Bab 5 Di Tebing Kecurigaan
Maria mengetuk pintu lalu masuk, memecah keheningan yang menggantung tak nyaman di udara. Ia mengatakan sesuatu dengan suara pelan sambil menatap Daniel, kemudian berbalik dan pergi begitu saja.
Semua mata kini tertuju pada Daniel.
“Dia bilang jenazah Nadia sudah diurus. Dan sarapan sudah siap.”
Kalimat itu terdengar datar, seolah hanya pengumuman biasa. Namun tatapan penuh curiga yang mengarah kepadanya belum juga surut.
Satu per satu mereka meninggalkan ruang tengah menuju ruang makan. Di atas meja telah terhidang sarapan yang nyaris berlebihan untuk suasana seperti ini: nasi goreng hangat mengepul, roti panggang dengan aneka selai, telur orak-arik lembut, sosis panggang, bahkan beberapa croissant tersusun rapi di piring saji.
Untuk sesaat, persoalan Nadia seolah tersisih oleh rasa lapar dan aroma makanan yang menggoda. Mereka makan dalam diam. Hanya bunyi sendok dan garpu yang sesekali beradu dengan piring.
Keheningan itu akhirnya pecah oleh suara Evelyn.
“Tadi kamu sudah bertanya pada Maria dan Markus? Mereka ada di mana semalam? Bagaimana reaksi mereka saat diminta mengurus… jenazah itu?”
Daniel mengangkat wajahnya perlahan.
“Mereka di pondok. Kaget, tentu saja. Tapi tidak banyak bertanya.”
Hening kembali.
\"Ibu Dewi anda sangat tenang disaat semua orang panik, saya salut dengan anda.\" Rudi mencoba mencairkan suasana.
\"Saya seorang ibu, dan saya pernah kehilangan seorang anak perempuan. Situasi ini pernah saya alami, saya tidak boleh panik.\" Jawabnya dengan tenang.
Lalu sunyi kembali turun, lebih berat dari sebelumnya.
Keheningan setelah jawaban Bu Dewi tak benar-benar hilang, hanya berganti bentuk. Mereka menyelesaikan sarapan tanpa selera yang sama seperti biasanya.
Rudi yang pertama berdiri.
“Saya menemukan ini tadi pagi,” katanya sambil mengambil selembar brosur dari meja konsol di ruang tengah.
Evelyn mendekat dan membacanya keras-keras.
Hari Kedua – Eksplorasi Timur Watu Lenga
09.00 – Trek ringan ke Tebing Batu Sunyi
11.00 – Pantai Timur
13.00 – Piknik
16.00 – Kembali ke villa
“Masih mau ikut jadwal seperti ini?” tanya Anna pelan.
“Lebih baik daripada saling menatap seperti tahanan,” sahut Surya. Nada suaranya ringan, tapi matanya tidak.
Tak ada yang benar-benar setuju. Tak ada juga yang menolak.
Akhirnya mereka tetap berangkat.
Jalur menuju Tebing Batu Sunyi tidak terlalu jauh dari villa. Tanahnya kering, sesekali berkerikil. Laut terdengar sebelum terlihat, ombak menghantam karang dengan suara berat dan berulang.
Semakin mendekati tebing, jalur menyempit. Di satu sisi dinding batu menjulang, di sisi lain turunan berbatu dengan karang tajam di bawahnya. Tidak terlalu dalam, namun cukup berbahaya.
“Tempat wisata yang ramah,” gumam Surya sinis.
Daniel meliriknya. “Kalau tidak suka, tidak ada yang memaksa.”
Surya berhenti sebentar. “Kau selalu begitu, ya? Seolah semuanya bisa kau atur.”
“Apa maksudmu?”
“Tidak usah pura-pura.”
Sebelum perdebatan memanas, Evelyn berjalan agak terpisah bersama Anna. Ponselnya terangkat setinggi dada.
“Minimal ada konten,” gumamnya pelan. “Tidak ada sinyal pun, nanti bisa diunggah.”
Anna menoleh sekilas. “Kamu masih memikirkan itu?”
“Refleks saja.”
Layar ponsel tetap menyala. Kamera aktif, meski tak benar-benar diarahkan. Di depan mereka, suara Surya meninggi. Langkah mereka melambat. Yang lain mulai memperhatikan. Angin bertiup lebih kencang di sisi tebing. Debu tipis beterbangan. Daniel mendekat, suaranya merendah tapi tegang. “Kau mau bilang apa sebenarnya?”
Surya tersenyum tipis. “Semua ini kebetulan? Kau yakin?”
