5. Mengabaikan Risiko
Dara dan Anne semakin terlampau jauh.
Jarak di antara mereka terasa lebih berat daripada yang pernah ia lakukan untuk meyakinkan Anne saat SMA dulu.
Anne sudah menyeberang.
Dara tertinggal di belakang.
Dingin tidak terasa. Yang terasa hanya tekad yang membakar, dan keringat yang membuatnya gemetar.
Ia mempercepat langkah, menembus arus orang-orang yang padat. Lampu pejalan kaki masih merah tapi dirinya seolah sangat yakin. Ia tahu risikonya, mobil yang bergerak, pejalan kaki yang padat, tapi Dara tidak peduli.
Dara memaksakan diri melangkahkan kaki untuk menyeberang. Benar saja, tubuhnya tersentak saat sebuah mobil mendekat. Ia terhuyung, terseret sedikit dan jatuh ke aspal.
Orang-orang di sekitar terkejut dengan berbagai respon tapi dia tak perduli. Hanya lecet kecil. Tidak parah. Namun hal itu terasa lebih berat daripada dihajar oleh gang berandal di sekolah sore itu.
Saat bangkit, satu hal jelas di pikirannya...
jarak itu harus dihapus, apapun risikonya.
•••
Pertemuan mereka sore itu berakhir dengan Anne menyerahkan kembali buku bahasa isyarat itu pada Dara. Tangan mereka hampir bersentuhan, tapi Anne segera menarik diri.
Ia tidak menatap Dara.
Ia pergi.
Bahkan di kelas, Anne kembali bersikap seperti biasanya.
Diam.
Netral.
Seolah tidak ada yang berubah.
Namun surat-surat Dara tetap masuk ke laci setiap hari. Tidak panjang, sederhana, tulus.
Setiap hari, Dara menulis.
Setiap hari, ia berharap Anne akan membalas.
Namun... Tidak ada balasan. Dan itu bukan masalah, ia tak akan berhenti.
Seminggu berlalu, hingga suatu sore sekolah hampir kosong. Anne berjalan perlahan, menatap koridor yang sunyi.
Tiba-tiba, tiga anak laki-laki dari kelas lain mendekat, wajah mereka penuh ejekan. Anne hanya bisa melihat gerakan, mimik, hawa permusuhan.
Layaknya pahlawan, Dara muncul di hadapannya. Hari itu adalah jadwal piketnya, untung saja.
Tubuhnya tegang, mata terus menatap ketiga anak itu. Anne merasakan jantungnya berdegup lebih kencang, tapi ia tetap membeku. Tak ada yang bisa ia lakukan.
Tiba-tiba salah satu anak maju, mengayunkan tangan. Dara menangkis. Diikuti sebuah dorongan, bahunya tersentak, tapi ia tetap stabil.
Anak lain mencoba memukul dari samping. Dara lagi-lagi menangkis, namun sekali dua kali pukulan balasan mendarat. Tubuhnya bergetar, wajahnya memerah, bibirnya tertekuk sedikit, tapi matanya tetap fokus, melindungi Anne.
Anne semakin takut, namun disaat yang sama ada sesuatu yang hangat mengalir di dadanya. Air mata menggenang. Untuk pertama kalinya ada seseorang yang tidak menyerah untuknya. Seseorang yang benar-benar membela.
Akhirnya, ketiga anak itu pergi, kesal dan putus asa saat tak puas mengahadapi pertahanan Dara.
Dara jatuh terduduk sebentar, napasnya berat, bibir lecet, pipi lebam. Meski babak belur, matanya tetap menatap Anne.
Anne mendekat perlahan, tangannya memegang lengan Dara. Tatapan mereka bertemu begitu dalam. Air mata kini benar-benar jatuh tanpa suara.
Dara masih menatapnya dengan napas berat, lalu mengangkat tangannya.
“Aku baik-baik saja.”
Gerakannya masih sedikit kaku. Tapi cukup jelas.Dan itu yang membuat dada Anne terasa sesak.
Seminggu terakhir, ia menahan diri.
Menahan perasaan yang perlahan tumbuh.
Menahan keinginan untuk membalas surat-surat itu.
Bukan karena ia tidak peduli.
Justru karena ia peduli.
Ia takut salah menilai lagi. Takut jika semua ini hanya akan berakhir seperti yang sudah-sudah. Orang datang, merasa iba, lalu pergi.
Namun hari ini berbeda.
Dara tidak hanya mencoba masuk.
Ia tidak sekadar mengetuk pintu dunianya yang sunyi.
Ia seperti benar-benar ingin tinggal.
