVA".

Pak Hendra, guru olahraga yang berperawakan tegap namun humoris, berdiri di pintu bus sambil memegang papan klip. Di sampingnya, Bu Sarah, guru Bahasa Inggris yang selalu tampil modis dengan kacamata hitamnya, sibuk mencentang daftar hadir.

"Ayo, ayo! Masuknya teratur! Jangan sampai ada yang ketinggalan charger atau kenangan masa lalu di rumah!" seru Pak Hendra dengan suara baritonnya yang menggelegar, memicu tawa kecil dari para murid yang mulai berdatangan.

Satu per satu dari 35 siswa itu mulai menaiki bus.
Dimas, sang ketua kelas yang karismatik namun sedikit ceroboh, masuk pertama kali membawa tumpukan snack. "Pak, saya bawa kerupuk satu kaleng besar, aman ya masuk bagasi?"

"Aman, Dim! Asal jangan kamu makan sendirian," sahut Pak Hendra sambil menepuk bahu Dimas.
Di belakang Dimas, ada Rian yang pendiam, selalu mengenakan headphone di lehernya. Ia hanya mengangguk kecil pada guru-gurunya dan langsung menuju kursi paling belakang, berharap bisa tidur sepanjang jalan. Namun, rencananya digagalkan oleh Bimo, si ekstrovert kelas yang suaranya paling cempreng.

"Woi, Rian! Jangan di pojokan mulu, ntar lumutan loh! Duduk sini dekat jendela, biar kita bisa liat mbak-mbak cantik di rest area nanti!" seru Bimo sambil menarik paksa tas Rian.

Siska, siswi yang dikenal sebagai 'ratu gosip' namun sangat peduli pada teman-temannya, masuk bersama Laras, gadis pemalu yang hobi menggambar sketsa. Mereka duduk di barisan tengah.

"Laras, kamu bawa buku gambar baru? Nanti gambarin aku ya pas lagi sunset, biar kayak di film-film holiday gitu, estetik banget pasti," kata Siska sambil sibuk membetulkan letak bando di kepalanya.

Laras hanya tersenyum tipis. "Lihat nanti ya, Sis. Kalau mood-nya lagi bagus."

Bus mulai penuh. Ada Doni yang sibuk membawa powerbank kapasitas raksasa, Maya yang sudah siap dengan bantal leher dan masker mata, serta Zaki yang sejak tadi sibuk pamer sepatu lari barunya kepada siapa saja yang mau mendengarkan.

Bu Linda, guru Biologi yang lembut, dan Pak Bambang, guru Sejarah yang hobi bercerita tentang kerajaan masa lalu, masuk terakhir. Mereka memastikan semua logistik sudah masuk ke bagasi.

"Semua sudah di dalam?" tanya Bu Linda lembut.
"Sudah, Bu! Lengkap 35 bocah!" teriak Andre, si tukang lawak dari barisan tengah, yang langsung disambut sorakan "Huuu!" "Lo aja kali yang bocah Ndre!" dari teman-temannya.

Bus mulai bergerak perlahan meninggalkan area sekolah. Perjalanan panjang menuju Jawa Tengah dimulai. Suasana di dalam bus langsung riuh. Musik pop diputar dari speaker bus, tapi suara para siswa jauh lebih keras.

"Guys, guys! Dengerin deh," Tania, siswi yang bercita-cita jadi influencer, berdiri di lorong bus sambil memegang ponselnya yang terpasang pada gimbal. "Aku mau bikin konten 'Day in My Life: Perjalanan 12 Jam'. Semuanya dadah ke kamera!"

Semua orang melambai, ada yang bergaya keren, ada yang menutup muka karena malu seperti Eko yang introvert, dan ada yang sengaja membuat muka jelek seperti Ferry.

"Tania, nanti jangan lupa tag aku ya! Pastikan angle-ku dari kiri, biar hidungku kelihatan mancung," teriak Rani, yang langsung dijawab dengan tawa oleh Citra dan Dewi yang duduk di sampingnya.

