2. Pencarian Pemain
Gubrak!!!
Jibon dikagetkan dengan suara benda jatuh yang berasal dari dalam kamar No.1 dekat ruang tamu. Perlahan ia membuka pintunya. Benar saja, sebuah tas yang asalnya berada di atas lemari kamar kini tergeletak di lantai.
“Seli di samping lemari kamar No.1!” teriak Jibon, lalu berlari keluar vila menuju pos jaga. Untuk yang kedua kalinya, Jibon berhasil mematikan pemain.
“Yeah! Berhasil lagi. Yuhu!” seru Jibon penuh semangat.
“Hey, kawan-kawanku! Hati-hati buat yang sembunyi di dalam kamar. Jangan sampai kalian ketahuan!” teriak Seli sambil kedua tangannya membentuk corong di area pipi, seperti Tarzan.
“Ssstttt! Tidak bisa! Anda tidak bisa mengecoh saya. Saya tahu di mana mereka berada, hehe...,” bisik Jibon kepada Seli sambil mengedipkan mata.
“Serius, Bon. Mereka di sana. Percayalah!” ujar Banu berusaha meyakinkan Jibon.
“Ssstttt! Anda juga diam. Tolong! Hehe...,” balas Jibon sambil kembali mengedipkan mata.
“Ya udah, terserah kamu aja, Bon,” sahut Seli.
Jibon lebih memilih untuk melangkah ke arah belakang vila. Sedangkan awan sudah mulai kehitaman. Mulai terdengar pula geluduk dari kejauhan. Walau begitu, Jibon tak menghiraukannya. Ia hanya terus melangkah secara perlahan dan fokus mencari pemain. Di tengah perjalanannya, ia bertemu dengan seorang petani.
“Mau ke mana, Dek?” tanya seorang petani bercaping yang sedang memetik buah tomat sambil menunduk, sehingga wajahnya tak terlihat oleh Jibon.
“Eh, enggak, Pak. Saya Cuma lagi jalan-jalan aja sambil cari teman saya. Oh iya, saya mau tanya, Bapak lihat ada orang lewat sini?”
Tak ada jawaban pasti. Petani itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Oh, ya sudah kalau enggak lihat. Oh iya, harga tomat sekarang berapa per kilo? Ini tomat jenis apa ya, Pak? Eh, sebentar. Ini tomat ceri itu kan, Pak?”Jobon terus bertanya sambil memegang dan memerhatikan tomat cerinya.
“Hei! Mau apa kamu ke sini!”
Tak menjawab pertanyaan Jibon. Petani itu malah balik bertanya dengan tatapan wajah sedikit marah. Jibon kaget dengan respons yang diberikan petani itu. Bukannya mendapat petunjuk soal keberadaan temannya, justru malah menerima bentakan. Akhirnya Jibon segera meninggalkan petani itu dan kembali mencari para pemain menuju ladang kedua.
***
Jibon dikagetkan dengan suara benda jatuh yang berasal dari dalam kamar No.1 dekat ruang tamu. Perlahan ia membuka pintunya. Benar saja, sebuah tas yang asalnya berada di atas lemari kamar kini tergeletak di lantai.
“Seli di samping lemari kamar No.1!” teriak Jibon, lalu berlari keluar vila menuju pos jaga. Untuk yang kedua kalinya, Jibon berhasil mematikan pemain.
“Yeah! Berhasil lagi. Yuhu!” seru Jibon penuh semangat.
“Hey, kawan-kawanku! Hati-hati buat yang sembunyi di dalam kamar. Jangan sampai kalian ketahuan!” teriak Seli sambil kedua tangannya membentuk corong di area pipi, seperti Tarzan.
“Ssstttt! Tidak bisa! Anda tidak bisa mengecoh saya. Saya tahu di mana mereka berada, hehe...,” bisik Jibon kepada Seli sambil mengedipkan mata.
“Serius, Bon. Mereka di sana. Percayalah!” ujar Banu berusaha meyakinkan Jibon.
“Ssstttt! Anda juga diam. Tolong! Hehe...,” balas Jibon sambil kembali mengedipkan mata.
“Ya udah, terserah kamu aja, Bon,” sahut Seli.
Jibon lebih memilih untuk melangkah ke arah belakang vila. Sedangkan awan sudah mulai kehitaman. Mulai terdengar pula geluduk dari kejauhan. Walau begitu, Jibon tak menghiraukannya. Ia hanya terus melangkah secara perlahan dan fokus mencari pemain. Di tengah perjalanannya, ia bertemu dengan seorang petani.
“Mau ke mana, Dek?” tanya seorang petani bercaping yang sedang memetik buah tomat sambil menunduk, sehingga wajahnya tak terlihat oleh Jibon.
“Eh, enggak, Pak. Saya Cuma lagi jalan-jalan aja sambil cari teman saya. Oh iya, saya mau tanya, Bapak lihat ada orang lewat sini?”
Tak ada jawaban pasti. Petani itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Oh, ya sudah kalau enggak lihat. Oh iya, harga tomat sekarang berapa per kilo? Ini tomat jenis apa ya, Pak? Eh, sebentar. Ini tomat ceri itu kan, Pak?”Jobon terus bertanya sambil memegang dan memerhatikan tomat cerinya.
“Hei! Mau apa kamu ke sini!”
Tak menjawab pertanyaan Jibon. Petani itu malah balik bertanya dengan tatapan wajah sedikit marah. Jibon kaget dengan respons yang diberikan petani itu. Bukannya mendapat petunjuk soal keberadaan temannya, justru malah menerima bentakan. Akhirnya Jibon segera meninggalkan petani itu dan kembali mencari para pemain menuju ladang kedua.
***
Other Stories
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek s ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
Menolak Jatuh Cinta
Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...
Just, Open Your Heart
Muthia terjebak antara cinta lama yang menyakitkan dan cinta baru dari bosnya yang penuh k ...
Sinopsis
hdhjjfdseetyyygfd ...
Air Susu Dibalas Madu
Nawasena adalah anak dari keluarga yang miskin. Ia memiliki cita-cita yang menurut orang-o ...