Prolog
Sebuah Catatan Kecil untuk Diriku Sendiri
---
Kata Pengantar: Sebuah Catatan Kecil untuk Diriku
Hari ini aku memutuskan untuk menulis. Bukan untuk orang lain, tapi untuk diriku sendiri. Untuk version diriku di masa depan yang mungkin sedang pusing, sedang marah, sedang kecewa, atau sedang merasa hidup ini nggak adil.
Aku nulis ini karena aku sadar, selama ini aku terlalu cepat mengambil kesimpulan. Kalau ada orang nyolot dikit, langsung aku nilai dia sombong. Kalau ada rencana gagal di menit terakhir, langsung aku anggap dunia ini jahat. Kalau aku sendiri melakukan kesalahan, langsung aku hancurkan diriku dengan penyesalan.
Padahal, belum tentu.
Hidup itu kayak ruangan yang dipasangin banyak cermin. Kalau kita cuma mau liat dari satu sisi aja, yang keliatan cuma satu sudut, satu bayangan. Padahal di sisi lain, ada pantulan yang beda. Ada sudut pandang lain yang mungkin nggak kelihatan kalau kita nggak mau geser sedikit.
Buku kecil ini adalah upayaku buat belajar geser. Belajar buat nengok ke kanan, ke kiri, ke belakang, bahkan belajar buat liat dari atas—dari sudut pandang yang mungkin lebih tinggi, lebih luas, lebih dekat sama cara Tuhan memandang.
Aku nulis ini sambil mbatin: semoga coretan-coretan ini bisa jadi temen di kala sepi, jadi lentera kecil di lorong gelap, jadi pengingat kalau semuanya bisa dilihat dari sisi yang berbeda.
Dan pada akhirnya, semoga dengan latihan kecil ini, aku bisa milih jalan yang bikin hatiku tenang.
Bukan tenang karena masalah ilang, tapi tenang karena aku tau cara ngadepinnya.
Bukan tenang karena semua orang baik sama aku, tapi tenang karena aku ngga gampang sakit hati.
Bukan tenang karena hidup selalu mulus, tapi tenang karena aku tau ada Dzat Yang Maha Memandang yang selalu ngeliat perjuanganku.
Selamat membaca catatan kecilku. Semoga berguna buat diriku sendiri, terutama saat aku lagi lupa.
---
Kata Pengantar: Sebuah Catatan Kecil untuk Diriku
Hari ini aku memutuskan untuk menulis. Bukan untuk orang lain, tapi untuk diriku sendiri. Untuk version diriku di masa depan yang mungkin sedang pusing, sedang marah, sedang kecewa, atau sedang merasa hidup ini nggak adil.
Aku nulis ini karena aku sadar, selama ini aku terlalu cepat mengambil kesimpulan. Kalau ada orang nyolot dikit, langsung aku nilai dia sombong. Kalau ada rencana gagal di menit terakhir, langsung aku anggap dunia ini jahat. Kalau aku sendiri melakukan kesalahan, langsung aku hancurkan diriku dengan penyesalan.
Padahal, belum tentu.
Hidup itu kayak ruangan yang dipasangin banyak cermin. Kalau kita cuma mau liat dari satu sisi aja, yang keliatan cuma satu sudut, satu bayangan. Padahal di sisi lain, ada pantulan yang beda. Ada sudut pandang lain yang mungkin nggak kelihatan kalau kita nggak mau geser sedikit.
Buku kecil ini adalah upayaku buat belajar geser. Belajar buat nengok ke kanan, ke kiri, ke belakang, bahkan belajar buat liat dari atas—dari sudut pandang yang mungkin lebih tinggi, lebih luas, lebih dekat sama cara Tuhan memandang.
Aku nulis ini sambil mbatin: semoga coretan-coretan ini bisa jadi temen di kala sepi, jadi lentera kecil di lorong gelap, jadi pengingat kalau semuanya bisa dilihat dari sisi yang berbeda.
Dan pada akhirnya, semoga dengan latihan kecil ini, aku bisa milih jalan yang bikin hatiku tenang.
Bukan tenang karena masalah ilang, tapi tenang karena aku tau cara ngadepinnya.
Bukan tenang karena semua orang baik sama aku, tapi tenang karena aku ngga gampang sakit hati.
Bukan tenang karena hidup selalu mulus, tapi tenang karena aku tau ada Dzat Yang Maha Memandang yang selalu ngeliat perjuanganku.
Selamat membaca catatan kecilku. Semoga berguna buat diriku sendiri, terutama saat aku lagi lupa.
Other Stories
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Turut Berduka Cinta
Faris, seorang fasilitator taaruf dengan tingkat keberhasilan tinggi, dipertemukan kembali ...
Dua Bintang
Bintang memang selalu setia. Namun, hujan yang selalu turun membuatku tak menyadari keha ...
Tessss
pengaplikasian doang ...
Cahaya Dari Menara Camlica
Fatimah, seorang gadis sederhana asal Jakarta, tidak pernah menyangka bahwa sujud-sujud pa ...
Kepingan Hati Alisa
Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...