Bab 4 Satu Diantara Kita
Dan kamar mandinya…
Anna sempat tercengang. Interiornya jauh lebih mewah dibanding ruangan utama, kayu tetap menjadi tema dominan, tetapi dipadukan dengan sentuhan modern yang mengingatkannya pada hotel bintang lima. Hangat, bersih, hampir kontras dengan kesederhanaan kamar.
Setidaknya aku bisa sedikit terhibur dengan sauna di sini, pikirnya, mencoba menenangkan diri.
Ia mulai membongkar koper dan merapikan barang-barangnya. Anna memilih tempat tidur yang menghadap jendela. Saat ia menoleh, Nadia belum juga membuka ranselnya. Gadis itu duduk di tepi tempat tidur, tangannya bertaut di pangkuan, sedikit bergetar.
“Kamu kenapa?” tanya Anna, nada suaranya lembut namun penuh kewaspadaan.
“Aku takut…” jawab Nadia pelan. “Seperti ada yang salah. Mengikuti liburan ini… rasanya keputusan yang keliru.” Air matanya mulai mengalir tanpa bisa ditahan.
Anna menelan ludah. Perasaan itu bukan hal asing baginya.
“Kita semua merasakannya,” katanya, berusaha terdengar tegar. “Kamu tidak sendirian. Kita sudah sampai di sini, dan seperti yang tertulis di undangan… kita harus menyelesaikannya.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara lebih pelan,
“Kita memang terisolasi. Tidak bisa menghubungi dunia luar.”
Kalimat itu menggantung di udara, lebih terdengar seperti pengakuan ketakutan daripada penghiburan.
Ketukan pelan terdengar di pintu.
Tok. Tok.
Ibu Dewi membuka pintu dengan senyum yang begitu ramah.
“Makan malam sudah siap. Kita diminta segera berkumpul di ruang makan.”
Anna dan Nadia saling berpandangan sejenak. Nadia cepat-cepat mengusap sisa air matanya, berusaha terlihat baik-baik saja.
Siapa yang meminta mereka berkumpul? Herman sudah pergi, pikir Anna. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya mengikuti Ibu Dewi menuju ruang makan. Ruang makan terletak di bagian tengah rumah. Begitu mereka melangkah masuk, aroma masakan hangat langsung menyambut. Meja panjang dari kayu jati telah dipenuhi aneka hidangan: ikan bakar utuh dengan sambal merah menyala, sup bening dengan irisan sayur segar, ayam panggang berbumbu rempah, berbagai tumisan, steak, hingga buah-buahan yang tertata rapi. Di sudut meja, dessert kecil tersusun cantik seperti di restoran mahal, juga beraneka minuman segar.
Untuk pulau terpencil dengan fasilitas terbatas… ini terlalu sempurna, batin Anna.
Para peserta lain sudah duduk. Beberapa tersenyum ramah saat Anna dan Nadia bergabung.
“Sepertinya kita benar-benar dimanjakan,” ujar seorang pria berpenampilan sedikit kumal yang memperkenalkan diri sebagai Surya.
“Rasanya lebih seperti resort eksklusif daripada undian misterius,” sahut Rudi sambil terkekeh ringan.
Percakapan mulai mengalir. Mereka saling bertanya tentang asal kota, pekerjaan, dan bagaimana menerima undangan tersebut. Ternyata amplop yang diterima semuanya sama: tanpa nomor kontak, tanpa tanda tangan jelas, hanya instruksi waktu dan tempat.
“Aneh, ya,” gumam Evelyn pelan, kini tampak lebih tenang. “Biasanya undian ada penyelenggaranya.”
“Iya,” Daniel mengangguk. “Dan sponsor. Ini seperti… kita dipilih, bukan menang.”
Kalimat itu membuat suasana mendadak hening.
Anna mengedarkan pandangannya. Ibu Dewi duduk di ujung meja, berbincang akrab dengan Surya. Daniel kini terlihat mulai akrab dengan Rudi. Evelyn tampak menikmati ayam panggangnya dengan lahap.
Dan Nadia…
Anna memperhatikan Nadia lebih saksama.