Di kursi bagian depan, Pak Hendra dan Pak Bambang mulai mengobrol ringan.

"Pak Bambang, ini perjalanan terjauh kita bareng anak-anak ya? Biasanya paling cuma ke Puncak," ujar Pak Hendra sambil membuka bungkus kacang.

Pak Bambang mengangguk, matanya menatap jalanan tol yang mulai membentang luas. "Iya, Hendra. Anak-anak butuh penyegaran sebelum ujian akhir. Saya dengar daerah yang kita tuju itu udaranya sangat bersih, dekat pantai pula. Cocok buat mereka melepas penat."

Sementara itu, di barisan belakang, perdebatan seru sedang terjadi antara Gani, Haikal, dan Irfan soal tim sepak bola favorit mereka.

"Nggak bisa gitu, Kal! Bek mereka itu kayak bubur ayam, lembek! Harusnya ganti pelatih dari bulan lalu!" seru Gani dengan bersemangat.

"Ah, kamu mah taunya cuma nuntut menang doang. Pelatihnya pasti punya strategi lebih kece nanti, Gan!" balas Haikal tak mau kalah.

Joko, yang duduk di dekat mereka, hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil asyik memakan bekal nasi uduk buatan ibunya. "Kalian ribut terus, mending makan nih tempe orek, enak banget."

Di sisi lain, Karin dan Lulu sedang asyik membahas drama Korea terbaru yang baru saja tamat. Mereka menangis dan tertawa bersama, seolah-olah dunia di dalam bus hanya milik berdua.

"Kenapa sih sad ending? Aku nggak terima aktornya jadi kayak gini!" keluh Lulu sambil menyeka air mata imajiner.

"Sabar, Lu. Nanti di paviliun kita maraton drakor yang happy ending aja ya," hibur Karin sambil menawarkan tisu.

Waktu berlalu dengan cepat. Bus melaju membelah jalan tol Trans Jawa. Pemandangan gedung-gedung tinggi perlahan berganti menjadi hamparan sawah hijau yang luas dan pepohonan rimbun.

Nadia, Olive, dan Putri sedang asyik bermain game tebak-tebakan kata.
"Benda, kecil, putih, tapi kalau digigit bikin nangis. Apa tu?" tanya Nadia.

"Bawang putih!" jawab Olive cepat.

"Salah! Garam sesendok trus di makan dah, pasti bikin nangis kan!" seru Nadia yang langsung membuat Putri tertawa terbahak-bahak sampai tersedak air minumnya sendiri.

"Uhuk! Nadia, jokes mu receh banget sih!" keluh Putri sambil menepuk-nepuk dadanya.

Di kursi nomor 15, ada Qori yang sejak tadi diam memperhatikan teman-temannya. Ia adalah tipe pengamat. Ia melihat Reza yang sedang mencoba mendekati Santi dengan memberikan cokelat, tapi Santi justru malah asyik mengobrol dengan Tio soal hobi mereka memelihara kucing.

"Kasihan si Reza, kena friend zone lagi," gumam Qori pelan yang hanya didengar oleh Umar di sampingnya.

Umar terkekeh. "Biarin lah, Qor. Namanya juga usaha. Eh, kamu bawa kartu Uno nggak? Bosan nih liat sawah mulu."

"Ada di tas. Panggil Vina sama Wanda gih, biar makin seru mainnya," jawab Qori.

Permainan Uno pun dimulai dengan riuh di bagian tengah bus. Suara teriakan "Uno!" dan protes karena diberikan kartu +4 menggema, bersahutan dengan suara tawa dari bagian bus yang lain.

Xander, Yuda, dan Zul sedang asyik mendengarkan podcast horor di satu earphone yang dibagi bertiga. Meskipun mereka terlihat berani, sesekali mereka berjingkat saat ada suara efek menyeramkan dari podcast tersebut.

"Eh, Zul, jangan kenceng-kenceng volumenya, serem banget suaranya," bisik Yuda sambil menoleh ke jendela yang mulai berkabut karena AC.