Kalimat itu menggantung. Daniel mengulurkan tangan, mungkin untuk menahan, mungkin untuk menegaskan ucapannya. Tanah di bawah kaki Surya mendadak ambles. Retakan kecil yang tak terlihat sebelumnya melebar dalam hitungan detik. Surya kehilangan pijakan.
Tubuhnya tergelincir ke sisi batu yang lebih rendah, menghantam karang dengan suara keras. Jeritannya memantul di antara dinding tebing. Semua terdiam sebelum akhirnya panik pecah bersamaan.
“Surya!”
Ia tergeletak beberapa meter di bawah jalur, wajahnya pucat, kakinya tertekuk dalam sudut yang tidak wajar. Darah mengalir tipis di sela batu. Daniel berdiri paling dekat di tepi, napasnya memburu.
“Aku tidak mendorongnya,” katanya cepat. Terlalu cepat.
Tak ada yang langsung menyahut. Evelyn menatap Daniel. Rudi memperhatikan tanah di tepi jalur yang runtuh. Anna menutup mulutnya dengan tangan gemetar. Angin terus berembus, seolah tak peduli. Dan sejak mereka tiba di pulau itu, ketakutan tidak lagi samar.
Ia nyata. Dan berada di antara mereka. Beberapa detik setelah teriakan itu, semuanya bergerak bersamaan.
“Turun! Kita harus turun!” Anna hampir tergelincir saat mencoba mencari pijakan ke sisi batu yang lebih rendah.
Rudi menahannya. “Pelan! Jangan tambah korban.”
Daniel sudah lebih dulu berlutut di tepi, mencoba menjangkau. “Surya! Bisa dengar saya?”
Surya mengerang. Wajahnya pucat, napasnya pendek. Kakinya tertekuk tak wajar, darah merembes dari luka di betisnya.
“Jangan digerakkan dulu,” kata Evelyn refleks, lalu terdiam sejenak, seolah baru menyadari betapa absurdnya situasi ini tanpa tenaga medis. Evelyn memalingkan wajah, menahan mual.
“Dia harus diangkat,” Bu Dewi berkata pelan namun tegas. “Kalau dibiarkan di sini terlalu lama, pendarahannya makin banyak.”
Tak ada yang membantah. Dengan hati-hati mereka turun satu per satu. Daniel dan Rudi yang paling dekat mengangkat tubuh Surya. Surya berteriak saat kakinya tersentuh.
“Aku tidak mendorongnya,” Daniel berkata lagi, kali ini lebih keras. “Kalian lihat sendiri, tanahnya yang runtuh!”
Tak ada jawaban. Hanya tatapan singkat yang lalu dialihkan. Perjalanan kembali ke villa terasa lebih jauh dari sebelumnya. Mereka bergantian menopang Surya. Setiap langkah berat. Setiap desah Surya seperti tuduhan tak terucap. Angin yang tadi terasa segar kini seperti suara bisikan. Saat mereka hampir tiba di villa, Evelyn mendekat pada Anna dan berbisik, nyaris tak terdengar.
“Kau lihat kan tadi… Daniel paling dekat.”
Anna tidak langsung menjawab. Tapi ia tidak membantah. Di belakang mereka, Rudi berjalan dalam diam, wajahnya sulit ditebak. Dan Daniel, yang beberapa kali mencoba menjelaskan, perlahan berhenti berbicara.
Villa kayu itu kembali menyambut mereka dengan bunyi berderit yang kini terdengar berbeda. Lebih seperti peringatan. Mereka meletakkan Surya di sofa ruang tengah. Kakinya mulai membengkak.
“Kita tidak bisa tinggal diam,” gumam Evelyn.
“Lalu apa?” Daniel membalas tajam. “Kita bahkan tidak punya sinyal.”
Kalimat itu menggantung. Tak seorang pun menyebut kata dorongan. Tak seorang pun berani menyebut kata sengaja. Tapi sesuatu telah berubah. Bukan hanya Surya yang terluka. Kepercayaan di antara mereka pun retak.
Other Stories
Cahaya Menembus Senesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Egler
Anton mengempaskan tas ke atas kasur. Ia melirik jarum pendek jam dinding yang berada di ...
Koper Coklat Ibu
Bagi Arini, Yogyakarta bukan lagi tempat untuk pulang, melainkan ruang bawah tanah yang ia ...
Keikhlasan Cinta
6 tahun Hasrul pergi dari keluarganya, setelah dia kembali dia dipertemukan kembali dengan ...
Kepingan Hati Alisa
Menurut Ibu, dia adalah jodoh yang sudah menemani Alisa selama lebih dari lima tahun ini. ...
Hujan Dan Lagu-lagu Tentang Rindu
Randy sekarat, dan seorang malaikat maut memberinya pilihan untuk meminta maaf pada para p ...