4. Kucing Besar
Hari sudah mulai gelap. Jibon, Sela, dan Banu sudah tiba kembali di vila dengan keadaan basah kuyup diguyur hujan. Benar saja. Nala, Jali, dan Mira sudah kembali dari tempat persembunyiannya. Malah mereka sedang asyik mengupas jagung di halaman vila untuk persiapan acara bakar-bakar di malam hari. Setelah jagung terkupas semua, mereka kembali masuk ke vila membersihkan dirinya masing-masing untuk persiapan acara malam nanti.
Tak lama kemudian, malam pun tiba disertai kabut tipis. Hujan mulai reda, hanya menyisakan tetesan sisa di dedaunan. Api unggun kecil di halaman menyala, memantulkan cahaya ke wajah-wajah yang berkumpul di sekitarnya.
Jibon duduk sedikit menjauh dari yang lain. Kedua matanya kosong menatap bara yang menyala perlahan. Di tangannya, sebatang jagung mentah yang sudah ditusuk kayu belum juga ia bakar.
“Bon, bengong aja. Enggak lapar?” Sela menepuk pundaknya, membuat Jibon tersentak kecil.
“Hah? Eh, iya…” Jibon berdehem, mencoba terlihat biasa saja.
Sela dan Banu yang duduk tak jauh darinya saling bertukar pandang, lalu tertawa kecil.
“Jibon masih ke pikiran Pak Tani tuh,” celetuk Nala sambil menyenggol lengan Banu.
Banu menegakkan punggungnya dan berbicara dengan suara berat yang dibuat-buat. “Wahai bapak Jibon, apakah engkau yakin tidak sedang berhalusinasi? Ingat, secara ilmu pendakian...,”
“Ah, sudah! Berisik banget kalian,” potong Jibon, melempar jagung ke arah Banu yang dengan cekatan menangkapnya.
Namun, meski ia berusaha bersikap santai, pikirannya tetap berputar pada sosok yang ia lihat di dasar jurang. Jibon sangat yakin dirinya sedang tidak berhalusinasi dan tubuh seorang petani yang ia temui di ladang pertama kini tergolek kaku di bawah sana.
Mira menatap Jibon, lalu tersenyum kecil.
“Bon, santai aja, kali. Udah di vila, aman. Jangan ke pikiran aneh-aneh.”
“Iya, jangan tegang gitu, napa?” tambah Nala sambil menyodorkan jagung yang sudah dikupas. “Makan dulu, biar otaknya tenang.”
Jibon menatap jagung itu sejenak, tapi tak segera mengambilnya. Ia menarik napas pelan.
Banu ikut menimpali, “Kalau terus ke pikiran sesuatu, ya udah cerita aja. Daripada bengong kayak orang habis kesurupan.”
Jibul menghela napas. “Bukan gitu, tadi itu. . .,”
Tiba-tiba terdengar suara langkah mendekat dari arah belakang vila. Mereka menoleh hampir bersamaan. Tampak seorang pria tua berjalan menghampiri, mengenakan caping dan baju merah kecokelatan yang basah. Jibon membeku.
Pria tua itu tersenyum tipis. Dengan suara parau, ia berkata, "Kalian bersenang-senang, ya?"
Sela yang pertama kali bereaksi. Ia langsung bangkit dan tersenyum lebar. “Wah, Pak Darma! Sini, Pak, duduk sini. Basah kuyup, ya?"
Banu ikut berdiri dan menepuk bahu pria tua itu dengan akrab. “Iya, Pak. Duduk aja sini Hujan gede tadi. Tapi, bukannya bapak bilang tadi mau pulang?”
Pak Darma mengangguk kecil, lalu berjalan perlahan ke dekat api unggun. “Iya, tadinya saya mau pulang. Cuma tadi keburu hujan deras. Jadi saya menunggu hujan reda sambil membereskan perkakas pertanian. Eh, malah baru reda.”
Sela mengambilkan kursi plastik yang ada di teras vila dan menaruhnya di dekat api unggun. “Pak Darma duduk aja, biar hangat.”
Mira dan Nala saling bertukar pandang. Mereka belum pernah melihat Pak Darma sebelumnya, jadi wajar kalau mereka sedikit ragu.
