Se-Birru Langit. Se-Bening Embun
Beberapa malam ini Birru merenung, mengingat kilas balik kebersamaannya dengan saudara kembarnya.
Ia menarik napas panjang.
Bibirnya diam, kepalanya berisik.
Bagaimana bisa manusia yang terlahir bersama, punya batas waktu yang berbeda?
Ia memandangi foto lama mereka — pagi itu, saat jogging, berhenti di sebuah taman. Matanya terpaku pada potret Bening. Taman yang basah oleh embun.
Birru teringat ucapan Bening tempo hari: ia akan menulis di belakang foto itu, Se-Birru langit.
Birru membalik foto di tangannya, Foto diri Bening. Lalu menuliskan di balik potret Bening: Se-Bening embun.
Malam itu, Birru mulai melepaskan Bening—pelan, setahap demi setahap.
Mengurai dukanya dengan sunyi, sendiri dan rapi.
Ia menarik napas panjang.
Bibirnya diam, kepalanya berisik.
Bagaimana bisa manusia yang terlahir bersama, punya batas waktu yang berbeda?
Ia memandangi foto lama mereka — pagi itu, saat jogging, berhenti di sebuah taman. Matanya terpaku pada potret Bening. Taman yang basah oleh embun.
Birru teringat ucapan Bening tempo hari: ia akan menulis di belakang foto itu, Se-Birru langit.
Birru membalik foto di tangannya, Foto diri Bening. Lalu menuliskan di balik potret Bening: Se-Bening embun.
Malam itu, Birru mulai melepaskan Bening—pelan, setahap demi setahap.
Mengurai dukanya dengan sunyi, sendiri dan rapi.
Other Stories
Bisikan Lada
Tiga pemuda nekat melanggar larangan sesepuh demi membuktikan mitos, namun justru mengalam ...
Waktu Tambahan
Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...
Kk
jjj ...
Di Luar Rencana
Hening yang tidak akur dengan Endaru, putrinya, harus pulang ke kampung halaman karena Ibu ...
Baim Dan Kelapa Yang Masih Puber
Baim menghabiskan liburan akhir tahun di pantai dengan harapan menemukan ketenangan. Namun ...
Tes
tes ...