"Tadi katanya mau dengerin podcast beginian biar menantang, gimana sih!" ledek Zul, meskipun ia sendiri juga merinding.

Perjalanan ini terasa begitu hangat. Persahabatan mereka yang sudah terjalin selama tiga tahun di SMA terasa sangat solid.

Bu Sarah berdiri dan berjalan ke tengah lorong bus. "Anak-anak, sekitar satu jam lagi kita akan sampai di tempat makan siang. Siapkan tenaga kalian, karena setelah makan kita masih punya sisa perjalanan beberapa jam lagi sebelum sampai di lokasi menginap!"

"Siap, Bu Sarah Cantik!" sahut Bimo yang langsung disambut tawa dan sorakan "Huuuu" oleh seluruh isi bus.

Matahari mulai naik tinggi, menyinari bus yang terus melaju. Mereka adalah 39 orang yang penuh harapan, berangkat untuk mencari kebahagiaan, tanpa menyadari bahwa takdir sedang menenun cerita yang sangat berbeda untuk mereka.

~~~

Bus pariwisata bernama "Lazuardi Trans" itu kini sudah melaju stabil di KM 102 Tol Cipali. Bau pengharum ruangan jeruk bercampur dengan aroma minyak kayu putih yang dioleskan Laras ke pelipisnya karena ia mulai merasa sedikit mual.

"Laras, kamu oke? Mau antimo lagi?" tanya Siska dengan nada khawatir yang tulus. Ia berhenti sejenak dari aktivitas scrolling TikTok-nya.

Laras menggeleng pelan sambil menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang dingin. "Enggak kok, Sis. Cuma agak pusing aja karena tadi malam begadang nyelesein sketsa buat tugas akhir Pak Bambang."

Di seberang kursi mereka, Bimo sedang berusaha melakukan atraksi sulap kartu di depan Maya dan Zaki. Bimo memang tipe siswa yang tidak bisa diam sedetik pun.

"Oke, May, Zak, perhatikan! Satu kartu ini akan menghilang dan pindah ke saku Pak Hendra di depan sana!" seru Bimo dengan nada sok misterius.

Maya, yang sebenarnya ingin tidur menggunakan bantal lehernya, hanya memutar bola mata. "Bim, kalau kartunya nggak pindah, kamu harus diam selama satu jam ya? Jangan bacod dikitpun. Pusing dengerin bacodmu Mulu daritadi. Gimana, Deal?"

"Deal!" sahut Bimo percaya diri. Ia menjentikkan jari, lalu... plup, kartunya jatuh ke kolong kursi.

Zaki tertawa terbahak-bahak sampai tersedak keripik singkongnya. "Pindah ke kolong itu mah, Bim! Bukan ke Pak Hendra! Mana janjinya? Diam satu jam sekarang!"

Bimo langsung membungkam mulutnya sendiri dengan tangan, pura-pura terkunci, yang malah membuat Maya akhirnya tertawa juga.

Di barisan paling depan, Bu Sarah sedang berdiskusi dengan Pak Hendra soal pembagian kamar nanti, namun percakapan mereka diganggu oleh Dimas, sang ketua kelas yang tiba-tiba berdiri.
"Mohon perhatiannya, Rakyat IPA 3 yang budiman dan budiwati!"

Dimas menggunakan botol air mineral sebagai mikrofon. "Karena perjalanan kita masih sekitar 7 jam lagi, saya sebagai ketua kelas yang sangat perhatian, akan mengadakan kuis dadakan. Hadiahnya adalah... tepuk tangan dari saya sendiri!"

"Huuu! Pelit!" teriak Ferry dari kursi tengah. "Minimal beliin es teh pas di rest area lah, Dim!"
"Oke, oke! Yang menang kuis, nanti es tehnya dibayarin sama Doni! Dia kan habis menang lomba e-sport kemarin, duitnya banyak!" Dimas menunjuk Doni yang sedang sibuk dengan powerbank raksasanya.

Doni melotot. "Lho, kok aku? Tapi ya sudahlah, demi kesejahteraan rakyat IPA 3, boleh lah!"

