Bab 6: Benteng Yang Dibangun Kembali
Dua hari setelah kejadian di Perpustakaan Suleymaniye, Fatimah memutuskan untuk membangun "benteng" di sekeliling hatinya. Ia sengaja datang lebih awal ke kampus, menghindari kemungkinan bertemu Emir di parkiran atau koridor fakultas. Baginya, kehadiran sosok wanita bernama Melisa adalah alarm peringatan yang dikirimkan Allah agar ia kembali ke tujuan utamanya: belajar.
Istanbul pagi itu diselimuti kabut tebal. Jembatan Bosphorus hanya terlihat seperti bayangan raksasa di kejauhan. Di dalam studio arsitektur, Fatimah menyibukkan diri dengan maket digitalnya. Namun, konsentrasinya hancur saat pintu studio terbuka dan aroma kayu cendana yang familiar menyeruak masuk.
Emir Arslan berjalan masuk dengan langkah tegas. Kali ini ia mengenakan kemeja hitam yang dibalut blazer abu-abu. Ia langsung menuju meja Fatimah.
"Kenapa kau tidak menjawab pesanku kemarin?" tanya Emir tanpa basa-basi. Suaranya rendah namun mengandung tekanan.
Fatimah tidak mendongak, jemarinya tetap sibuk menggerakkan mouse pada layar laptop. "Maaf, Bey. Saya sedang fokus mengerjakan revisi data akustik yang Anda berikan. Saya pikir tidak ada hal mendesak yang harus dibalas."
Emir terdiam sejenak, menatap ubun-ubun jilbab Fatimah. "Aku menanyakan keadaan kakimu, Fatimah. Itu urusan mendesak bagiku sebagai pembimbing lapanganmu."
"Sudah sembuh total, Bey. Terima kasih," jawab Fatimah singkat, masih tanpa kontak mata.
Emir menarik sebuah kursi dan duduk di samping meja Fatimah. Jarak mereka cukup dekat hingga Fatimah bisa mendengar helaan napas pria itu. "Kau berubah sejak di perpustakaan. Apakah karena wanita yang datang menemuiku kemarin?"
Pertanyaan yang begitu lugas itu membuat jantung Fatimah mencelos. Ia akhirnya menoleh, menatap Emir dengan pandangan sedatar mungkin. "Saya rasa itu bukan urusan saya, Emir Bey. Siapa pun yang menemui Anda adalah bagian dari kehidupan pribadi Anda. Fokus saya di sini adalah menyelesaikan riset saya tepat waktu."
Emir menyipitkan mata. "Dia adalah Melisa. Putri dari pemilik firma arsitektur terbesar di Istanbul, tempatku bekerja paruh waktu sebagai konsultan senior. Dia juga... seseorang yang ingin dijodohkan paman aku denganku."
Fatimah merasa ada sesuatu yang tajam menusuk dadanya, namun ia tetap memasang wajah tenang. "Dia sangat cantik. Sangat cocok dengan Anda, Bey. Selamat."
"Fatimah," suara Emir meninggi satu nada, penuh rasa frustrasi. "Aku tidak memberitahumu ini untuk mendapatkan ucapan selamat. Aku mengatakannya karena aku tidak suka ada kesalahpahaman yang mengganggu kerja kita."
"Tidak ada kesalahpahaman, Bey. Saya tahu posisi saya," Fatimah menutup laptopnya dengan suara klik yang tajam. "Jika tidak ada hal lain yang berkaitan dengan teknis restorasi, saya mohon izin untuk ke perpustakaan. Ali Bey sudah menunggu saya untuk diskusi manuskrip tambahan."
Mendengar nama Ali, rahang Emir kembali mengeras. "Ali lagi? Sepertinya kau lebih nyaman bekerja dengan seseorang yang hanya bisa bicara daripada seseorang yang benar-benar memahami batu dan semen."
"Ali Bey menghargai batas-batas, Emir Bey. Dan saat ini, itulah yang saya butuhkan," Fatimah bangkit, menyampirkan tasnya, dan melangkah pergi tanpa menunggu balasan dari Emir.
Fatimah tidak benar-benar menemui Ali. Ia hanya butuh alasan untuk pergi. Ia menaiki bus menuju dermaga Eminönü, lalu berganti dengan kapal feri yang menuju sisi Asia. Ia butuh angin laut untuk mendinginkan kepalanya yang terasa mendidih.
Di atas dek feri, Fatimah menatap riak air yang terbelah oleh laju kapal. Ia mengeluarkan ponselnya, melihat foto ibunya yang sedang tersenyum di depan warung kue mereka di Jakarta. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh juga.