Tatapan gadis itu berulang kali mengarah ke sisi meja tempat Surya duduk. Cepat, gelisah, lalu segera ditarik kembali. Tangannya menggenggam ujung taplak meja erat-erat.
Anna mengikuti arah pandang itu.
Surya sedang berbincang santai dengan Ibu Dewi. Sesekali ia tertawa kecil, terdengar biasa saja.
Kenapa Nadia terlihat seperti itu setiap Surya bergerak? pikir Anna. Pria itu memang berpenampilan sedikit berantakan, tapi tak ada yang benar-benar mengancam darinya. Terlebih lagi, ia duduk berdampingan dengan Ibu Dewi, sosok paling ramah di rumah ini.
Tidak mungkin Nadia merasa takut pada seseorang seperti beliau.
Mungkin ia hanya kelelahan. Atau masih cemas karena situasi yang asing. Anna memalingkan wajahnya, tak ingin berprasangka berlebihan. Ia tidak menyadari bahwa ia mungkin salah memahami sesuatu. Tiba-tiba Maria keluar dari dapur, mengucapkan sesuatu dalam bahasa lokal yang tak seorang pun pahami.
“Maaf… ada yang tahu maksudnya?” tanya Rudi, menoleh ke sekeliling.
Semua saling berpandangan.
“Mungkin maksudnya kalau sudah selesai, kita dipersilakan kembali ke kamar masing-masing,” sahut Ibu Dewi cepat. “Hanya menebak,” tambahnya buru-buru. Makan malam pun berakhir, dan mereka kembali ke kamar masing-masing.
Perjalanan panjang hari itu akhirnya mencapai waktu istirahat. Setelah mandi, Anna berbaring di tempat tidurnya. Nadia sudah lebih dulu berbaring membelakanginya, menghadap dinding. Saat mata Anna mulai terasa berat, ia menyadari sosok di ranjang sebelah tampak gelisah. Nadia beberapa kali membalikkan tubuhnya, ke kanan, ke kiri, seakan tak menemukan posisi yang nyaman. Hingga akhirnya ia bangkit. Duduk sesaat. Lalu pelan-pelan membuka pintu dan keluar kamar. Anna yang belum sepenuhnya terlelap mendengar suara berderit dari tangga, seperti seseorang naik atau turun. Namun kantuknya terlalu berat untuk peduli. Tak lama kemudian, ia benar-benar tertidur.
Aaaaaarghh…!!!
Jeritan itu membelah pagi.
Anna terbangun dengan jantung berdebar. Ia duduk dan menoleh ke ranjang sebelah, kosong.
Mungkin Nadia sudah bangun lebih dulu, pikirnya.
Ia segera keluar kamar. Ruang tengah kosong. Ruang makan pun tak ada siapa-siapa. Dari arah belakang rumah terdengar kerumunan suara. Anna mengikuti arah itu. Semua orang sudah berkumpul di halaman belakang, mengerumuni sesuatu.
“Ada apa?” tanya Anna cemas.
Tak ada yang menjawab. Kerumunan perlahan memberi jalan.
Dan saat Anna melihat ke tengah lingkaran itu, napasnya tercekat.
Seseorang terbujur kaku di tanah. Darah mengalir di sekitarnya. Tubuh itu tergeletak tak wajar, seolah terjatuh dari tangga. Kepala korban membentur batu penopang, meninggalkan luka yang menganga. Wajahnya pucat, terlalu pucat.
“Dia… sudah meninggal,” bisik Evelyn hampir tak terdengar.
Anna menatap tubuh itu dengan gemetar.
“Nadia…” suaranya patah.
Tak percaya. Beberapa jam lalu Nadia masih berada di ranjang sebelahnya. Sekarang… ia telah menjadi mayat pertama di pulau itu.
“Kenapa tidak ada yang menelepon polisi? Ambulans? Siapa pun?” suara Anna mulai bergetar.
Daniel menoleh pelan. Wajahnya terlalu tenang. "Tidak ada sinyal di sini, Nona. Kita terisolasi.”
Kata itu menggantung di udara.
Teri-solasi.
“Kita harus melakukan sesuatu,” ujar Evelyn tajam, menatap Daniel seolah ketenangannya adalah sebuah kesalahan.
