Bab 1 Hadiah Yang Tidak Dimenangkan
Ketukan keras di pintu kamar membangunkan Anna dari tidur yang tidak benar-benar pulas. Matahari sudah sepenuhnya menerobos tirai tipis, membelah kamar dengan cahaya pucat yang terasa terlalu terang bagi matanya. Ia mengerjap pelan. Kepalanya berat, semalam ia menangis terlalu lama, tanpa suara, tanpa lampu, hanya ditemani pikirannya sendiri. Ketukan itu terdengr lagi, lebih keras, lebih mendesak.
“Anna!”
Dengan Langkah lambat dan tubuh masih terasa lemas, ia membuka pintu. Ibunya langsung menerobos masuk, wajahnya penuh semangat yang terasa kontras dengan suasana hati Anna saat ini.
“Anna… kamu menang hadiah undian berlibur ke pulau Watu Lenga selama lima hari empat malam,” katanya cepat, hampir tak memberi jeda. “Ini kesempatan bagus untuk melupakan semuanya.”
Sebuah amplop coklat berpindah ke tangan Anna. Amplop itu terasa berbeda, kertasnya lebih berat dari biasanya, halus dengan segel kecil berwarna emas di bagian belakang. Terlalu eksklusif untuk sekedar undian biasa. Anna membuka segelnya perlahan. Di dalamnya terdapat kartu undangan dengan alamat dan Namanya tercetak jelas:
Anna Mariana
Di bawahnya tertera beberapa ketentuan.
Peserta tidak diperkenankan membawa keluarga.
Undangan tidak dapat diwakilkan.
Informasi perjalanan bersifat rahasia dan tidak boleh disebarkan.
Tidak boleh memotret atau merekam apa pun selama perjalanan dan selama liburan berlangsung.
Jika memutuskan untuk mengambil hadiah ini, peserta wajib mengikuti seluruh kegiatan sampai akhir.
Anna mengernyit. Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali ia mengikuti undian berhadiah. Rasanya tidak pernah. Ia bahkan jarang membuka media sosial belakangan ini. Aneh…. Namun mungkin ibunya benar, Mungkin ini kesempatan untuk menjauh sejenak, untuk berhenti memutar ulang kejadian yang tidak bisa diulang. Untuk mencoba bernapas tanpa rasa bersalah yang terus menempel seperti bayangan. Anna menatap kembali Namanya di kartu itu. Undangan itu terasa… terlalu personal. Dan entah mengapa, bukan hanya seperti keberuntungan, melainkan seperti panggilan.
Liburan itu akan dimulai lima hari lagi. Tanpa banyak pertimbangan lagi, Anna memutuskan untuk menerimanya. Ia mengajukan cuti di tempatnya bekerja dengan alasan singkat yang tidak banyak ditanya. Lalu perlahan ia mulai mengemas barang-barangnya.
Di dalam undangan tertulis jelas: lima hari empat malam. Maka ia menyiapkan pakaian secukupnya, tidak lebih, tidak kurang. Beberapa buku, perlengkapan mandi, obat-obatan ringan, semua serba seperlunya, seolah ini hanya perjalanan biasa. Namun tetap saja terasa aneh. Tiba-tiba memenangkan hadiah liburan ke sebuah pulau terpencil. Seluruh biaya ditanggung. Tidak ada detail berlebihan, hanya instruksi keberangkatan dan titik temu.
Anna mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini hanyalah keberuntungan. Barangkali semacam hiburan dari semesta, atau kebetulan yang datang di waktu yang tepat. Tunangan yang sudah bersamanya selama empat tahun memutuskan hubungan begitu saja. Tanpa penjelasan yang masuk akal. Tanpa pertengkaran besar sebelumnya. Hanya keputusan sepihak yang dingin.
Empat tahun bukan waktu yang singkat dan kehilangan tanpa alasan terasa jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan dengan penjelasan. Anna tidak sedang mencari jawaban, ia hanya ingin pergi. Mungkin pulau itu akan memberinya jarak. Mungkin keheningan akan membuat semuanya terasa lebih ringan. Atau mungkin… justru sebaliknya.
