1. Izin Bapak
Setelah pembagian rapor lalu datang ke sekolah sesekali untuk memperbaiki nilai, akhirnya liburan sekolah pun tiba. Pengumuman yang diberikan membuat hampir seluruh siswa bersorak bahagia–ada yang memang akan lulus, ada juga yang naik kelas.
Nindari salah satunya. Ia merupakan siswi yang naik kelas. Begitu diperbolehkan pulang, ia bersenandung kecil sepanjang jalan karena liburan yang dinantikan sudah di depan mata. Setelah melewati masa-masa ujian yang membuat pikirannya pusing ditambah kegiatan di sekolah yang kadang membuatnya tak semangat. Ia membayangkan menikmati libur panjang tanpa halangan sebab dihari libur biasanya terasa berlalu sangat cepat. Tau-tau hari Senin lalu ikut upacara, jadi untuk libur kali ini akan ia manfaatkan dengan baik–sangat-sangat baik.
Sampai di depan rumah, Nindari langsung mencari ibunya yang ternyata sedang mengangkat jemuran. Ia langsung menghampiri dan ibu hampir membuang baju ditangannya dengan kedatangan Nindira yang tiba-tiba sambil tersenyum lebar.
"Kamu masih Nindari kan? Bikin ibu kaget saja?" Ibu menggeleng lanjut mengangkat jemuran daripada memperhatikan keanehan sang anak.
"Buuu... aku senang," jawab Nindari menyalami ibu sambil membantu mengangkat jemuran yang tersisa.
"Ooh kamu dapat hadiah apa?" tanya ibu duduk setelah menyimpan jemuran.
"Bukan bu, senang itu bukan hanya dapat hadiah kan."
"Terus apa? Ibu gak bisa nebak."
Sejenak senyuman Nindari luntur tetapi kembali setelah ia menyimpan tasnya serta jemuran di kursi yang tak jauh di samping meja. Ia mendekat pada sang ibu.
"Libur Bu, mulai besok sampai dua Minggu ke depan aku gak ke sekolah," ungkapnya bahagia.
"Kamu jadi bisa tidur seharian di kamar ya?"
Ninda terkekeh kecil. "Tau aja ibu ini tapi aku mau pergi ke tempat Bulan."
Ibu terkejut. "Bulan? Jauh banget itu, kamu mau naik apa kesana?" tanyanya.
"Pesawat? Helikopter?" lanjut ibu menebak-nebak.
"Bulan itu nama teman aku Bu," jelas Nindari agar ibu tak salah paham lagipula Nindari tak punya mimpi sampai harus pergi ke luar angkasa untuk mengabsen tata surya.
"Jauh itu namanya bulan."
"Nggak bu tapi lumayan, boleh kan Bu?" tanya Nindari memastikan.
"Ngapain kayak gak punya rumah aja kamu."
Nindari cemberut. "Ibu boleh ya-ya?" rayunya. "Bu, boleh ya?"
Ibu menghela napas. "Tanya sama bapak kamu dulu. Kalau bapak iya, ibu pikirkan lagi."
Dengan wajah tak semangat, Nindari pergi ke kamar. Mana mungkin ia tanya ke bapak sebab kalau jauh, suka tak diizinkan. Padahal dua Minggu bisa dimanfaatkan dengan berkunjung ke rumah teman soalnya kalau di rumah terus Nindari tak suka bersih-bersih apalagi di suruh, maunya atas kemauan sendiri. Sedangkan kemauan sendiri saat ada niat untuk mengumpulkannya pun sangat sulit jadi kalau berpergian mungkin rasa itu akan hilang–mungkin.
Bapaknya cukup ketat jika menyangkut berpergian keluar apalagi jauh. Padahal, ia ingin merasakan juga seperti anak lain yang kemana-mana bebas tanpa dilarang ini dan itu oleh orang tuanya.
"Bilang apa ya sama bapak?" gumamnya memikirkan cara kemudian menggeleng setelah memilih beberapa kata.
Nindari bingung menyusun kata-kata yang tepat sebab bukannya dapat izin malah dapat peringatan. Bapak Nindari tak suka jika Nindari berpergian terlalu jauh kecuali ada manfaatnya. Kali ini ada manfaatnya tapi diizinkan atau tidaknya, itu harus dipastikan dulu.
Mungkin besok Nindari akan minta izin ke bapak. Kalau diizinkan ya syukur kalau tidak... tidak, Nindari akan berusaha walau sedikit memaksa.
