7. Rahasia Di Tengah Hutan
Napas mereka memburu, menciptakan uap putih di tengah udara hutan yang dingin dan lembap.
Arga memimpin di depan, menebas semak belukar dengan tangan kosong, sementara Reno merangkul Selin yang nyaris pingsan karena syok.
Di belakang mereka, Bobi berlari dengan kaki yang gemetar hebat; wajahnya yang biasanya penuh canda kini dipenuhi keringat dingin. Di paling belakang, Nara berlari dengan wajah pucat pasi; ia bisa merasakan ribuan mata sedang mengintai dari balik pepohonan beringin yang akarnya menjuntai seperti jerat gantung.
"Cepat! Jangan menoleh!" teriak Arga.
Pengejaran itu terasa abadi. Suara langkah kaki warga desa yang berat terdengar mengepung dari segala arah, namun anehnya, warga itu tidak pernah benar-benar muncul. Teriakkan warga yang memanggil-manggil nama Nara dengan nada memuja membuat suasana semakin mencekam.
Hingga akhirnya, mereka melewati dua pohon beringin besar yang batangnya dililit kain putih kusam. Begitu mereka melewati batas pohon itu, secara misterius suara langkah kaki dan teriakan warga desa di belakang mereka menghilang seketika.
Hutan mendadak sunyi senyap, hanya menyisakan deru napas mereka yang terengah.
Dalam keheningan yang ganjil itu, Selin tiba-tiba tersandung akar pohon dan jatuh tersungkur.
"Aakh!" rintihnya kesakitan.
Reno segera membungkuk untuk membantunya berdiri. Saat itulah, mata Reno tanpa sengaja menangkap secercah cahaya kekuningan yang berasal dari balik rimbunnya semak belukar—sebuah cahaya lampu petromak dari sebuah bangunan.
"Ada rumah di sana! Ayo, cepat!" bisik Reno sambil menunjuk ke arah cahaya kekuningan yang temaram.
Tanpa membuang waktu, mereka berlari ke arah cahaya tersebut, menerjang semak belukar dan ranting-ranting yang menggores lengan mereka. Adrenalin membuat mereka mengabaikan rasa lelah yang luar biasa.
Harapan untuk selamat kini tertuju sepenuhnya pada bangunan kecil yang semakin jelas terlihat di depan mata.
Namun, ada sesuatu yang ganjil saat mereka mendekat. Di sekeliling dasar rumah panggung itu, terdapat taburan garam kasar yang melingkar rapi tanpa putus, seolah membentuk benteng pertahanan yang tak terlihat.
Tanpa pikir panjang, mereka mendobrak pintu dan masuk ke dalamnya, berharap menemukan keselamatan.
Di dalam ruangan yang remang-remang, Selin terduduk lemas di lantai kayu yang berdebu. Jantungnya masih berdegup kencang. Secara refleks, ia melihat ponsel yang masih ia genggam erat. Layarnya masih menyala, menampilkan galeri foto terakhir yang ia ambil di Balai Desa tadi.
"Bobi... Reno... lihat ini," bisik Selin dengan suara yang hampir tidak keluar. Tangannya gemetar hebat saat ia memperbesar (zoom) salah satu foto selfie-nya. Di belakang pundak Selin, tepat di kegelapan dapur balai desa, tampak potongan jaket biru milik Vino yang bersimbah darah.
Namun yang lebih mengerikan, di langit-langit tepat di atas kepala mereka saat makan tadi, kamera menangkap sosok makhluk hitam dan bersisik yang sedang bergelantungan dengan mulut terbuka lebar, meneteskan cairan hitam tepat ke arah piring mereka.
Bobi menutup mulutnya, nyaris memuntahkan kembali daging yang sempat ia telan. "Jadi... itu bukan bumbu? Itu..." Kalimatnya terputus oleh kengerian yang menyergap.
Di sudut ruangan yang temaram, seorang wanita tua dengan pakaian kumal duduk mematung. Ia bukan bagian dari warga yang mengejar; ia adalah buangan desa yang dikucilkan.
"Tutup pintunya," bisik wanita tua itu tanpa menoleh. "Garam dan beringin kembar itu hanya bisa menahan mereka yang tak kasat mata di luar, tapi tidak bisa menahan pengkhianat yang masih bernapas."
Arga dengan cepat membanting pintu dan menguncinya rapat. Saat itulah, wanita tua itu perlahan memutar tubuhnya. Namun, begitu matanya yang katarak menangkap sosok mereka—terutama Nara yang berdiri di tengah—ia tersentak kaget.
Tubuh rentanya gemetar hebat, dan ia hampir terjatuh dari posisi duduknya sambil menunjuk Nara dengan jari yang keriput.
