Bab 8 Pelarian
Langkah kaki itu menjauh.
Sunyi kembali merayap masuk. Hanya napas mereka yang tersengal dan nyala kecil lampu minyak yang bergetar di sudut ruangan. Beberapa detik tak ada yang bicara. Rudi yang pertama bergerak. Ia menggeser tubuhnya, merasakan kekencangan tali di pergelangan tangannya.
“Kursinya kayu,” bisiknya. “Dan kita punya api.”
Daniel menoleh tajam. “Kamu mau membakar tempat ini?”
“Bukan tempatnya. Talinya.”
Pandangan mereka serempak tertuju pada lampu minyak kecil di lantai. Berisiko. Tapi itu satu-satunya cara. Dengan susah payah mereka menggeser kursi mendekat. Kaki kursi berderit pelan di lantai semen. Setiap bunyi kecil terasa seperti teriakan di tengah malam.
“Pelan,” gumam Rudi. “Kalau mereka dengar…”
Tali pertama disentuhkan ke nyala api. Bau serat terbakar perlahan memenuhi ruangan. Api sempat menjilat lebih tinggi. Rudi memiringkan pergelangan tangannya, menahan panas yang mulai menyengat kulit. Satu helai putus. Lalu yang lain. Akhirnya…tali itu lepas.
Rudi segera menekan api yang membesar dengan sisi kursinya. Asap tipis mengepul. Tanpa membuang waktu, ia membantu Daniel. Beberapa menit kemudian mereka semua bebas. Kecuali Surya. Surya mencoba berdiri, tapi wajahnya langsung meringis. Kakinya tak mampu menopang tubuhnya.
“Kita harus keluar,” bisik Anna.
“Dobrak pintu pakai kursi?” tanya Daniel.
“Jangan. Terlalu berisik. Mereka mungkin masih berjaga,” sahut Rudi siaga.
“Kita harus keluar dari pulau ini. Cari bantuan,” ujar Evelyn, tangannya masih gemetar.
Anna mengedarkan pandangan ke seluruh gudang. Di dinding belakang, tepat di atas rak tua, ada ventilasi kecil, lubang persegi dengan kisi kayu yang sudah lapuk.
“Itu jalan keluar kita.”
Dua kursi disusun. Daniel berdiri paling bawah, Rudi memanjat bahunya. Kayu ventilasi didorong perlahan. Retak. Satu papan terlepas. Udara malam menyusup masuk. Rudi naik lebih dulu, lalu berbalik membantu yang lain. Evelyn berikutnya, tangannya gemetar tapi berhasil. Anna menyusul. Tinggal Daniel dan Surya.
“Pergi,” kata Surya pelan. “Kalau kalian berhasil… kembali bawa bantuan.”
Tak ada waktu untuk debat. Daniel akhirnya naik. Mereka turun ke halaman belakang vila dengan napas tertahan. Tanah lembap, bau laut makin kuat. Langit masih gelap, tapi warnanya mulai berubah, seolah malam sedang retak perlahan.
Mereka mengendap menyusuri dinding vila. Tiba-tiba sorot senter menyapu halaman. Itu Maria. Ia berjalan pelan, seperti sedang berpatroli. Daniel berhenti. Menoleh pada yang lain.
“Terus. Aku alihkan perhatiannya.”
Ia sengaja menginjak ranting kering. Suara patahnya memecah sunyi. Maria menoleh dan berjalan menuju sumber suara, mengoceh dalam bahasa lokal. Daniel berlari ke arah berlawanan. Senter mengejarnya. Anna, Rudi, dan Evelyn terus bergerak memutari vila menuju depan. Tiba-tiba dari sisi taman Markus muncul, menghadang. Rudi tanpa ragu mendorong Anna dan Evelyn.
“Lari!”
Ia menabrak Markus. Tubuh mereka berguling di tanah. Anna tak sempat menoleh. Ia meraih tangan Evelyn dan berlari. Namun beberapa langkah kemudian Evelyn tersandung batu taman dan jatuh keras.
“Aku nggak bisa…” suaranya pecah.
Langkah kaki berat terdengar mendekat.