"Ya Allah, ampuni hamba," bisiknya lirih. "Hamba ke sini untuk menuntut ilmu-Mu, bukan untuk memperebutkan hati hamba-Mu. Cabutlah rasa kagum yang salah ini, ya Allah. Kembalikan fokus hamba hanya pada-Mu dan Ibu."
Ia menyadari bahwa Emir adalah pria yang terlalu kompleks. Pria itu punya masa lalu yang kelam, karier yang cemerlang, dan lingkungan sosial yang sangat berbeda dengan dunianya yang sederhana di Jakarta. Melisa adalah bukti nyata bahwa ada tembok besar yang memisahkan mereka. Tembok yang bukan terbuat dari batu Ottoman, melainkan status sosial dan budaya.
Sore harinya, saat Fatimah sedang berjalan menyusuri pinggiran Ortaköy untuk mengambil foto detail arsitektur Masjid Ortaköy yang megah di tepi laut, ia melihat sosok yang tidak asing. Melisa.
Wanita itu sedang duduk di sebuah kafe mewah bersama beberapa temannya. Tanpa sengaja, mata mereka bertemu. Melisa tampak mengenali Fatimah sebagai gadis yang bersama Emir di perpustakaan. Ia bangkit dan berjalan menghampiri Fatimah dengan gaya yang sangat percaya diri.
"Hai, kau asisten Emir yang dari Indonesia itu, kan?" tanya Melisa dalam bahasa Inggris dengan aksen Turki yang kental.
Fatimah mengangguk sopan. "Iya, saya Fatimah."
Melisa menatap Fatimah dari ujung kaki hingga ujung jilbab dengan tatapan yang sulit diartikan. "Emir adalah pria yang sangat berdedikasi. Dia jarang mau membawa mahasiswanya ke perpustakaan pribadi sultan jika dia tidak merasa mahasiswa itu spesial. Tapi saranku, jangan terlalu terbawa perasaan."
Fatimah terpaku. "Maaf?"
"Emir itu seperti Istanbul," Melisa tersenyum tipis, sebuah senyum yang terasa dingin. "Dia indah dipandang dari jauh, tapi sangat sulit untuk ditinggali. Dia punya luka yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang setara dengannya. Dan paman Emir sudah mengatur segalanya untuk kami. Jangan sampai beasiswamu terganggu hanya karena kau salah mengartikan kebaikannya."
Fatimah merasa harga dirinya diinjak-injak, namun ia teringat pesan ibunya untuk selalu menjaga lisan dan akhlak. Ia menarik napas dalam, lalu tersenyum—kali ini senyum yang benar-benar tulus dan tenang.
"Terima kasih atas sarannya, Melisa Hanım. Tapi Anda tidak perlu khawatir. Saya ke sini untuk belajar bagaimana membangun bangunan yang kokoh, bukan untuk menghancurkan bangunan (hubungan) orang lain. Emir Bey adalah guru yang hebat, dan hanya sebatas itu hubungan kami. Semoga rencana perjodohan Anda lancar."
Fatimah mengangguk hormat lalu berjalan pergi dengan langkah tegap. Di dalam hatinya, ia merasa lega. Setidaknya sekarang semuanya sudah jelas. Ia tidak akan lagi ragu untuk menarik garis tegas antara dirinya dan Emir Arslan.
Malam itu, Fatimah kembali ke asrama dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Ia melakukan salat Isya, lalu duduk lama di atas sajadah. Ia membuka mushaf Al-Qur'an dan membaca Surah Al-Qashas ayat 24, doa Nabi Musa saat merasa terasing: "Rabbi inni lima anzalta ilayya min khairin faqir" (Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan setiap kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku).
Tiba-tiba, ada ketukan di pintu asramanya. Kak Zahra, seniornya, masuk dengan wajah bingung.
"Fat, ada tamu di bawah. Dia bilang dia asisten profesor-mu. Namanya Emir Arslan."
Fatimah terkejut. "Malam-malam begini? Ini sudah jam delapan malam, Kak."
"Dia bilang ada dokumen penting yang tertinggal di mobilnya kemarin. Dia terlihat... agak kacau, Fat. Temuilah sebentar di ruang tamu asrama."
Dengan ragu, Fatimah turun. Di ruang tamu yang diterangi lampu temaram, Emir berdiri membelakanginya, menatap ke arah luar jendela yang memperlihatkan kerlip lampu kota. Saat mendengar langkah Fatimah, ia berbalik.
