8. Pelarian Sebelum Fajar
Di dalam rumah panggung yang berderit, suasana terasa mencekam. Nara tergeletak di tengah ruangan, tubuhnya melengkung tidak wajar sementara mulutnya terus meracau dalam bahasa yang tidak dimengerti.
Wanita tua itu dengan cepat mengambil sisa air di kendi dan merapalkan doa, memercikkannya ke wajah Nara hingga gadis itu tersentak dan jatuh pingsan—sebuah pembersihan sementara.
Wanita tua itu kemudian menatap Arga dengan tajam. "Katakan padaku... apa yang sebenarnya sudah terjadi di desa itu sampai kalian dikejar seperti binatang?"
Arga menelan ludah, suaranya bergetar saat menjawab. "Kami... kami diundang makan malam oleh Kepala Desa. Tapi ternyata mereka menyajikan daging manusia. Kami baru sadar kalau kami sedang memakan daging teman kami sendiri... Vino."
Wanita tua itu memejamkan mata, seolah sudah menduga jawaban itu. "Lalu, apakah ada sesuatu yang kalian bawa dari perjamuan terkutuk itu?"
Selin, dengan tangan yang masih gemetar hebat, merogoh saku jaketnya. Ia mengeluarkan sebuah kancing jaket milik Vino yang masih menyisakan noda kehitaman yang kering. "Cuma ini... kancing ini yang saya temukan."
Melihat kancing itu, wajah si wanita tua berubah pucat pasi. Ia segera menoleh ke arah Nara yang masih tak sadarkan diri.
“Mereka telah memberikan gadis ini bagian Hati teman kalian. Di situlah letak 'inti nyawa' dari seorang tumbal dan ia sudah terikat.” bisik si wanita tua dengan nada ngeri.
Suasana di luar rumah terdengar sangat riuh oleh gesekan kasar terdengar dari kejauhan, merayap di sepanjang batas hutan.Sreeet... sreeet... seolah ada ribuan makhluk melata sedang mengepung tempat itu.
Mereka memang tidak bisa mendekat ke arah rumah. Makhluk-makhluk itu tertahan di balik dua pohon beringin besar yang dililit kain putih. Di batas itulah mereka menumpuk, menciptakan kegelapan yang pekat dan bergerak-gerak seperti ombak hitam yang hendak tumpah.
Suara desisan mereka terdengar frustrasi karena tidak bisa melewati perlindungan kain putih dan taburan garam yang melingkari rumah panggung tersebut.
Meskipun aman di dalam, guncangan hebat mulai terasa. Angin yang dikirim oleh para penunggu itu menghantam atap rumah, mencoba merusak bangunan agar penghuninya ketakutan dan lari keluar melewati batas aman.
"Mereka tidak bisa masuk," wanita tua itu meyakinkan sambil menunjuk ke arah lingkaran garam di luar jendela.
"Tapi mereka sedang menunggu.”
"Satu-satunya cara memutus ikatan itu adalah dengan membawanya ke Sumur Keramat!" teriak si wanita tua di tengah kebisingan teror yang menghantam dinding rumah panggung itu.
Ia mencengkeram bahu Arga dengan kuat, matanya yang mulai kabur menatap tajam ke arah ufuk timur yang mulai remang.
"Waktu yang tepat untuk membawa gadis itu adalah saat fajar tiba. Kalian harus sampai di sumur itu dan melakukan pemandian untuknya. Air suci dari dasar bumi akan menyapu bau jantung yang melekat di jiwanya."
Wanita tua itu menunjuk ke arah batas pohon beringin berkain putih. Di sana, bayangan-bayangan hitam yang sedari tadi mengepung mulai terlihat gelisah.
"Makhluk-makhluk itu akan menghilang seiring datangnya fajar. Itulah saat yang tepat untuk kalian pergi. Kegelapan tidak bisa melawan cahaya, tapi mereka akan tetap mengintai dari balik kabut."