Evelyn merogoh sakunya dan menyodorkan ponselnya pada Anna.
“Di galeri. Jangan hapus apa pun. Kalau aku nggak… kamu yang bawa ini.”
“Kita pergi sama-sama,” Anna menggeleng.
Evelyn mendorongnya.
“Pergi! Seseorang harus berhasil keluar dari pulau ini!”
Markus muncul di tikungan. Anna berbalik dan berlari menuju halaman depan. Dan di sana… Bu Dewi berdiri beberapa meter di depannya. Angin laut menggerakkan ujung rambutnya. Tangannya kosong. Wajahnya tidak marah. Tidak panik. Melainkan tenang.
“Kamu cepat juga,” katanya lirih.
Anna terengah. Keringat dan debu menempel di wajahnya.
“Yang lain tidak akan sejauh kamu.”
Anna mundur satu langkah.
“Saya harus pergi.”
“Kamu memang selalu pergi,” suara Bu Dewi tetap datar. “Lima tahun lalu juga begitu.”
Anna menelan ludah. “Itu kecelakaan.”
“Anak saya juga bukan sengaja berada di sana.”
Sunyi. Hanya ombak memecah pantai di kejauhan.
“Kamu tahu apa yang paling menyakitkan?” tanya Bu Dewi. “Bukan karena dia tertabrak. Tapi karena kamu melihatnya… dan memilih pergi.”
“Saya takut,” bisik Anna.
“Dan saya?” Mata Bu Dewi akhirnya berubah. Bukan marah, tapi Kosong. “Saya setiap hari takut membuka pintu rumah yang sudah tidak lagi berisi suaranya.”
Angin makin kencang. Bau asin laut menusuk.
“Kamu mau pke pergi dari sini?” tanya Bu Dewi pelan.
Jantung Anna berdegup keras.
“Kamu boleh coba. Tapi kamu tetap harus hidup dengan ini.”
“Kalau saya selamat,” Anna menatapnya, “saya akan kembali. Dengan polisi.”
Bu Dewi tertawa kecil. “Kamu pikir ini soal hukum?”
Beberapa detik mereka saling menatap. Lalu, Anna berbalik dan berlari. Pasir terhambur. Bu Dewi menyusul.
Anna mencapai dermaga kecil. Perahu bermesin terikat miring karena air surut. Tangannya gemetar saat melepaskan simpul. Langkah kaki mendekat. Tiba-tiba sebuah tangan menarik bahunya. Mereka jatuh ke pasir basah. Perkelahian itu kasar. Tidak indah. Hanya dorong, tarik, kuku yang mencakar, napas yang pecah. Ombak membasahi kaki mereka. Anna menendang pasir ke wajah Bu Dewi. Cukup, Ia merangkak ke perahu dan menarik dirinya naik. Mesin diputar. Sekali.
Tidak hidup. Kedua kali, Masih mati. Bu Dewi berdiri di air setinggi mata kaki.
“Lihat kamu,” katanya lirih. “Masih lari.”
Ketiga kali… Mesin menyala, Perahu bergerak menjauh.
Namun Bu Dewi mengejar dan mencengkeram sisi perahu. Ia terseret, lalu berhasil naik. Mereka kembali bergumul di atas perahu yang melaju tak stabil.
“Apa yang Anda inginkan?” jerit Anna.
“Aku ingin kalian mengakui kesalahan dan menerima hukuman!”
Ombak besar menghantam, Perahu oleng. Miring. Lalu terbalik. Air laut menelan mereka. Anna berenang ke permukaan. Perahu tak jauh darinya. Ia berenang dan berhasil naik kembali. Tapi Bu Dewi tidak terlihat. Anna mencoba menyalakan mesin, Tak menyala. Angin makin dingin. Ia mencoba lagi. Tetap mati. Perahu kini hanya terapung. Laut membentang tanpa batas. Ufuk timur memerah tipis, Hampir subuh.
Anna sendirian.
Semburat merah menyapu langit saat ia mengerjap. Mungkin ia sempat tertidur. Laut terasa berbeda. Di kejauhan dia bisa melihat daratan. Ombak mungkin menyeretnya mendekat.
