Desa Seribu Sesajen

Reads
213
Votes
0
Parts
11
Vote
Report
Desa seribu sesajen
Desa Seribu Sesajen
Penulis Dian Prasetyaningrum

1. Rencana Di Penghujung Semester

Kantin Universitas Pelita Bangsa sore itu mendidih dengan tawa dan sorak-sorai. Hari terakhir ujian semester telah berlalu, dan euforia kebebasan merayap di setiap sudut. Namun, di meja pojok yang agak tersembunyi, di antara tumpukan buku dan sisa makanan, lima mahasiswa dengan karakter berbeda sedang merajut rencana yang akan mengubah hidup mereka.

Nara, si anak orang kaya namun kesepian, hanya menatap kosong keluar kantin. Ia ingin pergi sejauh mungkin dari rumah besarnya yang sunyi. "Aku ikut, asal kita benar-benar pergi dari hiruk-pikuk ini," ucapnya datar.

Di sampingnya, Arga, mahasiswa dari keluarga sederhana yang selalu terlihat serius, sibuk mengamati daftar menu dengan kening berkerut, menghitung estimasi biaya makan siang untuk esok hari. Arga diam-diam selalu memperhatikan Nara, khawatir dengan kesendirian gadis itu.

Tepat di depan mereka, Bobi, si kocak dari keluarga konglomerat, memamerkan sebuah brosur usang dengan senyum lebar. "Ini dia! Liburan impian kita! Desa Sukma Mulya, atau yang lebih dikenal dengan Desa Seribu Sesajen!" serunya antusias. "Dijamin seram, eksotis, dan yang paling penting... belum terjamah influencer mana pun!"

Melihat wajah Arga yang masih tampak ragu, Bobi menyenggol tangan temannya itu sambil nyengir lebar. "Kenapa, Ga? Takut lapar karena nggak ada makanan? Tenang saja, namanya juga Desa Seribu Sesajen. Kalau kita kehabisan duit, kita tinggal 'pinjam' ayam bakar atau pisang dari sesajen di pinggir jalan. Lumayan, kan? Makan gratis hasil sumbangan warga gaib!"

Reno yang duduk di samping Bobi, dengan gaya sok pahlawannya, langsung menginterupsi sambil menggelengkan kepala. "Seram itu relatif, Bob. Yang penting fasilitasnya. Selin kan nggak biasa tidur di kasur keras," ucapnya sambil mengusap lembut rambut Selin yang manja di sampingnya.

Selin hanya mengangguk setuju, bibirnya mengerucut. "Iya, Reno benar. Aku kan nggak bisa jauh dari hair dryer dan charger ponsel."

"Aduh Selin sayang," Bobi kembali menimpali dengan gaya konyolnya, "Di sana itu hawanya mistis, bukan mistis glow. Kalau rambutmu mekar karena nggak ada hair dryer, ya anggap saja kamu lagi mendalami peran jadi kuntilanak biar akrab sama warga lokal!"

Arga menghela napas, suaranya terdengar cemas. "Bagaimana dengan penginapannya, Bob? Lagipula, biayanya pasti lumayan mahal, kan?" Ia tahu betul, untuk bisa ikut petualangan seperti ini, ia harus merogoh kocek lebih dalam dari biasanya.

Namun, sebelum Bobi sempat menjawab, sebuah suara melengking memotong percakapan. "Alah, biaya doang diributin! Tenang aja, gue yang backup kalau sampai kurang!"

Itu Vino, teman kuliah mereka yang baru datang dan langsung menyambar sepotong kentang goreng dari piring Bobi tanpa izin. Vino adalah definisi kesombongan; pakaiannya selalu paling mahal, tawanya paling keras, dan bicaranya selalu paling lancang.

"Lagian, kalau pun serem, emangnya kenapa? Bapak gue punya kenalan dukun sakti. Mau hantu model apa aja juga pasti langsung ciut. Desa kampungan kayak gitu nggak akan ada apa-apanya!" Vino tertawa remeh, melirik Arga dengan pandangan merendahkan seolah berkata, 'Dasar orang miskin, penakut lagi.'

Nara yang sejak tadi terdiam, perlahan menggerakkan kakinya di bawah meja. Dengan lembut namun tegas, ia menendang kaki Arga, memberikan isyarat agar pemuda itu tidak terpancing oleh mulut besar Vino.

Arga tersentak pelan, emosinya yang nyaris meluap seketika mereda saat ia melirik ke arah Nara. Gadis itu hanya menggelengkan kepala tipis, matanya memberikan tatapan yang seolah berkata, "Sudahlah, jangan diladeni."

"Udah ah, yang penting kita seru-seruan!" Bobi berusaha mencairkan suasana kembali. "Gimana? Berangkat, kan? Ini liburan terakhir kita sebelum pusing mikirin skripsi!"

Akhirnya, dengan segala pertimbangan, mereka semua mengangguk setuju. Desa Sukma Mulya, Desa Seribu Sesajen, akan menjadi destinasi liburan akhir semester mereka. Tanpa mereka tahu, di balik gambar hutan yang asri di brosur usang itu, ada tulisan kecil dalam bahasa yang tidak mereka mengerti: "Sukma yang datang, sukma yang pulang sebagai persembahan."






Other Stories
The Labsky

Keyra Shifa, penggemar berat kisah detektif, membentuk tim bernama *The Labsky* bersama An ...

Always In My Mind

Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...

Anak Singkong

Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...

Metafora Diri

Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...

Waktu Tambahan

Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...

Dia Bukan Dia

Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...

Download Titik & Koma