Menjelang Siang

Reads
128
Votes
0
Parts
4
Vote
Report
Menjelang Siang
Menjelang Siang
Penulis Andi Yudaprakasa

4. Kebuntuan

Selepas Ashar, Tika dan Uti sudah mulai membereskan warung. Berdua mereka mencuci semua perlengkapan kotor di keran belakang. Sepanjang hari, mungkin tidak sampai 30 pengunjung yang datang. Kebanyakan dari mereka adalah pelanggan lama Warung Silir.

Malam menjelang.

Suasana di rumah Uti terasa sepi. Hanya terdengar suara ombak dari pantai di seberang jalan, ataupun deru kendaraan yang sesekali melintas. Serangga malam riuh mengisi pekarangan dan kebun sekitar rumah.

Di ruang tamu, Tika duduk bersila di atas lantai semen yang dingin, menghadap meja pendek. Tas kuliahnya ia geletakkan di atas kursi kayu di belakangnya. Laptop terbuka di atas meja, dengan berbagai buku dan kertas bertumpuk di sekitarnya— metodologi riset, manajemen kelas. Jurnal ilmiah dengan coretan stabilo di beberapa paragraf. Dan tentu saja bendelan pengajuan skripsinya yang ditolak Pak Tofik.

"Saya sarankan, kamu ganti metode penelitian."

Suara Pak Tofik terngiang dalam kepala Tika.
Jemarinya melayang tak bergerak di atas keyboard. Matanya menatap layar laptop, menatap insert point yang berkedip karena dibiarkan diam.

Berkedip, dan terus berkedip.

Seolah mengejeknya yang sedang berusaha untuk mengetik.

Tika mengetik beberapa kalimat, lalu menghapusnya kembali. Ia menarik nafas panjang.

Apa yang harus aku ketik?

Pak Tofik memintanya untuk mengganti metode penelitian, yang berarti ia harus membuat draft, bolak- balik perpus untuk mencari referensi baru, begadang berminggu- minggu untuk mengetik semuanya dari Bab I.

Lagi.
Dari awal.

Mata Tika kembali terasa panas.
Mungkin karena sedari tadi ia tak berkedip menatap layar.
Atau mungkin karena ia berusaha menahan matanya agar tak meneteskan air mata.

Namun anehnya, semakin ia berusaha menahan, semakin besar dorongan untuk air matanya tumpah.

-cklek.

Suara pintu depan terbuka.
Uti berjalan masuk sambil membawa kantong plastik berisi sayuran dan bumbu masak.

Tika cepat memalingkan muka, mengusap matanya— berpura- pura membaca referensi.

Uti menutup pintu sambil memandang meja ruang tamu yang penuh buku dan kertas, serta laptop terbuka. Lalu ia tersenyum.
"Ngerjain skripsi, Nduk?"

"Iya," jawab Tika singkat.

"Kelihatannya sibuk banget ya," Uti melintasi ruang tamu, menuju dapur di belakang. "Semangat ya, Tika."

"Uti mau siapin bahan buat masak besok?" Tika beranjak dari lantai, hendak menyusul. "Aku bantuin ya."

"Heh— jangan! Kamu kerjain skripsi mu saja," sahut Uti dari dapur. Ia meletakkan kantong belanjanya di meja. "Kamu bisa bantuin aku kapan saja. Tapi dahulukan skripsimu. Kuliah nomer satu."

"..."

"Lagian aku sudah biasa tiap malam begini," Uti memisah- misahkan bahan dalam kelompok: yang perlu dicuci, yang perlu di potong. "Kamu fokus kerjain itu aja. Kalau tahu kamu semangat begitu, Bapakmu pasti seneng."

Tika tak menjawab. Ia hanya kembali duduk bersila di lantai.

Ucapan Uti begitu lembut, namun justru seperti meremukkan hati Tika.
Ia menatap sheet Word di depannya yang masih kosong.

Kenapa susah sekali untuk mengetik sesuatu?

Tika merasa dadanya perih. Merasakan tekanan. Ekspektasi Uti dan Bapak, agar ia bisa segera menyelesaikan tugas terakhirnya sebagai mahasiswi.
Malu karena tak ada progress.
Rasa ragu, apakah ia bisa mampu melakukan ini.
Rasa takut apakah skripsinya akan tetap macet seperti ini.

Tika mencoba mengalihkan pikiran dengan membuka ponsel— yang ternyata merupakan sebuah kesalahan besar.

Ia membaca WA Group angkatannya yang terdapat ratusan pesan tak terbaca karena sejak pagi ia membantu Uti di warung.

"Aku lagi ada di perpus nih. Ayok yang lagi kosong, kita ketemu di sini."

"Jangan lupa dua minggu lagi aku semipro gaess! Datang ya!"

[Mengirim foto berempat, berkumpul di taman fakultas bersama- sama mengerjakan skripsi.]

Tika hanya men-scroll layar tanpa membalas. Rasanya ia semakin berkecil hati saat membaca bahwa teman- temannya terus berproses.

Meninggalkannya sendirian pada titik yang masih sama.

-tuk.

Tiba- tiba saja Uti datang meletakkan segelas wedang jeruk hangat dengan irisan jahe. Ia mengelus kepala Tika sebelum kembali menuju dapur.
"Biar kamu enggak capek. Semangat ngerjain skripsi boleh, tapi jangan lupa istirahat ya."

Tika mengangguk pelan, menatap Uti yang berkutat dengan bahan masakan warung.

Rasanya ia ingin mengatakannya.

Uti, proposal skripsi ku ditolak.
Aku nggak tahu harus ngapain.
Aku ngerasa— bodoh.

Semua kalimat- kalimat itu tersangkut di tenggorokan. Mencekik lehernya.

Tika merasa bahwa ia berada dalam kebuntuan.
Ia tidak sedang malas.
Atau tidak mau berusaha.
Ia hanya— buntu.

Dan entah bagaimana, rasanya ini lebih buruk.







Other Stories
Hidup Sebatang Rokok

Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...

Mozarella (bukan Cinderella)

Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseora ...

Membabi Buta

Mariatin bekerja di rumah Sundari dan Sulasmi bersama anaknya, Asti. Awalnya nyaman, namun ...

Cinta Rasa Kopi

Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...

Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik

Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...

Final Call

Aku masih hidup dalam kemewahan—rumah, mobil, pakaian, dan layanan asisten—semua berka ...

Download Titik & Koma