11. Terasa Cukup
Singapura, Januari 2019
Tidak disangka Anne menginjakkan kaki di sana. Dia dipilih untuk mengikuti art expo di Singapura mewakili jurusan seni di kampusnya. Kegiatan itu berlangsung selama seminggu tapi Anne hanya punya waktu dua hari sebelum kembali.
Siang itu di hari kedua, untungnya ada sedikit waktu luang. Dan entah kenapa, kakinya ingin membawanya berjalan lebih jauh dari venue.
Anne begitu penasaran dengan tata letak negara itu. Sampai akhirnya ia dan temannya berhenti di sebuah bangunan dengan arsitektur modern. Ia kenal nama tempat itu sehingga memutuskan untuk masuk.
Ya, itu adalah kampus yang sangat didambakan Dara. Tempat yang pernah menjadi mimpi besar seseorang.
Tidak ada niat mencari.
Tidak ada harapan bertemu.
Hanya ingin melihat seperti apa bentuk mimpi itu. Anne berdiri di seberang jalan area kampus tersebut.
Mahasiswa lalu-lalang. Suara kendaraan samar. Angin tipis menggerakkan rambutnya.
Lalu... hal yang tak pernah Anne bayangkan terjadi. Ia melihatnya. Sosok itu beberapa meter di depan. Sosok yang begitu ia kenal.
Dara.
Lebih tinggi. Lebih dewasa. Bahunya terlihat lebih kokoh, tapi caranya berdiri… masih sama.
Anne membeku.
Jarak mereka tidak terlalu jauh. Cukup untuk melihat jelas wajahnya yang sedang tersenyum dengan temannya yang lain.
Senyum itu mencabik perasaannya.
Matanya sedikit berkaca-kaca.
Dada Anne terasa sesak.
"Jika ini yang terbaik…
aku tidak masalah hanya melihatmu dari kejauhan seperti ini saja."
Tangannya menggenggam tali tasnya lebih erat.
"Itu sudah terasa cukup bagiku.
Rasanya seperti rinduku selama ini terobati."
Sudah hampir tiga tahun.
Tanpa suara.
Tanpa kabar.
Tanpa penjelasan yang benar-benar selesai.
Anne mengamati wajah itu seolah takut lupa.
"Aku penasaran...
bahasa itu masih kamu kuasai atau sudah melupakannya."
Angin berembus pelan.
Di ujung sana Dara bergeser sedikit membuat Anne menahan napas.
"Jika kita memang akan dipertemukan lagi hari ini…
Jika takdir memihak kita…
kamu pasti akan tahu aku berdiri di sini.
Kamu akan mengarahkan pandangan itu ke sini."
Dara mulai mengangkat wajahnya.
Hanya satu detik lagi. Namun teman di belakangnya memanggil. Hanya satu tepukan di bahu kiri Anne membuatnya refleks, berbalik.
Hanya satu gerakan kecil.
Satu putaran tubuh.
Dan ketika Dara akhirnya melihat ke arah tempat Anne berdiri, yang ia lihat hanya punggung seseorang.
Tidak ada wajah yang ia kenali.
Tidak ada alasan untuk berhenti.
Beberapa saat kemudian, Dara sudah tidak lagi berada di sana.
Saat Anne kembali menoleh.
Kosong.
Ia tersenyum tipis. “Ternyata memang cukup seperti ini saja," batinnya tegar.
Anne dan temannya pun bergegas pergi. Mereka harus pulang berkemas, bersiap kembali ke Indonesia untuk mengurus perkuliahan.
Dan di malam yang sama saat keberangkatan itu, Dara datang ke pameran itu.
Dara sebenarnya tidak berniat mampir.
Ia hanya lewat dalam perjalanan pulang. Kebetulan hari itu jadwalnya tidak terlalu padat. Ia punya waktu untuk sekadar melihat-lihat.
Ia masuk. Mulai memperhatikan.
Lukisan demi lukisan ia amati dengan tenang. Sampai langkahnya berhenti di depan satu section dengan dominasi putih.
Sisi itu di penuhi lukisan landscape musim dingin kota yang Dara kenali... Sapporo.
Salju yang tidak hanya putih, ada biru tipis di bayangannya.
Langit senja yang tidak terlalu terang.
Sunyi yang terasa hidup.
Dara menelan pelan. Ia mengenali sesuatu dari apa yang ia lihat, bukan tempatnya. Tapi sentuhannya.
Ia berjalan mendekat.
Dan di tengah deretan itu, lukisan Sapporo TV Tower terpajang sempurna.
Lukisan yang hampir sama dengan yang dulu pernah ia miliki.
Tangannya terasa dingin. “Benarkah dia?”
Kenangan itu datang tanpa permisi.
Bangku supermarket.
