Sudut Pandang

Reads
90
Votes
0
Parts
7
Vote
Report
Penulis Rahanda Putra Purnama

Bab 2: Memandang Yang Lain: Cermin Untuk Diri Sendiri

Dari Menghakimi Hingga Memahami

Salah satu sumber kegelisahan terbesar dalam hidupku adalah manusia lain. Iya, manusia. Yang kadang bikin bete, bikin gregetan, bikin pengin misahin diri ke pulau terpencil.

Contoh paling gampang: pas lagi di jalan. Ada pengendara motor yang ugal-ugalan nyelip kanan kiri, bikin aku hampir jatuh. Reaksi pertama? "Dasar ngga tau aturan! Mati aja lo sana!"

Atau pas lagi di kantor. Ada temen yang ngga nyapa duluan pas papasan. Langsung muncul pikiran: "Dia sombong banget sih, ngga tau diri, gue kan udah bantuin dia kemaren-kemaren."

Atau yang paling sering: pas lagi diskusi sama keluarga. Ada pendapat yang beda, langsung berantem. "Kalian ngga ngerti apa-apa! Gue yang paling bener!"

Nah, habis marah-marah gitu, biasanya datang efek samping: hati ngga enak, dada sesak, pengin nangis tapi ngga tau kenapa. Itu tandanya, amarah yang diluapkan ngga bikin lega, malah bikin tambah sesak.

Padahal, Rasulullah udah ngasih tau resep simpel:

اَحَبُّ الدِّيْنِ اِلَى اللَّهِ الْحَنِيْفِيَّةُ السَّمْحَةُ
"Agama yang paling dicintai di sisi Allah adalah agama yang lurus dan toleran." (HR. Bukhari secara mu'allaq dalam Al-Adab Al-Mufrad)

Toleran di sini bukan berarti aku harus setuju sama semua orang. Bukan. Tapi toleran itu artinya lapang dada. Ngga cepet ngambek. Ngga gampang nyalahin.

Belakangan ini aku belajar buat ngasih "pembelaan" duluan sebelum nge-judge orang. Misalnya pas liat motor ugal-ugalan tadi, aku coba mikir: "Mungkin dia lagi buru-buru bawa istri mau melahirkan. Mungkin dia lagi ada keluarga sakit yang perlu cepet ditolong."

Atau pas temen kantor ngga nyapa, aku coba mikir: "Mungkin dia baru ditegur bos, jadi pikirannya lagi kemana-mana. Mungkin dia lagi punya hutang banyak dan bingung nutupnya."

Atau pas keluarga beda pendapat, aku coba mikir: "Mungkin mereka juga sayang sama aku, cuma cara ngungkapinnya aja beda. Mungkin mereka punya pengalaman yang belum aku alami, jadi wajar kalau pendapatnya beda."

Hasilnya? Aneh tapi nyata: dadaku lebih lega. Aku ngga perlu bawa-bawa beban marah seharian. Aku ngga perlu begadang mikirin "kenapa sih dia jahat banget sama gue?"

Ternyata, ngebela orang lain dikit aja di pikiran, bisa ngebela diri sendiri dari stres berkepanjangan.

Pelajaran dari Lima Pandangan yang Mulia

Ada satu hadis yang baru-baru ini aku baca dan bikin merenung. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bilang:

خَمْسٌ مِنَ الْعِبَادَةِ: النَّظْرُ فِى الْمُصْحَفِ، وَالنَّظْرُ إِلَى الْكَعْبَةِ، وَالنَّظْرُ إِلَى الْوَالِدَيْنِ، وَالنَّظْرُ فِى زَمْزَمَ، وَالنَّظْرُ فِى وَجْهِ الْعَالِمِ
"Ada lima hal yang termasuk ibadah: memandang mushaf (Al-Qur'an), memandang Ka'bah, memandang kedua orang tua, memandang (air) Zamzam, dan memandang wajah seorang alim (ulama)." (HR. As-Suyuthi dalam Jami' ash-Shaghir)

Hadis ini ngajarin aku bahwa aktivitas memandang itu ternyata ngga netral. Cara kita memandang sesuatu bisa nentuin nilai ibadah atau nggaknya.

Bayangin, kalau kita liat orang tua dengan pandangan yang kesel, gondok, males, itu beda banget sama kalau kita liat mereka dengan pandangan yang penuh sayang, hormat, dan inget jasa-jasa mereka. Padahal objeknya sama, tapi niat dan cara pandangnya yang beda.

Begitu juga sama manusia lain. Kalau aku liat orang dengan pandangan curiga, merendahkan, atau benci, itu bukan cuma bikin hubungan jelek, tapi juga bikin pahala ilang. Tapi kalau aku liat orang dengan pandangan positif—mencari kebaikan di dalamnya, ngasih udzur, mendoakan—itu bisa jadi ibadah.

Rasulullah aja ngajarin kita buat liat orang dari sisi baiknya. Beliau bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ
"Jauhilah prasangka, karena prasangka itu sedusta-dusta perkataan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Aku jadi inget, berapa banyak pertengkaran yang terjadi cuma karena prasangka? Berapa banyak hati yang terluka cuma karena salah paham? Dan semuanya bermula dari cara pandang yang salah.

Latihan Kecil untuk Hari Ini:

Hari ini, kalau ada orang yang bikin aku kesel, aku coba tunda dulu reaksinya. Ambil napas. Lalu tanya ke diri sendiri: "Mungkin dia kenapa ya?" Bukan "Kenapa dia jahat sama gue?" Tapi "Mungkin ada apa dengan dia?"

Beda tipis, tapi hasilnya beda jauh.

Other Stories
Tiada Cinta Tertinggal

Kehadiran Aksan kembali membuat Tresa terusik, teringat masa lalu yang ingin ia lupakan, m ...

Bagaimana Jika Aku Bahagia

Sebuah opini yang kalian akan sadari bahwa memilih untuk tidak bahagia bukan berarti hancu ...

Kepingan Hati Alisa

Menurut Ibu, dia adalah jodoh yang sudah menemani Alisa selama lebih dari lima tahun ini. ...

Ilusi Yang Sama

Jatuh cinta pada wanita yang selalu tersakiti, Rian bertekad menjadi pria yang berbeda. Na ...

Impianku

ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...

Cinta Di Ibukota

Sari, gadis desa yang polos, terjerat dalam hubungan berbahaya dengan fotografer ambisius ...

Download Titik & Koma