Sebelum mereka beranjak, si wanita tua mengambil sebuah wadah tanah liat berisi tanah merah yang masih sangat basah dan berbau amis tanah kuburan.
"Gunakan ini," perintahnya tegas. "Usapkan di pergelangan kaki dan di kening kalian masing-masing. Termasuk gadis ini."
Sambil gemetar, mereka mengoleskan tanah merah itu ke kulit mereka. Saat tanah merah itu menyentuh kulit, mereka merasakan sensasi dingin yang menyengat hingga ke tulang.
"Tanah ini diambil dari bagian terdalam hutan yang tidak pernah tersentuh cahaya," bisik wanita tua itu lagi. "Ini akan menyamarkan bau kalian agar sisa-sisa penunggu yang masih berkeliaran mengira kalian hanyalah bagian dari tanah desa ini. Tanpa ini, mereka akan mencium detak jantung kalian dari jarak jauh."
Wanita tua itu kemudian memberikan peringatan terakhirnya. "Tapi ingat, setelah ritual selesai, kalian harus meninggalkan desa ini sebelum matahari tepat di atas kepala kalian. Jika matahari sudah tegak lurus dan kalian belum berhasil... kalian tidak akan pernah bisa keluar. Kalian akan terjebak selamanya di desa ini."
Semburat merah fajar mulai menyentuh dahan beringin. Sosok-sosok hitam yang melilit pohon perlahan memudar, seolah menguap menjadi asap dingin.
"Sekarang! Pergi!" teriak si wanita tua.
Dengan tanah merah di kening mereka, Arga menggendong Nara dan berlari keluar dari pintu rumah panggung, melintasi garis garam yang mulai tertiup angin fajar, menuju ke jantung desa di mana Sumur Keramat telah menunggu.
Wanita tua itu dengan cepat mengambil sisa air di kendi dan merapalkan doa, memercikkannya ke wajah Nara hingga gadis itu tersentak dan jatuh pingsan—sebuah pembersihan sementara.
Wanita tua itu kemudian menatap Arga dengan tajam. "Katakan padaku... apa yang sebenarnya sudah terjadi di desa itu sampai kalian dikejar seperti binatang?"
Arga menelan ludah, suaranya bergetar saat menjawab. "Kami... kami diundang makan malam oleh Kepala Desa. Tapi ternyata mereka menyajikan daging manusia. Kami baru sadar kalau kami sedang memakan daging teman kami sendiri... Vino."
Wanita tua itu memejamkan mata, seolah sudah menduga jawaban itu. "Lalu, apakah ada sesuatu yang kalian bawa dari perjamuan terkutuk itu?"
Selin, dengan tangan yang masih gemetar hebat, merogoh saku jaketnya. Ia mengeluarkan sebuah kancing jaket milik Vino yang masih menyisakan noda kehitaman yang kering. "Cuma ini... kancing ini yang saya temukan."
Melihat kancing itu, wajah si wanita tua berubah pucat pasi. Ia segera menoleh ke arah Nara yang masih tak sadarkan diri.
“Mereka telah memberikan gadis ini bagian Hati teman kalian. Di situlah letak 'inti nyawa' dari seorang tumbal dan ia sudah terikat.” bisik si wanita tua dengan nada ngeri.
Suasana di luar rumah terdengar sangat riuh oleh gesekan kasar terdengar dari kejauhan, merayap di sepanjang batas hutan.Sreeet... sreeet... seolah ada ribuan makhluk melata sedang mengepung tempat itu.
Mereka memang tidak bisa mendekat ke arah rumah. Makhluk-makhluk itu tertahan di balik dua pohon beringin besar yang dililit kain putih. Di batas itulah mereka menumpuk, menciptakan kegelapan yang pekat dan bergerak-gerak seperti ombak hitam yang hendak tumpah.
Suara desisan mereka terdengar frustrasi karena tidak bisa melewati perlindungan kain putih dan taburan garam yang melingkari rumah panggung tersebut.