Sehari sebelum keberangkatan, Anna kembali duduk di tepi ranjangnya. Koper sudah tertutup rapi di sudut kamar. Rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Amplop itu masih berada di atas meja. Untuk kesekian kalinya, ia mengambilnya, membaliknya, meraba tekstur kertasnya. Tidak ada logo perusahaan besar. Tidak ada alamat pengirim yang jelas. Hanya Namanya tercetak rapi di bagian depan, seolah memang ditujukan khusus untuknya. Di dalamnya, lembar undangan itu kembali ia baca perlahan.
Peserta liburan diwajibkan berkumpul pukul 08.00 pagi di titik temu yang telah ditentukan. Harap datang tepat waktu. Tidak ada nomor telepon yang bisa dihubungi, tidak ada alamat email, tidak ada kontak darurat. Anna mengernyit kecil. Tiba-tiba sebuah pikiran muncul, pelan tapi cukup membuat dadanya terasa tidak nyaman.
Bagaimana jika ini penipuan?
Ia meraih ponselnya. Mencari di internet: undian liburan di Watu Lenga. Tidak ada berita, tidak ada iklan. Tidak ada orang lain yang membicarakannya. Ia mencoba mencari lokasi pulau itu di Google Maps. Tidak ada. Hanya laut biru luas tanpa penanda apa pun.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Rasionalitas mulai mulai mengambil alih. Terlalu mendadak, terlalu sepi informasi. Terlalu… mudah.
Semalaman Anna tidak benar-benar tidur. Ia berbaring dengan lampu kamar yang tetap menyala, memikirkan kemungkinan terburuk. Membayangkan skenario-skenario yang mungkin tidak masuk akal, tapi cukup untuk membuatnya ragu. Haruskah ia membatalkan semuanya?
Namun pagi datang seperti biasa. Cahaya matahari tetap masuk melalui celah tirai. Dunia tetap berjalan tanpa perduli pada kegelisahannya semalam. Anna bangun, mandi, berpakaian, menarik koper keluar dari rumah. Keraguan masih ada, setipis kabut. Tapi ia tetap berangkat.
“Anna!”
Dengan Langkah lambat dan tubuh masih terasa lemas, ia membuka pintu. Ibunya langsung menerobos masuk, wajahnya penuh semangat yang terasa kontras dengan suasana hati Anna saat ini.
“Anna… kamu menang hadiah undian berlibur ke pulau Watu Lenga selama lima hari empat malam,” katanya cepat, hampir tak memberi jeda. “Ini kesempatan bagus untuk melupakan semuanya.”
Sebuah amplop coklat berpindah ke tangan Anna. Amplop itu terasa berbeda, kertasnya lebih berat dari biasanya, halus dengan segel kecil berwarna emas di bagian belakang. Terlalu eksklusif untuk sekedar undian biasa. Anna membuka segelnya perlahan. Di dalamnya terdapat kartu undangan dengan alamat dan Namanya tercetak jelas:
Anna Mariana
Di bawahnya tertera beberapa ketentuan.
Peserta tidak diperkenankan membawa keluarga.
Undangan tidak dapat diwakilkan.
Informasi perjalanan bersifat rahasia dan tidak boleh disebarkan.
Tidak boleh memotret atau merekam apa pun selama perjalanan dan selama liburan berlangsung.
Jika memutuskan untuk mengambil hadiah ini, peserta wajib mengikuti seluruh kegiatan sampai akhir.
Anna mengernyit. Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali ia mengikuti undian berhadiah. Rasanya tidak pernah. Ia bahkan jarang membuka media sosial belakangan ini. Aneh…. Namun mungkin ibunya benar, Mungkin ini kesempatan untuk menjauh sejenak, untuk berhenti memutar ulang kejadian yang tidak bisa diulang. Untuk mencoba bernapas tanpa rasa bersalah yang terus menempel seperti bayangan. Anna menatap kembali Namanya di kartu itu. Undangan itu terasa… terlalu personal. Dan entah mengapa, bukan hanya seperti keberuntungan, melainkan seperti panggilan.
Liburan itu akan dimulai lima hari lagi. Tanpa banyak pertimbangan lagi, Anna memutuskan untuk menerimanya. Ia mengajukan cuti di tempatnya bekerja dengan alasan singkat yang tidak banyak ditanya. Lalu perlahan ia mulai mengemas barang-barangnya.
