Desa Seribu Sesajen

Reads
212
Votes
0
Parts
11
Vote
Report
Penulis Dian Prasetyaningrum

4. Jantung Desa Seribu Sesajen

Minibus putih itu akhirnya berhenti di sebuah tanah lapang yang menjadi pusat pemukiman. Saat itu, matahari sudah mulai kehilangan sinarnya, menyisakan cahaya oranye kemerahan di cakrawala.

Bayangan pepohonan memanjang dengan ganjil, menelan desa dalam kegelapan yang prematur. Begitu mesin dimatikan, keheningan yang menyesakkan langsung menyergap.

"Kita sampai," ucap Dedi singkat tanpa menoleh.
Saat pintu geser minibus terbuka, hawa dingin yang tidak wajar langsung menusuk tulang.

Bobi turun pertama kali, mencoba mencari bahan untuk mencairkan suasana. "Wah, ini sih bukan open trip, tapi open portal gaib! Sepi banget, apa semua warganya lagi ikut Squid Game ya?" Namun, tawanya tidak berlanjut.

Di sepanjang teras rumah panggung yang menghitam karena usia, terdapat sesajen berbagai bentuk. Warga desa hanya berdiri mematung. Mata mereka yang cekung menatap kosong ke arah rombongan itu.

Tiba-tiba, Nara tersentak. Ia merasa seseorang membisikkan namanya tepat di telinga dengan suara parau yang amat dingin, namun saat ia menoleh, hanya ada hembusan angin yang menggoyangkan ribuan sesajen yang bergelantungan.

"Reno, mereka kenapa sih? Kok ngelihatinnya kayak mau makan kita?" bisik Selin sambil memandangi satu-satu warga desa yang hanya berdiri mematung.

Baru saja Selin bicara, ia memekik kecil dan refleks memegang tengkuknya. "Aww! Reno, jangan narik rambutku dong, sakit tahu!" Reno menoleh bingung, "Aku di depanmu, Sel. Aku bahkan nggak nyentuh kamu." Wajah Selin seketika pucat pasi.

Sedangkan Bobi mencoba mengarahkan kamera ponselnya ke salah satu sudut rumah panggung untuk mengambil foto. Namun, di layar ponselnya, ia melihat bayangan hitam besar merangkak cepat di bawah kolong rumah tersebut. Begitu ia menurunkan ponsel, bayangan itu lenyap, menyisakan kekosongan yang mencekam.

Pemandangan di desa itu memang mengerikan. Di bawah dahan pohon besar, terdapat bungkusan janur, kepala hewan yang dikeringkan, dan kain-kain merah yang berkibar.

"Gila... ini desa atau gudang klenik?" gumam Vino. Ia mencoba menutupi kegugupannya dengan gaya sombong. "Ini mana sambutannya? Katanya desa adat, harusnya ada tarian atau kalung bunga, kan? Minimal kasih minum kek, haus nih!"

Vino kemudian sengaja mendekati salah satu sesajen yang tergantung rendah di dekatnya—sebuah bungkusan berisi daging mentah yang sudah dikerubungi lalat. Ia menyentil bungkusan itu hingga bergoyang-goyang.

Tiba-tiba, seekor burung gagak hitam legam hinggap di dahan rendah tepat di atas kepala Vino. Burung itu tidak terbang menjauh, melainkan menatap Vino dengan mata bulatnya yang keruh. Gagak itu mengeluarkan suara parau yang sangat nyaring—seolah sedang meneriakkan peringatan atau justru memanggil maut. Sayapnya dikepakkan kasar, membuat bulu-bulu hitamnya jatuh tepat di bahu Vino, sementara matanya terus mengunci pergerakan pemuda itu seolah sedang menandai calon mangsa.

"Vino, berhenti!" Nara bersuara, nadanya tajam dan penuh peringatan. Ia berdiri di samping Arga, wajahnya pucat. Sebagai pemilik Tulang Wangi, Nara bisa merasakan denyut desa ini; seolah-olah tanah yang mereka pijak sedang bernapas dan sangat lapar.

Arga memperhatikan para warga desa yang tadi diam, kini mulai menunjukkan pergerakan kecil. Kepala mereka perlahan-lahan miring secara bersamaan, mengeluarkan suara gemertak tulang leher yang halus namun jelas di tengah kesunyian. Mengikuti setiap gerakan Vino.

"Vin, gue rasa sebaiknya lo jaga sikap," bisik Arga lirih. "Mereka nggak suka dengan kelakuan elo."

Dedi melangkah maju, berdiri di depan mereka seolah-olah sedang mempersembahkan ternak kepada majikannya. Ia membungkuk kecil ke arah rumah panggung terbesar di tengah desa, lalu menoleh ke arah rombongan.

Ia memberi isyarat agar mereka mengikuti langkahnya menuju penginapan yang telah disiapkan—sebuah rumah kayu tua yang berdiri paling jauh dari pemukiman warga, tepat di bibir hutan yang gelap.

Setelah Dedi meninggalkan mereka di rumah kayu tua itu, suasana di dalam ruangan terasa sangat pengap meskipun banyak celah di dinding bambu.

Mereka mulai membagi tempat tidur, namun malam itu, penginapan kayu tua tersebut terasa seperti jebakan. Saat mereka mencoba memejamkan mata, Arga mendengar suara garukan kuku yang panjang di bawah lantai bambu tempat ia berbaring.

"Sstt... kalian dengar itu?" bisik Arga.

Belum sempat dijawab, Selin menjerit sambil menunjuk ke celah dinding. "Ada yang mengintip! Sumpah, ada mata di sana!"

Reno segera menyisir dinding dengan lampu ponselnya, namun hanya kegelapan hutan yang menyahut.

Sementara itu, Vino malah mendengus kesal. Ia bangkit, melangkah ke teras, menghadap ke arah kegelapan sambil berteriak, "Woi! Jangan ganggu tidur gue! Gue capek tau!"

Tepat setelah Vino bicara, suara BRAKK! keras terdengar dari atas atap, membuat seluruh rumah bergetar. Sesuatu yang sangat berat seolah baru saja mendarat di atas kepala mereka, disusul oleh suara desisan yang panjang dan bau busuk yang mendadak menyeruak masuk lewat celah-celah dinding.

Selin memekik tertahan di pelukan Reno, air matanya mulai luruh. Arga dan Nara berdiri kaku, menatap langit-langit kayu yang melengkung tertekan beban sesuatu di atas sana.

Ketegangan itu mereda saat suara desisan perlahan menjauh, berganti bunyi gesekan berat yang merayap turun menuju kegelapan hutan. Bau busuk yang sempat mencekik perlahan menipis, tersapu angin malam yang masuk lewat celah dinding.

Akhirnya, suara itu benar-benar menghilang. Kesunyian kembali datang, lebih pekat dari sebelumnya. Mereka hanya bisa terdiam dalam gelap dengan jantung berpacu, Malam itu, tidak ada satu pun dari mereka yang berani memejamkan mata.



Other Stories
I See Your Monster, I See Your Pain

Aku punya segalanya. Kekuasaan, harta, nama besar. Tapi di balik itu, ada monster yang sel ...

Bali Before Sun Set

Perjalanan di pulau dewata tak hanya menyajikan sesuatu yang amat indah untuk di pandang t ...

Sweet Haunt

Di sebuah rumah kos tua penuh mitos, seorang mahasiswi pendiam tanpa sengaja berbagi kamar ...

Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

First Snow At Laiden

Bunda Diftri mendidik Naomi dengan keras demi disiplin renang. Naomi sayang padanya, tapi ...

Separuh Dzrah

Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suar ...

Download Titik & Koma