3. Sosok Pendiam
Di tengah keramaian itu, ada saat di mana jarak mereka terasa begitu dekat. Sekejap saja, cukup untuk membuat jantung Dara berdebar. Namun sesaat kemudian, jarak itu kembali membentang, seolah dunia ikut bermain-main dengan harapannya.
Bagi orang lain, mungkin jarak itu bisa dihapus hanya dengan memanggil namanya. Meneriaki, menarik perhatian, atau sekadar bersuara.
Tapi Dara tahu itu mustahil.
Bukan karena takut teriakan itu hanya akan ditelan bisingnya keramaian atau dinginnya udara. Bukan karena sesuatu yang bisa ia lawan atau kendalikan.
Bukan pula karena dirinya tak mau mencoba.
Tapi karena hal yang tak bisa diubah dan justru itu membuatnya ingin menangis tanpa daya. Ironi yang menusuk.
"Aku mohon..."
"Aku mohon, lihatlah kemari."
"Aku mohon..."
Teriakan itu hanya ia sendiri yang tahu.
Sakit, gelisah, penuh harap menyatu dalam sedetik yang terasa abadi.
Betapa malangnya ketika jarak tak berpihak. Ketika suara seperti mengkhianati, bahkan waktu seolah mempermainkan semuanya.
Rasanya momen itu lebih menyakitkan daripada saat pertama kali Dara tahu kebenaran akan Anne di hari pertama dia pindah sekolah.
•••
Saat itu, ketika jam istirahat di hari pertamanya di sekolah baru, Dara merasa ada yang janggal. Anne hanya duduk di pojok, tidak begitu berbaur dengan teman sekelas yang lain.
Posisi meja mereka dekat. Hanya bersebelahan. Tapi ada jarak yang terasa bgeitu nyata.
"Hai!" panggil Dara tanpa ragu.
"Boleh kenalan, nggak?"
Tidak ada jawaban. Dara mengerutkan dahinya. Spontan, ia berdiri dan mengetuk meja di samping Anne. Bukan maksudnya usil, tapi sepertinya ketukan tiba-tiba cukup keras.
Anne menoleh. Tatapannya menusuk, sinis dan dingin yang seketika membuat Dara terdiam.
Tiba-tiba, terdengar tawa kecil dari belakang. "Dia itu tuli. Dia nggak bakal bisa dengar kamu. Hahaha," ujar salah satu teman sekelasnya, menambah malu Dara.
Anne berdiri cepat dan pergi, meninggalkan Dara yang terdiam.
Rasa bersalah menyeruak ke dalam dadanya, lebih berat daripada dinginnya udara kelas.
"Mereka acuh hanya karena... dia punya keterbatasan?" Dara mendengus kesal. Menyesal karena terlalu polos dan tidak sadar akan kondisi Anne.
Sampai jam pulang sekolah, Dara tak bisa berbuat apa-apa. Ia duduk di bangkunya, menatap Anne dari jauh.
Bicara? Mustahil. Ia tidak tahu harus mulai dari mana.
Sampai di keesokan harinya, Dara datang lebih pagi.
Langkahnya berat tapi penuh tekad dengan sebungkus coklat di tangannya. Sekadar ingin meminta maaf, ingin mendekat, ingin... menjembatani jarak yang ia ciptakan sendiri kemarin.
Coklat itu diletakkan di atas meja Anne.
Hatinya berdebar, tapi tidak memaksakan untuk bisa langsung dimaafkan. Dara tahu niatnya tulus, setidaknya dia menyadari bahwa sudah melakukan kesalahan.
Dan untuk sesaat, dunia terasa seakan berhenti.
Tak terasa kelas mulai ramai. Suara kursi bergeser dan tawa kecil memenuhi ruangan.
Anne akhirnya tiba. Ia duduk di tempatnya seperti biasa, tanpa banyak ekspresi. Dara menahan napas saat melihat tangannya menyentuh coklat itu.
Anne memandangnya sebentar. Lalu memasukkannya ke dalam laci meja.
Tidak membuangnya.
Entah kenapa, itu sudah cukup bagi Dara.
Sepanjang pelajaran, pikirannya tak benar-benar di kelas. Ia terus memikirkan langkah berikutnya. Permintaan maaf saja rasanya belum cukup. Ia ingin Anne tahu bahwa kemarin bukan karena ia berniat mempermalukan atau mengganggu.
Saat jam istirahat, Dara tidak keluar kelas.
Ia mengambil selembar kertas.
Lalu menulis.
Menghapus.
Meremas.
Menulis lagi.
Tangannya canggung. Kata-katanya terasa kaku. Terlalu formal. Terlalu panjang. Terlalu berlebihan.
