Menjelang Siang

Reads
14
Votes
0
Parts
3
Vote
Report
Menjelang Siang
Menjelang Siang
Penulis Andi Yudaprakasa

1. Penolakan

Langit masih gelap.

Suara panggilan beribadah menggaung bersahutan di langit subuh. Angin sejuk mengembus, membawa aroma asin laut—dengan suara ombak jelas terdengar di kejauhan.

Menemani sepasang mata seorang gadis yang masih terjaga. Gadis itu berbaring di atas dipan, berselimut kain batik bermotif Gajah Oling. Ia memeluk bantal, menatap kayu glugu yang menyangga atap— tak ada plafon. Ia tak bisa tertidur nyenyak semalaman.

Pikirannya terus melayang, kembali mengingat momen yang membuatnya ingin meneteskan air mata beberapa minggu lalu di kampus.

Ruang dosen yang terasa dingin dan kaku.
Tumpukan kertas dan map di atas meja.
Dan bagaimana Pak Tofik menyandarkan punggung pada kursi, membolak- balik bendelan pengajuan skripsi nya.

Tika hanya diam menahan nafas. Tangannya berkeringat dingin.

"Jadi," Pak Tofik membetulkan kacamata, meletakkan bendelan pengajuanl itu ke meja. Ia tersenyum menatap wajah Tika. "Kamu ingin meneliti pengaruh penggunaan media digital terhadap pemahaman siswa di daerah pinggiran kota Jember?"

"Iya Pak," jawab Tika lirih. "Di Sukowono."

Pak Tofik mengangguk. "Saya paham dengan ketertarikan kamu. Sangat relevan dengan perkembangan media pengajaran."

Sebuah senyum tipis tergurat di wajah Tika.

"Tapi ada beberapa masalah yang saya temukan di sini," Pak Tofik membuka kembali bendelan skripsi Tika.

Mendengar kata 'masalah', nafas Tika seketika tercekat.

"Pertama, desain penelitian," Pak Tofik melingkari sub-bab berhuruf tebal itu. "Metode yang kamu gunakan adalah quasi-experimental: tapi kamu cuma diijinkan pihak sekolah untuk mengajar di satu kelas—berarti ini kelas variable. Kelas kontrolnya?"

"Ehm, saya bisa membandingkan hasil pre dan post test Pak."

"Itu mengukur improvement," Pak Tofik menggeleng. "Ini tidak bisa dijadikan bukti bahwa treatment mu lah yang menyebabkan pengaruh pada nilai siswa. Tanpa perbandingan kelas variabel dan kontrol, maka internal validity mu lemah."

"..." Tika menatap pulpen yang masih membuat lingkaran tebal pada sub-bab nya.

"Kedua," Pak Tofik membuka lembaran lainnya, lalu ia menunjuk sebuah kalimat. "Di sini kamu tulis bahwa sekolah itu memiliki keterbatasan akses internet?"

Tika mengangguk. "Betul Pak. Karena itu saya ingin memperkenalkan penggunaan media digital dalam—."

"Jadi bagaimana," sela Pak Tofik. "Bagaimana kamu bisa yakin sekolah akan mengimplementasikan penggunaan media digital jika infrastrukturnya tidak memadai?"

Tika tak segera menjawab. Nafasnya terasa sesak.
"Saya— saya bisa pakai laptop Pak."

"Dan bagaimana kamu bisa membuat seluruh siswa bisa melihat media pembelajaranmu? Satu laptop untuk satu kelas?"

Tika menundukkan kepala.

"Tika, penelitian pengajaran itu bukan hanya tentang membuat inovasi. Tapi juga tentang— apakah bisa digunakan di tempat tersebut?"

"Iya Pak," Tika menggigit bibirnya.

"Satu lagi," Pak Tofik masih belum selesai. "Daftar literatur yang kamu pakai. Banyak dari referensimu menggunakan jurnal internasional. Tapi apakah ini sesuai dengan kondisi di Indonesia— di Semboro?"

"Bukankah, teori sifatnya universal Pak?"

"Betul sekali," Pak Tofik tersenyum. "Tapi dalam dunia pendidikan, sifatnya juga tergantung konteks."

Tika menahan nafas. Dadanya terasa sesak. Matanya terasa panas dan memburam. Ia mencengkeram celana katunnya di bawah meja.

"Saya sarankan, kamu ganti metode penelitian," Pak Tofik menutup bendelan proposal Tika, menyodorkan bendelan itu kembali. "Mengingat faktor- faktor yang saya sebutkan tadi, lebih baik kamu menggunakan pendekatan deskriptif. Observasi kelas. Wawancara persepsi guru."

Ganti metode penelitian?
Bukan sekedar revisi— tapi ganti?

"Mohon maaf, saya tidak bisa menyetujui pengajuan ini," Pak Tofik tersenyum. Tika tahu bahwa Pak Tofik tersenyum tulus— namun baginya saat ini, senyuman itu terasa menusuk.

Tika masih saja menunduk, sambil meraih bendelan pengajuan skripsinya. "Baik Pak."

Tika meninggalkan ruangan itu dengan sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak menetes. Puluhan halaman yang ia kerjakan selama beberapa minggu.
Ditolak dalam 15 menit.

Lalu sambil berjalan menuju area parkir, ia membaca di grup WA angkatannya— bahwa pengajuan mereka telah di ACC, dan mereka bisa lanjut ke seminar proposal.

Dan saat itu juga, tiba- tiba fakultas keguruan itu terasa hening.
Seolah semuanya bergerak maju, dengan hanya ia yang masih terjebak bersama bendelan kertas yang kini tidak ada gunanya.

Tanpa sadar, sudut mata Tika meleleh.
Membasahi bantal tempatnya sedari tadi berbaring.
Beberapa minggu berkutat dengan laptop dan referensi. Beberapa minggu yang ia lewati dengan begadang.
Beberapa minggu yang ia habiskan untuk bolak- balik ke perpus.

Pupus.

Dan kini ia harus mengulang kembali semuanya dari nol?
Apakah, Tika sanggup?

-tok. tok. tok.

Sebuah ketukan kecil terdengar di pintu kayu. Yang di susul dengan suara parau yang lembut menyebut namanya.

"Swastika," panggil Uti dari balik pintu. "Sudah bangun Nduk? Subuhan dulu gih?"

[Uti merupakan simplifikasi dari Mbah Putri, yang artinya Nenek dalam bahasa Jawa.]

Tika menarik nafas panjang, mengusap basah di mata dengan jarinya.

"Iya Ti."

Lalu dengan tanpa semangat, ia beranjak turun dari dipan.
Menjejak di lantai semen yang dingin dengan kaki telanjangnya.

Sedingin hari pertama liburan semesternya.




Other Stories
Keeper Of Destiny

Kim Rangga Pradipta Sutisna, anak dari ayah Korea dan ibu Sunda, tumbuh di Bandung dengan ...

Srikandi

Iptu Yanti, anggota Polwan yang masih lajang dan cantik, bertugas di Satuan Reskrim. Bersa ...

Kau Bisa Bahagia

Airin harus menikah dalam 40 hari demi warisan ayahnya, namun hatinya tetap pada Arizal, c ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Love Falls With The Rain In Mentaya

Di tepian Pinggiran Sungai Mentaya, hujan selalu membawa cerita. Arga, seorang penulis pen ...

Download Titik & Koma