Marigold.
Hari kelulusan.
Sudah hampir tiga tahun ia tidak melihat sosok itu. Rindu itu tidak pernah benar-benar hilang. Hanya ia simpan rapi dan kadang teralihkan dengan kesibukan kuliahnya.
Aneh rasanya.
Lukisan itu justru menenangkan. Seolah mengatakan bahwa seseorang di suatu tempat masih menggambar langit yang sama.
Dara berdiri lama di sana. Sampai akhirnya petugas datang menghampiri, memberitahukan kalau sudah hampir jam untuk tutup.
Ia mengangguk pelan.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, nama sebuah kota kembali terucap dalam pikirannya.
Sapporo.
Dara benar-benar berharap salju di kota itu menenangkan dan hangat.
Seperti lukisan yang dulu pernah ia miliki.
Seperti landscape putih yang ia lihat di pameran itu.
Ia membayangkan kota itu akan terasa lembut. Sunyi yang damai.
Dingin yang memeluk.
Ternyata tidak.
Sapporo tidak bersahabat dengannya.
Anginnya terlalu tajam.
Saljunya terlalu pucat.
Langitnya terlalu luas.
Langkahnya terlalu buru-buru.
Setiap sudut justru seperti memantulkan kenangan yang sebenarnya ingin ia llupakan tapi memang tak bisa.
Semakin ia berjalan, semakin kenangan indah itu terasa menyakitkan. Ditambah udara yang menusuk, semuanya terasa lebih berat dari yang ia bayangkan.
Tak sehangat lukisan itu.
Tak setenang yang ia kira.
Kota ini justru membuat dadanya sesak.
Tawa terdengar di mana-mana.
Keramaian itu tidak memahami kesepian hatinya.
Dara berhenti di tengah trotoar.
Ia baru saja berlari tanpa arah. Menyusuri jalan, menerobos orang-orang, hanya karena takut kehilangan sosok yang sedari tadi ia kejar.
Seperti orang bodoh.
Seperti seseorang yang terlalu lama menahan rindu, lalu panik saat kesempatan muncul.
Tapi sekarang ia benar-benar kehilangan jejak. Dia tidak menyangkal hal itu. Napasnya berat. Uap tipis keluar dari bibirnya.
Ia menyerah.
Sekali lagi ia merasa tidak tahu harus ke mana lagi. Tangan yang dingin itu terangkat, memberhentikan taksi.
Mobil berhenti di depannya. Dara masuk tanpa banyak bicara, hanya menyebut nama hotel tempat ia menginap.
Mobil bergerak melalui jalan yang berbeda dari jalur sebelumnya saat ia datang. Jalur yang membawanya pada pemandangan tak terduga itu.
Kini semuanya terasa asing.
Lampu-lampu kota memantul di kaca jendela. Salju masih turun pelan, temponya tak berubah. Dara menyandarkan kepala ke kursi.
Sapporo tidak memberinya kehangatan.
Hanya satu perasaan yang jelas meyakinkannya malam itu, dirinya memang belum pernah benar-benar selesai.
Mobil terus melaju. Ia hanya diam.
Dara tidak benar-benar memperhatikan jalan yang dilewati. Pikirannya masih kacau. Bayangan wajah itu masih berulang di kepalanya.
Lalu tanpa diduga, mobil melewati jalan dekat kawasan yang terasa... familiar.
Taman Odori.
Dan di sana bangunan itu berdiri.
Sapporo TV Tower.
Dara tertegun.
Sejak tadi tempat itunmemang berputar-putar di kepalanya, tapi ia terlalu buyar untuk menyadari arah. Beruntung, posisi duduknya menghadap sisi yang tepat. Ia melihatnya jelas, menjulang di antara langit musim dingin yang pucat.
Dengan cepat ia bangun dari sandaran meminta agar mobil menepi. Dara turun hampir tanpa berpikir hingga udara dingin langsung menyambut wajahnya.
Di hadapannya, TV Tower berdiri nyata. Bukan di atas kanvas. Bukan dalam bingkai kayu. Bukan dalam ingatan.
Nyata.
Dara melangkah pelan mendekati. Ia pernah melihat tempat ini berkali-kali.
Dalam lukisan.
Dalam mimpi.
Dalam rindu.
Tapi berdiri di sini terasa berbeda.
Dadanya terasa penuh hingga membuatnya ingin menangis.
Bersambung...
Tidak disangka Anne menginjakkan kaki di sana. Dia dipilih untuk mengikuti art expo di Singapura mewakili jurusan seni di kampusnya. Kegiatan itu berlangsung selama seminggu tapi Anne hanya punya waktu dua hari sebelum kembali.
Siang itu di hari kedua, untungnya ada sedikit waktu luang. Dan entah kenapa, kakinya ingin membawanya berjalan lebih jauh dari venue.