Wajahnya memang tampak lelah, rambutnya sedikit berantakan tertiup angin malam. Ia menyodorkan sebuah buku sketsa yang sangat familiar bagi Fatimah.
"Buku sketsamu tertinggal di bawah kursi mobilku," ucap Emir pelan.
"Oh... terima kasih, Bey. Maaf sudah merepotkan Anda datang ke sini," jawab Fatimah sambil mengambil buku itu.
Emir tidak langsung pergi. Ia menatap Fatimah dengan tatapan yang sangat dalam, seolah sedang mencari sesuatu di mata gadis itu. "Aku bertemu Melisa sore tadi. Dia bilang dia bicara padamu di Ortaköy."
Fatimah terdiam, hanya memegang erat bukunya.
"Jangan dengarkan dia, Fatimah," bisik Emir. "Hidupku bukan miliknya, dan tidak ada paman atau siapa pun yang bisa mengatur bangunan seperti apa yang ingin aku dirikan dalam hatiku."
"Bey, tolong jangan katakan hal-hal yang membuat posisi saya sulit..."
"Aku hanya ingin kau tahu satu hal," Emir memotong, langkahnya maju satu tindak, namun tetap menjaga jarak yang sopan. "Aku membangun benteng di sekeliling hatiku selama dua puluh tahun agar tidak ada lagi rasa sakit yang masuk. Tapi kau... kau datang dengan doa-doa dan kesederhanaanmu, dan tiba-tiba aku merasa benteng itu tidak lagi diperlukan."
Fatimah merasa dunianya berhenti berputar. Udara di sekelilingnya seolah membeku. Di luar, Menara Çamlıca bersinar terang, cahayanya menembus kaca jendela ruang tamu asrama, jatuh tepat di antara mereka berdua.
"Pikirkan tentang risetmu, Fatimah. Tapi tolong, jangan bangun benteng untuk menjauh dariku," ucap Emir terakhir kali sebelum ia berbalik dan menghilang di balik pintu otomatis asrama.
Fatimah berdiri mematung. Di tangannya, buku sketsa itu terasa sangat berat. Ia baru saja menyadari bahwa babak baru di Istanbul bukan lagi tentang arsitektur batu dan semen, melainkan tentang arsitektur takdir yang jauh lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan.
Istanbul pagi itu diselimuti kabut tebal. Jembatan Bosphorus hanya terlihat seperti bayangan raksasa di kejauhan. Di dalam studio arsitektur, Fatimah menyibukkan diri dengan maket digitalnya. Namun, konsentrasinya hancur saat pintu studio terbuka dan aroma kayu cendana yang familiar menyeruak masuk.
Emir Arslan berjalan masuk dengan langkah tegas. Kali ini ia mengenakan kemeja hitam yang dibalut blazer abu-abu. Ia langsung menuju meja Fatimah.
"Kenapa kau tidak menjawab pesanku kemarin?" tanya Emir tanpa basa-basi. Suaranya rendah namun mengandung tekanan.
Fatimah tidak mendongak, jemarinya tetap sibuk menggerakkan mouse pada layar laptop. "Maaf, Bey. Saya sedang fokus mengerjakan revisi data akustik yang Anda berikan. Saya pikir tidak ada hal mendesak yang harus dibalas."
Emir terdiam sejenak, menatap ubun-ubun jilbab Fatimah. "Aku menanyakan keadaan kakimu, Fatimah. Itu urusan mendesak bagiku sebagai pembimbing lapanganmu."
"Sudah sembuh total, Bey. Terima kasih," jawab Fatimah singkat, masih tanpa kontak mata.
Emir menarik sebuah kursi dan duduk di samping meja Fatimah. Jarak mereka cukup dekat hingga Fatimah bisa mendengar helaan napas pria itu. "Kau berubah sejak di perpustakaan. Apakah karena wanita yang datang menemuiku kemarin?"
Pertanyaan yang begitu lugas itu membuat jantung Fatimah mencelos. Ia akhirnya menoleh, menatap Emir dengan pandangan sedatar mungkin. "Saya rasa itu bukan urusan saya, Emir Bey. Siapa pun yang menemui Anda adalah bagian dari kehidupan pribadi Anda. Fokus saya di sini adalah menyelesaikan riset saya tepat waktu."
Emir menyipitkan mata. "Dia adalah Melisa. Putri dari pemilik firma arsitektur terbesar di Istanbul, tempatku bekerja paruh waktu sebagai konsultan senior. Dia juga... seseorang yang ingin dijodohkan paman aku denganku."