Melihat itu, Sela segera memperkenalkan. “Oh iya, kenalin, Pak. Ini Mira, Nala, sama Jali. Mereka belum ketemu Bapak sebelumnya.”
“Iya, Pak Darma ini penjaga vila ini. Aku sama Sela yang urus transaksi penyewaannya langsung sama Pak Darma.” Banu menambahkan.
Mira mengangguk cepat. “Ohh, jadi bapak yang ngurus vila ini, ya?”
Pak Darma mengangguk sambil tersenyum ramah. “Iya. Vila ini sudah lama saya rawat. Gimana, kalian nyaman dengan vila ini?”
Nala tersenyum kecil dan menjawab, “Iya, Pak. Tempatnya enak buat ngumpul.”
“Malah ada yang dapat bonus uji nyali di ladang, Pak. Si Jibon hampir aja ketakutan tadi.” Banu ikut menimpali. Semua tertawa kecil, termasuk Pak Darma.
Jibon masih diam terpaku. Tatapannya tetap terarah pada pria tua itu. Ada sesuatu yang masih mengganjal di pikirannya.
Pak Darma menoleh ke arah Jibon dan tersenyum. “Kamu yang namanya Jibon, ya?” Jibon menelan ludah. Ia mengangguk pelan.
“Kamu tadi ke ladang dua, ya?”
Jibon mengerjap. “Iya, Pak….”
Pak Darma tersenyum lagi, tapi kali ini ada sesuatu dalam senyumnya yang membuat Jibon merasakan keanehan.
“Memangnya kamu lihat apa? Lain kali hati-hati. Di sini memang banyak hewan buas. Apalagi kalau sudah masuk hutan selepas vila merah. Di sana banyak ular besar. Bahkan kalau masuk lebih dalam. Masih banyak kucing besar di sana. Kadang mereka suka terlihat oleh warga sekitar. Tapi, sebenarnya kucing besar itu takut sama manusia. Manusia lebih menakutkan daripada hewan itu sendiri."
Pak Darma menghela napas sebentar, lalu melanjutkan, “Makanya, kalau menjelajah ke ladang atau hutan, jangan sendirian. Sebaiknya berkelompok. Banyak yang sudah diingatkan, tapi tetap saja ada yang keras kepala. Tapi wajar saja, kalian kan orang baru di sini dan belum tahu kondisi alam sekitar."
Sela mengangguk setuju. “Benar juga, sih. Untung aja enggak diterkam kucing besar, Bon."
Banu tertawa kecil. “Iya, dasar si Jibon. Sok-sokan nyari sejauh itu sendirian. Mana mungkin kita berani ngumpet sejauh itu, Bon.”
Jibon tetap diam. Ia menatap api unggun, seakan sedang menimbang sesuatu dalam pikirannya.
Pak Darma mengamati wajahnya, lalu bertanya, “Jadi, tadi kamu lihat apa di sana?"
Jibon mengangkat kepalanya perlahan, menatap mata pria tua itu. Ada sesuatu dalam nada suara Pak Darma yang membuatnya ragu. Ia ingin bertanya. Ingin memastikan. Tapi entah kenapa, pertanyaan itu tertahan di tenggorokannya. Pak Darma menunggu. Sela, Banu, Mira, Nala, dan Jali juga ikut memperhatikan Jibon.
Akhirnya, Jibon menghela napas dan berkata, “Nggak, Pak. Cuma saya perasaan aja.”
Pak Darma tersenyum tipis. “Bagus kalau begitu. Jangan terlalu dipikirkan.”
Jibon mengangguk pelan, tapi perasaannya justru semakin tidak tenang.
Mira tiba-tiba berdiri. “Oke, daripada ngobrol terus, kita lanjut bakar-bakarnya, yuk! Pak Darma mau jagung bakar, kan?”
Pak Darma tertawa kecil. “Boleh, kalau ada lebih.”
Mira menyerahkan jagung ke tangan Pak Darma. “Buat Pak Darma duluan, deh. Tuan rumah harus dihormati.”
Suasana kembali mencair. Semua sibuk dengan bakar-bakaran sambil menikmati suasana malam, sementara Jibon masih mencoba menenangkan pikirannya.
