Painted Distance

Reads
16
Votes
2
Parts
2
Vote
Report
Painted distance
Painted Distance
Penulis DIPLOHOLIC

Patahan Yang Membawanya

Sapporo, Januari 2020

Salju yang turun di Sapporo hari lebih tebal dibanding hari-hari sebelumnya. Butiran-butiran putih itu jatuh menutup trotoar, dahan pohon, hingga atap bangunan dengan lapisan dingin yang memeluk seluruh kota.

Suhu dingin yang menusuk itu memaksa semua orang bergerak dengan ritme yang cepat. Tapi justru itulah alasan banyak orang datang ke kota ini.

Bukan hanya wisatawan asing, bahkan orang Jepang sendiri sering mengatakan bahwa musim dingin di Sapporo punya ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain.

Orang-orang menyebut kota ini romantis.

Namun bagi satu orang, Sapporo terasa seperti tempat di mana waktu berjalan sedikit lebih lambat. Cukup lama untuk membuatnya mulai mengingat kembali semua kenangan yang telah berlalu.

Di tengah arus manusia yang terus melangkah tanpa henti, Dara ikut menyelaraskan langkahnya. Uap dari napas tipis keluar menembus scarf yang menutupi sebagian wajahnya.

Tangannya menggenggam ponsel, layar navigasi masih menyala sejak beberapa menit lalu.

Seratus meter lagi.
Belok kanan di depan.
Setelah itu kafe yang ia cari seharusnya sudah terlihat.

Rasa dingin mulai terasa menyengat sampai ke ujung jari. Dara segera memasukkan ponselnya ke dalam saku coat tebal yang ia kenakan, lalu tanpa sadar mempercepat langkah.

Beberapa kali ia menyenggol orang yang berjalan berlawanan arah. Untungnya tidak ada yang benar-benar memperhatikan. Semua orang terlalu sibuk mengejar tujuan masing-masing di tengah udara yang seperti mau membeku itu.

Tak lama, Dara akhirnya tiba di kafe yang ia tuju. Ia menghentikan langkah, menatap papan nama, sekilas membaca tulisan berbahasa Inggris untuk memastikan sebelum dirinya benar-benar masuk.

Udara hangat yang membuat kulit pipi terasa hangat langsung menyambutnya saat pintu dibuka. Tanpa ragu, ia memilih tempat di samping jendela.

Ia tidak langsung memesan.

Dara duduk dalam diam, kedua tangannya saling menggenggam di atas meja, sementara pandangannya terkunci ke arah luar.

Jalanan tetap ramai. Orang-orang berjalan cepat, kendaraan melintas perlahan di atas jalan yang licin oleh salju.

Beberapa orang berjalan berpasangan.
Beberapa dalam kelompok kecil.

Ia tidak yakin melihat ada yang berjalan sendirian di tengah keramaian seperti itu.
Atau mungkin ada, hanya saja terlewat ketika ia terlalu sibuk menatap layar ponsel saat hendak menuju kafe. Tapi yang pasti tidak ada yang benar-benar terlihat sendirian.

Tidak seperti yang ia rasakan sekarang.

"Aku sekarang ada di sini.

Liburan di tempat yang baru pertama kali aku kunjungi. Namun, aku seakan merasa sudah terbiasa datang ke sini.

Kalau dulu pikiranku sedikit lebih terbuka,

...kalau aku tidak gegabah mengambil keputusan, apakah hari ini kita akan berjalan berdampingan di jalan yang tadi kulewati?

Kalau itu benar, mungkin aku tidak akan duduk sendirian seperti ini. Hanya menatap keluar jendela, merasa seperti orang asing yang tersesat.

Mungkin tatapanku tidak akan kosong ke luar sana.

Aku akan melihat ke kursi di seberangku.

Dan memastikan… kamu masih ada di sana.”

Dara menarik napas perlahan.

Dia sadar semuanya sudah berakhir hampir 4 tahun yang lalu. Namun di saat dirinya sudah belajar untuk menerima, patahan itu kembali terbuka setahun yang lalu.

Lukisan yang ia lihat waktu itu, membawanya ke kota ini. Sapporo bukan pilihan acak, bukan karena ingin begitu saja. Tapi karena sesuatu yang ia yakini dapat menutup kembali patahan itu.

Patahan yang disebut rindu.

Dia tak bisa menyangkal bahwa itu belum benar-benar selesai. Menerima bukan berarti melupakan.

Masih ada bagian kecil dari dirinya yang berharap… mungkin ia masih bisa diberi kesempatan untuk melihatnya sekali lagi.

Dan itu saja cukup.

Tidak lebih.

Lamunan Dara seketika dibuyarkan oleh seseorang di antara keramaian. Pandangannya berhenti pada satu titik. Pada sosok gadis yang sedang berhenti di seberang jalan.

Awalnya tidak ada yang aneh. Hanya siluet gadis dengan coat panjang berwarna krem, berdiri sedikit menjauh dari arus orang yang terus berjalan tanpa menoleh ke mana pun.

Dara tidak tahu kenapa pandangannya tidak bisa berpindah.
Mungkin hanya kebetulan.
Mungkin hanya karena orang itu tidak bergerak. Atau mungkin karena ada sesuatu yang terasa... terlalu familiar.

Gadis itu sedikit memiringkan arah pandangnya namun masih belum cukup jelas untuk melihat keseluruhan wajahnya. Hanya garis samping.

Hidung... lengkung rahang... dan cara ia menunduk sedikit, seolah sedang berpikir. Dada Dara terasa sesak tanpa alasan yang bisa ia jelaskan.

Tidak mungkin!

Empat tahun bukan waktu yang sebentar.
Dunia terlalu besar untuk kembali mempertemukan dua orang pada pada satu sisi yang sama... tanpa rencana.

Lampu penyeberangan berubah warna. Kerumunan mulai bergerak lagi dan sosok itu ikut melangkah.

Menyeberang.

Lebih dekat.

Dan untuk sepersekian detik, ketika wajah itu terangkat sedikit ke arah jendela, napas Dara tertahan. Tangannya yang berada di atas meja menegang tanpa ia sadari. Benar firasatnya.

"Tidak mungkin…

…kan?"



Other Stories
Langit Di Atas Warteg Bu Sari

hari libur kita ngapain yaa ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...

Escape

Setelah setahun berlarut- larut dalam luka masa lalunya, Nadine pun dipaksa oleh sahabatny ...

Egler

Anton, anak tunggal yang kesepian karena orang tuanya sibuk, melarikan diri ke dunia game ...

After Honeymoon (17+)

Dipaksa menikah demi ambisi keluarga, Kirana dan Rhea terjebak dalam pernikahan tanpa cint ...

Diary Anak Pertama

Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...

Download Titik & Koma