Anne begitu penasaran dengan tata letak negara itu. Sampai akhirnya ia dan temannya berhenti di sebuah bangunan dengan arsitektur modern. Ia kenal nama tempat itu sehingga memutuskan untuk masuk.
Ya, itu adalah kampus yang sangat didambakan Dara. Tempat yang pernah menjadi mimpi besar seseorang.
Tidak ada niat mencari.
Tidak ada harapan bertemu.
Hanya ingin melihat seperti apa bentuk mimpi itu. Anne berdiri di seberang jalan area kampus tersebut.
Mahasiswa lalu-lalang. Suara kendaraan samar. Angin tipis menggerakkan rambutnya.
Lalu... hal yang tak pernah Anne bayangkan terjadi. Ia melihatnya. Sosok itu beberapa meter di depan. Sosok yang begitu ia kenal.
Dara.
Lebih tinggi. Lebih dewasa. Bahunya terlihat lebih kokoh, tapi caranya berdiri… masih sama.
Anne membeku.
Jarak mereka tidak terlalu jauh. Cukup untuk melihat jelas wajahnya yang sedang tersenyum dengan temannya yang lain.
Senyum itu mencabik perasaannya.
Matanya sedikit berkaca-kaca.
Dada Anne terasa sesak.
"Jika ini yang terbaik…
aku tidak masalah hanya melihatmu dari kejauhan seperti ini saja."
Tangannya menggenggam tali tasnya lebih erat.
"Itu sudah terasa cukup bagiku.
Rasanya seperti rinduku selama ini terobati."
Sudah hampir tiga tahun.
Tanpa suara.
Tanpa kabar.
Tanpa penjelasan yang benar-benar selesai.
Anne mengamati wajah itu seolah takut lupa.
"Aku penasaran...
bahasa itu masih kamu kuasai atau sudah melupakannya."
Angin berembus pelan.
Di ujung sana Dara bergeser sedikit membuat Anne menahan napas.
"Jika kita memang akan dipertemukan lagi hari ini…
Jika takdir memihak kita…
kamu pasti akan tahu aku berdiri di sini.
Kamu akan mengarahkan pandangan itu ke sini."
Dara mulai mengangkat wajahnya.
Hanya satu detik lagi. Namun teman di belakangnya memanggil. Hanya satu tepukan di bahu kiri Anne membuatnya refleks, berbalik.
Hanya satu gerakan kecil.
Satu putaran tubuh.
Dan ketika Dara akhirnya melihat ke arah tempat Anne berdiri, yang ia lihat hanya punggung seseorang.
Tidak ada wajah yang ia kenali.
Tidak ada alasan untuk berhenti.
Beberapa saat kemudian, Dara sudah tidak lagi berada di sana.
Saat Anne kembali menoleh.
Kosong.
Ia tersenyum tipis. “Ternyata memang cukup seperti ini saja," batinnya tegar.
Anne dan temannya pun bergegas pergi. Mereka harus pulang berkemas, bersiap kembali ke Indonesia untuk mengurus perkuliahan.
Dan di malam yang sama saat keberangkatan itu, Dara datang ke pameran itu.
Dara sebenarnya tidak berniat mampir.
Ia hanya lewat dalam perjalanan pulang. Kebetulan hari itu jadwalnya tidak terlalu padat. Ia punya waktu untuk sekadar melihat-lihat.
Ia masuk. Mulai memperhatikan.
Lukisan demi lukisan ia amati dengan tenang. Sampai langkahnya berhenti di depan satu section dengan dominasi putih.
Sisi itu di penuhi lukisan landscape musim dingin kota yang Dara kenali... Sapporo.
Salju yang tidak hanya putih, ada biru tipis di bayangannya.
Langit senja yang tidak terlalu terang.
Sunyi yang terasa hidup.
Dara menelan pelan. Ia mengenali sesuatu dari apa yang ia lihat, bukan tempatnya. Tapi sentuhannya.
Ia berjalan mendekat.
Dan di tengah deretan itu, lukisan Sapporo TV Tower terpajang sempurna.
Lukisan yang hampir sama dengan yang dulu pernah ia miliki.
Tangannya terasa dingin. “Benarkah dia?”
Kenangan itu datang tanpa permisi.
Bangku supermarket.
Marigold.
Hari kelulusan.
Sudah hampir tiga tahun ia tidak melihat sosok itu. Rindu itu tidak pernah benar-benar hilang. Hanya ia simpan rapi dan kadang teralihkan dengan kesibukan kuliahnya.
Aneh rasanya.
Lukisan itu justru menenangkan. Seolah mengatakan bahwa seseorang di suatu tempat masih menggambar langit yang sama.
