7. Gadis Musim Panas
Pasir di pantai terasa hangat di bawah kaki mereka. Ombak bergerak pelan di kejauhan.
Anne masih memikirkan beberapa baris terakhir dari lagu yang tadi diterjemahkan Dara.
Tangannya bergerak. “Bagus.”
Itu membuat Dara tersenyum.
“Aku suka.” Anne melanjutkan. “Ini jadi lagu favoritku.”
Senyum Dara berubah, sedikit lebih cerah dari sebelumnya. Ia mengangkat tangan.
“Tunggu.” Dara berdiri dan berlari kecil menjauh.
Anne menatapnya bingung, tapi tetap duduk menunggu. Beberapa menit kemudian, Dara kembali dengan napas sedikit terengah. Di tangannya ada topi pantai lebar berwarna kuning cerah.
Ia mengangkatnya dengan ekspresi setengah malu. “Sayahgnya ini bukan topi jerami.” Tangannya bergerak lagi.
“Tapi setidaknya mirip.”
Anne membeku sesaat.
Lalu ia tertawa lepas. Bahunya naik turun, matanya menyipit bahagia. Dara benar-benar pergi mencari topi kuning seperti yang digambarkan di lirik lagu itu.
Anne langsung memakainya. Warnanya terlalu cerah. Terlalu mencolok. Namun justru membuatnya bersinar.
Tanpa aba-aba Anne berlari menuju ombak. Langkahnya ringan.
Sesekali topi kuning itu hampir terbang tertiup angin. Rambutnya bergerak bebas mengikuti.
Dara pun cepat-cepat mengeluarkan kameranya, mengabadikan setiap detik.
Anne yang berlari.
Anne yang menoleh.
Anne yang tertawa tanpa suara tapi terlihat paling hidup.
Di balik lensa, Dara tersenyum. Benar-benar terlihat seperti bunga marigold yang bergoyang tertiup angin.
Dan untuk pertama kalinya, Anne merasa tidak ada yang kurang dari dirinya.
Tidak ada beban.
Tidak ada jarak.
Tidak ada rasa takut ditinggalkan.
Hanya ada laut dan ombak.
Langit cerah.
Dan seseorang yang memilih berbagi dunianya.
Saat itu, tidak satu pun dari mereka berpikir bahwa kebahagiaan bisa memiliki batas waktu.
•••
Sudah banyak momen yang diambil saat mereka kembali ke gelaran kain di bawah payung kecil. Topi kuning itu masih bertengger miring di kepala anne.
Dara duduk di sampingnya, membuka kamera. Foto demi foto berganti.
Anne yang berlari.
Anne yang menoleh.
Anne yang tertawa tanpa suara.
Anne lebih mendekatkan dirinya. Dara pun langsung memberikan kamera itu pada kekasihnya itu agar bisa dilihat dengan leluasa.
Kedekatan itu benar-benar tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Dara menoleh padanya, lalu tangannya mulai bergerak. “Kamu lebih suka liburan saat cuaca cerah seperti ini?”
Anne memperhatikan gerakannya.
Lalu mengangguk kecil sebelum tangannya menjawab. “Aku suka.”
Ia menatap laut sebentar. Angin membuat topi kuningnya hampir terlepas lagi. Tangannya bergerak kembali, kali ini lebih pelan.
“Tapi ada yang lebih ingin aku rasakan," ucapnya membuat Dara menunggu.
Anne menoleh. Matanya lebih tenang.
"Salju."
Dara mengernyit sedikit saat kemudian Anne melanjutkan. “Salju di Sapporo.”
Nama kota itu bergerak jelas di antara jemarinya. Ia tersenyum kecil, bukan senyum lebar seperti tadi.
“Aku ingin melihat saat pemandangan dipenuhi warna putih.”
“Aku ingin merasakan dinginnya jatuh di tanganku dengan kesunyiannya."
Tangan Anne berhenti sebentar, lalu menambahkan. “Aku ingin tahu… apakah sunyinya sama seperti duniaku.”
Dara tidak langsung menjawab.Ia menatap Anne lama. Lalu tangannya bergerak, lebih lembut dari biasanya.
“Kalau begitu… kita harus ke sana.” Kalimat itu diucapkan dalam bahasa isyarat dengan penuh keyakinan.
Anne menatapnya. Dara melanjutkan. “Kita lihat salju pertama bersama, suatu saat nanti.”
Tidak ada janji besar.
Tidak ada sumpah berlebihan.
Hanya dua remaja yang duduk di pantai,
membicarakan musim yang bahkan belum mereka lihat.
Anne tersenyum, bersemangat.
Dan untuk sesaat, Sapporo menjadi mimpi bagi mereka. Kota dengan salju indah, tempat yang kini jadikan objek impian besar suatu hari nanti. Yang dinginnya belum mereka rasakan.
Bersambung...
Anne masih memikirkan beberapa baris terakhir dari lagu yang tadi diterjemahkan Dara.
Tangannya bergerak. “Bagus.”
Itu membuat Dara tersenyum.
“Aku suka.” Anne melanjutkan. “Ini jadi lagu favoritku.”
Senyum Dara berubah, sedikit lebih cerah dari sebelumnya. Ia mengangkat tangan.