"Kalian tidak seharusnya melewati beringin itu.. dan membawa 'harum' itu ke sini," bisik wanita tua itu sambil menatap Nara dengan ngeri, menyadari bahwa gadis di depan matanya adalah sang Tulang Wangi—Ratu Sesajen yang selama ini dicari oleh para penunggu desa. Matanya yang katarak seolah bisa melihat cahaya di dalam tubuh Nara.
Wanita tua itu mengungkapkan rahasia pahit: Desa Sukma Mulya telah lama mati. Mereka bertahan hidup dengan cara menukar nyawa orang asing demi kesuburan tanah.
"Tapi kali ini berbeda," lanjutnya dengan suara gemetar. "Kalian membawa Tulang Wangi. Gadis ini bukan sekadar tumbal biasa. Bagi mereka, dia adalah Ratu Sesajen. Darahnya akan memberikan kekuatan abadi bagi desa ini jika ia dikorbankan di bawah akar beringin tua yang terletak di depan balai desa."
Mendengar itu, tubuh Nara mendadak kaku. Aroma melati yang sangat kuat menyeruak dari pori-pori kulitnya. Matanya perlahan memutih, dan dari mulutnya mengalir bahasa kuno yang serak dan berat.
Nara mulai mendapatkan penglihatan tentang pembantaian masa lalu—jeritan para korban yang terkubur di tanah desa tersebut. Jiwa mereka sedang ditarik secara paksa oleh leluhur desa yang lapar.
Tiba-tiba, pintu rumah panggung itu ditendang terbuka. Dedi berdiri di sana dengan wajah yang bengis dan serakah.
"Serahkan dia! Hanya gadis ini yang mereka mau! Kalau dia kembali, kalian semua bisa pergi!" teriak Dedi sambil menunjuk ke arah Nara, ia merangsek maju, wajahnya gelap dipenuhi keserakahannya. Ia mencoba merangkul dan menyeret Nara yang kini sudah lemas dan kehilangan kesadaran karena kerasukan.
"Dia adalah kunci kekayaan kita semua!" teriak Dedi gila.
"Jangan sentuh dia, bajingan!" Arga menerjang Dedi, diikuti oleh Reno.
Perkelahian sengit pecah di depan pintu rumah panggung. Sementara itu, Bobi yang gemetaran segera memegang bahu Nara dan menyeret gadis itu masuk lebih dalam ke dalam rumah, menjauhkannya dari jangkauan Dedi.
Dalam pergulatan yang kacau itu, Dedi yang membabi buta mendorong Arga dengan kekuatan penuh. Keduanya terjatuh dari tangga rumah, bergulingan di tanah hingga melewati batas lingkaran garam.
"Arga!" teriak Reno panik.
Saat Arga mencoba bangkit di luar batas aman, kegelapan di belakang dua pohon beringin berkain putih itu mendadak bergeliat.
Tangan-tangan hitam mulai muncul dari balik bayangan. Arga hampir saja tertangkap oleh cengkeraman kuku tajam yang keluar dari kegelapan, namun dengan sigap Reno melompat ke ambang batas dan menarik tangan Arga sekuat tenaga, menyeretnya kembali masuk ke dalam area lingkaran garam.
Namun, Dedi tidak seberuntung itu. Tepat saat ia mencoba merangkak masuk, gerakan Dedi mendadak terkunci. Para penunggu desa tidak lagi membutuhkannya; karena Dedi dianggap gagal menjaga "barang persembahan" dan membiarkan mereka masuk ke rumah terlarang ini, perjanjiannya dianggap batal.
Lidah yang bercabang dua dan sangat panjang melesat dari kegelapan seperti cambuk. Lidah itu melilit leher Dedi dengan kencang, mencekik suaranya seketika.
"TIDAK! JANG—"
Dedi tersentak hebat saat lidah itu menariknya kembali ke arah kegelapan hutan. Karena ia berada di luar lingkaran garam, ia menjadi mangsa yang tak terlindungi. Dedi terseret dengan kasar di atas tanah, melewati batas kain putih beringin tersebut. Puluhan tangan hitam langsung menyambarnya, disusul suaraKRAK!—derak tulang punggung yang patah—dan suara decapan daging yang robek.
Namun, suasana mendadak senyap. Angin kencang menghantam rumah itu, membuat bangunan reyot tersebut berderit seolah akan runtuh. Para penunggu itu telah mendapatkan "hidangan pembuka" mereka, tapi kemarahan mereka karena kehilangan "Ratu Sesajen" baru saja dimulai.
Arga memimpin di depan, menebas semak belukar dengan tangan kosong, sementara Reno merangkul Selin yang nyaris pingsan karena syok.