Dara berdiri lama di sana. Sampai akhirnya petugas datang menghampiri, memberitahukan kalau sudah hampir jam untuk tutup.
Ia mengangguk pelan.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, nama sebuah kota kembali terucap dalam pikirannya.
Sapporo.
Dara benar-benar berharap salju di kota itu menenangkan dan hangat.
Seperti lukisan yang dulu pernah ia miliki.
Seperti landscape putih yang ia lihat di pameran itu.
Ia membayangkan kota itu akan terasa lembut. Sunyi yang damai.
Dingin yang memeluk.
Ternyata tidak.
Sapporo tidak bersahabat dengannya.
Anginnya terlalu tajam.
Saljunya terlalu pucat.
Langitnya terlalu luas.
Langkahnya terlalu buru-buru.
Setiap sudut justru seperti memantulkan kenangan yang sebenarnya ingin ia llupakan tapi memang tak bisa.
Semakin ia berjalan, semakin kenangan indah itu terasa menyakitkan. Ditambah udara yang menusuk, semuanya terasa lebih berat dari yang ia bayangkan.
Tak sehangat lukisan itu.
Tak setenang yang ia kira.
Kota ini justru membuat dadanya sesak.
Tawa terdengar di mana-mana.
Keramaian itu tidak memahami kesepian hatinya.
Dara berhenti di tengah trotoar.
Ia baru saja berlari tanpa arah. Menyusuri jalan, menerobos orang-orang, hanya karena takut kehilangan sosok yang sedari tadi ia kejar.
Seperti orang bodoh.
Seperti seseorang yang terlalu lama menahan rindu, lalu panik saat kesempatan muncul.
Tapi sekarang ia benar-benar kehilangan jejak. Dia tidak menyangkal hal itu. Napasnya berat. Uap tipis keluar dari bibirnya.
Ia menyerah.
Sekali lagi ia merasa tidak tahu harus ke mana lagi. Tangan yang dingin itu terangkat, memberhentikan taksi.
Mobil berhenti di depannya. Dara masuk tanpa banyak bicara, hanya menyebut nama hotel tempat ia menginap.
Mobil bergerak melalui jalan yang berbeda dari jalur sebelumnya saat ia datang. Jalur yang membawanya pada pemandangan tak terduga itu.
Kini semuanya terasa asing.
Lampu-lampu kota memantul di kaca jendela. Salju masih turun pelan, temponya tak berubah. Dara menyandarkan kepala ke kursi.
Sapporo tidak memberinya kehangatan.
Hanya satu perasaan yang jelas meyakinkannya malam itu, dirinya memang belum pernah benar-benar selesai.
Mobil terus melaju. Ia hanya diam.
Dara tidak benar-benar memperhatikan jalan yang dilewati. Pikirannya masih kacau. Bayangan wajah itu masih berulang di kepalanya.
Lalu tanpa diduga, mobil melewati jalan dekat kawasan yang terasa... familiar.
Taman Odori.
Dan di sana bangunan itu berdiri.
Sapporo TV Tower.
Dara tertegun.
Sejak tadi tempat itunmemang berputar-putar di kepalanya, tapi ia terlalu buyar untuk menyadari arah. Beruntung, posisi duduknya menghadap sisi yang tepat. Ia melihatnya jelas, menjulang di antara langit musim dingin yang pucat.
Dengan cepat ia bangun dari sandaran meminta agar mobil menepi. Dara turun hampir tanpa berpikir hingga udara dingin langsung menyambut wajahnya.
Di hadapannya, TV Tower berdiri nyata. Bukan di atas kanvas. Bukan dalam bingkai kayu. Bukan dalam ingatan.
Nyata.
Dara melangkah pelan mendekati. Ia pernah melihat tempat ini berkali-kali.
Dalam lukisan.
Dalam mimpi.
Dalam rindu.
Tapi berdiri di sini terasa berbeda.
Dadanya terasa penuh hingga membuatnya ingin menangis.
Bersambung...
Other Stories
Pada Langit Yang Tak Berbintang
Langit memendam cinta pada Kirana, sahabatnya, tapi justru membantu Kirana berpacaran deng ...
Tersesat
Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...
Kutukan Yang Kupanggil Cinta
Sekar Diajeng Wardhani tidak percaya cinta. Bagi perempuan seperti dia, hubungan hanya per ...
Hati Yang Terbatas
Kinanti termenung menatap rinai hujan di balik jendela kaca kamarnya. Embun hujan mengh ...
Hompimpa Alaium Gambreng!
Dalam liburan singkat di sebuah vila pegunungan, Jibon dan teman-temannya berniat menghidu ...
Tukar Pasangan
Ratna, wanita dengan hiperseksualitas ekstrem, menyadari suaminya Ardi berselingkuh dengan ...