Menemani.
Tanpa ragu lagi, Anne mengangkat tangannya. Gerakannya lebih lambat, tapi kali ini tidak gemetar.
“Terima kasih.”
Dara terdiam sepersekian detik. Lalu matanya melebar pelan.
Ia mengerti.
Kalimat itu termasuk yang paling sering ia latih. Respon sederhana. Namun baginya, itu seperti hadiah yang selama ini ia tunggu.
Senyum kecil muncul di wajahnya yang lebam.
Kini mereka berjalan pelan menuju supermarket terdekat. Langkah Dara sedikit tertatih, tapi ia tidak mengeluh.
Dara duduk di sana, menunggu selagi Anne pergi ke apotek kecil di samping supermarket, masuk sebentar, lalu kembali dengan kantong plastik berisi obat dan kasa.
Dara duduk di bangku luar, diam, memperhatikan setiap gerakan Anne.
Anne berlutut di depannya.
Ia membersihkan luka gores di tangan dan lutut dengan hati-hati. Mengusap perlahan darah kering di sudut bibir Dara. Jemarinya sangat telaten, sangat fokus, seolah setiap sentuhan adalah cara untuk menebus sesuatu yang selama ini ia tahan.
Dara tidak berbicara.
Ia hanya menatap Anne.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa… berhasil. Bukan karena menang melawan tiga orang. Bukan karena mampu bertahan. Tapi karena Anne memilih untuk tetap di sana dan tidak menghindar seperti minggu lalu.
Setelah selesai, Anne menatap wajah Dara sebentar untuk memastikan tak ada yang terlewat. Untungnya ia tidak mendapati ada luka lain di sana.
Dara mengangkat tangannya lagi. Gerakannya kali ini lebih lancar. Lebih percaya diri.
“Terima kasih banyak.”
Anne tersenyum.
Senyum yang tidak lagi ditahan.
Tidak lagi ragu.
Dan di antara dingin sore itu, tanpa suara apa pun, keduanya akhirnya berdiri di jarak yang sama.
Bersambung...
Jarak di antara mereka terasa lebih berat daripada yang pernah ia lakukan untuk meyakinkan Anne saat SMA dulu.
Anne sudah menyeberang.
Dara tertinggal di belakang.
Dingin tidak terasa. Yang terasa hanya tekad yang membakar, dan keringat yang membuatnya gemetar.
Ia mempercepat langkah, menembus arus orang-orang yang padat. Lampu pejalan kaki masih merah tapi dirinya seolah sangat yakin. Ia tahu risikonya, mobil yang bergerak, pejalan kaki yang padat, tapi Dara tidak peduli.
Dara memaksakan diri melangkahkan kaki untuk menyeberang. Benar saja, tubuhnya tersentak saat sebuah mobil mendekat. Ia terhuyung, terseret sedikit dan jatuh ke aspal.
Orang-orang di sekitar terkejut dengan berbagai respon tapi dia tak perduli. Hanya lecet kecil. Tidak parah. Namun hal itu terasa lebih berat daripada dihajar oleh gang berandal di sekolah sore itu.
Saat bangkit, satu hal jelas di pikirannya...
jarak itu harus dihapus, apapun risikonya.
•••
Pertemuan mereka sore itu berakhir dengan Anne menyerahkan kembali buku bahasa isyarat itu pada Dara. Tangan mereka hampir bersentuhan, tapi Anne segera menarik diri.
Ia tidak menatap Dara.
Ia pergi.
Bahkan di kelas, Anne kembali bersikap seperti biasanya.
Diam.
Netral.
Seolah tidak ada yang berubah.
Namun surat-surat Dara tetap masuk ke laci setiap hari. Tidak panjang, sederhana, tulus.
Setiap hari, Dara menulis.
Setiap hari, ia berharap Anne akan membalas.
Namun... Tidak ada balasan. Dan itu bukan masalah, ia tak akan berhenti.
Seminggu berlalu, hingga suatu sore sekolah hampir kosong. Anne berjalan perlahan, menatap koridor yang sunyi.
Tiba-tiba, tiga anak laki-laki dari kelas lain mendekat, wajah mereka penuh ejekan. Anne hanya bisa melihat gerakan, mimik, hawa permusuhan.
Layaknya pahlawan, Dara muncul di hadapannya. Hari itu adalah jadwal piketnya, untung saja.
Tubuhnya tegang, mata terus menatap ketiga anak itu. Anne merasakan jantungnya berdegup lebih kencang, tapi ia tetap membeku. Tak ada yang bisa ia lakukan.