Fatimah merasa ada sesuatu yang tajam menusuk dadanya, namun ia tetap memasang wajah tenang. "Dia sangat cantik. Sangat cocok dengan Anda, Bey. Selamat."
"Fatimah," suara Emir meninggi satu nada, penuh rasa frustrasi. "Aku tidak memberitahumu ini untuk mendapatkan ucapan selamat. Aku mengatakannya karena aku tidak suka ada kesalahpahaman yang mengganggu kerja kita."
"Tidak ada kesalahpahaman, Bey. Saya tahu posisi saya," Fatimah menutup laptopnya dengan suara klik yang tajam. "Jika tidak ada hal lain yang berkaitan dengan teknis restorasi, saya mohon izin untuk ke perpustakaan. Ali Bey sudah menunggu saya untuk diskusi manuskrip tambahan."
Mendengar nama Ali, rahang Emir kembali mengeras. "Ali lagi? Sepertinya kau lebih nyaman bekerja dengan seseorang yang hanya bisa bicara daripada seseorang yang benar-benar memahami batu dan semen."
"Ali Bey menghargai batas-batas, Emir Bey. Dan saat ini, itulah yang saya butuhkan," Fatimah bangkit, menyampirkan tasnya, dan melangkah pergi tanpa menunggu balasan dari Emir.
Fatimah tidak benar-benar menemui Ali. Ia hanya butuh alasan untuk pergi. Ia menaiki bus menuju dermaga Eminönü, lalu berganti dengan kapal feri yang menuju sisi Asia. Ia butuh angin laut untuk mendinginkan kepalanya yang terasa mendidih.
Di atas dek feri, Fatimah menatap riak air yang terbelah oleh laju kapal. Ia mengeluarkan ponselnya, melihat foto ibunya yang sedang tersenyum di depan warung kue mereka di Jakarta. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh juga.
"Ya Allah, ampuni hamba," bisiknya lirih. "Hamba ke sini untuk menuntut ilmu-Mu, bukan untuk memperebutkan hati hamba-Mu. Cabutlah rasa kagum yang salah ini, ya Allah. Kembalikan fokus hamba hanya pada-Mu dan Ibu."
Ia menyadari bahwa Emir adalah pria yang terlalu kompleks. Pria itu punya masa lalu yang kelam, karier yang cemerlang, dan lingkungan sosial yang sangat berbeda dengan dunianya yang sederhana di Jakarta. Melisa adalah bukti nyata bahwa ada tembok besar yang memisahkan mereka. Tembok yang bukan terbuat dari batu Ottoman, melainkan status sosial dan budaya.
Sore harinya, saat Fatimah sedang berjalan menyusuri pinggiran Ortaköy untuk mengambil foto detail arsitektur Masjid Ortaköy yang megah di tepi laut, ia melihat sosok yang tidak asing. Melisa.
Wanita itu sedang duduk di sebuah kafe mewah bersama beberapa temannya. Tanpa sengaja, mata mereka bertemu. Melisa tampak mengenali Fatimah sebagai gadis yang bersama Emir di perpustakaan. Ia bangkit dan berjalan menghampiri Fatimah dengan gaya yang sangat percaya diri.
"Hai, kau asisten Emir yang dari Indonesia itu, kan?" tanya Melisa dalam bahasa Inggris dengan aksen Turki yang kental.
Fatimah mengangguk sopan. "Iya, saya Fatimah."
Melisa menatap Fatimah dari ujung kaki hingga ujung jilbab dengan tatapan yang sulit diartikan. "Emir adalah pria yang sangat berdedikasi. Dia jarang mau membawa mahasiswanya ke perpustakaan pribadi sultan jika dia tidak merasa mahasiswa itu spesial. Tapi saranku, jangan terlalu terbawa perasaan."
Fatimah terpaku. "Maaf?"
"Emir itu seperti Istanbul," Melisa tersenyum tipis, sebuah senyum yang terasa dingin. "Dia indah dipandang dari jauh, tapi sangat sulit untuk ditinggali. Dia punya luka yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang setara dengannya. Dan paman Emir sudah mengatur segalanya untuk kami. Jangan sampai beasiswamu terganggu hanya karena kau salah mengartikan kebaikannya."
Fatimah merasa harga dirinya diinjak-injak, namun ia teringat pesan ibunya untuk selalu menjaga lisan dan akhlak. Ia menarik napas dalam, lalu tersenyum—kali ini senyum yang benar-benar tulus dan tenang.