"Pertanyaan pertama!" Dimas berdeham. "Siapa di kelas ini yang paling sering telat masuk jam pelajaran Bu Linda karena alasan 'ban bocor' padahal dia naik angkot?"

Serentak, hampir seluruh bus berteriak, "ANDRE!"
Andre, yang sedang pura-pura tidur, langsung terbangun dan membela diri. "Woi! Itu fitnah! Ban angkotnya yang bocor, bukan ban motor ku! Kan aku peduli sama sopir angkotnya, jadi ku temenin nambal dah!"

Tawa pecah memenuhi kabin bus. Bu Linda yang duduk di depan hanya tersenyum geleng-geleng kepala. Beliau sudah hafal betul tabiat Andre yang ada-ada saja alasannya.

Di barisan kursi nomor 10, Nadia, Olive, dan Putri sedang asyik membahas hal yang sangat random: apakah alien kalau ke bumi harus pakai paspor atau tidak.

"Ya harus dong, Olive," ujar Nadia serius. "Mereka kan pendatang asing. Extra-terrestrial itu kan artinya luar wilayah. Jadi masuknya alien-alien itu kayak imigrasi gelap kalau nggak ada paspor."

"Tapi Nad," sela Putri sambil mengunyah permen karet, "paspornya dikeluarin sama negara mana? Emang Planet Mars punya kantor kedutaan di Jakarta?"

"Mungkin mereka pakai e-passport yang bentuknya cip di otak gitu, jadi tinggal scan aja pas masuk wilayah atmosfer bumi," timpal Olive tak mau kalah.

Percakapan absurd itu berlangsung selama hampir lima belas menit, melibatkan Tio yang tiba-tiba ikut nimbrung dan menjelaskan teori konspirasi tentang Area 51 yang ia tonton di YouTube.

Sementara itu, di sudut yang lebih tenang, Eko yang introvert sedang membaca novel tebal. Ia merasa nyaman berada di tengah keramaian ini selama tidak ada yang memaksanya bicara. Namun, Wanda yang duduk di belakangnya sengaja menepuk pundaknya.

"Ko, baca apa sih? Serius banget. Itu novel horor ya?" tanya Wanda ingin tahu.

Eko menoleh sedikit, kacamatanya melorot ke ujung hidung. "Bukan, Wan. Ini novel tentang petualangan di kutub. Dingin, sepi, nggak ada orang. Damai banget."

"Yah, kamu mah emang sukanya yang sepi-sepi. Sekali-kali ikut tuh main Uno bareng Qori dan Umar di belakang, mumpung seru," ajak Wanda ramah.

Eko hanya tersenyum tipis dan kembali ke dunianya.

Di kursi paling belakang, Rian yang tadinya ingin tidur akhirnya menyerah karena Gani, Haikal, dan Irfan mulai menyanyi lagu-lagu galau tahun 2000-an dengan suara pas-pasan.

" Dan bila esok... datang kembali... " Gani menyanyi dengan penuh penghayatan sambil memegang botol parfum sebagai mic.

" Seperti sediakala... di mana kau bisa bercanda... " sambung Haikal dengan nada yang sengaja dibuat-buat seperti penyanyi seriosa.

Irfan yang biasanya kalem malah jadi yang paling semangat main drum di sandaran kursi depan. "Ayo Rian! Ikut nyanyi! Jangan galau mulu, mantanmu sudah bahagia tuh sama yang lain!"

Rian akhirnya melepas headphone-nya. "Siapa yang galau? Aku cuma mau tidur! Tapi kalau kalian maksa, oke, aku jabanin!"

Tiba-tiba suasana berubah menjadi konser mini. Suara musik pop-rock mengisi bus, membuat Pak Bambang yang tadinya mau menjelaskan sejarah singkat daerah yang mereka lewati urung melakukannya. Beliau justru ikut bertepuk tangan mengikuti irama.

"Biarkan saja, Hendra," kata Pak Bambang pada Pak Hendra. "Ini momen terakhir mereka sebelum sibuk belajar ujian. Biarkan mereka menciptakan memori indah selama perjalanan ini."

