Se-birru Langit. Se-bening Embun

Reads
405
Votes
8
Parts
8
Vote
Report
Se-birru langit. se-bening embun
Se-birru Langit. Se-bening Embun
Penulis YESA

Antara Lensa Dan Bening

Untuk pertama kalinya, Bening tidak pulang bersama Ayah.


Ia dimakamkan di kota kelahirannya—di rumah Ibu. Kampung halamannya. Keluarga sepakat. Sehari setelah pemakaman, Birru ikut Ayah singgah ke rumahnya. Hanya untuk membereskan barang-barang Bening.


Ia menarik napas panjang sebelum membuka pintu kamar Bening.


Kamar itu bernuansa biru muda, seperti warna langit yang sering Bening potret. Rapi. Terlalu rapi untuk sebuah kamar yang kini terasa hampa.


Beberapa perabot putih mendominasi. Sisanya Ornamen bernuansa bunga masih berjejer, seolah menunggu seseorang yang tak akan kembali.


Pandangan Birru tersita lebih lama,  sebuah bunga matahari tiruan dengan vas transaparan berdiri disudut meja.


Dindingnya kamar itu penuh foto – sebagian dibingkai sisanya hanya ditempel.


Birru melangkah pelan, mengamati satu per satu: foto liburan mereka dari tahun ke tahun, foto ulang tahun, foto masa kecil.


Wajahnya berhenti pada satu bingkai.


Di sampingnya menempel memo kecil. Foto itu… keluarga dengan formasi lengkap. Ayah, Ibu, Birru, Bening. Birru hafal setiap wajah di sana.


Terlalu hafal.


Itu bukan foto mereka.


Itu hasil edit.


Di atas memo itu tertulis rapi:

Semoga suatu saat bisa liburan bersama. Punya foto keluarga yang utuh.


Ada nyeri kecil yang naik dari ulu hatinya.


Keinginan itu sederhana. Tapi kenapa terasa sejauh ini?


Birru berbalik.


Ia membuka laci-laci meja Bening. Di sana ada album polaroid. Ia membukanya.


Beberapa foto hanya memotret langit.


Langit pagi. Langit siang. Langit senja.


Semuanya indah.


Di balik setiap foto, tertulis kalimat yang sama:

Langit adalah tempat manusia bertemu. Setidaknya dalam doa.


Tenggorokan Birru mengencang.


“Bening… apa kamu selama ini kesepian?” bisiknya.


Ia tahu sejak kecil Ayah lebih sering pulang larut. Bekerja. Selalu bekerja.


Birru mengusap wajahnya, tapi air mata tetap jatuh—tanpa izin.


Ia memasukkan semua foto itu ke dalam tasnya. Tanpa sisa.


“Sekarang giliran aku yang jaga ingatanmu,” ucapnya pelan.


Sebelum keluar, ia mencetak satu foto terakhir. Foto yang diambil di rumah sakit. Foto dengan senyum yang masih utuh, meski dunia mereka sudah runtuh.



Other Stories
Cinta Di Balik Rasa

memendam rasa bukanlah suatu hal yang baik, apalagi cinta!tapi itulah yang kurasakan saat ...

Cinta Dibalik Rasa

Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. A ...

Susan Ngesot Reborn

Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...

Namaku Amelia

Amelia, seorang anak kecil yang penuh rasa ingin tahu, harus menghadapi hari-hari sulit di ...

Titik Nol

Gunung purba bernama Gunung Ardhana konon menyimpan Titik Nol, sebuah lokasi mistis di man ...

Cowok Hujan

Ia selalu terlihat tenang. Tapi setiap kali langit mulai gelap dan angin berhembus kencang ...

Download Titik & Koma