Di belakang mereka, Bobi berlari dengan kaki yang gemetar hebat; wajahnya yang biasanya penuh canda kini dipenuhi keringat dingin. Di paling belakang, Nara berlari dengan wajah pucat pasi; ia bisa merasakan ribuan mata sedang mengintai dari balik pepohonan beringin yang akarnya menjuntai seperti jerat gantung.
"Cepat! Jangan menoleh!" teriak Arga.
Pengejaran itu terasa abadi. Suara langkah kaki warga desa yang berat terdengar mengepung dari segala arah, namun anehnya, warga itu tidak pernah benar-benar muncul. Teriakkan warga yang memanggil-manggil nama Nara dengan nada memuja membuat suasana semakin mencekam.
Hingga akhirnya, mereka melewati dua pohon beringin besar yang batangnya dililit kain putih kusam. Begitu mereka melewati batas pohon itu, secara misterius suara langkah kaki dan teriakan warga desa di belakang mereka menghilang seketika.
Hutan mendadak sunyi senyap, hanya menyisakan deru napas mereka yang terengah.
Dalam keheningan yang ganjil itu, Selin tiba-tiba tersandung akar pohon dan jatuh tersungkur.
"Aakh!" rintihnya kesakitan.
Reno segera membungkuk untuk membantunya berdiri. Saat itulah, mata Reno tanpa sengaja menangkap secercah cahaya kekuningan yang berasal dari balik rimbunnya semak belukar—sebuah cahaya lampu petromak dari sebuah bangunan.
"Ada rumah di sana! Ayo, cepat!" bisik Reno sambil menunjuk ke arah cahaya kekuningan yang temaram.
Tanpa membuang waktu, mereka berlari ke arah cahaya tersebut, menerjang semak belukar dan ranting-ranting yang menggores lengan mereka. Adrenalin membuat mereka mengabaikan rasa lelah yang luar biasa.
Harapan untuk selamat kini tertuju sepenuhnya pada bangunan kecil yang semakin jelas terlihat di depan mata.
Namun, ada sesuatu yang ganjil saat mereka mendekat. Di sekeliling dasar rumah panggung itu, terdapat taburan garam kasar yang melingkar rapi tanpa putus, seolah membentuk benteng pertahanan yang tak terlihat.
Tanpa pikir panjang, mereka mendobrak pintu dan masuk ke dalamnya, berharap menemukan keselamatan.
Di dalam ruangan yang remang-remang, Selin terduduk lemas di lantai kayu yang berdebu. Jantungnya masih berdegup kencang. Secara refleks, ia melihat ponsel yang masih ia genggam erat. Layarnya masih menyala, menampilkan galeri foto terakhir yang ia ambil di Balai Desa tadi.
"Bobi... Reno... lihat ini," bisik Selin dengan suara yang hampir tidak keluar. Tangannya gemetar hebat saat ia memperbesar (zoom) salah satu foto selfie-nya. Di belakang pundak Selin, tepat di kegelapan dapur balai desa, tampak potongan jaket biru milik Vino yang bersimbah darah.
Namun yang lebih mengerikan, di langit-langit tepat di atas kepala mereka saat makan tadi, kamera menangkap sosok makhluk hitam dan bersisik yang sedang bergelantungan dengan mulut terbuka lebar, meneteskan cairan hitam tepat ke arah piring mereka.
Bobi menutup mulutnya, nyaris memuntahkan kembali daging yang sempat ia telan. "Jadi... itu bukan bumbu? Itu..." Kalimatnya terputus oleh kengerian yang menyergap.
Di sudut ruangan yang temaram, seorang wanita tua dengan pakaian kumal duduk mematung. Ia bukan bagian dari warga yang mengejar; ia adalah buangan desa yang dikucilkan.
"Tutup pintunya," bisik wanita tua itu tanpa menoleh. "Garam dan beringin kembar itu hanya bisa menahan mereka yang tak kasat mata di luar, tapi tidak bisa menahan pengkhianat yang masih bernapas."
Arga dengan cepat membanting pintu dan menguncinya rapat. Saat itulah, wanita tua itu perlahan memutar tubuhnya. Namun, begitu matanya yang katarak menangkap sosok mereka—terutama Nara yang berdiri di tengah—ia tersentak kaget.
Tubuh rentanya gemetar hebat, dan ia hampir terjatuh dari posisi duduknya sambil menunjuk Nara dengan jari yang keriput.
"Kalian tidak seharusnya melewati beringin itu.. dan membawa 'harum' itu ke sini," bisik wanita tua itu sambil menatap Nara dengan ngeri, menyadari bahwa gadis di depan matanya adalah sang Tulang Wangi—Ratu Sesajen yang selama ini dicari oleh para penunggu desa. Matanya yang katarak seolah bisa melihat cahaya di dalam tubuh Nara.
