The Last Chapter
"Pagi semua".
Bening menuang air ke gelas.
“Haus banget”, katanya sambil menenggak minuman itu.
“Gila lo. Kebo apa gimana? Tidur lo lama banget", Birru menepuk tangannya sendiri, mengejek.
“Capek banget, tau”, bela Bening.
“Hari ini mau ngapain?” tanya Birru.
“Kayaknya gue mau rebahan aja di rumah. Males-malesan dulu lah, Bang,” jawab Bening.
Ia berdiri, berjalan ke arah halaman belakang, mengambil handuk.
“Mau mandi biar seger. Badan gue berasa risih banget”, katanya, lalu kembali masuk ke kamar Ibu.
Cukup lama ia mandi.
“Bang, yuk nonton film!” teriaknya dari dalam.
Hari itu, agenda mereka cuma satu: marathon film.
“Eh, pinjem handphone lo dong?” pinta Birru.
“Buat apa?” tanya Bening sambil nyodorin ponselnya.
“Main sosmed lah.”
“Jangan buka-buka yang lain", Bening mengingatkan.
Tapi rasa iseng keburu menang. Galeri kebuka. Mata Birru berhenti di satu foto dari album khusus. Jemarinya refleks nge-zoom.
Foto selfie Bening sama seorang cowok.
“Wuih, siapa nih?” godanya.
“Ibu… ibu… Bening punya cowok!” teriak Birru sambil lari ke arah ibunya.
“Nih, liat, Bu!”
“Bukan… bukan!” Bening ikut lari, berusaha merebut ponselnya.
Birru malah menjinjit, ngangkat ponsel itu setinggi mungkin. Mereka rebutan.
“Siapa itu? Ngaku lo,” paksa Birru, wajahnya penuh iseng.
“Itu siapa, Dek? Cerita sama Ibu dong", Ibu ikut nimbrung.
“Apaan sih", Bening manyun. “Gak pacaran. Cuma deket".
“Abang kali yang punya pacar. Sini kenalin", balas Bening.
“Lagi single sekarang. Ntar cari di kampus aja", Birru tertawa.
Ibu ikut tersenyum kecil. Senyum yang jarang muncul, tapi hangat.
Birru masih penasaran.
Ia lari ke luar rumah.
Bening refleks mengejar.
Teras masih basah sehabis hujan. Licin.
Birru lari lebih kencang.
BRUUK…
Bening terpeleset.
Dingin lantai langsung terasa. Tubuhnya jatuh kaku. Dan… diam.
“Bening… lo gak pura-pura kan?” Birru mendekat, masih setengah bercanda, setengah panik.
“Ini ponsel lo…” katanya, mencoba menutupi gugupnya.
Tak ada respon.
Birru menggoyangkan pundak adiknya. Sekali. Dua kali.
“Hayy…Bening...” suaranya mulai pecah.
Ia menggendong Bening, membaringkannya di sofa panjang ruang tamu.
Ibu yang melihat mereka masuk langsung berdiri.
“Kenapa?” nadanya naik.
“Kepleset, Bu". Birru berusaha kedengaran tenang. Wajahnya gagal bohong.
“Kok sampai pingsan?”
“Gak tau… jatuhnya gak kenceng, tapi kepalanya sempat kebentur lantai".
“Ambilin minyak kayu putih, Bang", perintah Ibu.
Jam dinding berdetak. Terlalu keras. Terlalu lambat.
Satu jam. Dua jam.
Bening tak juga sadar.
Ibu mondar-mandir. Beberapa kali mengusap rambut anaknya.
“Ke rumah sakit sekarang", katanya.
Tak ada yang membantah.
Mereka langsung membawa Bening ke UGD.
Bening menuang air ke gelas.
“Haus banget”, katanya sambil menenggak minuman itu.
“Gila lo. Kebo apa gimana? Tidur lo lama banget", Birru menepuk tangannya sendiri, mengejek.
“Capek banget, tau”, bela Bening.
“Hari ini mau ngapain?” tanya Birru.
