Haruskah Bertemu?

Reads
29
Votes
0
Parts
1
Vote
Report
Haruskah bertemu?
Haruskah Bertemu?
Penulis Taufiqur Rahman

Chapter 1

Aku baru lulus kuliah bulan kemarin, tepatnya pada bulan januari tahun 2025. Sebelum lulus aku sudah bekerja di PT Hardbook, yaitu tempat penjualan tiket online transportasi darat, laut, dan udara. Namun aku bekerja sebagai penjualan tiket offline dan online, lebih spesifiknya adalah kendaraan bus yang ditempatkan di terminal Purnasura. Mungkin padanan kata yang cocok untuk mendeskripsikan pekerjaanku adalah sebagai seorang sales yah. Lucunya, aku adalah salah satu orang yang paling tidak suka terhadap sales. Hal itu dikarenakan pengalaman yang tidak mengenakkan dengan salah satu sales. Saat itu ada sales yang menghampiriku dan aku merasa iba pada sales tersebut dan singkat cerita aku menerima tawarannya. Ternyata rasa iba tersebut membikin aku malah jadi kesel sendiri, karena waktu itu sebenarnya aku lagi buru-buru untuk pulang biar nggak kemalaman. Hal yang membikin kesel itu karena waktuku terbuang banyak sekali. Ternyata dia adalah sales dari salah satu bank digital yang mengharuskan aku untuk melakukan verifikasi akun yang memakan waktu cukup lama.

Sebenarnya pekerjaan yang kuambil memang bertentangan dengan keinginanku. Hal itu disebabkan karena pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan pertamaku. sehingga aku gak mikir panjang lagi untuk menerima tawaran pekerjaan tersebut, itung-itung nyari pengalaman lah. Bekerja disitu ternyata melatih mental aku untuk bisa bicara dengan orang lain dalam menawarkan sesuatu. pada awal-awal kerja tuh masih canggung dan membalikkan perasaan orang lain itu seperti yang aku rasakan apabila ada sales yang datang menawarkan sesuatu, yaitu perasaan jengkel dan ingin cepat-cepat pergi dari salesnya. Namun, lambat laun aku mulai terbiasa menawarkan tiket kepada orang lain tanpa memperdulikan perasaan yang dulu kurasakan. aku bekerja di perusahaan tersebut sudah menginjak 6 bulanannya lamanya dengan segala suka dan duka yang ku alami. Dukanya sih paling kalo diomelin atasan karena tidak mencapai target penjualan. Sukanya paling ngeliat tingkah orang-orang di Terminal Purasura yang beragam macamnya dalam menolak tawaranku, paling sering sih dicuekin sambil pura-pura gak denger. Terus ada tuh jurus andalan bagi orang yang gak mau ditawari tiket, biasanya dia pura-pura nelpon dengan pakai tws atau headset.

Pada suatu waktu aku lagi mumet dan capek banget tuh waktu kerja. karena pada saat itu aku lagi berjibaku dengan calo yang ada di terminal. aku diancam karena diduga mengambil penumpang dia. padahal calon penumpang tersebut datang sendiri ke aku dan menanyakan untuk pembelian tiket bus menuju ke Malang. karena aku seorang sales tiket pastinya kutawarkan untuk pembelian tiket di loket tempat kerjaku dong. Waktu aku mengantarkan penumpang ke bus pada awalnya normal-normal saja. Namun, waktu habis mengantarkan penumpang, aku dihadang oleh calo yang memiliki tiket dengan tujuan yang sama dengan penumpangku.

“hehh, itu tadi harusnya naik bus armadaku, kenapa kamu ambil” kata calonya

“lahh dia sendiri yang dateng ke aku kok” kataku

“pokoknya kalo arah ke Malang, orang-orang itu banyak ngambil bus patas yang harusnya naik bus dari armada punyaku, malah kamu ambil” kata calonya

“ehhh sampeyan kagak denger apa tadi ku kata, dia tadi nyamperin sendiri ke aku” kataku

“yo aku gak peduli pokoknya kalo ke Malang itu kebanyakan naik bus patas, dan awas aja kalo kamu nganter lagi, gak bakalan aman kamu” kata calonya

