Last Chapter : Taman Bermain
Pukul sepuluh pagi.
Mereka sudah sampai di taman bermain.
“Bang, main yang mana dulu?” tanya Bening.
Antrian belum terlalu ramai.
Mereka berhenti beberapa langkah dari pintu masuk. Mata Bening berbinar.
“Banyak banget wahananya”. Ia melirik Birru, lalu menunjuk.
“Naik kora-kora dulu, yuk”. Tangannya mendorong punggung Birru — memaksa. Langkah mereka tiba bersamaan.
“Baru masuk, langsung ke sini. Yakin?” tanya Birru.
Saudara kembar itu punya selera yang timpang: Bening suka yang penuh adrenalin; Birru lebih memilih yang aman.
“Takut, ya, lo?” ejek Bening.
“Idih". Birru menyunggingkan bibirnya.
“Bang, ambil foto dulu, yuk”. Bening mengeluarkan polaroid. Mereka berfoto. Banyak. Di setiap sudut yang dianggap estetik, di setiap wahana yang mereka naiki.
Setelah tiga wahana ekstrem, kini giliran Birru memilih: bombomcar.
Antriannya cukup ramai.
“Capek gue. Mual. Cukup. Gue nggak mau lagi naik begituan. Tornado, kora-kora, roller coaster—cukup!” Birru mengomel. Detak jantungnya mulai stabil, meski menyisakan sedikit pusing. Mood-nya membaik. Ini salah satu permainan favoritnya.
“Bang, lo jangan sengaja nabrak gue dong!” teriak Bening kesal.
Birru justru makin rese. Ia mengejar Bening, menabraknya dari segala sisi.
“Bang! Gue gampar ntar!” Bening mengamuk.
Selesai.
Bening mencubit, memukul beberapa kali. Birru terkekeh sambil menahan perih.
“Lo aja yang nggak bisa ngindar. Itu gampang banget. Lo payah”, ejek Birru.
“Ayah nggak ngebolehin gue nyetir, tau. Tadi itu masih belajar”, bela Bening.
“Lo mah enak dibolehin Ibu setir mobil. Lagian lo cowok. Secara skill emang jelas lebih jago”. Ia protes sambil menikmati es krim vanila kesukaannya.
Sore tiba.
Mereka pulang saat taman bermain hampir tutup.
“Ah, kecapekan lagi, tuh”, kata Birru, melihat adiknya yang pucat.
“Be careful nyetirnya. Gue lanjut tidur".
Hanya butuh beberapa detik bagi Bening untuk terlelap.
“Woy! Bangun! Udah sampai”. Birru menggoncankan pundak adiknya. Bening cuma membandel, lalu membuka mata setengah.
“Bang, lo gendong gue aja lah. Sekali - kali jadi kakak yang baik”. Ucap Bening santai, tapi tubuhnya terasa terlalu berat untuk diajak berdiri.
“Enak aja. Turun, lo”. Birru membika pintu mobil di sisi Bening. lalu melangkah masuk ke rumah. Ia membiarkannya, yakin adiknya bakal turun sendiri.
Lima belas menit berlalu.
Bening masih diam.
Birru kembali.
Segera menyentuh dahi adiknya – lalu pipinya.
“Nggak demam”. Napasnya sedikit lega. Tapi ingatannya melompat ke pagi itu, saat jogging. Wajah Bening waktu itu sama – pucat dan terlalu lelah.
Birru menatapnya sebentar. “Yaudah. Gue gendong aja”, gumamnya.
Malam itu, Birru memilih tidur lebih awal.
*****
Keesokan paginya, Birru terbangun. Ia meraih ponsel. Pukul enam.
“Lumayan juga ya gue tidurnya”, gumamnya.
Ia langsung beranjak ke dapur. Saat melewati kamar ibunya, ia mendengar suara pintu. Ibunya keluar, menuju dapur, menuang segelas air dan meminumnya.
“Birru, itu Bening tidurnya nyenyak banget. Ibu bangunin diem aja,” kata Ibu.
“Mana kayaknya gak mandi ya. Abis dari Dufan kok gak ganti baju. Gimana sih tuh anak", omelnya.
“Aturan dari Ibu kan jelas: kebersihan utama.
"Masa ganti baju aja gak dilakuin?”
“Ayah gak ngajarin jangan-jangan", lanjutnya kesal.
“Dia tidur lama banget, Bu. Sejak dari Dufan, jam lima-an. Masa belum bangun?” Birru heran.
Setengah bercanda, menyebutnya hibernasi.
Tak lama, suara pintu kembali terdengar. Bening berjalan ke dapur. Di sana sudah ada Birru dan Ibu duduk di meja makan.
Mereka sudah sampai di taman bermain.
“Bang, main yang mana dulu?” tanya Bening.
Antrian belum terlalu ramai.
Mereka berhenti beberapa langkah dari pintu masuk. Mata Bening berbinar.
“Banyak banget wahananya”. Ia melirik Birru, lalu menunjuk.