Momen indah. Kalimat itu menggantung di udara.
Di kursi baris ketiga, Tania masih sibuk dengan vlog-nya. Ia kini mewawancarai Karin dan Lulu.
"Hai guys! Sekarang kita lagi sama dua 'duo maut' IPA 3. Karin, Lulu, apa harapan kalian buat liburan kali ini?" tanya Tania sambil mengarahkan kamera ponselnya.

Karin tersenyum manis ke arah kamera. "Harapannya... semoga fotoku banyak yang bagus buat dipost di Instagram, dan semoga kita semua tetap bareng-bareng terus sampai lulus!"

Lulu menambahkan, "Dan semoga makanannya enak-enak! Katanya di paviliun itu makanan kateringnya juara!"

Tania kemudian mengarahkan kameranya ke arah Joko yang sedang lahap makan kerupuk kaleng milik Dimas. "Kalau Joko, harapannya apa?"

Joko menoleh dengan pipi tembam yang penuh kerupuk. "Harapanku... kerupuk ini nggak habis sampai kita pulang nanti."

Semua yang mendengar itu tertawa. Kehangatan ini terasa begitu nyata. Tidak ada satupun dari mereka yang membahas tentang bangunan tua berlantai tiga yang akan mereka tempati. Tidak ada yang tahu bahwa paviliun itu memiliki sejarah yang kelam, yang tersimpan rapat di bawah pondasi betonnya yang mulai retak.

Bus kemudian mulai keluar dari jalan tol, memasuki jalanan provinsi yang lebih sempit namun indah. Pepohonan jati yang meranggas di kanan kiri jalan memberikan kesan eksotis.
"Eh, liat tuh! Ada monyet di pinggir jalan!" teriak Xander sambil menunjuk ke arah dahan pohon besar.

Sontak semua murid yang duduk di sisi kiri bus berdiri dan menempelkan wajah mereka ke kaca.
"Mana? Mana? Wah iya! Lucu banget!" seru Citra kegirangan.

"Zul, itu saudaramu ya?" ledek Yuda pada Zul.
"Sembarangan! Itu saudaranya Andre, lagi nungguin angkot ban bocor!" balas Zul cepat yang kembali memicu tawa meledak di seluruh bus.

Dewi yang duduk bersama Rani mulai membagikan bekal buah jeruk yang sudah dikupas. "Ayo dimakan, biar nggak mabuk di jalan. Segar nih."

"Makasih ya, Dewi. Kamu emang 'ibu' peri di kelas ini," puji Rani sambil mengambil satu siung jeruk.

Perjalanan terus berlanjut. Mereka melewati pasar-pasar tumpah yang ramai, masjid-masjid tua dengan arsitektur unik, hingga akhirnya hamparan laut biru mulai terlihat di kejauhan.

"Laut! Lihat, lautnya sudah kelihatan!" teriak Santi yang duduk paling dekat dengan jendela depan.
"Wah, gila! Bagus banget!" sahut Tio yang ikut berdiri.

Bus terus melaju, membawa mereka yang sedang bersuka cita ini menuju sebuah titik yang akan mengubah hidup mereka selamanya. Mereka masih punya banyak cerita untuk dibagi, banyak tawa untuk dilepaskan, sebelum akhirnya matahari terbenam dan kegelapan mulai mengambil alih.



Other Stories
Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

Dante Fair Tale

Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...

Manusia Setengah Siluman

Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...

Testing

testing ...

Kau Bisa Bahagia

Airin harus menikah dalam 40 hari demi warisan ayahnya, namun hatinya tetap pada Arizal, c ...

Pacar Sewaan

Sebagai pacar sewaan yang memiliki kekasih, Ledi yakin mampu menjaga batas antara pekerjaa ...

Download Titik & Koma