Beberapa lembar kertas yang sudah diremas jatuh ke lantai sebelum akhirnya ia berhenti pada satu versi yang terasa paling jujur.
Tidak panjang.
Hanya sederhana. Namun cukup untuk menyampaikan hal yang ingin ia luruskan sejak kemarin.
Saat jam pulang sekolah, Dara sengaja menjadi yang terakhir keluar kelas. Ia membantu membersihkan papan tulis, merapikan bangku, menunggu teman-temannya selesai bertugas.
Begitu kelas benar-benar kosong, ia berjalan ke meja paling belakang. Jantungnya kembali berdebar. Surat itu ia selipkan pelan ke dalam laci meja Anne.
Tidak ada saksi.
Tidak ada suara.
Hanya detak jantungnya sendiri.
Namun Dara tidak langsung pulang. Ia berjalan cepat menuju sebuah toko buku kecil tak jauh dari sekolah. Langkahnya kali ini bukan karena ragu. Melainkan karena sudah mengambil keputusan.
Dara masuk ke toko buku itu dengan napas yang masih terasa berat. Toko kecil itu sunyi, hanya terdengar suara kipas angin tua berputar pelan. Rak-raknya penuh buku tulis, novel remaja, dan alat tulis warna-warni. Dara berhenti cukup lama di depan sebuah rak berisikan buku bahasa isyarat.
Tangannya sempat ragu.
Akhirnya ia mengambil buku bahasa isyarat cetakan terbaru itu dan juga satu buku catatan kecil berwarna krem. Sampulnya polos. Tidak terlalu mencolok.
Malam itu, Dara menulis ulang surat yang tadi sudah ia selipkan di laci Anne. Ia menyalinnya di buku kecil itu. Kata demi kata. Bukan untuk diberikan. Hanya untuk memastikan bahwa perasaannya benar-benar tulus.
Selesai menulis, ia langsung bergerak mempelajari gestur-gestur sederhana dari buku bahasa isyarat yang ia beli. Dirinya begitu berusaha keras. Dia tahu bahwa itu dapat membuat jarak yang renggang, menghilang sedikit demi sedikit.
Bersambung...
Bagi orang lain, mungkin jarak itu bisa dihapus hanya dengan memanggil namanya. Meneriaki, menarik perhatian, atau sekadar bersuara.
Tapi Dara tahu itu mustahil.
Bukan karena takut teriakan itu hanya akan ditelan bisingnya keramaian atau dinginnya udara. Bukan karena sesuatu yang bisa ia lawan atau kendalikan.
Bukan pula karena dirinya tak mau mencoba.
Tapi karena hal yang tak bisa diubah dan justru itu membuatnya ingin menangis tanpa daya. Ironi yang menusuk.
"Aku mohon..."
"Aku mohon, lihatlah kemari."
"Aku mohon..."
Teriakan itu hanya ia sendiri yang tahu.
Sakit, gelisah, penuh harap menyatu dalam sedetik yang terasa abadi.
Betapa malangnya ketika jarak tak berpihak. Ketika suara seperti mengkhianati, bahkan waktu seolah mempermainkan semuanya.
Rasanya momen itu lebih menyakitkan daripada saat pertama kali Dara tahu kebenaran akan Anne di hari pertama dia pindah sekolah.
•••
Saat itu, ketika jam istirahat di hari pertamanya di sekolah baru, Dara merasa ada yang janggal. Anne hanya duduk di pojok, tidak begitu berbaur dengan teman sekelas yang lain.
Posisi meja mereka dekat. Hanya bersebelahan. Tapi ada jarak yang terasa bgeitu nyata.
"Hai!" panggil Dara tanpa ragu.
"Boleh kenalan, nggak?"
Tidak ada jawaban. Dara mengerutkan dahinya. Spontan, ia berdiri dan mengetuk meja di samping Anne. Bukan maksudnya usil, tapi sepertinya ketukan tiba-tiba cukup keras.
Anne menoleh. Tatapannya menusuk, sinis dan dingin yang seketika membuat Dara terdiam.
Tiba-tiba, terdengar tawa kecil dari belakang. "Dia itu tuli. Dia nggak bakal bisa dengar kamu. Hahaha," ujar salah satu teman sekelasnya, menambah malu Dara.
Anne berdiri cepat dan pergi, meninggalkan Dara yang terdiam.
Rasa bersalah menyeruak ke dalam dadanya, lebih berat daripada dinginnya udara kelas.
"Mereka acuh hanya karena... dia punya keterbatasan?" Dara mendengus kesal. Menyesal karena terlalu polos dan tidak sadar akan kondisi Anne.