***
Tak lama kemudian, malam pun tiba disertai kabut tipis. Hujan mulai reda, hanya menyisakan tetesan sisa di dedaunan. Api unggun kecil di halaman menyala, memantulkan cahaya ke wajah-wajah yang berkumpul di sekitarnya.
Jibon duduk sedikit menjauh dari yang lain. Kedua matanya kosong menatap bara yang menyala perlahan. Di tangannya, sebatang jagung mentah yang sudah ditusuk kayu belum juga ia bakar.
“Bon, bengong aja. Enggak lapar?” Sela menepuk pundaknya, membuat Jibon tersentak kecil.
“Hah? Eh, iya…” Jibon berdehem, mencoba terlihat biasa saja.
Sela dan Banu yang duduk tak jauh darinya saling bertukar pandang, lalu tertawa kecil.
“Jibon masih ke pikiran Pak Tani tuh,” celetuk Nala sambil menyenggol lengan Banu.
Banu menegakkan punggungnya dan berbicara dengan suara berat yang dibuat-buat. “Wahai bapak Jibon, apakah engkau yakin tidak sedang berhalusinasi? Ingat, secara ilmu pendakian...,”
“Ah, sudah! Berisik banget kalian,” potong Jibon, melempar jagung ke arah Banu yang dengan cekatan menangkapnya.
Namun, meski ia berusaha bersikap santai, pikirannya tetap berputar pada sosok yang ia lihat di dasar jurang. Jibon sangat yakin dirinya sedang tidak berhalusinasi dan tubuh seorang petani yang ia temui di ladang pertama kini tergolek kaku di bawah sana.
Mira menatap Jibon, lalu tersenyum kecil.
“Bon, santai aja, kali. Udah di vila, aman. Jangan ke pikiran aneh-aneh.”
“Iya, jangan tegang gitu, napa?” tambah Nala sambil menyodorkan jagung yang sudah dikupas. “Makan dulu, biar otaknya tenang.”
Jibon menatap jagung itu sejenak, tapi tak segera mengambilnya. Ia menarik napas pelan.
Banu ikut menimpali, “Kalau terus ke pikiran sesuatu, ya udah cerita aja. Daripada bengong kayak orang habis kesurupan.”
Jibul menghela napas. “Bukan gitu, tadi itu. . .,”
Tiba-tiba terdengar suara langkah mendekat dari arah belakang vila. Mereka menoleh hampir bersamaan. Tampak seorang pria tua berjalan menghampiri, mengenakan caping dan baju merah kecokelatan yang basah. Jibon membeku.
Pria tua itu tersenyum tipis. Dengan suara parau, ia berkata, "Kalian bersenang-senang, ya?"
Sela yang pertama kali bereaksi. Ia langsung bangkit dan tersenyum lebar. “Wah, Pak Darma! Sini, Pak, duduk sini. Basah kuyup, ya?"
Banu ikut berdiri dan menepuk bahu pria tua itu dengan akrab. “Iya, Pak. Duduk aja sini Hujan gede tadi. Tapi, bukannya bapak bilang tadi mau pulang?”
Pak Darma mengangguk kecil, lalu berjalan perlahan ke dekat api unggun. “Iya, tadinya saya mau pulang. Cuma tadi keburu hujan deras. Jadi saya menunggu hujan reda sambil membereskan perkakas pertanian. Eh, malah baru reda.”
Sela mengambilkan kursi plastik yang ada di teras vila dan menaruhnya di dekat api unggun. “Pak Darma duduk aja, biar hangat.”
Mira dan Nala saling bertukar pandang. Mereka belum pernah melihat Pak Darma sebelumnya, jadi wajar kalau mereka sedikit ragu.
Melihat itu, Sela segera memperkenalkan. “Oh iya, kenalin, Pak. Ini Mira, Nala, sama Jali. Mereka belum ketemu Bapak sebelumnya.”
“Iya, Pak Darma ini penjaga vila ini. Aku sama Sela yang urus transaksi penyewaannya langsung sama Pak Darma.” Banu menambahkan.
Mira mengangguk cepat. “Ohh, jadi bapak yang ngurus vila ini, ya?”
Pak Darma mengangguk sambil tersenyum ramah. “Iya. Vila ini sudah lama saya rawat. Gimana, kalian nyaman dengan vila ini?”