Meskipun aman di dalam, guncangan hebat mulai terasa. Angin yang dikirim oleh para penunggu itu menghantam atap rumah, mencoba merusak bangunan agar penghuninya ketakutan dan lari keluar melewati batas aman.
"Mereka tidak bisa masuk," wanita tua itu meyakinkan sambil menunjuk ke arah lingkaran garam di luar jendela.
"Tapi mereka sedang menunggu.”
"Satu-satunya cara memutus ikatan itu adalah dengan membawanya ke Sumur Keramat!" teriak si wanita tua di tengah kebisingan teror yang menghantam dinding rumah panggung itu.
Ia mencengkeram bahu Arga dengan kuat, matanya yang mulai kabur menatap tajam ke arah ufuk timur yang mulai remang.
"Waktu yang tepat untuk membawa gadis itu adalah saat fajar tiba. Kalian harus sampai di sumur itu dan melakukan pemandian untuknya. Air suci dari dasar bumi akan menyapu bau jantung yang melekat di jiwanya."
Wanita tua itu menunjuk ke arah batas pohon beringin berkain putih. Di sana, bayangan-bayangan hitam yang sedari tadi mengepung mulai terlihat gelisah.
"Makhluk-makhluk itu akan menghilang seiring datangnya fajar. Itulah saat yang tepat untuk kalian pergi. Kegelapan tidak bisa melawan cahaya, tapi mereka akan tetap mengintai dari balik kabut."
Sebelum mereka beranjak, si wanita tua mengambil sebuah wadah tanah liat berisi tanah merah yang masih sangat basah dan berbau amis tanah kuburan.
"Gunakan ini," perintahnya tegas. "Usapkan di pergelangan kaki dan di kening kalian masing-masing. Termasuk gadis ini."
Sambil gemetar, mereka mengoleskan tanah merah itu ke kulit mereka. Saat tanah merah itu menyentuh kulit, mereka merasakan sensasi dingin yang menyengat hingga ke tulang.
"Tanah ini diambil dari bagian terdalam hutan yang tidak pernah tersentuh cahaya," bisik wanita tua itu lagi. "Ini akan menyamarkan bau kalian agar sisa-sisa penunggu yang masih berkeliaran mengira kalian hanyalah bagian dari tanah desa ini. Tanpa ini, mereka akan mencium detak jantung kalian dari jarak jauh."
Wanita tua itu kemudian memberikan peringatan terakhirnya. "Tapi ingat, setelah ritual selesai, kalian harus meninggalkan desa ini sebelum matahari tepat di atas kepala kalian. Jika matahari sudah tegak lurus dan kalian belum berhasil... kalian tidak akan pernah bisa keluar. Kalian akan terjebak selamanya di desa ini."
Semburat merah fajar mulai menyentuh dahan beringin. Sosok-sosok hitam yang melilit pohon perlahan memudar, seolah menguap menjadi asap dingin.
"Sekarang! Pergi!" teriak si wanita tua.
Dengan tanah merah di kening mereka, Arga menggendong Nara dan berlari keluar dari pintu rumah panggung, melintasi garis garam yang mulai tertiup angin fajar, menuju ke jantung desa di mana Sumur Keramat telah menunggu.
Other Stories
32 Detik
Hanya 32 detik untuk menghancurkan cinta dan hidup Kirana. Saat video pribadinya bocor, du ...
Hellend ( Noni Belanda )
Sudah sering Pak Kasman bermimpi tentang hantu perempuan bergaun zaman kolonial yang terus ...
Bangkit Dari Luka
Almira Brata Qeenza punya segalanya. Kecuali satu hal, yaitu kasih sayang. Sejak kecil, ia ...
Lam Biru
Suatu hari muncul kalimat asing di layar laptop Harit, kalimat itu berupa deskripsi penamp ...
Separuh Dzarrah
Dzarrah berarti sesuatu yang kecil, namun kebaikan atau keburukan sekecil apapun jangan di ...
Kating Modus!
Kisah seorang pemuda yang mengikuti organisasi internal di kampusnya. Ia diberi mandat ole ...