Se-birru Langit. Se-bening Embun

Reads
25
Votes
5
Parts
8
Vote
Report
Se-birru langit. se-bening embun
Se-birru Langit. Se-bening Embun
Penulis YESA

Last Capture

Selepas hujan di hari itu, malam terasa lebih dingin.


Wajah Ibu tampak menyimpan letih yang tak sempat disembunyikan. Ia teringat tahun-tahun ketika Bening tumbuh tanpa dirinya. Dada terasa sesak, seperti ada yang menekan dari dalam.


“Gimana, Dok? Kenapa anak saya belum sadar?” tanyanya. Suaranya bergetar.


Dokter sudah mencoba berbagai cara membangunkan Bening. Nihil.


“Bu, sepertinya kami perlu melakukan CT scan", kata dokter, menatap Ibu.
“Di bagian otak Bening”. Kalimat itu memecah keheningan. “Kami curiga ini bukan sekadar pingsan".


Ibu terdiam lebih lama dari yang ia kira.


“Kira-kira ada apa ya, Dok?” tanyanya pelan, cemas.


“Kami belum bisa menyimpulkan. Kami harus melihat hasil CT scan dulu", jawab dokter.


Ibu mengangguk. Mereka menunggu. Cemas. Ibu mondar-mandir beberapa kali. Birru berdiri di dekatnya, mencoba menenangkan. Ia mengelus punggung tangan Ibu. Tanpa kata.


“Birru, hubungi ayah kamu sekarang", kata Ibu, menatap putranya dengan tegas.


******


Koridor rumah sakit sunyi — hanya dua bangku yang terisi.

Birru menelpon ayahnya berkali-kali. Tak ada jawaban. Hingga kali keempat, ia bicara cepat, menahan panik.


“Ayah, ke sini. Bening di rumah sakit. Ini penting. Bening di UGD. Ayah harus ke sini".
Telepon itu diakhiri dengan tangan yang gemetar.


Ayah sampai di rumah sakit dengan langkah yang tak menentu — kadang cepat, kadang melambat. Jelas terlihat ia tergesa.


Ingatannya mundur ke hari itu, bertahun-tahun lalu.


Napasnya tak beraturan.


Di hadapannya berdiri mantan istrinya dan putranya. Tatapan mereka saling bertemu, lalu berpaling. Mata Ibu kosong, melamun, basah oleh sisa air mata.


Ayah duduk di kursi sebelah Birru. “Birru, ada apa?” tanyanya.


“Bening koma. Ada pendarahan di otaknya", jawab Birru. Suaranya berat.


“Kok bisa?” Detak jantung Ayah terasa makin kencang. Ia menarik napas dalam-dalam.


“Kamu jujur, deh. Gimana kamu ngerawat Bening? Apa yang terjadi yang aku nggak tahu?” Suara Ibu terdengar parau.


Pintu ruang dokter terbuka. Seorang perawat keluar.


“Silakan masuk. Dokter Hendri menunggu".


Mereka masuk bersama.


“Jadi, Bening ini sepertinya punya cedera lama. Di bagian otaknya ada pendarahan", jelas dokter.


“Bisa dijelaskan, apakah dia pernah jatuh?”


Ayah menghela napas panjang.


“Dulu kami pernah naik dokar, Dok. Kudanya ngamuk. Kami jatuh. Kepala Bening sempat benjol. Tapi saya cek, katanya nggak apa-apa. Beberapa hari kemudian benjolnya hilang. Saya nggak menindaklanjuti".


“Sejak itu, ada yang berbeda dari Bening?” tanya dokter.


“Sepertinya tidak, Dok. Bening nggak pernah bilang apa-apa", jawab Ayah, lemah.


Malam itu, Ayah, Ibu, dan Birru lebih banyak memendam kata.


*****


Tiga hari lamanya.


Bening tak kunjung sadar.


Namun siang itu, sebuah keajaiban hadir di keluarga itu. Birru duduk di sisi Bening, menunggu, sembari memainkan ponselnya. Ia menangkap gerak yang nyaris tak terlihat. Jemari Bening bergerak.


“Bening", ucap Birru pelan.


Ayah dan Ibu mendekat.


Setelah bertahun-tahun, keluarga itu kembali utuh— setidaknya untuk saat ini.


Terdengar embusan napas lega. Beban batin seakan menguap.


“Syukurlah. Sayang, Ibu khawatir", ucap Ibu, jemarinya mengelus tangan Bening.


Bening membuka mata.


Pandangannya menyapu ruangan, pelan.


“Aku di mana?” suaranya lirih.


Lalu matanya menemukan dua wajah yang ia kenal.


“Ayah… Ibu… kalian di sini?”


Ada bahagia yang menyusup di nadanya. Mata Bening berkilau. Ayah mengelus rambutnya.


“Di rumah sakit. Kamu pingsan lama sekali", katanya tenang—menyimpan penyesalan di baliknya.


Suasana sedikit menghangat. Terlebih ketika kondisi Bening perlahan membaik. Ia makan dengan lahap. Tanpa disepakati, ada rasa lega yang sama — dan tawa kecil yang sempat hidup kembali.


“Aku ngantuk. Mau tidur lagi", ucap Bening.


“Kebanyakan makan, kayaknya. Ngantuk banget".


Ia memandang mereka bergantian — Ayah, Ibu, dan Birru.


Senyum kecil tak terbendung. Sedikit lebih lama.


“Hari ini bahagia banget. Kita bisa kumpul lagi. Makasih, Ayah, Ibu, Abang. Kita jadi punya banyak foto, deh. Nanti kalau aku sudah sembuh beneran, liburan bareng ya", katanya sambil tersenyum sumringah.


Sore itu Bening tertidur. Pulas. Tidur yang dikira sementara.


Empat jam berlalu. Malam turun. Di sofa panjang, Ibu terlelap. Ayah masih sibuk dengan pekerjaannya.


Tiba-tiba terdengar bunyi—

TIT… TIIIIIT… TIIIIIIT.


Detak jantung Bening melemah.


Birru berlari memanggil dokter.


Ibu dan Ayah mulai menangis.


“Bening, kenapa… Bening?” suara Ibu pecah. “Ya Tuhan, jangan. Aku nggak sanggup", katanya, hancur di antara isak.


Antara harap dan takut, antara menolak dan pasrah. Hingga garis itu—tanpa kurva, hanya garis lurus.


Bening memilih tidur selamanya. Membawa cerita hari itu ke dalam mimpinya.


Semua menangis.


Ibu meraung.


Ayah terlihat tertekan.


Ada ruang paling tersembunyi di antara mereka, bernama rasa bersalah.



Other Stories
Di Bawah Panji Dipenogoro

Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...

Setinggi Awan

Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...

Lam Biru

Suatu hari muncul kalimat asing di layar laptop Harit, kalimat itu berupa deskripsi penamp ...

Kukejar Impian Besarku

Ramon, Yongki,Dino,Jodi,Eka adalah sekumpulan anak band yg rutin manggung di sebuah cafe d ...

Nyanyian Hati Seruni

Begitu banyak peristiwa telah ia lalui dalam mendampingi suaminya yang seorang prajurit, p ...

Kota Ini

Plak! Terdengar tamparan keras yang membuat Jesse terperanjat dari tempat tidurnya. "S ...

Download Titik & Koma