Harapan.
Dengan sisa tenaga, Anna mengayuh perahu menggunakan kedua tangannya. Perlahan daratan makin jelas. Akhirnya…. ia sampai. Begitu menjejak darat, ia berlari menuju undakan beton menuju landasan kecil. Di sana sinyal seharusnya lebih kuat. Ia merogoh sakunya. Ponselnya mati total.
Sial.
Ia teringat ponsel Evelyn, ia merogohnya, Masih hidup. Baterai 20%. Anna menatap layar ponsel Evelyn, ini bukan miliknya, Tidak ada nama yang bisa ia sentuh begitu saja. Ia menarik napas panjang. Nomor itu.. Masih ia hafal. Tangannya gemetar saat mengetik satu per satu digit yang sudah lima tahun sering ia hubungi.
Raka.
Seorang Pilot helikopter sipil,
Orang yang meninggalkannya begitu saja tanpa penjelasan. Orang yang selalu bilang, “Kalau kamu tersesat, kirim koordinat. Aku yang jemput.”
Ironis.
Anna mencoba menelepon. Sinyal putus-nyambung. Ia mengetik pesan dengan tangan gemetar. Pesan singkat terkirim:
Raka, ini aku Anna. Aku di pulau Watu Lenga. Tolong. Banyak korban. Cepat.
Ia menekan tombol berbagi lokasi. Sinyal muncul – hilang - muncul lagi. Terkirim. Annn menunggu, tidak ada balasan. Baterai 15%. Anna mencoba menelepon. Nada sambung terdengar terputus-putus, seperti napas yang sekarat.
“Angkat… angkat…” gumamnya.
Panggilan gagal. Ia mengirim pesan kedua.
Kalau kamu baca ini, tolong kirim bantuan. Tolong percya aku.
Baterai 8%. Layar mulai meredup. Ia menatapnya seolah bisa memaksa jawaban keluar dari sana. Tidak ada. Hanya tanda centang satu. Baterai 5%. Anna duduk di beton landasan kecil itu. Angin laut berembus dingin. Tubuhnya gemetar, bukan hanya karena lelah. Ia menatap laut yang tadi hampir menelannya.
“Jangan sekarang…” bisiknya pada ponsel di tangannya.
2%.
Layar berkedip, Gelap, Ponsel mati.
Sunyi.
Tidak ada pesan balasan. Tidak ada dering. Tidak ada tanda siapa pun menerima teriakannya. Harapan itu seperti ditarik perlahan dari dadanya. Anna menunduk. Tenaganya habis. Tubuhnya terasa kosong. Ia sudah sejauh ini, melewati laut, melewati ketakutan, melewati masa lalu yang menghantuinya. Dan tetap saja… ia sendirian. Langit perlahan berubah warna. Siang datang tanpa membawa jawaban. Waktu berjalan lambat. Matahari naik. Panas mulai menyengat. Bibirnya kering. Kepalanya berdenyut.
Sore menjelang saat pandangannya mulai berkunang-kunang. Mungkin ini akhirnya, pikirnya samar. Ia hampir tak sadar ketika suara itu datang. Awalnya hanya dengung jauh, Seperti lebah besar di langit. Anna membuka mata setengah. Dengung itu semakin jelas. Bukan satu. Tapi Dua.
Dua helikopter menyisir garis pantai dari arah berlawanan. Anna memaksa dirinya berdiri. Tangannya terangkat lemah, melambai. Salah satu helikopter menurunkan ketinggian. Yang lain terus bergerak memutari pulau, menyisir area hutan dan laut. Angin dari baling-baling menerpa keras. Pasir beterbangan. Pintu samping terbuka. Seorang petugas turun lebih dulu, berlari menghampirinya.
“Nama Anda Anna?”
Ia mengangguk lemah.
“Tim kedua menuju koordinat yang Anda kirim. Ada berapa orang di sana?”
“Masih… ada yang tertahan… di vila… gudang…” suaranya hampir hilang.