Nindari salah satunya. Ia merupakan siswi yang naik kelas. Begitu diperbolehkan pulang, ia bersenandung kecil sepanjang jalan karena liburan yang dinantikan sudah di depan mata. Setelah melewati masa-masa ujian yang membuat pikirannya pusing ditambah kegiatan di sekolah yang kadang membuatnya tak semangat. Ia membayangkan menikmati libur panjang tanpa halangan sebab dihari libur biasanya terasa berlalu sangat cepat. Tau-tau hari Senin lalu ikut upacara, jadi untuk libur kali ini akan ia manfaatkan dengan baik–sangat-sangat baik.
Sampai di depan rumah, Nindari langsung mencari ibunya yang ternyata sedang mengangkat jemuran. Ia langsung menghampiri dan ibu hampir membuang baju ditangannya dengan kedatangan Nindira yang tiba-tiba sambil tersenyum lebar.
"Kamu masih Nindari kan? Bikin ibu kaget saja?" Ibu menggeleng lanjut mengangkat jemuran daripada memperhatikan keanehan sang anak.
"Buuu... aku senang," jawab Nindari menyalami ibu sambil membantu mengangkat jemuran yang tersisa.
"Ooh kamu dapat hadiah apa?" tanya ibu duduk setelah menyimpan jemuran.
"Bukan bu, senang itu bukan hanya dapat hadiah kan."
"Terus apa? Ibu gak bisa nebak."
Sejenak senyuman Nindari luntur tetapi kembali setelah ia menyimpan tasnya serta jemuran di kursi yang tak jauh di samping meja. Ia mendekat pada sang ibu.
"Libur Bu, mulai besok sampai dua Minggu ke depan aku gak ke sekolah," ungkapnya bahagia.
"Kamu jadi bisa tidur seharian di kamar ya?"
Ninda terkekeh kecil. "Tau aja ibu ini tapi aku mau pergi ke tempat Bulan."
Ibu terkejut. "Bulan? Jauh banget itu, kamu mau naik apa kesana?" tanyanya.
"Pesawat? Helikopter?" lanjut ibu menebak-nebak.
"Bulan itu nama teman aku Bu," jelas Nindari agar ibu tak salah paham lagipula Nindari tak punya mimpi sampai harus pergi ke luar angkasa untuk mengabsen tata surya.
"Jauh itu namanya bulan."
"Nggak bu tapi lumayan, boleh kan Bu?" tanya Nindari memastikan.
"Ngapain kayak gak punya rumah aja kamu."
Nindari cemberut. "Ibu boleh ya-ya?" rayunya. "Bu, boleh ya?"
Ibu menghela napas. "Tanya sama bapak kamu dulu. Kalau bapak iya, ibu pikirkan lagi."
Dengan wajah tak semangat, Nindari pergi ke kamar. Mana mungkin ia tanya ke bapak sebab kalau jauh, suka tak diizinkan. Padahal dua Minggu bisa dimanfaatkan dengan berkunjung ke rumah teman soalnya kalau di rumah terus Nindari tak suka bersih-bersih apalagi di suruh, maunya atas kemauan sendiri. Sedangkan kemauan sendiri saat ada niat untuk mengumpulkannya pun sangat sulit jadi kalau berpergian mungkin rasa itu akan hilang–mungkin.
Bapaknya cukup ketat jika menyangkut berpergian keluar apalagi jauh. Padahal, ia ingin merasakan juga seperti anak lain yang kemana-mana bebas tanpa dilarang ini dan itu oleh orang tuanya.
"Bilang apa ya sama bapak?" gumamnya memikirkan cara kemudian menggeleng setelah memilih beberapa kata.
Nindari bingung menyusun kata-kata yang tepat sebab bukannya dapat izin malah dapat peringatan. Bapak Nindari tak suka jika Nindari berpergian terlalu jauh kecuali ada manfaatnya. Kali ini ada manfaatnya tapi diizinkan atau tidaknya, itu harus dipastikan dulu.
Mungkin besok Nindari akan minta izin ke bapak. Kalau diizinkan ya syukur kalau tidak... tidak, Nindari akan berusaha walau sedikit memaksa.
Other Stories
Kucing Emas
Kara Swandara, siswi cerdas, mendadak terjebak di panggung istana Kerajaan Kucing, terikat ...
Cerella Flost
Aku pernah menjadi gadis yang terburuk.Tentu bukan karena parasku yang menjaminku menjadi ...
Dante Fair Tale
Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...
Sang Maestro
Mari kita sambut seorang pelukis jenius kita. Seorang perempuan yang cantik, kaya dan berb ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Kala Menjadi Cahaya Menjemput Harapan Di Tengah Gelap
Hidup Arka runtuh dalam sekejap. Pekerjaan yang ia banggakan hilang, ayahnya jatuh sakit p ...