Sampai jam pulang sekolah, Dara tak bisa berbuat apa-apa. Ia duduk di bangkunya, menatap Anne dari jauh.
Bicara? Mustahil. Ia tidak tahu harus mulai dari mana.
Sampai di keesokan harinya, Dara datang lebih pagi.
Langkahnya berat tapi penuh tekad dengan sebungkus coklat di tangannya. Sekadar ingin meminta maaf, ingin mendekat, ingin... menjembatani jarak yang ia ciptakan sendiri kemarin.
Coklat itu diletakkan di atas meja Anne.
Hatinya berdebar, tapi tidak memaksakan untuk bisa langsung dimaafkan. Dara tahu niatnya tulus, setidaknya dia menyadari bahwa sudah melakukan kesalahan.
Dan untuk sesaat, dunia terasa seakan berhenti.
Tak terasa kelas mulai ramai. Suara kursi bergeser dan tawa kecil memenuhi ruangan.
Anne akhirnya tiba. Ia duduk di tempatnya seperti biasa, tanpa banyak ekspresi. Dara menahan napas saat melihat tangannya menyentuh coklat itu.
Anne memandangnya sebentar. Lalu memasukkannya ke dalam laci meja.
Tidak membuangnya.
Entah kenapa, itu sudah cukup bagi Dara.
Sepanjang pelajaran, pikirannya tak benar-benar di kelas. Ia terus memikirkan langkah berikutnya. Permintaan maaf saja rasanya belum cukup. Ia ingin Anne tahu bahwa kemarin bukan karena ia berniat mempermalukan atau mengganggu.
Saat jam istirahat, Dara tidak keluar kelas.
Ia mengambil selembar kertas.
Lalu menulis.
Menghapus.
Meremas.
Menulis lagi.
Tangannya canggung. Kata-katanya terasa kaku. Terlalu formal. Terlalu panjang. Terlalu berlebihan.
Beberapa lembar kertas yang sudah diremas jatuh ke lantai sebelum akhirnya ia berhenti pada satu versi yang terasa paling jujur.
Tidak panjang.
Hanya sederhana. Namun cukup untuk menyampaikan hal yang ingin ia luruskan sejak kemarin.
Saat jam pulang sekolah, Dara sengaja menjadi yang terakhir keluar kelas. Ia membantu membersihkan papan tulis, merapikan bangku, menunggu teman-temannya selesai bertugas.
Begitu kelas benar-benar kosong, ia berjalan ke meja paling belakang. Jantungnya kembali berdebar. Surat itu ia selipkan pelan ke dalam laci meja Anne.
Tidak ada saksi.
Tidak ada suara.
Hanya detak jantungnya sendiri.
Namun Dara tidak langsung pulang. Ia berjalan cepat menuju sebuah toko buku kecil tak jauh dari sekolah. Langkahnya kali ini bukan karena ragu. Melainkan karena sudah mengambil keputusan.
Dara masuk ke toko buku itu dengan napas yang masih terasa berat. Toko kecil itu sunyi, hanya terdengar suara kipas angin tua berputar pelan. Rak-raknya penuh buku tulis, novel remaja, dan alat tulis warna-warni. Dara berhenti cukup lama di depan sebuah rak berisikan buku bahasa isyarat.
Tangannya sempat ragu.
Akhirnya ia mengambil buku bahasa isyarat cetakan terbaru itu dan juga satu buku catatan kecil berwarna krem. Sampulnya polos. Tidak terlalu mencolok.
Malam itu, Dara menulis ulang surat yang tadi sudah ia selipkan di laci Anne. Ia menyalinnya di buku kecil itu. Kata demi kata. Bukan untuk diberikan. Hanya untuk memastikan bahwa perasaannya benar-benar tulus.
Selesai menulis, ia langsung bergerak mempelajari gestur-gestur sederhana dari buku bahasa isyarat yang ia beli. Dirinya begitu berusaha keras. Dia tahu bahwa itu dapat membuat jarak yang renggang, menghilang sedikit demi sedikit.
Bersambung...
Other Stories
Pertemuan Di Ujung Kopi
Dari secangkir kopi yang tumpah, Aira tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berpapasan kemba ...
Mobil Kodok, Mobil Monyet
Seorang kakek yang ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya yang telah lama memusuhinya. ...
Balon Kuning Di Ujung Jalan
Liburan ke rumah teman masa SD sangat menyenangkan apalagi diperkenalkan berbagai permaina ...
Langit Di Atas Warteg Bu Sari
hari libur kita ngapain yaa ...
Tessss
pengaplikasian doang ...
Menolak Jatuh Cinta
Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...