“ohh iya pak ditunggu aja gak bakalan mundur aku” kataku

alhasil sampai aku selesai kerja dan aku bolak-balik mengantarkan penumpang di depan dia syukurnya nggak terjadi hal-hal yang tidak mengenakkan. saat itu aku masuk shift siang dan pulang kerja pada jam 9 malam. Seperti biasa sebelum pulang aku shalat isya’ dulu di mushola terminal. Saat perjalanan menuju mushola isi pikiran mulai berjalan dengan sendirinya menampilkan setiap kejadian yang telah kualami saat itu. Sambil berjalan aku tersenyum merespon kejadian yang ku alami saat kerja hari itu. Belum selesai dengan isi pikiran yang mengalir begitu derasnya, ternyata aku sudah sampai di mushola. Saat itu juga aku harus menahan isi pikiran tersebut agar bisa khusyuk dalam melaksanakan ibadah shalat isya’. Selesai shalat dengan santai aku mulai siap-siap untuk pulang. kemudian aku berjalan menuju parkiran motor untuk mengambil motorku. Oh iya, motor yang kumiliki merupakan tipe matic dengan merek honda 125cc tahun 2015 yang dibelikan oleh ibuku untuk mobilitas ku selama kuliah di Surabaya. Selama kurang lebih empat tahun dengan motor tersebut terdapat salah satu kenangan pahit dimana aku jatuh saat memakai motorku untuk perjalan pulkam. Apesnya gak ada yang nolongin dan waktu itu aku ketawa karena gak nyangka bakalan jatuh.

Ok lanjut dengan perjalananku menuju motor

Saat sampai di parkiran motor, aku mulai menaiki motorku sembari menghidupkannya dan siap untuk perjalanan pulang. Perjalanan pulang dari tempat kerja menuju ke kosan ku kurang lebih menghabiskan waktu sekitar 30 menit. Dengan jangka waktu yang cukup panjang tersebut isi pikiran memulai kebiasaan yang sangat lumrah terjadi. Seperti yang dikatakan pada konten-konten yang ada di TikTok “pada saat motoran apalagi malem-malem dan pulang kerja kadang kita bisa autopilot mengendarai motor, alhasil tanpa sadar tiba-tiba udah nyampe aja tuh”. Nah itu konten relate banget sama yang aku alami saat itu, aku terlalu terbuai dengan apa yang kupikirkan saat sambil motoran. Emang itu adalah puncak kenikmatan pada saat motoran sih. Sambil bengong motoran tuh bikin rileks aja gitu. Saat itu aku mengingat lagi peristiwa yang ku alami dengan calo di terminal.

“dipikir-pikir tadi lucu juga sihhh”

“aku petugas resmi penjualan tiket malah dilabrak sama calo”

“rasanya capek banget tapi lucu juga gitu”

“apa aku ambil cuti aja kali yahhh”

“udah lama gak ambil cuti”

“tapi cuti buat apaan?”

“liburan?”

“hmmm”

Sebenarnya aku tuh tipe orang yang kalau liburan yah gak kemana-kemana gitu, mentok paling ke coffee shop. Bersamaan dengan aktivitas bengong yang ku lakukan sambil motoran tersebut. Diri ini teringat akan sesuatu keinginan dari kecil yang belum aku wujudkan. Dari kecil tuh aku pengen sekali naik kereta. Sebenarnya di kampung halaman ku dulu sejarahnya pernah ada kereta. Buktinya dapat dilihat dengan adanya sisa-sisa rel kereta di pinggir jalan yang masih utuh tapi tidak digunakan lagi. oleh sebab itu keinginan buat naik kereta saat kecil tuh sangat menggebu-gebu sekali. Karena kan kita melihat lintasannya nih terus dengar dari teman-teman yang pernah naik kereta tuh katanya seru banget. Makin pengen tuh mendengar informasi tersebut waktu kecil, meskipun tidak terealisasikan hingga saat ini.

Perjalan nyetir sendiri dengan mengendarai motor dengan tujuan arah pulang sambil bengong lanjutan dari hasil bengong yang sebelumnya.

“kayaknya ok juga sih liburan dulu sebentar, toh aku belum ngambil jatah cuti tahun ini”

“dari dulu aku pengen banget naik kereta kan yah”

“jadi kayaknya liburan kali ini aku pengen naik kereta kemanapun itu”


Other Stories
Sweet Haunt

Di sebuah rumah kos tua penuh mitos, seorang mahasiswi pendiam tanpa sengaja berbagi kamar ...

Nina Bobo ( Halusinada )

JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...

The Pavilion

35 siswa 12 IPA 3 dan 4 guru mereka, sudah bersiap untuk berangkat guna liburan bersama ke ...

Namaku Amelia

Amelia, seorang anak kecil yang penuh rasa ingin tahu, harus menghadapi hari-hari sulit di ...

Baca Tanpa Dieja

itulah cara jpload yang bener da baik ...

Nona Manis ( Halusinada )

Dia berjalan ke arah lemari. Hatinya mengatakan ada sebuah petunjuk di lemari ini. Benar s ...

Download Titik & Koma