Bab 7 Lima Tahun Lalu
Anna refleks mundur beberapa langkah.
Daniel mengangkat senter ponselnya lebih tinggi, berusaha menembus gelap yang tiba-tiba terasa lebih pekat.
Evelyn yang berdiri tak jauh dari Daniel mendadak ditarik kasar oleh Markus. Sebuah tangan mencengkeram lehernya, sementara tangan lain mengeluarkan benda tajam yang berkilat samar terkena cahaya.
Evelyn menjerit.
“A-apa maksud semua ini?” tanya Daniel, suaranya bercampur bingung dan takut.
“Jangan ada yang mencoba melawan,” ucap Bu Dewi. Suara yang biasanya lembut kini berubah dingin dan tajam. “Atau dia akan menjadi korban berikutnya.”
“Apa yang Anda inginkan?” tanya Anna. Ponsel di tangannya bergetar.
“Kalian akan berbaris dan mengikuti Maria. Jangan banyak tanya. Jangan melawan.”
Maria yang sejak tadi berdiri di belakang Markus kini melangkah maju, memberi isyarat agar mereka mengikutinya.
“Tunggu… bagaimana dengan Surya? Dia tidak bisa berjalan,” ujar Anna.
“Salah satu dari kalian memapahnya,” jawab Bu Dewi santai.
Daniel segera meraih Surya dan menopang tubuhnya. Mereka berjalan menyusuri koridor di bawah tangga, melewati dapur yang kini terasa asing, lalu berbelok ke sebuah ruangan di sudut. Sebuah pintu kecil di samping lemari penyimpanan dibuka. Bau kayu lembap dan debu langsung menyergap.
Gudang.
Di dalamnya, lampu minyak kecil menyala redup, cukup untuk memperlihatkan satu sosok yang duduk di kursi.
Rudi.
Tangannya terikat ke belakang. Mulutnya tak disumpal, tetapi ia tampak terlalu terkejut untuk berbicara.
“Maaf,” ucap Bu Dewi lembut. “Saya tidak bisa mengambil risiko.”
Anna mundur satu langkah. “Ini gila…”
“Tidak,” jawab Bu Dewi pelan. “Ini hanya tertunda lima tahun.”
Markus, setelah melepaskan cengkeramannya dari leher Evelyn, berdiri di ambang pintu, menutup satu-satunya jalan keluar.
“Awalnya saya hanya ingin kalian mengakui,” lanjut Bu Dewi lirih. “Mengatakan yang sebenarnya. Tapi tampaknya… tidak ada yang berubah.”
Tatapannya berpindah ke Daniel.
Lalu ke Surya.
Kemudian berhenti sedikit lebih lama pada Evelyn.
“Besok adalah hari hukuman,” katanya. “Dan tidak ada yang boleh meninggalkan pulau sebelum itu selesai.”
Tenggorokan Anna terasa kering.
“Pulau ini milik suami saya,” Bu Dewi melanjutkan. “Tapi malam ini… pulau ini milik saya.”
Sunyi. Hanya suara ombak yang terdengar samar dari kejauhan. Dan detak jantung mereka masing-masing. Satu per satu, mereka diikat ke kursi.
Rudi akhirnya angkat bicara, suaranya serak. “Apa yang Anda lakukan ini tidak akan mengembalikan siapa pun.”
Wajah Bu Dewi tetap datar.
“Benar,” katanya pelan. “Tapi mungkin bisa menyeimbangkan.”
“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Anda melakukan ini?” tanya Anna.
“Ingat yang saya ceritakan tentang kejadian lima tahun lalu? Peristiwa tabrak lari itu?” suara Rudi terdengar berat.
“Itu masalahku. Apa kaitannya dengan ini?” Rahang Daniel mengeras.
“Bukan,” Rudi menggeleng lemah. “Itu bukan hanya masalah kita berdua. Itu masalah semua orang di sini.”
“Maksudnya?” tanya Evelyn, suaranya gemetar.
Bu Dewi melangkah mendekat.
“Lima tahun yang lalu,” katanya pelan, menatap Anna tajam, “apakah kamu ingat pernah mendorong seorang gadis kecil ke jalan?”
Anna menutup mulutnya. Memori itu kembali. jelas, kejam.
Ia sedang bertengkar dengan pacarnya. Emosinya meledak. Seorang gadis kecil menabraknya. Refleks, Anna mendorongnya. Gadis itu terjatuh ke jalan. Sebuah mobil hitam melintas. Anna membeku. Mobil itu tak berhenti. Tubuh kecil itu masih bernapas, tapi penuh luka. Pacar Anna yang menyaksikan kejadian itu segera menariknya pergi.
“Itu… anak Anda?” tanya Anna dengan suara bergetar.
Bu Dewi tak menjawab. Namun kebencian di matanya lebih dari cukup.
“Saya tidak sengaja…” bisik Anna.
“Kamu membuat saya kehilangan anak saya,” suara Bu Dewi bergetar. “Kalian semua.”
Evelyn memekik pelan. “Aku… pernah membuat konten candaan tentang tabrak lari itu…”
“Dan Nadia,” lanjut Anna perlahan, mencoba menyusun kepingan yang tersisa, “dia petugas medis yang menanganinya, bukan? Dia yang seharusnya menyelamatkan anak Anda… tapi gagal. Lalu Anda membunuhnya?”
“Nadia menyadari bahwa saya bukan sekadar Bu Dewi,” jawabnya dingin. “Sejak makan malam pertama. Dia tahu saya adalah ibu dari Alya. Dia merasa bersalah dan ingin pergi. Apa yang terjadi setelah itu… kecelakaan.”
“Semua orang di sini bersalah,” kata Surya tiba-tiba. “Tapi aku? Apa salahku? Aku bahkan tidak tahu soal tabrak lari itu.”
Bu Dewi menoleh perlahan.
“Mungkin Anda tidak ingat, Pak Surya. Lima tahun lalu saya tinggal di rumah kontrakan di sebelah Anda. Malam itu saya diusir. Di depan pintu kontrakan saya ditemukan botol-botol minuman keras. Bukan sekali, tapi berulang kali. Saya mencoba menjelaskan, tapi tidak ada yang percaya.”
Suara Bu Dewi mulai bergetar.
“Sampai akhirnya saya tahu… Anda yang selalu meletakkannya di sana. Jika saya tidak diusir malam itu, saya akan berada di rumah. Anak saya tidak akan keluar sendirian. Anak saya tidak akan meninggal.”
Wajah Surya memucat. “Anda… Ibu Santi? Dan anaknya… Alya? bagaimana... anda terlihat sangat berbeda”
“Saya tidak berkewajiban menjelaskan perubahan hidup saya kepada Anda, Pak Surya.”
Ia memberi isyarat kecil pada Markus. Pintu gudang ditutup. Kunci diputar dari luar. Gelap kembali menyelimuti mereka. Hanya lampu minyak kecil yang menyala goyah, seolah bisa padam kapan saja. Dan untuk pertama kalinya, Mereka bukan lagi sekadar terisolasi.
Mereka ditahan.
Other Stories
After Honeymoon
Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia berpik ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Mewarnai Bawah Laut
ini adalah buku mewarnai murah dan meriah untuk anak kelas 4 sd ...
Kelabu
Kulihat Annisa tengah duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai bersama seorang anak ...
Always In My Mind
Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...