Nala tersenyum kecil dan menjawab, “Iya, Pak. Tempatnya enak buat ngumpul.”
“Malah ada yang dapat bonus uji nyali di ladang, Pak. Si Jibon hampir aja ketakutan tadi.” Banu ikut menimpali. Semua tertawa kecil, termasuk Pak Darma.
Jibon masih diam terpaku. Tatapannya tetap terarah pada pria tua itu. Ada sesuatu yang masih mengganjal di pikirannya.
Pak Darma menoleh ke arah Jibon dan tersenyum. “Kamu yang namanya Jibon, ya?” Jibon menelan ludah. Ia mengangguk pelan.
“Kamu tadi ke ladang dua, ya?”
Jibon mengerjap. “Iya, Pak….”
Pak Darma tersenyum lagi, tapi kali ini ada sesuatu dalam senyumnya yang membuat Jibon merasakan keanehan.
“Memangnya kamu lihat apa? Lain kali hati-hati. Di sini memang banyak hewan buas. Apalagi kalau sudah masuk hutan selepas vila merah. Di sana banyak ular besar. Bahkan kalau masuk lebih dalam. Masih banyak kucing besar di sana. Kadang mereka suka terlihat oleh warga sekitar. Tapi, sebenarnya kucing besar itu takut sama manusia. Manusia lebih menakutkan daripada hewan itu sendiri."
Pak Darma menghela napas sebentar, lalu melanjutkan, “Makanya, kalau menjelajah ke ladang atau hutan, jangan sendirian. Sebaiknya berkelompok. Banyak yang sudah diingatkan, tapi tetap saja ada yang keras kepala. Tapi wajar saja, kalian kan orang baru di sini dan belum tahu kondisi alam sekitar."
Sela mengangguk setuju. “Benar juga, sih. Untung aja enggak diterkam kucing besar, Bon."
Banu tertawa kecil. “Iya, dasar si Jibon. Sok-sokan nyari sejauh itu sendirian. Mana mungkin kita berani ngumpet sejauh itu, Bon.”
Jibon tetap diam. Ia menatap api unggun, seakan sedang menimbang sesuatu dalam pikirannya.
Pak Darma mengamati wajahnya, lalu bertanya, “Jadi, tadi kamu lihat apa di sana?"
Jibon mengangkat kepalanya perlahan, menatap mata pria tua itu. Ada sesuatu dalam nada suara Pak Darma yang membuatnya ragu. Ia ingin bertanya. Ingin memastikan. Tapi entah kenapa, pertanyaan itu tertahan di tenggorokannya. Pak Darma menunggu. Sela, Banu, Mira, Nala, dan Jali juga ikut memperhatikan Jibon.
Akhirnya, Jibon menghela napas dan berkata, “Nggak, Pak. Cuma saya perasaan aja.”
Pak Darma tersenyum tipis. “Bagus kalau begitu. Jangan terlalu dipikirkan.”
Jibon mengangguk pelan, tapi perasaannya justru semakin tidak tenang.
Mira tiba-tiba berdiri. “Oke, daripada ngobrol terus, kita lanjut bakar-bakarnya, yuk! Pak Darma mau jagung bakar, kan?”
Pak Darma tertawa kecil. “Boleh, kalau ada lebih.”
Mira menyerahkan jagung ke tangan Pak Darma. “Buat Pak Darma duluan, deh. Tuan rumah harus dihormati.”
Suasana kembali mencair. Semua sibuk dengan bakar-bakaran sambil menikmati suasana malam, sementara Jibon masih mencoba menenangkan pikirannya.
***
Other Stories
Titik Nol
Gunung purba bernama Gunung Ardhana konon menyimpan Titik Nol, sebuah lokasi mistis di man ...
Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan
Arunika pernah percaya bahwa hidup berjalan lurus, sepanjang rencana yang ia susun dengan ...
32 Detik
Hanya 32 detik untuk menghancurkan cinta dan hidup Kirana. Saat video pribadinya bocor, du ...
Haura
Apa aku hidup sendiri? Ke mana orang-orang? Apa mereka pergi, atau aku yang sudah berbe ...
Keeper Of Destiny
Kim Rangga Pradipta Sutisna, anak dari ayah Korea dan ibu Sunda, tumbuh di Bandung dengan ...
Separuh Dzrah
Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suar ...