“Sinyal terakhir ada di landasan kapal,” Rudi menyahut, suaranya lebih rasional. “Tapi untuk sampai ke sana butuh waktu. Jalannya jauh.”
Sunyi kembali menyelimuti mereka. Di tengah halaman, tubuh Nadia masih tergeletak, tak ada yang benar-benar berani mendekat.
“Tenang… kita tidak boleh panik,” Ibu Dewi melangkah maju, suaranya lembut namun tegas. “Kita minta Maria dan Markus membantu mengurusnya sementara. Setelah itu, kita berkumpul dan pikirkan solusi bersama.”
“Mereka di mana?” tanya Anna cepat. “Markus dan Maria? Apakah mereka tahu soal ini?”
Tatapan-tatapan mulai saling bersilangan.
“Oke,” Rudi mengangguk pelan. “Saya setuju dengan Bu Dewi. Kita minta mereka membantu dulu. Tapi… apakah ada yang bisa bahasa mereka? Sepertinya mereka tidak terlalu paham bahasa Indonesia.”
Hening.
Beberapa detik terasa lebih panjang dari seharusnya.
“Aku… bisa sedikit,” Daniel akhirnya bersuara. “Aku bisa jelaskan ke mereka situasinya”
Semua kepala menoleh padanya. Anna menatap Daniel lekat-lekat. Sedikit? Kenapa baru sekarang ia mengaku bisa berkomunikasi dengan mereka? Mengapa sejak awal ia tidak pernah menyebutkannya? Ekspresinya tetap datar, seolah tak merasa ada yang janggal.
“Baiklah,” ujar Rudi akhirnya. “Pak Daniel, tolong cari Markus dan Maria. Jelaskan apa yang terjadi.”
Ia menarik napas, lalu menatap yang lain satu per satu.
“Yang lain ikut saya ke ruang tengah.”
Tak ada yang bergerak beberapa detik.
Hingga akhirnya satu per satu mereka melangkah meninggalkan halaman. Meninggalkan Nadia. Meninggalkan darah yang belum mengering, tak seorang pun berjalan berdampingan. Mereka berjalan dengan jarak. Seolah tanpa sadar, setiap orang kini menjaga diri… dari yang lain.
Ruang tengah terasa lebih sempit dari seharusnya.
Tak ada yang duduk berdekatan. Mereka memilih kursi masing-masing, menyisakan jarak yang menciptakan batas tak terlihat di antara mereka. Rudi berdiri di tengah ruangan.
“Kita tidak bisa menunggu begitu saja,” katanya, suaranya lebih tegas dari sebelumnya. “Sampai bantuan datang, kita harus tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
“Terjatuh dari tangga,” sahut Evelyn cepat.
“Atau didorong,” tambah Rudi tanpa emosi.
Kata itu membuat udara mendadak terasa berat. Anna menelan ludah.
“Kita mulai dari yang sederhana,” lanjut Rudi. “Semalam. Siapa berada di mana, dan melakukan apa.”
“Ini seperti interogasi,” gumam Evelyn tak suka.
“Anggap saja klarifikasi.” Koreksi Rudi.
Tak ada yang benar-benar menolak.
Rudi menoleh pada Evelyn terlebih dahulu.
“Anda?”
“Aku di kamar. Tidur. Sebelumnya aku dan Bu Dewi berbincang sebentar sambil minum teh, lalu aku tidur. Aku baru terbangun tadi pagi. Tanya saja Bu Dewi.”
Rudi mengalihkan pandangannya.
“Bu Dewi?”
“Iya, kami mengobrol sebentar,” jawabnya tenang. “Evelyn tidur lebih dulu. Setelah itu saya juga tidur. Pagi tadi, saat hendak menghirup udara segar di halaman belakang… saya melihat Nadia sudah tergeletak seperti itu. Saya kaget.”
Jadi teriakan itulah yang membangunkan Anna tadi.
Rudi kini menatap Anna.
Jantung Anna berdegup lebih cepat.
“Aku… sempat terbangun,” katanya pelan. “Nadia gelisah. Lalu dia keluar kamar. Aku mendengar suara tangga berderit setelah itu.”
Semua mata tertuju padanya.