"Terima kasih atas sarannya, Melisa Hanım. Tapi Anda tidak perlu khawatir. Saya ke sini untuk belajar bagaimana membangun bangunan yang kokoh, bukan untuk menghancurkan bangunan (hubungan) orang lain. Emir Bey adalah guru yang hebat, dan hanya sebatas itu hubungan kami. Semoga rencana perjodohan Anda lancar."
Fatimah mengangguk hormat lalu berjalan pergi dengan langkah tegap. Di dalam hatinya, ia merasa lega. Setidaknya sekarang semuanya sudah jelas. Ia tidak akan lagi ragu untuk menarik garis tegas antara dirinya dan Emir Arslan.
Malam itu, Fatimah kembali ke asrama dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Ia melakukan salat Isya, lalu duduk lama di atas sajadah. Ia membuka mushaf Al-Qur'an dan membaca Surah Al-Qashas ayat 24, doa Nabi Musa saat merasa terasing: "Rabbi inni lima anzalta ilayya min khairin faqir" (Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan setiap kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku).
Tiba-tiba, ada ketukan di pintu asramanya. Kak Zahra, seniornya, masuk dengan wajah bingung.
"Fat, ada tamu di bawah. Dia bilang dia asisten profesor-mu. Namanya Emir Arslan."
Fatimah terkejut. "Malam-malam begini? Ini sudah jam delapan malam, Kak."
"Dia bilang ada dokumen penting yang tertinggal di mobilnya kemarin. Dia terlihat... agak kacau, Fat. Temuilah sebentar di ruang tamu asrama."
Dengan ragu, Fatimah turun. Di ruang tamu yang diterangi lampu temaram, Emir berdiri membelakanginya, menatap ke arah luar jendela yang memperlihatkan kerlip lampu kota. Saat mendengar langkah Fatimah, ia berbalik.
Wajahnya memang tampak lelah, rambutnya sedikit berantakan tertiup angin malam. Ia menyodorkan sebuah buku sketsa yang sangat familiar bagi Fatimah.
"Buku sketsamu tertinggal di bawah kursi mobilku," ucap Emir pelan.
"Oh... terima kasih, Bey. Maaf sudah merepotkan Anda datang ke sini," jawab Fatimah sambil mengambil buku itu.
Emir tidak langsung pergi. Ia menatap Fatimah dengan tatapan yang sangat dalam, seolah sedang mencari sesuatu di mata gadis itu. "Aku bertemu Melisa sore tadi. Dia bilang dia bicara padamu di Ortaköy."
Fatimah terdiam, hanya memegang erat bukunya.
"Jangan dengarkan dia, Fatimah," bisik Emir. "Hidupku bukan miliknya, dan tidak ada paman atau siapa pun yang bisa mengatur bangunan seperti apa yang ingin aku dirikan dalam hatiku."
"Bey, tolong jangan katakan hal-hal yang membuat posisi saya sulit..."
"Aku hanya ingin kau tahu satu hal," Emir memotong, langkahnya maju satu tindak, namun tetap menjaga jarak yang sopan. "Aku membangun benteng di sekeliling hatiku selama dua puluh tahun agar tidak ada lagi rasa sakit yang masuk. Tapi kau... kau datang dengan doa-doa dan kesederhanaanmu, dan tiba-tiba aku merasa benteng itu tidak lagi diperlukan."
Fatimah merasa dunianya berhenti berputar. Udara di sekelilingnya seolah membeku. Di luar, Menara Çamlıca bersinar terang, cahayanya menembus kaca jendela ruang tamu asrama, jatuh tepat di antara mereka berdua.
"Pikirkan tentang risetmu, Fatimah. Tapi tolong, jangan bangun benteng untuk menjauh dariku," ucap Emir terakhir kali sebelum ia berbalik dan menghilang di balik pintu otomatis asrama.
Fatimah berdiri mematung. Di tangannya, buku sketsa itu terasa sangat berat. Ia baru saja menyadari bahwa babak baru di Istanbul bukan lagi tentang arsitektur batu dan semen, melainkan tentang arsitektur takdir yang jauh lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan.
Other Stories
Pada Langit Yang Tak Berbintang
Langit memendam cinta pada Kirana, sahabatnya, tapi justru membantu Kirana berpacaran deng ...
Escape
Setelah setahun berlarut- larut dalam luka masa lalunya, Nadine pun dipaksa oleh sahabatny ...
Kidung Vanili
Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...
Susan Ngesot
Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
Perpustakaan Berdarah
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...