Rumah Masa Kecil
Liburan selalu punya cara untuk mempertemukan manusia. Sebagian pertemuan memang direncanakan, sisanya datang tanpa aba-aba. Bagi Bening, bisa bertemu Birru dan Ibu adalah mimpi kecil yang selalu ia simpan di setiap liburan.
Bening turun dari mobil. Ia berdiri di depan rumah itu—rumah masa kecil mereka. Ada semburat rindu yang dibalut senyum. Rumah itu tak banyak berubah.
Rumah itu masih sama—perabot, letak, bahkan warna temboknya. Di beberapa sisi, catnya kusam. Bening menyentuh tembok dengan ujung jarinya; serbuk putih menempel di kulit, terasa kasar. Aromanya tak berubah. Yang tak kembali hanya gema. Sudah sepuluh tahun sejak Birru dan Bening berpisah. Anehnya, mereka justru makin dekat. Jarak menebalkan rindu, dan perpisahan orang tua mereka tidak mematikan asa.
Di usia delapan belas, kenangan datang hangat. Sejak malam itu—satu dekade lalu—saat mereka harus memilih tinggal dengan ayah atau ibu. Di tempat ini, bertahun-tahun kemudian, mereka kembali saling melempar tawa, berbagi kisah yang tak lagi sama.
“Lo tau ga. Gue pernah cabut ke kantin. Terus tiba-tiba sidak. Panik dong! Gue lari ke mushola, pura-pura sholat”, cerita Birru pada Bening. “Kebetulan lagi pada sholat Duha. Anak kelas tiga—biasa, tobat sebelum lulus”.
Bening mendengarkan sambil mengemil keripik singkong balado. “Terus?”
Birru mencomot satu keping. Memakannya. Lalu melanjutkan, “Gue pakai mukena. Sholat satu rakaat, sujudnya lama”.
“Lo baca apaan waktu sholat?”
“Gak baca apa-apa. Cuma dengerin kira-kira sidaknya udah kelar belum”.
“Bentar, bentar—gue penasaran muka lo.” Bening berjalan mengambil mukena, memakaikannya ke Birru. Ia tertawa; bahunya bergetar, tawanya nyaring. “Begini muka lo? Kumis lo ada?”.
“Iya lah. Mana kepikiran ada hari gue cosplay jadi ukhti-ukhti”, jawab Birru.
Percakapan random mereka selalu datang saat liburan panjang sekolah—satu-satunya waktu yang bisa mempertemukan mereka.
Bening turun dari mobil. Ia berdiri di depan rumah itu—rumah masa kecil mereka. Ada semburat rindu yang dibalut senyum. Rumah itu tak banyak berubah.
Rumah itu masih sama—perabot, letak, bahkan warna temboknya. Di beberapa sisi, catnya kusam. Bening menyentuh tembok dengan ujung jarinya; serbuk putih menempel di kulit, terasa kasar. Aromanya tak berubah. Yang tak kembali hanya gema. Sudah sepuluh tahun sejak Birru dan Bening berpisah. Anehnya, mereka justru makin dekat. Jarak menebalkan rindu, dan perpisahan orang tua mereka tidak mematikan asa.
Di usia delapan belas, kenangan datang hangat. Sejak malam itu—satu dekade lalu—saat mereka harus memilih tinggal dengan ayah atau ibu. Di tempat ini, bertahun-tahun kemudian, mereka kembali saling melempar tawa, berbagi kisah yang tak lagi sama.
“Lo tau ga. Gue pernah cabut ke kantin. Terus tiba-tiba sidak. Panik dong! Gue lari ke mushola, pura-pura sholat”, cerita Birru pada Bening. “Kebetulan lagi pada sholat Duha. Anak kelas tiga—biasa, tobat sebelum lulus”.
Bening mendengarkan sambil mengemil keripik singkong balado. “Terus?”
Birru mencomot satu keping. Memakannya. Lalu melanjutkan, “Gue pakai mukena. Sholat satu rakaat, sujudnya lama”.
“Lo baca apaan waktu sholat?”
“Gak baca apa-apa. Cuma dengerin kira-kira sidaknya udah kelar belum”.
“Bentar, bentar—gue penasaran muka lo.” Bening berjalan mengambil mukena, memakaikannya ke Birru. Ia tertawa; bahunya bergetar, tawanya nyaring. “Begini muka lo? Kumis lo ada?”.
“Iya lah. Mana kepikiran ada hari gue cosplay jadi ukhti-ukhti”, jawab Birru.
Percakapan random mereka selalu datang saat liburan panjang sekolah—satu-satunya waktu yang bisa mempertemukan mereka.
Other Stories
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Mr. Perfectionist
Arman dan Audi sebenarnya tetangga dekat, namun baru akrab setelah satu sekolah. Meski ser ...
The Unkindled Of The Broken Soil
Di dunia yang terpecah belah dan terkubur di bawah abu perang masa lalu, suara adalah keme ...
Pesan Dari Hati
Riri hanya ingin kejujuran. Melihat Jo dan Sara masih mesra meski katanya sudah putus, ia ...
Kutukan Yang Kupanggil Cinta
Sekar Diajeng Wardhani tidak percaya cinta. Bagi perempuan seperti dia, hubungan hanya per ...
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...