“Kapan?” tanya Rudi cepat.
“Mungkin lewat tengah malam. Aku tidak melihat jam.”
“Dan kamu tidak menyusulnya?”
Pertanyaan itu terdengar seperti tuduhan.
“Aku… terlalu mengantuk.”
Ruangan kembali hening.
Rudi menoleh pada Surya.
“Aku tidur nyenyak,” jawabnya singkat. “Tidak dengar apa-apa.”
“Padahal kamarmu dekat tangga,” sela Evelyn pelan.
Surya menatapnya tajam. “Apa maksudmu?”
“Tidak ada.” Evelyn mengangkat bahu ringan, namun sorot matanya tak sepenuhnya netral.
Ketegangan mulai naik. Tipis, tapi terasa jelas.
Rudi menarik napas panjang. “Baik. Sekarang pertanyaannya… jika Nadia keluar kamar, dan salah satu dari kita bangun sekitar waktu yang sama…”
Ia membiarkan kalimatnya menggantung. Tak ada yang berbicara. Tak ada yang benar-benar percaya pada jawaban siapa pun. Tiba-tiba Daniel masuk dari arah belakang, wajahnya sedikit tegang.
“Markus dan Maria sedang mengurusnya,” katanya singkat.
Semua orang kini menatapnya.
“Apa?” Daniel mengernyit.
“Anda, Pak Daniel,” potong Rudi. “Di mana Anda semalam? Setelah kita mengobrol?”
“Saya masuk kamar. Lalu turun sebentar ke dapur untuk mengambil minum. Itu saja.”
“Apakah Anda mendengar sesuatu? Atau mungkin melihat Nadia?” tanya Rudi lagi, lebih tajam.
Daniel mengangkat alis. “Apa maksud pertanyaan ini? Anda menuduh saya?”
“Tidak. Semua orang ditanya hal yang sama,” Rudi menjelaskan datar.
“Tapi nada Anda berbeda.” Suara Daniel mulai meninggi. “Jangan kaitkan kejadian lima tahun lalu dengan hari ini. Saya sama sekali tidak bersalah, setidaknya kali ini.”
Ruangan membeku.
Lima tahun lalu?
Anna menoleh cepat pada Rudi. Wajah pria itu menegang, namun ia tidak menyangkal. Ada sesuatu di antara mereka. Sesuatu yang tidak diketahui siapa pun di ruangan ini.
"Anda sendiri pak Rudi, apa yang anda lakukan malam tadi?" Tanya Anna, dia berpikir semua orang termasuk Rudi harus diperlakukan sama.
"Saya juga, sempat mengobrol di balkon atas dengan pak Daniel. Setelah pak Daniel masuk kamar, tak lama saya juga masuk kamar, dan tidak keluar sampai pagi tadi." Jawabnya tenang.
Semua orang punya alibi, tapi tidak benar-benar ada saksi. Dan Anna merasakan dingin menjalar di perutnya. Tak ada yang melanjutkan pertanyaan. Tak ada yang meminta maaf. Tak ada yang benar-benar membela diri.
Percakapan terhenti begitu saja, namun bukan karena semua telah jelas, melainkan karena tak seorang pun ingin berbicara lebih jauh. Rudi kembali duduk. Daniel tidak lagi menatap siapa pun. Evelyn menyilangkan tangan di dada. Surya menunduk, rahangnya mengeras. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di pulau itu, tak ada yang saling bertukar senyum. Anna memandang satu per satu wajah di ruangan itu. Beberapa jam lalu, mereka adalah orang asing yang kebetulan dipertemukan oleh undian. Sekarang….mereka adalah orang asing yang saling mencurigai. Dan di antara mereka… ada seseorang yang mungkin telah mendorong Nadia dari tangga. mungkin Nadia memang terjatuh.
Other Stories
Gadis Loak & Dua Pelita
SEKAR. Gadis 16 tahun, penjual kue pasar yang dijuluki "gadis loak" karena sering menukar ...
Nestapa
Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...
The Fault
Sebuah pertemuan selalu berakhir dengan perpisahan. Sebuah awalan selalu memiliki akhiran. ...
Hati Yang Beku
Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia berpik ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh no ...