Bab 3: Memandang Diri: Menerima Dan Mengelola
Ketika Dunia Tidak Ramah, Jadilah Rumah untuk Dirimu
Ada masa-masa di mana dunia rasanya ngga ramah sama sekali. Pagi udah badmood, siang makin parah, malem tambah runyam. Semua orang kayak musuh, semua omongan kayak hinaan, semua kejadian kayak konspirasi buat nyiksa kita.
Di masa-masa kayak gitu, biasanya yang paling keras nyiksa adalah diri sendiri. "Gue emang ngga berguna. Gue selalu gagal. Gue beban buat orang lain." Suara hati yang kejam banget.
Padahal, Allah sendiri udah ngelarang kita buat nyiksa diri:
وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
"Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu." (QS. An-Nisa: 29)
Waktu baca tafsirnya, Imam Al-Qurthubi bilang kalau ayat ini ngga cuma ngelarang bunuh diri secara fisik, tapi juga ngelarang kita menyakiti jiwa, membiarkan diri larut dalam kesedihan, atau terlalu keras pada diri sendiri.
Berarti, kalau aku terus-terusan nyalahin diri, ngga mau maafin kesalahan sendiri, ngomelin diri dengan kata-kata kasar—itu termasuk bentuk "membunuh diri" juga? Kayaknya iya.
Rasulullah juga ngingetin:
إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا
"Sesungguhnya Tuhanmu memiliki hak atasmu, dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu." (HR. Bukhari)
Nah, hak diri ini apa aja? Istirahat cukup, makan enak, ngasih waktu buat healing, ngomong baik-baik sama diri sendiri. Selama ini aku sering ngabaikan hak diri sendiri. Kerja terus, ngga kenal lelah, kalau salah dihajar habis-habisan. Ngga heran kalau akhirnya burnout.
Sekarang aku lagi belajar buat jadi "rumah" buat diri sendiri. Rumah itu tempat berlindung, tempat nyaman, tempat pulang. Kalau di luar lagi keras, rumah harusnya jadi tempat yang hangat. Nah, aku pengen jadi rumah itu buat diriku sendiri. Bukan jadi hakim yang kejam, tapi jadi tempat pulang yang menerima.
Memaafkan Diri, Jalan Menuju Lapang
Ini yang paling susah: memaafkan diri sendiri. Gampang banget ngomongin maafin orang lain, tapi kalau urusan sama diri sendiri? Waduh, tahanan seumur hidup.
Dulu aku pernah bikin kesalahan fatal di kantor. Sampai bikin proyek gagal dan perusahaan rugi. Udah dimaafin sama bos, udah dimaafin sama tim, tapi aku sendiri ngga bisa maafin diriku. Setiap malem, sebelum tidur, aku selalu inget kejadian itu. Ngenangin detailnya. Nyalahin diri lagi dan lagi.
Akibatnya? Tidur ngga nyenyak. Produktivitas turun. Stres naik. Hubungan sama orang lain jadi kacau karena aku bawa-bawa perasaan bersalah kemana-mana.
Sampai suatu hari aku baca ayat ini:
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
"Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu." (QS. Al-Baqarah: 185)
Ayat ini kayak nyamperin aku: "Lo pikir siapa yang paling berhak ngatur hidup lo? Lo atau Allah?"
Kalau Allah aja udah maafin, udah ngasih kemudahan, udah ngga mau nyusahin hamba-Nya, kok aku malah maksa diri buat terus-terusan susah dengan penyesalan?
Dari situ aku belajar: memaafkan diri itu bukan berarti ngeremehin dosa atau kesalahan. Tapi ngakui kalau aku manusia, aku pernah salah, dan aku punya hak buat maju. Aku punya hak buat ngga terus-terusan dipenjara sama masa lalu.
Allah itu Maha Pengampun. Kalau Dia aja bisa ngampunin dosa sebesar apapun, kenapa aku ngga bisa ngampunin kesalahan kecilku sendiri?
Latihan Kecil untuk Hari Ini:
Setiap kali suara hati mulai nyalahin, aku coba jawab dengan lembut: "Aku tau kamu kecewa, tapi aku lagi berusaha. Ngga apa-apa kalau belum sempurna."
Dan kalau inget kesalahan masa lalu, aku coba bilang: "Udah, itu dulu. Sekarang beda. Aku udah belajar, aku udah berubah."
Ada masa-masa di mana dunia rasanya ngga ramah sama sekali. Pagi udah badmood, siang makin parah, malem tambah runyam. Semua orang kayak musuh, semua omongan kayak hinaan, semua kejadian kayak konspirasi buat nyiksa kita.