Di dalam undangan tertulis jelas: lima hari empat malam. Maka ia menyiapkan pakaian secukupnya, tidak lebih, tidak kurang. Beberapa buku, perlengkapan mandi, obat-obatan ringan, semua serba seperlunya, seolah ini hanya perjalanan biasa. Namun tetap saja terasa aneh. Tiba-tiba memenangkan hadiah liburan ke sebuah pulau terpencil. Seluruh biaya ditanggung. Tidak ada detail berlebihan, hanya instruksi keberangkatan dan titik temu.
Anna mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini hanyalah keberuntungan. Barangkali semacam hiburan dari semesta, atau kebetulan yang datang di waktu yang tepat. Tunangan yang sudah bersamanya selama empat tahun memutuskan hubungan begitu saja. Tanpa penjelasan yang masuk akal. Tanpa pertengkaran besar sebelumnya. Hanya keputusan sepihak yang dingin.
Empat tahun bukan waktu yang singkat dan kehilangan tanpa alasan terasa jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan dengan penjelasan. Anna tidak sedang mencari jawaban, ia hanya ingin pergi. Mungkin pulau itu akan memberinya jarak. Mungkin keheningan akan membuat semuanya terasa lebih ringan. Atau mungkin… justru sebaliknya.
Sehari sebelum keberangkatan, Anna kembali duduk di tepi ranjangnya. Koper sudah tertutup rapi di sudut kamar. Rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Amplop itu masih berada di atas meja. Untuk kesekian kalinya, ia mengambilnya, membaliknya, meraba tekstur kertasnya. Tidak ada logo perusahaan besar. Tidak ada alamat pengirim yang jelas. Hanya Namanya tercetak rapi di bagian depan, seolah memang ditujukan khusus untuknya. Di dalamnya, lembar undangan itu kembali ia baca perlahan.
Peserta liburan diwajibkan berkumpul pukul 08.00 pagi di titik temu yang telah ditentukan. Harap datang tepat waktu. Tidak ada nomor telepon yang bisa dihubungi, tidak ada alamat email, tidak ada kontak darurat. Anna mengernyit kecil. Tiba-tiba sebuah pikiran muncul, pelan tapi cukup membuat dadanya terasa tidak nyaman.
Bagaimana jika ini penipuan?
Ia meraih ponselnya. Mencari di internet: undian liburan di Watu Lenga. Tidak ada berita, tidak ada iklan. Tidak ada orang lain yang membicarakannya. Ia mencoba mencari lokasi pulau itu di Google Maps. Tidak ada. Hanya laut biru luas tanpa penanda apa pun.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Rasionalitas mulai mulai mengambil alih. Terlalu mendadak, terlalu sepi informasi. Terlalu… mudah.
Semalaman Anna tidak benar-benar tidur. Ia berbaring dengan lampu kamar yang tetap menyala, memikirkan kemungkinan terburuk. Membayangkan skenario-skenario yang mungkin tidak masuk akal, tapi cukup untuk membuatnya ragu. Haruskah ia membatalkan semuanya?
Namun pagi datang seperti biasa. Cahaya matahari tetap masuk melalui celah tirai. Dunia tetap berjalan tanpa perduli pada kegelisahannya semalam. Anna bangun, mandi, berpakaian, menarik koper keluar dari rumah. Keraguan masih ada, setipis kabut. Tapi ia tetap berangkat.
Other Stories
Dante Fairy Tale
“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita gemu ...
Terlupakan
Pras, fotografer berbakat namun pemalu, jatuh hati pada Gadis, seorang reporter. Gadis mem ...
Lombok; Tanah Surga
Perjalanan ini bukan hanya perjalanan yang tidak pernah diduga akan terjadi. Tetapi menjad ...
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...
Don't Touch Me
Dara kehilangan kabar dari Erik yang lama di Spanyol, hingga ia ragu untuk terus menunggu. ...
Dengan Ini Saya Terima Nikahnya
Hubungan Dara dan Erik diuji setelah Erik dipilih oleh perusahaannya sebagai perwakilan ma ...