Wanita tua itu mengungkapkan rahasia pahit: Desa Sukma Mulya telah lama mati. Mereka bertahan hidup dengan cara menukar nyawa orang asing demi kesuburan tanah.
"Tapi kali ini berbeda," lanjutnya dengan suara gemetar. "Kalian membawa Tulang Wangi. Gadis ini bukan sekadar tumbal biasa. Bagi mereka, dia adalah Ratu Sesajen. Darahnya akan memberikan kekuatan abadi bagi desa ini jika ia dikorbankan di bawah akar beringin tua yang terletak di depan balai desa."
Mendengar itu, tubuh Nara mendadak kaku. Aroma melati yang sangat kuat menyeruak dari pori-pori kulitnya. Matanya perlahan memutih, dan dari mulutnya mengalir bahasa kuno yang serak dan berat.
Nara mulai mendapatkan penglihatan tentang pembantaian masa lalu—jeritan para korban yang terkubur di tanah desa tersebut. Jiwa mereka sedang ditarik secara paksa oleh leluhur desa yang lapar.
Tiba-tiba, pintu rumah panggung itu ditendang terbuka. Dedi berdiri di sana dengan wajah yang bengis dan serakah.
"Serahkan dia! Hanya gadis ini yang mereka mau! Kalau dia kembali, kalian semua bisa pergi!" teriak Dedi sambil menunjuk ke arah Nara, ia merangsek maju, wajahnya gelap dipenuhi keserakahannya. Ia mencoba merangkul dan menyeret Nara yang kini sudah lemas dan kehilangan kesadaran karena kerasukan.
"Dia adalah kunci kekayaan kita semua!" teriak Dedi gila.
"Jangan sentuh dia, bajingan!" Arga menerjang Dedi, diikuti oleh Reno.
Perkelahian sengit pecah di depan pintu rumah panggung. Sementara itu, Bobi yang gemetaran segera memegang bahu Nara dan menyeret gadis itu masuk lebih dalam ke dalam rumah, menjauhkannya dari jangkauan Dedi.
Dalam pergulatan yang kacau itu, Dedi yang membabi buta mendorong Arga dengan kekuatan penuh. Keduanya terjatuh dari tangga rumah, bergulingan di tanah hingga melewati batas lingkaran garam.
"Arga!" teriak Reno panik.
Saat Arga mencoba bangkit di luar batas aman, kegelapan di belakang dua pohon beringin berkain putih itu mendadak bergeliat.
Tangan-tangan hitam mulai muncul dari balik bayangan. Arga hampir saja tertangkap oleh cengkeraman kuku tajam yang keluar dari kegelapan, namun dengan sigap Reno melompat ke ambang batas dan menarik tangan Arga sekuat tenaga, menyeretnya kembali masuk ke dalam area lingkaran garam.
Namun, Dedi tidak seberuntung itu. Tepat saat ia mencoba merangkak masuk, gerakan Dedi mendadak terkunci. Para penunggu desa tidak lagi membutuhkannya; karena Dedi dianggap gagal menjaga "barang persembahan" dan membiarkan mereka masuk ke rumah terlarang ini, perjanjiannya dianggap batal.
Lidah yang bercabang dua dan sangat panjang melesat dari kegelapan seperti cambuk. Lidah itu melilit leher Dedi dengan kencang, mencekik suaranya seketika.
"TIDAK! JANG—"
Dedi tersentak hebat saat lidah itu menariknya kembali ke arah kegelapan hutan. Karena ia berada di luar lingkaran garam, ia menjadi mangsa yang tak terlindungi. Dedi terseret dengan kasar di atas tanah, melewati batas kain putih beringin tersebut. Puluhan tangan hitam langsung menyambarnya, disusul suaraKRAK!—derak tulang punggung yang patah—dan suara decapan daging yang robek.
Namun, suasana mendadak senyap. Angin kencang menghantam rumah itu, membuat bangunan reyot tersebut berderit seolah akan runtuh. Para penunggu itu telah mendapatkan "hidangan pembuka" mereka, tapi kemarahan mereka karena kehilangan "Ratu Sesajen" baru saja dimulai.
Other Stories
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Keikhlasan Cinta
6 tahun Hasrul pergi dari keluarganya, setelah dia kembali dia dipertemukan kembali dengan ...
Kutukan Yang Kupanggil Cinta
Sekar Diajeng Wardhani tidak percaya cinta. Bagi perempuan seperti dia, hubungan hanya per ...
Buah Mangga
buah mangga enak rasanya ...
Bahagiakan Ibu
Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...
Dua Bintang
Bintang memang selalu setia. Namun, hujan yang selalu turun membuatku tak menyadari keha ...