Desa Seribu Sesajen

Reads
206
Votes
0
Parts
11
Vote
Report
Penulis Dian Prasetyaningrum

3. Jalan Yang Terlupakan

Minibus putih itu berguncang hebat saat bannya mulai melibas aspal yang pecah-pecah, berganti dengan jalanan tanah merah yang becek. Di kanan-kiri mereka, gedung-gedung beton telah lenyap, digantikan oleh jajaran pohon jati dan beringin besar yang dahannya saling bertautan di atas jalan, menciptakan lorong gelap alami meski hari belum terlalu siang.

Di dalam kabin yang pengap, Bobi mencoba mengusir kesunyian yang mulai merayap. "Duh, goyangannya maut banget! Ini minibus apa kursi pijat refleksi sih? Kalau begini terus sampai desa, turun-turun ginjal gue bisa pindah ke lambung nih!" serunya sambil berpegangan erat pada langit-langit mobil.

Vino mendengus kasar, wajahnya memerah karena kesal. "Sialan! Bob, lo bilang ini open trip berkelas. Ini mah lebih mirip simulasi jadi telur di dalam kocokan! Pak Dedi, bisa pelan sedikit nggak? Mobil rongsokan ini bunyinya kayak mau meledak!" protes Vino sambil menendang kursi di depannya.

Dedi, yang duduk kaku di balik kemudi, hanya melirik dari spion tengah. Matanya yang dingin tidak menunjukkan emosi. "Jalannya memang begini, Mas. Kalau tidak suka, silakan jalan kaki," jawabnya datar, membuat Vino terdiam sejenak karena tersinggung.

Selin, yang sedari tadi sibuk menggoyang-goyangkan ponselnya ke arah jendela, mulai merengek. "Reno... kok sinyalnya hilang total? Videoku tadi belum selesai upload, sekarang malah failed! Mana mau pamer ke anak-anak kalau begini?"

Reno merangkul bahu Selin, mencoba menenangkan dengan gaya sok tahu. "Sabar sayang, ini kan kita lagi masuk ke lembah. Begitu naik ke bukit desanya, pasti sinyalnya muncul lagi. Paling cuma lag sebentar karena ketutup pohon-pohon besar ini."

Berbeda dengan teman-temannya yang berisik, Arga dan Nara hanya terdiam. Keduanya duduk bersisian, memandang keluar jendela ke arah hutan yang semakin rapat.

Arga merasa ada yang aneh; ia tidak melihat seekor burung pun terbang atau mendengar suara serangga hutan yang lazimnya riuh. Hutan itu terlalu sunyi.

Nara, di sisi lain, merasa seolah ribuan pasang mata sedang mengawasi mereka dari balik kegelapan pepohonan.

Tiba-tiba, minibus melambat saat melewati sebuah gapura kayu tua yang sudah lapuk. Di puncaknya, terpasang tengkorak kerbau yang tanduknya melengkung tajam ke bawah, dihiasi kain putih yang sudah menguning dan sobek-sobek. Di bawahnya, berjejer piring-piring tanah liat berisi bunga yang sudah layu dan kemenyan yang masih mengepulkan asap tipis.

"Hiiy, apa-apaan sih itu? Dekorasi desa ini selera seninya rendah banget," ejek Vino. Ia menurunkan kaca jendela, lalu dengan sengaja melemparkan botol plastik bekas minumannya tepat ke arah tumpukan sesajen di pinggir gapura.

"Vino! Jaga sikap kamu!" tegur Arga dengan nada tinggi, wajahnya tampak sangat khawatir.

Vino hanya tertawa remeh. "Alah, cuma piring tanah liat doang diributin. Pak Dedi, masih jauh nggak? Gue udah laper, pengen lihat 'pemandangan' yang bening nih."

Dedi mengerem mobilnya secara mendadak hingga mereka semua terjerembap ke depan. Ia memutar tubuhnya, menatap Vino dengan pandangan yang membuat tawa pemuda itu seketika tertelan kembali.

"Dengarkan saya baik-baik," suara Dedi terdengar lebih rendah dan mengancam dari sebelumnya. "Di sini, saya adalah pemandu jalan kalian, bukan sahabat atau pelayan kalian. Jika kalian ingin selamat sampai tujuan, tutup mulut dan jaga sikap kalian. Hutan ini punya cara sendiri untuk menghukum tamu yang tidak tahu diri."

Suasana di dalam minibus seketika menjadi dingin membeku. Bobi yang biasanya punya seribu lelucon, kini hanya bisa menelan ludah dengan susah payah. Minibus pun kembali melaju, menembus kabut yang mulai turun, membawa mereka semakin dalam ke wilayah yang seharusnya tidak pernah mereka datangi.



Other Stories
Bukan Cinta Sempurna

Pesona kepintarannya terpancar dengan jelas, rambut sebahunya yang biasanya dikucir ekor ...

Sebelum Ya

Hidup adalah proses menuju pencapaian, seperti alif menuju ya. Kesalahan wajar terjadi, na ...

Youtube In Love

Wahyu yang berani kenalan lewat komentar YouTube berhasil mengajak Yunita bertemu. Asep pe ...

Suara Cinta Gadis Bisu

Suara cambukan menggema di mansion mewah itu, menusuk hingga ke relung hati seorang gadis ...

Cinta Satu Paket

Namanya Renata Mutiara, secantik dan selembut mutiara. Kelas sebelas dan usianya yang te ...

Puzzle

Karina menyeret kopernya melewati orang-orang yang mengelilingi convayer belt. Koper ber ...

Download Titik & Koma