Desa Seribu Sesajen

Reads
214
Votes
0
Parts
11
Vote
Report
Penulis Dian Prasetyaningrum

5. Keindahan Yang Menyesatkan

Pagi itu, Desa Sukma Mulya seolah berganti wajah.

Sinar matahari yang menembus celah-celah pepohonan besar menciptakan pilar cahaya yang memukau, membiaskan warna pelangi pada embun yang masih menggantung di dedaunan. Kabut tipis yang menyelimuti desa tidak lagi terasa mencekam, melainkan seperti pemandangan negeri di atas awan yang sangat indah dan damai.

Di teras rumah kayu, rombongan itu tampak benar-benar terpesona, sejenak melupakan kengerian semalam.

Selin dan Reno berdiri di tepi pagar pembatas, menghirup dalam-dalam udara pegunungan yang begitu bersih.

"Reno, lihat! Bagus banget, ya?" seru Selin sambil merentangkan tangan. "Kalau saja sinyalnya ada, aku mau live sekarang juga. Ini lebih bagus daripada filter aesthetic mana pun di Instagram!"

Reno tersenyum, memeluk Selin dari belakang dengan protektif. "Kan aku sudah bilang, di balik perjalanannya yang berat, pemandangannya sepadan. Kita nikmati saja dulu tanpa gangguan ponsel."

Bobi, yang biasanya tidak bisa diam, kali ini duduk di anak tangga sambil mengunyah bekalnya dengan santai. "Gue akui, pilihan gue emang nggak pernah salah. Meski horor semalam bikin gue hampir ngompol, pagi ini rasanya kayak lagi di surga," candanya sambil tertawa lebar, merasa bahagia melihat keindahan alam Desa tersebut.

Arga dan Nara berdiri sedikit terpisah di ujung teras. Arga menyesap kopi hitam pahit yang disediakan warga tadi, matanya menyapu lembah hijau di bawah mereka. "Indah ya, Nara?" tanya Arga pelan.

Nara mengangguk, namun matanya tetap waspada menyisir setiap sudut hutan.

"Indah yang terlalu sempurna, Arga. Rasanya seperti... sebuah topeng." Meskipun begitu, Nara sempat memejamkan mata sejenak, menikmati angin dingin yang membelai wajahnya, mencoba membuang prasangka buruknya.

Namun, di tengah kedamaian itu, Vino justru merasa gelisah. Baginya, pemandangan pohon dan gunung adalah hal yang membosankan. "Gue keluar dulu ya, mau cari angin ke sungai bawah sana. Siapa tahu beneran ada 'bidadari' desa yang lagi mandi," godanya sambil membetulkan letak jam tangan mahalnya.

Selin sempat menoleh sejenak dan memuji jaket bermerek yang dikenakan Vino. "Keren banget jaketnya, Vin! Kancing emasnya itu lho, kelihatan mewah banget kalau kena matahari," serunya yang hanya dibalas Vino dengan senyum sombong.

"Hati-hati, Vin! Jangan sampai lo yang dimandiin penghuni sini," seru Bobi setengah bercanda, yang disambut tawa kecil dari Reno. Mereka membiarkan Vino pergi sendirian, mengira pemuda itu hanya butuh waktu untuk memuaskan egonya.

Vino berjalan menyusuri jalan setapak yang ditumbuhi lumut tebal menuju tepian sungai. Semakin jauh ia melangkah, suara tawa teman-temannya di atas sana memudar, digantikan oleh kesunyian yang ganjil. Hingga akhirnya, di balik pohon beringin yang akarnya menjuntai ke air, ia melihat sosok itu.

Seorang wanita duduk di atas batu besar di tengah sungai. Rambutnya hitam legam terurai panjang hingga menyentuh air. Ia mengenakan kain kemben batik kusam yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Wanita itu sedang membasuh lengannya, dan aroma wangi bunga melati yang sangat kuat mendadak memenuhi indra penciuman Vino.

Vino terpaku. Sifat cabulnya seketika menyingkirkan semua peringatan ayahnya tentang jimat dan pesan ibunya tentang menjaga tata krama.

"Gila... beneran ada bidadari di sini," gumamnya dengan tatapan lapar.
Ia mendekat dengan langkah berani. "Sendirian aja, Neng? Mau ditemenin?"

Wanita itu perlahan menoleh. Wajahnya sangat cantik, dengan kulit sepucat rembulan dan bibir yang merah merekah. Ia tidak bicara, hanya memberikan senyuman tipis yang sangat menggoda. Dengan gerakan pelan, ia memberikan isyarat dengan jarinya agar Vino mendekat ke arah semak-semak rimbun di balik pohon besar.

Terpikat oleh sihir yang menyesatkan, Vino mengikuti wanita itu ke dalam kegelapan di balik rindangnya pepohonan.

Di sana, di atas tanah yang lembap dan dikelilingi sesajen yang sudah membusuk, Vino melakukan perbuatan nista itu, melupakan seluruh wejangan ibunya dan jimat di saku celananya.

Ia tidak sadar bahwa di bawah cahaya matahari yang mulai tertutup awan mendung, bayangan wanita itu tidak menapak di tanah.

Dalam puncak gairah yang menyesatkan, Vino merasa tubuhnya mendingin secara mendadak. Ia menatap wajah wanita di bawahnya, yang kini bukan lagi bidadari, melainkan sosok wanita tua dengan wajah keriput layaknya mayat yang membusuk.

Rambutnya yang putih kusam menjuntai kusut, bergerak-gerak sendiri seolah-olah setiap helainya adalah anak ular yang sedang menggeliat.

Tangannya yang kurus kering dengan kulit yang mengelupas seperti sisik ular, memiliki kuku-kuku hitam panjang yang siap merobek apa pun.
Matanya merah menyala, lidahnya bercabang dua dan bergerak lincah di antara bibirnya yang robek. Saat dia bicara, suaranya bukan lagi suara manusia, melainkan desisan ribuan ular yang keluar dari tenggorokannya yang bolong.

"Terima kasih... persembahannya," bisik suara itu, bukan lagi suara manusia, melainkan desisan ribuan ular yang mengerikan.

Vino ingin berteriak, namun suaranya tercekat. Ia merasakan sebuah tusukan dingin tepat di ulu hatinya. Saat itu juga, jimat hitam di saku celananya terbakar secara spontan menjadi abu yang tak berarti.

Perjanjian telah ditandatangani dengan darah. Vino, sang tumbal pertama, telah menemui ajalnya di tengah keindahan yang menipu.



Other Stories
Perpustakaan Berdarah

Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...

Death Cafe

Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...

Testing

testing ...

Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali

menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...

Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Menjelang pernikahan, Devi dan Dimas ditugaskan meliput 7 keajaiban dunia. Pertemuan Devi ...

Terlupakan

Pras, fotografer berbakat namun pemalu, jatuh hati pada Gadis, seorang reporter. Gadis mem ...

Download Titik & Koma