“Tunggu.” Dara berdiri dan berlari kecil menjauh.
Anne menatapnya bingung, tapi tetap duduk menunggu. Beberapa menit kemudian, Dara kembali dengan napas sedikit terengah. Di tangannya ada topi pantai lebar berwarna kuning cerah.
Ia mengangkatnya dengan ekspresi setengah malu. “Sayahgnya ini bukan topi jerami.” Tangannya bergerak lagi.
“Tapi setidaknya mirip.”
Anne membeku sesaat.
Lalu ia tertawa lepas. Bahunya naik turun, matanya menyipit bahagia. Dara benar-benar pergi mencari topi kuning seperti yang digambarkan di lirik lagu itu.
Anne langsung memakainya. Warnanya terlalu cerah. Terlalu mencolok. Namun justru membuatnya bersinar.
Tanpa aba-aba Anne berlari menuju ombak. Langkahnya ringan.
Sesekali topi kuning itu hampir terbang tertiup angin. Rambutnya bergerak bebas mengikuti.
Dara pun cepat-cepat mengeluarkan kameranya, mengabadikan setiap detik.
Anne yang berlari.
Anne yang menoleh.
Anne yang tertawa tanpa suara tapi terlihat paling hidup.
Di balik lensa, Dara tersenyum. Benar-benar terlihat seperti bunga marigold yang bergoyang tertiup angin.
Dan untuk pertama kalinya, Anne merasa tidak ada yang kurang dari dirinya.
Tidak ada beban.
Tidak ada jarak.
Tidak ada rasa takut ditinggalkan.
Hanya ada laut dan ombak.
Langit cerah.
Dan seseorang yang memilih berbagi dunianya.
Saat itu, tidak satu pun dari mereka berpikir bahwa kebahagiaan bisa memiliki batas waktu.
•••
Sudah banyak momen yang diambil saat mereka kembali ke gelaran kain di bawah payung kecil. Topi kuning itu masih bertengger miring di kepala anne.
Dara duduk di sampingnya, membuka kamera. Foto demi foto berganti.
Anne yang berlari.
Anne yang menoleh.
Anne yang tertawa tanpa suara.
Anne lebih mendekatkan dirinya. Dara pun langsung memberikan kamera itu pada kekasihnya itu agar bisa dilihat dengan leluasa.
Kedekatan itu benar-benar tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Dara menoleh padanya, lalu tangannya mulai bergerak. “Kamu lebih suka liburan saat cuaca cerah seperti ini?”
Anne memperhatikan gerakannya.
Lalu mengangguk kecil sebelum tangannya menjawab. “Aku suka.”
Ia menatap laut sebentar. Angin membuat topi kuningnya hampir terlepas lagi. Tangannya bergerak kembali, kali ini lebih pelan.
“Tapi ada yang lebih ingin aku rasakan," ucapnya membuat Dara menunggu.
Anne menoleh. Matanya lebih tenang.
"Salju."
Dara mengernyit sedikit saat kemudian Anne melanjutkan. “Salju di Sapporo.”
Nama kota itu bergerak jelas di antara jemarinya. Ia tersenyum kecil, bukan senyum lebar seperti tadi.
“Aku ingin melihat saat pemandangan dipenuhi warna putih.”
“Aku ingin merasakan dinginnya jatuh di tanganku dengan kesunyiannya."
Tangan Anne berhenti sebentar, lalu menambahkan. “Aku ingin tahu… apakah sunyinya sama seperti duniaku.”
Dara tidak langsung menjawab.Ia menatap Anne lama. Lalu tangannya bergerak, lebih lembut dari biasanya.
“Kalau begitu… kita harus ke sana.” Kalimat itu diucapkan dalam bahasa isyarat dengan penuh keyakinan.
Anne menatapnya. Dara melanjutkan. “Kita lihat salju pertama bersama, suatu saat nanti.”
Tidak ada janji besar.
Tidak ada sumpah berlebihan.
Hanya dua remaja yang duduk di pantai,
membicarakan musim yang bahkan belum mereka lihat.
Anne tersenyum, bersemangat.
Dan untuk sesaat, Sapporo menjadi mimpi bagi mereka. Kota dengan salju indah, tempat yang kini jadikan objek impian besar suatu hari nanti. Yang dinginnya belum mereka rasakan.
Bersambung...
Other Stories
Takdir Cinta
Di balik keluarga yang tampak sempurna, tersimpan rahasia pahit: sang suami memilih pria l ...
Don't Touch Me
Malam pukul 19.30 di Jakarta. Setelah melaksanakan salat isya dan tadarusan. Ken, Inaya, ...
Luka
LUKA Tiga sahabat. Tiga jalan hidup. Tiga luka yang tak kasatmata. Moana, pejuang garis ...
Petualangan Di Negri Awan
seorang anak kecil menemukan negeri ajaib di balik awan dan berusaha menyelamatkan dari ke ...
Bali Before Sun Set
Perjalanan di pulau dewata tak hanya menyajikan sesuatu yang amat indah untuk di pandang t ...
Terlupakan
Pras, fotografer berbakat namun pemalu, jatuh hati pada Gadis, seorang reporter. Gadis mem ...