6. Kabar Terakhir
Jibon duduk santai di depan televisi di ruang tamu rumahnya, menikmati makan malam sederhana yang disiapkan ibunya. Di meja, ada sepiring nasi dengan sambal dan sepotong ikan goreng yang masih hangat. Ia menatap layar, matanya fokus pada acara-acara yang sedang ditayangkan. Sesekali tangan kanannya menyendok makanan dan melahapnya, namun pikirannya tak sepenuhnya di sana. Sedang tangan kirinya memindahkan saluran televisi. Hingga akhirnya berhenti di satu saluran berita.
“Kabar Malam—Selamat malam pemirsa di mana pun anda berada. Telah ditemukan mayat seorang pria di dasar jurang aliran sungai kecil. Tepatnya di sekitar Vila Merah yang terletak di daerah pegunungan, desa Barung. Mayat yang ditemukan dalam keadaan mengenaskan ini diduga merupakan korban pembunuhan dengan luka sayatan tajam di beberapa area tubuhnya. Polisi juga menduga kemungkinan besar korban dibunuh menggunakan parang atau senjata tajam lainnya. Selain itu, ditemukan pula luka memar yang diduga berasal dari senjata tumpul karena berhasil ditemukan barang bukti berupa cangkul kecil tumpul dan caping seperti perkakas yang sering digunakan seorang petani. Tak hanya itu, polisi telah menemukan identitas korban di saku celana yang dikenakannya. Berupa KTP atas nama Janar Lintang, sejumlah uang, dan selembar kertas kecil yang berisi tulisan tak utuh lantaran sebagian tulisannya telah pudar terhapus air. Meski begitu, masih tersisa tulisan yang dapat dibaca dengan jelas bertuliskan, ‘Dari Tuhan Kembali Ke Tuhan’. Berdasarkan ciri-cirinya, pihak kepolisian akan sesegera mungkin menghubungi pihak keluarga korban dan akan menginvestigasi lebih lanjut kasus pembunuhan ini. Pasalnya, polisi berkata bahwa korban pembunuhan seperti ini bukan kali pertama terjadi di area sekitar Vila Merah. Beberapa bulan yang lalu pun telah terjadi kasus yang sama di area tersebut.”
Mendengar berita itu, Jibon berhenti mengunyah makanan dan melepaskan sendok dari genggaman tangannya. Perlahan air matanya menetes tak kuasa menahan. Tak lama kemudian ponselnya berdering. Lalu Jibon mengangkatnya.
"Halo, Nak Jiman. Ibu mau tanya. Kalian pulang kapan? Dua hari lalu Jali bilang ke ibu katanya mau pergi sewa vila bareng Nak Jiman dan teman-teman yang lain. Maaf ibu menghubungi Nak Jiman. Soalnya dari kemarin ibu telefon Jali enggak nyambung terus. Nanti kalau sudah pulang, jangan lupa mampir ke sini dulu. Ibu sudah bilang ke Jali supaya kalian mampir dulu. Titip pesan buat Jali, kalau mau pulang tolong kabari ibunya dulu, ya? Biar nanti ibu masak-masak dulu buat kalian."
Air mata Jibon makin deras mengalir. Napasnya tersengal dan tangannya gemetar. Berusaha menelan isak, ia menjawab telepon meski suaranya terbata-bata.
"I-iya, Bu… m-mungkin… sebentar lagi… pu-pulang." katanya lirih, berusaha terdengar tenang meski jelas ada tangis yang tertahan di ujung suaranya.
TAMAT
“Kabar Malam—Selamat malam pemirsa di mana pun anda berada. Telah ditemukan mayat seorang pria di dasar jurang aliran sungai kecil. Tepatnya di sekitar Vila Merah yang terletak di daerah pegunungan, desa Barung. Mayat yang ditemukan dalam keadaan mengenaskan ini diduga merupakan korban pembunuhan dengan luka sayatan tajam di beberapa area tubuhnya. Polisi juga menduga kemungkinan besar korban dibunuh menggunakan parang atau senjata tajam lainnya. Selain itu, ditemukan pula luka memar yang diduga berasal dari senjata tumpul karena berhasil ditemukan barang bukti berupa cangkul kecil tumpul dan caping seperti perkakas yang sering digunakan seorang petani. Tak hanya itu, polisi telah menemukan identitas korban di saku celana yang dikenakannya. Berupa KTP atas nama Janar Lintang, sejumlah uang, dan selembar kertas kecil yang berisi tulisan tak utuh lantaran sebagian tulisannya telah pudar terhapus air. Meski begitu, masih tersisa tulisan yang dapat dibaca dengan jelas bertuliskan, ‘Dari Tuhan Kembali Ke Tuhan’. Berdasarkan ciri-cirinya, pihak kepolisian akan sesegera mungkin menghubungi pihak keluarga korban dan akan menginvestigasi lebih lanjut kasus pembunuhan ini. Pasalnya, polisi berkata bahwa korban pembunuhan seperti ini bukan kali pertama terjadi di area sekitar Vila Merah. Beberapa bulan yang lalu pun telah terjadi kasus yang sama di area tersebut.”
Mendengar berita itu, Jibon berhenti mengunyah makanan dan melepaskan sendok dari genggaman tangannya. Perlahan air matanya menetes tak kuasa menahan. Tak lama kemudian ponselnya berdering. Lalu Jibon mengangkatnya.
"Halo, Nak Jiman. Ibu mau tanya. Kalian pulang kapan? Dua hari lalu Jali bilang ke ibu katanya mau pergi sewa vila bareng Nak Jiman dan teman-teman yang lain. Maaf ibu menghubungi Nak Jiman. Soalnya dari kemarin ibu telefon Jali enggak nyambung terus. Nanti kalau sudah pulang, jangan lupa mampir ke sini dulu. Ibu sudah bilang ke Jali supaya kalian mampir dulu. Titip pesan buat Jali, kalau mau pulang tolong kabari ibunya dulu, ya? Biar nanti ibu masak-masak dulu buat kalian."
Air mata Jibon makin deras mengalir. Napasnya tersengal dan tangannya gemetar. Berusaha menelan isak, ia menjawab telepon meski suaranya terbata-bata.
"I-iya, Bu… m-mungkin… sebentar lagi… pu-pulang." katanya lirih, berusaha terdengar tenang meski jelas ada tangis yang tertahan di ujung suaranya.
TAMAT
Other Stories
Kepentok Kacung Kampret
Renata bagai langit yang sulit digapai karena kekayaan dan kehormatan yang melingkupi diri ...
Kukejar Impian Besarku
Ramon, Yongki,Dino,Jodi,Eka adalah sekumpulan anak band yg rutin manggung di sebuah cafe d ...
Haura
Laki-laki itu teringat masa kecil Haura yang berbakat, berprestasi, dan gemar berpuisi, na ...
Wajah Tak Dikenal
Ketika Mahesa mengungkapkan bahwa ia mengidap prosopagnosia, ketidakmampuan mengenali waja ...
Cinta Harus Bahagia
Seorang kakak yang harus membesarkan adiknya karena kematian mendadak kedua orangtuanya, b ...
Hantu Dan Hati
Di tengah duka dan rutinitasnya berjualan bunga, seorang pemuda menyadari bahwa ia tidak s ...