Bab 6 Terungkap Malam
Surya meringis di sofa, tangannya mencengkeram sisi dudukan seolah itu satu-satunya penopang rasa sakitnya.
“Pak Daniel, tolong tanya Maria, apakah ada kotak P3K?” pinta Bu Dewi. Suaranya tetap tenang di tengah kepanikan yang menggantung di udara.
Daniel mengangguk cepat lalu bergegas ke dapur.
Anna masih duduk membeku. Napasnya berat. Surya hampir saja kehilangan nyawa. Ia masih hidup, entah karena keberuntungan… atau karena seseorang belum benar-benar ingin dia mati.
Bu Dewi mengambil handuk dan semangkuk air, lalu membersihkan wajah Surya yang pucat.
“Kalian lihat tadi, kan?” suara Evelyn memecah kesunyian. Tajam. Menuduh. “Daniel pasti mendorongnya.”
“Kita belum tahu pasti,” sahut Rudi, berusaha terdengar rasional. “Semuanya terjadi begitu cepat.”
“Apa yang terjadi lima tahun lalu?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Anna.
Semua kepala menoleh. Anna menatap lurus ke arah Rudi.
“Iya,” timpal Evelyn cepat. “Tadi pagi aku dengar, katanya ini tidak seperti kejadian lima tahun lalu. Maksudnya apa?”
“Kalian saling kenal, bukan?” desak Anna, suaranya pelan namun tegas.
Rudi terdiam beberapa detik. Wajahnya mengeras, lalu runtuh dalam satu tarikan napas panjang.
“Ini… memalukan,” katanya akhirnya. “Lima tahun lalu saya baru mulai praktik sebagai pengacara. Pak Daniel menabrak seorang anak. Tabrak lari.”
Ruangan terasa menyempit. Bu Dewi tanpa sengaja menyenggol mangkuk air. Sedikit air tumpah ke lantai kayu.
“Ada saksi yang mencatat plat mobilnya. Dia ditangkap. Tapi ayah Pak Daniel seorang pejabat berpengaruh. Kasus itu bisa menghancurkan nama keluarganya.” Rudi menelan ludah. “Saya disewa untuk membereskan semuanya. Dan… saya berhasil.”
Sunyi.
“Pak Daniel terbebas dari tuntutan. Padahal dia bersalah.”
Tak ada yang bergerak.
“Saya tidak pernah bertemu langsung dengan beliau,” lanjut Rudi pelan. “Saya hanya berhubungan dengan ayahnya. Sampai tadi malam… saya bahkan tidak tahu bahwa orang yang saya bela adalah Daniel yang ada di ruangan ini.”
“Jadi…” Surya meringis menahan nyeri. “Dia juga kah yang mengundang kita ke pulau ini? Dia orang kaya, kan?”
Kalimat itu menggantung seperti jerat. Tengkuk Anna meremang. Jika salah satu dari mereka adalah tuan rumah… lalu menyamar sebagai peserta… untuk apa?
Untuk balas dendam? Atau memastikan tak seorang pun keluar hidup-hidup?
Langkah kaki terdengar mendekat. Daniel kembali membawa kotak P3K. Begitu ia masuk, percakapan terhenti seketika. Sunyi yang tercipta bukan lagi canggung, melainkan penuh kecurigaan.
Bu Dewi mengambil kotak itu tanpa berkata apa-apa, lalu membersihkan luka Surya dengan gerakan hati-hati.
Kali ini mereka benar-benar merasa… tidak ada satu pun di ruangan itu yang bisa dipercaya.
Sejak insiden siang itu, tak ada lagi yang membicarakan jadwal perjalanan. Pantai Timur dan piknik dibiarkan menjadi sekadar tulisan di brosur yang tergeletak di meja konsol.
Mereka memilih diam di dalam villa.
Langit sore meredup perlahan. Cahaya jingga menyusup melalui celah jendela kayu. Villa terasa lebih sempit., lebih sunyi. Bahkan suara laut yang tadi terdengar indah kini seperti peringatan yang berulang. Mereka tersebar di sudut-sudut ruangan, tetap dalam jarak pandang satu sama lain.
Daniel duduk sendiri di ujung ruang tengah.
“Aku tidak mendorongnya,” katanya lagi suatu waktu.
Tak ada yang menjawab.
Surya terbaring dengan kaki diperban seadanya. Setiap kali Daniel bergerak sedikit saja, mata Surya otomatis mengikutinya.
Menjelang malam, pintu dan jendela ditutup lebih awal. Seolah ancaman bukan lagi tebing… melainkan seseorang di dalam rumah itu.
Anna hendak mematikan lampu kamar ketika matanya menangkap sesuatu di bawah tempat tidur.
Tas ransel Nadia.
Ia terdiam. Rasa penasaran merambat pelan. Anna menarik tas itu dan membukanya. Beberapa pakaian. Alat mandi, Obat-obatan, dan sebuah name tag tenaga medis rumah sakit tempat Nadia dulu bekerja. Aneh.
Bukankah Nadia bilang ia sudah tidak bekerja di sana?
Di bagian dalam tas, terselip sebuah amplop. Anna membukanya. Surat pemberhentian secara tidak terhormat atas nama Nadia Aulia. Alasan: kelalaian dalam menangani pasien bernama Alya.
Nama itu seperti gema di kepala Anna.
Alya.
Ia masih menatap surat itu ketika terdengar ketukan pelan.
“Anna… kamu bangun?”
Evelyn.
Wajahnya pucat saat pintu dibuka.