Tiba-tiba salah satu anak maju, mengayunkan tangan. Dara menangkis. Diikuti sebuah dorongan, bahunya tersentak, tapi ia tetap stabil.
Anak lain mencoba memukul dari samping. Dara lagi-lagi menangkis, namun sekali dua kali pukulan balasan mendarat. Tubuhnya bergetar, wajahnya memerah, bibirnya tertekuk sedikit, tapi matanya tetap fokus, melindungi Anne.
Anne semakin takut, namun disaat yang sama ada sesuatu yang hangat mengalir di dadanya. Air mata menggenang. Untuk pertama kalinya ada seseorang yang tidak menyerah untuknya. Seseorang yang benar-benar membela.
Akhirnya, ketiga anak itu pergi, kesal dan putus asa saat tak puas mengahadapi pertahanan Dara.
Dara jatuh terduduk sebentar, napasnya berat, bibir lecet, pipi lebam. Meski babak belur, matanya tetap menatap Anne.
Anne mendekat perlahan, tangannya memegang lengan Dara. Tatapan mereka bertemu begitu dalam. Air mata kini benar-benar jatuh tanpa suara.
Dara masih menatapnya dengan napas berat, lalu mengangkat tangannya.
“Aku baik-baik saja.”
Gerakannya masih sedikit kaku. Tapi cukup jelas.Dan itu yang membuat dada Anne terasa sesak.
Seminggu terakhir, ia menahan diri.
Menahan perasaan yang perlahan tumbuh.
Menahan keinginan untuk membalas surat-surat itu.
Bukan karena ia tidak peduli.
Justru karena ia peduli.
Ia takut salah menilai lagi. Takut jika semua ini hanya akan berakhir seperti yang sudah-sudah. Orang datang, merasa iba, lalu pergi.
Namun hari ini berbeda.
Dara tidak hanya mencoba masuk.
Ia tidak sekadar mengetuk pintu dunianya yang sunyi.
Ia seperti benar-benar ingin tinggal.
Menemani.
Tanpa ragu lagi, Anne mengangkat tangannya. Gerakannya lebih lambat, tapi kali ini tidak gemetar.
“Terima kasih.”
Dara terdiam sepersekian detik. Lalu matanya melebar pelan.
Ia mengerti.
Kalimat itu termasuk yang paling sering ia latih. Respon sederhana. Namun baginya, itu seperti hadiah yang selama ini ia tunggu.
Senyum kecil muncul di wajahnya yang lebam.
Kini mereka berjalan pelan menuju supermarket terdekat. Langkah Dara sedikit tertatih, tapi ia tidak mengeluh.
Dara duduk di sana, menunggu selagi Anne pergi ke apotek kecil di samping supermarket, masuk sebentar, lalu kembali dengan kantong plastik berisi obat dan kasa.
Dara duduk di bangku luar, diam, memperhatikan setiap gerakan Anne.
Anne berlutut di depannya.
Ia membersihkan luka gores di tangan dan lutut dengan hati-hati. Mengusap perlahan darah kering di sudut bibir Dara. Jemarinya sangat telaten, sangat fokus, seolah setiap sentuhan adalah cara untuk menebus sesuatu yang selama ini ia tahan.
Dara tidak berbicara.
Ia hanya menatap Anne.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa… berhasil. Bukan karena menang melawan tiga orang. Bukan karena mampu bertahan. Tapi karena Anne memilih untuk tetap di sana dan tidak menghindar seperti minggu lalu.
Setelah selesai, Anne menatap wajah Dara sebentar untuk memastikan tak ada yang terlewat. Untungnya ia tidak mendapati ada luka lain di sana.
Dara mengangkat tangannya lagi. Gerakannya kali ini lebih lancar. Lebih percaya diri.
“Terima kasih banyak.”
Anne tersenyum.
Senyum yang tidak lagi ditahan.
Tidak lagi ragu.
Dan di antara dingin sore itu, tanpa suara apa pun, keduanya akhirnya berdiri di jarak yang sama.
Bersambung...
Other Stories
Hati Yang Beku
Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...
315 Kilometer [end]
Yatra, seorang pegawai kantoran di Surabaya, yang merasa jenuh dengan kehidupan serba hedo ...
Absolute Point
Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...
Filosofi Sampah (catatan Seorang Pemulung)
Samsuri, seorang pemulung yang kehilangan istri dan anaknya akibat tragedi masa lalu, menj ...
Lombok, Tempat Aku Belajar Melepaskan
Rara menghabiskan liburan sekolahnya di Lombok bersama kakak pertamanya yang telah menikah ...