“Naik kora-kora dulu, yuk”. Tangannya mendorong punggung Birru — memaksa. Langkah mereka tiba bersamaan.
“Baru masuk, langsung ke sini. Yakin?” tanya Birru.
Saudara kembar itu punya selera yang timpang: Bening suka yang penuh adrenalin; Birru lebih memilih yang aman.
“Takut, ya, lo?” ejek Bening.
“Idih". Birru menyunggingkan bibirnya.
“Bang, ambil foto dulu, yuk”. Bening mengeluarkan polaroid. Mereka berfoto. Banyak. Di setiap sudut yang dianggap estetik, di setiap wahana yang mereka naiki.
Setelah tiga wahana ekstrem, kini giliran Birru memilih: bombomcar.
Antriannya cukup ramai.
“Capek gue. Mual. Cukup. Gue nggak mau lagi naik begituan. Tornado, kora-kora, roller coaster—cukup!” Birru mengomel. Detak jantungnya mulai stabil, meski menyisakan sedikit pusing. Mood-nya membaik. Ini salah satu permainan favoritnya.
“Bang, lo jangan sengaja nabrak gue dong!” teriak Bening kesal.
Birru justru makin rese. Ia mengejar Bening, menabraknya dari segala sisi.
“Bang! Gue gampar ntar!” Bening mengamuk.
Selesai.
Bening mencubit, memukul beberapa kali. Birru terkekeh sambil menahan perih.
“Lo aja yang nggak bisa ngindar. Itu gampang banget. Lo payah”, ejek Birru.
“Ayah nggak ngebolehin gue nyetir, tau. Tadi itu masih belajar”, bela Bening.
“Lo mah enak dibolehin Ibu setir mobil. Lagian lo cowok. Secara skill emang jelas lebih jago”. Ia protes sambil menikmati es krim vanila kesukaannya.
Sore tiba.
Mereka pulang saat taman bermain hampir tutup.
“Ah, kecapekan lagi, tuh”, kata Birru, melihat adiknya yang pucat.
“Be careful nyetirnya. Gue lanjut tidur".
Hanya butuh beberapa detik bagi Bening untuk terlelap.
“Woy! Bangun! Udah sampai”. Birru menggoncankan pundak adiknya. Bening cuma membandel, lalu membuka mata setengah.
“Bang, lo gendong gue aja lah. Sekali - kali jadi kakak yang baik”. Ucap Bening santai, tapi tubuhnya terasa terlalu berat untuk diajak berdiri.
“Enak aja. Turun, lo”. Birru membika pintu mobil di sisi Bening. lalu melangkah masuk ke rumah. Ia membiarkannya, yakin adiknya bakal turun sendiri.
Lima belas menit berlalu.
Bening masih diam.
Birru kembali.
Segera menyentuh dahi adiknya – lalu pipinya.
“Nggak demam”. Napasnya sedikit lega. Tapi ingatannya melompat ke pagi itu, saat jogging. Wajah Bening waktu itu sama – pucat dan terlalu lelah.
Birru menatapnya sebentar. “Yaudah. Gue gendong aja”, gumamnya.
Malam itu, Birru memilih tidur lebih awal.
*****
Keesokan paginya, Birru terbangun. Ia meraih ponsel. Pukul enam.
“Lumayan juga ya gue tidurnya”, gumamnya.
Ia langsung beranjak ke dapur. Saat melewati kamar ibunya, ia mendengar suara pintu. Ibunya keluar, menuju dapur, menuang segelas air dan meminumnya.
“Birru, itu Bening tidurnya nyenyak banget. Ibu bangunin diem aja,” kata Ibu.
“Mana kayaknya gak mandi ya. Abis dari Dufan kok gak ganti baju. Gimana sih tuh anak", omelnya.
“Aturan dari Ibu kan jelas: kebersihan utama.
"Masa ganti baju aja gak dilakuin?”
“Ayah gak ngajarin jangan-jangan", lanjutnya kesal.
“Dia tidur lama banget, Bu. Sejak dari Dufan, jam lima-an. Masa belum bangun?” Birru heran.
Setengah bercanda, menyebutnya hibernasi.
Tak lama, suara pintu kembali terdengar. Bening berjalan ke dapur. Di sana sudah ada Birru dan Ibu duduk di meja makan.
Other Stories
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...
Mauren, Lupakan Masa Lalu
“Nico bangun Sayang ... kita mulai semuanya dari awal anggap kita mengenal pribadi ya ...
Kucing Emas
Kara Swandara, siswi cerdas, mendadak terjebak di panggung istana Kerajaan Kucing, terikat ...
Kisah Cinta Super Hero
cahyo, harus merelakan masa mudanya untuk menjaga kotanya dari mutan saat dirinya menjadi ...
Ayudiah Dan Kantini
Waktu terasa lambat karena pahitnya hidup, namun rasa syukur atas persahabatan Ayudyah dan ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...