“Boleh aku di sini sebentar? Bu Dewi nggak ada di kamar.”
“Ke mana?”
“Nggak tahu. Ruang tengah kosong.”
Ada sesuatu dalam nada suaranya, bukan sekadar takut.
Mereka duduk berhadapan di ranjang.
Evelyn mengeluarkan ponselnya.
“Tadi siang… aku lagi rekam. Nggak sengaja. Kamera nyala waktu Surya dan Daniel debat.”
Video diputar. Angin kencang terdengar. Suara Surya: “Semua ini kebetulan? Kau yakin?”
Layar sedikit turun. Beberapa detik sebelum tanah retak…
Bu Dewi terlihat dalam frame. Bukan di belakang rombongan. Ia lebih dekat ke sisi jalur yang runtuh. Ia berhenti. Menunduk. Tangannya bergerak cepat di permukaan tanah. Seperti menyingkirkan sesuatu yang kecil. Atau… menggeser batu. Detik berikutnya, suara retakan. Jeritan Surya.
Video berhenti.
Kamar terasa lebih dingin.
“Dia bilang tanahnya rapuh,” bisik Evelyn. “Tapi kenapa dia ada di situ duluan?”
Anna memutar ulang. Benar. Bu Dewi memastikan pijakannya sendiri, lalu bergeser setengah langkah sebelum tanah ambles. Seolah tahu bagian mana yang tidak stabil.
“Atau…” Evelyn menelan ludah. “Dia yang bikin tidak stabil?”
Jika itu benar, maka Daniel mungkin hanya pengalih perhatian. Dan seseorang yang terlihat paling lembut… mungkin yang paling berbahaya. Langkah pelan terdengar di lorong bawah. Berhenti tepat di depan kamar. Seseorang berdeham.
“Anna.”
Itu Daniel.
Wajahnya tegang saat pintu dibuka.
“Kalian harus dengar ini.”
Ia masuk dan menutup pintu hati-hati.
“Aku tadi ke dapur. Lampu belakang masih nyala. Aku dengar suara dari ruang servis.” Ia menelan ludah.
“Bu Dewi ada di sana. Bersama Markus dan Maria.”
“Memangnya kenapa?” Evelyn cepat menyahut.
“Itu masalahnya. Cara mereka bicara.”
Anna mengernyit.
“Bu Dewi memberi instruksi. Bukan seperti tamu. Lebih seperti… pemilik.”
Hening.
“Mereka pakai bahasa lokal. Bu Dewi lancar. Nadanya berubah. Tegas. Dingin. Markus dan Maria menunduk saat menjawabnya. Mereka tampak seperti bawahan.”
Kata itu menggantung.
“Dan aku dengar dia bilang sesuatu tentang milik suaminya… entahlah. Tapi katany…”
Daniel berhenti.
“Besok adalah hari hukuman.”
Jantung Anna berdetak lebih cepat.
“Hukuman untuk siapa?” bisik Evelyn.
Daniel menggeleng. “Dia tidak menyebut nama. Tapi nadanya… itu bukan metafora.”
Potongan-potongan mulai menyatu. Video di tebing. Tanah runtuh. Instruksi dalam bahasa asing. Pulau yang tidak ada di peta.
“Kalau dia bisa berkomunikasi bebas dengan mereka,” gumam Anna, “berarti sejak awal dia bukan tamu.”
“Berarti salah satu dari kita memang tuan rumah,” kata Daniel.
Ketakutan itu kini bergeser, Perlahan, Ke arah Bu Dewi.
Anna berdiri. “Kita harus cari yang lain.”
Lampu berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Lalu gelap.
Genset mati tepat pukul sebelas. Tak ada cahaya, Tak ada sinyal, Hanya suara laut yang terdengar lebih dekat. Mereka keluar kamar dengan cahaya ponsel seadanya.
Ruang tengah kosong. Sofa tempat Surya berbaring tadi… kosong. Perban dan handuk tergeletak di lantai.
“Surya?” suara Daniel meninggi.
Erangan pelan terdengar dari arah dapur. Mereka berlari. Surya terduduk di lantai dekat meja makan.
“Aku dengar ada yang masuk ke ruang tengah,” katanya terengah. “Cuma bayangan.”
“Rudi di mana?” tanya Anna.
Belum sempat Surya menjawab…. Pintu belakang terbuka perlahan. Angin malam menerobos masuk.
Siluet seseorang berdiri di ambang pintu. Tak bergerak, Tak bersuara.
“Rudi?” Daniel mencoba.
Sosok itu melangkah masuk.
“Tidak ada yang boleh keluar malam ini.”
Itu Bu Dewi. Suaranya lembut. Di belakangnya, Markus berdiri setengah bayangan. Tegak, Patuh. Malam belum berakhir. Dan sekarang mereka tahu… Besok bukan sekadar hari biasa. Besok sudah direncanakan.
Other Stories
Gm.
menakutkan. ...
Wajah Tak Dikenal
Ketika Mahesa mengungkapkan bahwa ia mengidap prosopagnosia, ketidakmampuan mengenali waja ...
Blind
Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...
The Truth
Seth Barker, jurnalis pemenang penghargaan, dimanfaatkan CEO Kathy untuk menghadapi perebu ...
Kepingan Hati Alisa
Menurut Ibu, dia adalah jodoh yang sudah menemani Alisa selama lebih dari lima tahun ini. ...
Langit Di Atas Warteg Bu Sari
hari libur kita ngapain yaa ...