Di masa-masa kayak gitu, biasanya yang paling keras nyiksa adalah diri sendiri. "Gue emang ngga berguna. Gue selalu gagal. Gue beban buat orang lain." Suara hati yang kejam banget.
Padahal, Allah sendiri udah ngelarang kita buat nyiksa diri:
وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
"Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu." (QS. An-Nisa: 29)
Waktu baca tafsirnya, Imam Al-Qurthubi bilang kalau ayat ini ngga cuma ngelarang bunuh diri secara fisik, tapi juga ngelarang kita menyakiti jiwa, membiarkan diri larut dalam kesedihan, atau terlalu keras pada diri sendiri.
Berarti, kalau aku terus-terusan nyalahin diri, ngga mau maafin kesalahan sendiri, ngomelin diri dengan kata-kata kasar—itu termasuk bentuk "membunuh diri" juga? Kayaknya iya.
Rasulullah juga ngingetin:
إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا
"Sesungguhnya Tuhanmu memiliki hak atasmu, dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu." (HR. Bukhari)
Nah, hak diri ini apa aja? Istirahat cukup, makan enak, ngasih waktu buat healing, ngomong baik-baik sama diri sendiri. Selama ini aku sering ngabaikan hak diri sendiri. Kerja terus, ngga kenal lelah, kalau salah dihajar habis-habisan. Ngga heran kalau akhirnya burnout.
Sekarang aku lagi belajar buat jadi "rumah" buat diri sendiri. Rumah itu tempat berlindung, tempat nyaman, tempat pulang. Kalau di luar lagi keras, rumah harusnya jadi tempat yang hangat. Nah, aku pengen jadi rumah itu buat diriku sendiri. Bukan jadi hakim yang kejam, tapi jadi tempat pulang yang menerima.
Memaafkan Diri, Jalan Menuju Lapang
Ini yang paling susah: memaafkan diri sendiri. Gampang banget ngomongin maafin orang lain, tapi kalau urusan sama diri sendiri? Waduh, tahanan seumur hidup.
Dulu aku pernah bikin kesalahan fatal di kantor. Sampai bikin proyek gagal dan perusahaan rugi. Udah dimaafin sama bos, udah dimaafin sama tim, tapi aku sendiri ngga bisa maafin diriku. Setiap malem, sebelum tidur, aku selalu inget kejadian itu. Ngenangin detailnya. Nyalahin diri lagi dan lagi.
Akibatnya? Tidur ngga nyenyak. Produktivitas turun. Stres naik. Hubungan sama orang lain jadi kacau karena aku bawa-bawa perasaan bersalah kemana-mana.
Sampai suatu hari aku baca ayat ini:
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
"Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu." (QS. Al-Baqarah: 185)
Ayat ini kayak nyamperin aku: "Lo pikir siapa yang paling berhak ngatur hidup lo? Lo atau Allah?"
Kalau Allah aja udah maafin, udah ngasih kemudahan, udah ngga mau nyusahin hamba-Nya, kok aku malah maksa diri buat terus-terusan susah dengan penyesalan?
Dari situ aku belajar: memaafkan diri itu bukan berarti ngeremehin dosa atau kesalahan. Tapi ngakui kalau aku manusia, aku pernah salah, dan aku punya hak buat maju. Aku punya hak buat ngga terus-terusan dipenjara sama masa lalu.
Allah itu Maha Pengampun. Kalau Dia aja bisa ngampunin dosa sebesar apapun, kenapa aku ngga bisa ngampunin kesalahan kecilku sendiri?
Latihan Kecil untuk Hari Ini:
Setiap kali suara hati mulai nyalahin, aku coba jawab dengan lembut: "Aku tau kamu kecewa, tapi aku lagi berusaha. Ngga apa-apa kalau belum sempurna."
Dan kalau inget kesalahan masa lalu, aku coba bilang: "Udah, itu dulu. Sekarang beda. Aku udah belajar, aku udah berubah."
Other Stories
Kehidupan Yang Sebelumnya
Aku menunggu kereta yang akan membawaku pulang. Masih lama sepertinya. Udara dingin yang b ...
Tersesat
Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...
Eksperimen Kuasa
Sepuluh hari di pulau terpencil. Sekelompok mahasiswa-aktivis antikorupsi dibagi secara ac ...
Keluarga Baru
Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...
Deru Suara Kagum
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...
Bumi
Seni mencintai terkadang memang menyenangkan, tetapi tak selamanya berada dalam titik mani ...