“Kayaknya gue mau rebahan aja di rumah. Males-malesan dulu lah, Bang,” jawab Bening.
Ia berdiri, berjalan ke arah halaman belakang, mengambil handuk.
“Mau mandi biar seger. Badan gue berasa risih banget”, katanya, lalu kembali masuk ke kamar Ibu.
Cukup lama ia mandi.
“Bang, yuk nonton film!” teriaknya dari dalam.
Hari itu, agenda mereka cuma satu: marathon film.
“Eh, pinjem handphone lo dong?” pinta Birru.
“Buat apa?” tanya Bening sambil nyodorin ponselnya.
“Main sosmed lah.”
“Jangan buka-buka yang lain", Bening mengingatkan.
Tapi rasa iseng keburu menang. Galeri kebuka. Mata Birru berhenti di satu foto dari album khusus. Jemarinya refleks nge-zoom.
Foto selfie Bening sama seorang cowok.
“Wuih, siapa nih?” godanya.
“Ibu… ibu… Bening punya cowok!” teriak Birru sambil lari ke arah ibunya.
“Nih, liat, Bu!”
“Bukan… bukan!” Bening ikut lari, berusaha merebut ponselnya.
Birru malah menjinjit, ngangkat ponsel itu setinggi mungkin. Mereka rebutan.
“Siapa itu? Ngaku lo,” paksa Birru, wajahnya penuh iseng.
“Itu siapa, Dek? Cerita sama Ibu dong", Ibu ikut nimbrung.
“Apaan sih", Bening manyun. “Gak pacaran. Cuma deket".
“Abang kali yang punya pacar. Sini kenalin", balas Bening.
“Lagi single sekarang. Ntar cari di kampus aja", Birru tertawa.
Ibu ikut tersenyum kecil. Senyum yang jarang muncul, tapi hangat.
Birru masih penasaran.
Ia lari ke luar rumah.
Bening refleks mengejar.
Teras masih basah sehabis hujan. Licin.
Birru lari lebih kencang.
BRUUK…
Bening terpeleset.
Dingin lantai langsung terasa. Tubuhnya jatuh kaku. Dan… diam.
“Bening… lo gak pura-pura kan?” Birru mendekat, masih setengah bercanda, setengah panik.
“Ini ponsel lo…” katanya, mencoba menutupi gugupnya.
Tak ada respon.
Birru menggoyangkan pundak adiknya. Sekali. Dua kali.
“Hayy…Bening...” suaranya mulai pecah.
Ia menggendong Bening, membaringkannya di sofa panjang ruang tamu.
Ibu yang melihat mereka masuk langsung berdiri.
“Kenapa?” nadanya naik.
“Kepleset, Bu". Birru berusaha kedengaran tenang. Wajahnya gagal bohong.
“Kok sampai pingsan?”
“Gak tau… jatuhnya gak kenceng, tapi kepalanya sempat kebentur lantai".
“Ambilin minyak kayu putih, Bang", perintah Ibu.
Jam dinding berdetak. Terlalu keras. Terlalu lambat.
Satu jam. Dua jam.
Bening tak juga sadar.
Ibu mondar-mandir. Beberapa kali mengusap rambut anaknya.
“Ke rumah sakit sekarang", katanya.
Tak ada yang membantah.
Mereka langsung membawa Bening ke UGD.
Other Stories
Devil's Bait
Dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal lima temannya akan mengalami kejadian aneh hin ...
Cinta Di Balik Rasa
memendam rasa bukanlah suatu hal yang baik, apalagi cinta!tapi itulah yang kurasakan saat ...
Pacar Sewaan
Sebagai pacar sewaan yang memiliki kekasih, Ledi yakin mampu menjaga batas antara pekerjaa ...
Puzzle
Karina menyeret kopernya melewati orang-orang yang mengelilingi convayer belt. Koper ber ...
Kelabu
Cinta? Apakah aku mencintai Samuel? Pertanyaan yang sulit kujawab. Perasaanku padanya sepe ...
Lust
Bagi Maya, pernikahannya dengan Aris adalah segalanya. Ia memercayai Aris lebih dari si ...