Ia diangkat masuk. Saat tubuhnya dibaringkan di kursi dalam kabin, ia melihat ke depan. Di kokpit helikopter kedua yang mendarat tak jauh dari sana, Helm pilot itu terangkat. Wajah yang ia kenal.
Raka.
Beberapa menit kemudian, helikopter yang membawa Anna mulai naik. Di udara, melalui headset yang dipasangkan di telinganya, suara itu terdengar.
“Anna?”
Suara Raka. Sedikit terdistorsi oleh radio, tapi tetap jelas.
Anna memejamkan mata sesaat.
“Maaf,” katanya pelan. “Aku nggak tahu harus menghubungi siapa.”
Hening sepersekian detik.
“Kamu hafal nomorku,” jawab Raka.
Bukan marah. Bukan juga lembut. Hanya datar.
Anna menelan ludah. “Aku nggak pernah lupa.”
Angin mengguncang kabin sebentar.
“Maaf,” ulangnya. “Aku nggak bermaksud menyeretmu lagi.”
Di radio terdengar napas Raka.
“Seharusnya aku yang minta maaf.”
Anna membuka mata.
“Aku memutuskan pertunangan kita begitu saja,” lanjutnya. “Sebulan lalu.”
Jantung Anna terasa jatuh lagi.
“Bukan karena aku berubah pikiran. Ada yang datang menemuiku. Menawarkan uang. Banyak sekali.”
Anna terdiam.
“Dengan satu syarat. Aku harus meninggalkanmu.”
“Siapa?” suara Anna nyaris tak terdengar.
Hening sesaat.
“Seorang wanita,” jawab Raka. “Namanya Santi.”
Nama itu menghantam lebih keras daripada ombak semalam.
Santi.
Bu Dewi.
Anna tak berkata apa-apa lagi. Di luar jendela, pulau itu makin kecil.
Raka kembali berbicara, suaranya lebih rendah.
“Aku bodoh. Harusnya aku curiga. Tapi aku pikir… mungkin memang itu yang terbaik untukmu.”
Anna memandang langit yang memucat sore itu.
Untuk pertama kalinya, ia tidak ingin lari. Namun juga tidak tahu harus kembali ke mana. Helikopter terus menjauh.
Dan pulau itu tertinggal di belakang.
Epilog
Beberapa hari setelah penyelamatan itu, Pulau Watu Lenga menjadi berita nasional. Tim gabungan menyisir seluruh area. Vila, gudang, hutan, garis pantai. Semua korban ditemukan.
Surya selamat meski harus menjalani operasi.
Rudi dan Daniel dirawat karena luka-luka.
Evelyn menjadi saksi utama dalam penyelidikan. Dan satu nama disebut dengan nada berat di setiap laporan: Nadia. Tubuhnya ditemukan di sisi utara pulau.
Namun satu nama tidak pernah masuk dalam daftar korban.
Santi.
Atau yang dikenal sebagai Bu Dewi.
Pencarian dilakukan berhari-hari. Penyelam turun hingga kedalaman maksimal di sekitar dermaga tempat perahu terbalik. Pantai diperiksa. Hutan disisir. Tidak ada jasad. Bukan karena tak dicari. Karena memang tidak ada.
Santi dinyatakan hilang.
Beberapa orang percaya ia tenggelam.
Beberapa yakin arus laut membawanya jauh. Namun bagi Anna, ada satu kemungkinan lain yang jauh lebih nyata. Ia selamat.
Dan di suatu tempat….. ia masih hidup.
TAMAT
Other Stories
Breast Beneath The Spotlight
Di tengah mimpi menjadi idol K-Pop yang semakin langka dan brutal, delapan gadis muda dari ...
315 Kilometer [end]
Yatra, seorang pegawai kantoran di Surabaya, yang merasa jenuh dengan kehidupan serba hedo ...
Hanya Ibu
kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...
Liburan Ke Rumah Nenek
Affandi, remaja gaul berusia 18 tahun tak dapat berlibur ke lain tempat seperti biasa. Lib ...
The Unkindled Of The Broken Soil
Di dunia yang terpecah belah dan terkubur di bawah abu perang masa lalu, suara adalah keme ...
Always In My Mind
Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...