Bab 5: Puncak Ketenangan: Sampainya Hati Pada Sang Pemilik Pandangan
Hati yang Sehat, Hidup yang Tenang
Setelah belajar melihat dari berbagai sudut, setelah berusaha memahami orang lain, setelah mencoba menerima diri sendiri, setelah mencari hikmah di balik ujian—semuanya bermuara di satu titik: hati.
Rasulullah bilang:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
"Ingatlah, di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik. Jika ia rusak, maka seluruh tubuh akan rusak. Ingatlah, itulah hati." (HR. Bukhari dan Muslim)
Kalau hati lagi kotor—penuh dendam, iri, sombong, curiga—maka seluruh hidup akan terasa kacau. Makan ngga enak, tidur ngga nyenyak, hubungan sama orang lain berantakan, bahkan ibadah jadi terasa hambar.
Tapi kalau hati lagi bersih—ikhlas, lapang, sabar, syukur—maka semuanya terasa ringan. Masalah datang ya diterima, rejeki datang ya disyukuri, orang jahat ya dimaafin. Hidup jadi adem.
Aku pernah ngerasain bedanya. Pas lagi hati penuh dendam, seminggu aja rasanya kayak sebulan. Tiap hari mikirin cara balas dendam, mikirin kata-kata yang bakal dilontarin kalau ketemu, mikirin gimana caranya biar dia ngerasain sakit yang sama. Hasilnya? Dia ngga tau apa-apa, hidupnya baik-baik aja, sementara aku yang stres sendiri.
Pas aku mutusin buat lepasin dendam itu—ngga gampang emang, butuh perjuangan—rasanya kayak beban puluhan kilo ilang dari pundak. Hidup jadi ringan. Udara jadi seger. Warna-warna jadi lebih cerah. Padahal orangnya masih ada, masih hidup, bahkan masih suka bikin hal yang sama. Tapi responku beda. Karena hatiku beda.
Ma'rifatullah: Melihat Tuhan di Balik Setiap Kejadian
Puncak dari semua latihan memandang ini adalah sampai pada satu tahap: melihat Tuhan di balik setiap kejadian.
Bukan berarti liat Allah secara fisik, ngga. Tapi liat dengan mata hati. Sadar kalau di balik senyuman temen, ada Allah yang gerakin hatinya. Di balik musibah yang datang, ada Allah yang lagi ngajarin sesuatu. Di balik rejeki yang turun, ada Allah yang lagi ngasih ujian. Di balik kesalahan yang aku buat, ada Allah yang lagi nunggu aku balik.
Allah bilang:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)
Ini dia rahasianya. Bukan dengan mengingat masalah, ngga. Bukan dengan mengingat orang yang nyakitin, ngga. Bukan dengan mengingat masa lalu, ngga. Tapi dengan mengingat Allah. Dengan sadar bahwa Allah selalu ada, selalu ngeliat, selalu ngatur yang terbaik.
Seorang sufi bilang: "Awalnya aku memandang Allah dengan mata kepada-Nya, lalu aku memandang Allah dengan mata dari-Nya, lalu aku memandang Allah dengan mata kepada-Nya dan dari-Nya, lalu aku memandang Allah dengan mata-Nya."
Aku ngga paham banget sama kata-kata itu. Tapi intinya, makin dekat seseorang sama Allah, makin banyak dia liat campur tangan Allah dalam hidupnya. Dan makin banyak dia liat campur tangan Allah, makin tenang hatinya. Karena dia tau, semua udah diatur sama Dzat Yang Maha Sempurna.
Setelah belajar melihat dari berbagai sudut, setelah berusaha memahami orang lain, setelah mencoba menerima diri sendiri, setelah mencari hikmah di balik ujian—semuanya bermuara di satu titik: hati.
Rasulullah bilang:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
"Ingatlah, di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik. Jika ia rusak, maka seluruh tubuh akan rusak. Ingatlah, itulah hati." (HR. Bukhari dan Muslim)
Kalau hati lagi kotor—penuh dendam, iri, sombong, curiga—maka seluruh hidup akan terasa kacau. Makan ngga enak, tidur ngga nyenyak, hubungan sama orang lain berantakan, bahkan ibadah jadi terasa hambar.
Tapi kalau hati lagi bersih—ikhlas, lapang, sabar, syukur—maka semuanya terasa ringan. Masalah datang ya diterima, rejeki datang ya disyukuri, orang jahat ya dimaafin. Hidup jadi adem.
Aku pernah ngerasain bedanya. Pas lagi hati penuh dendam, seminggu aja rasanya kayak sebulan. Tiap hari mikirin cara balas dendam, mikirin kata-kata yang bakal dilontarin kalau ketemu, mikirin gimana caranya biar dia ngerasain sakit yang sama. Hasilnya? Dia ngga tau apa-apa, hidupnya baik-baik aja, sementara aku yang stres sendiri.
Pas aku mutusin buat lepasin dendam itu—ngga gampang emang, butuh perjuangan—rasanya kayak beban puluhan kilo ilang dari pundak. Hidup jadi ringan. Udara jadi seger. Warna-warna jadi lebih cerah. Padahal orangnya masih ada, masih hidup, bahkan masih suka bikin hal yang sama. Tapi responku beda. Karena hatiku beda.
Ma'rifatullah: Melihat Tuhan di Balik Setiap Kejadian
Puncak dari semua latihan memandang ini adalah sampai pada satu tahap: melihat Tuhan di balik setiap kejadian.
Bukan berarti liat Allah secara fisik, ngga. Tapi liat dengan mata hati. Sadar kalau di balik senyuman temen, ada Allah yang gerakin hatinya. Di balik musibah yang datang, ada Allah yang lagi ngajarin sesuatu. Di balik rejeki yang turun, ada Allah yang lagi ngasih ujian. Di balik kesalahan yang aku buat, ada Allah yang lagi nunggu aku balik.
Allah bilang:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)
Ini dia rahasianya. Bukan dengan mengingat masalah, ngga. Bukan dengan mengingat orang yang nyakitin, ngga. Bukan dengan mengingat masa lalu, ngga. Tapi dengan mengingat Allah. Dengan sadar bahwa Allah selalu ada, selalu ngeliat, selalu ngatur yang terbaik.
Seorang sufi bilang: "Awalnya aku memandang Allah dengan mata kepada-Nya, lalu aku memandang Allah dengan mata dari-Nya, lalu aku memandang Allah dengan mata kepada-Nya dan dari-Nya, lalu aku memandang Allah dengan mata-Nya."
Aku ngga paham banget sama kata-kata itu. Tapi intinya, makin dekat seseorang sama Allah, makin banyak dia liat campur tangan Allah dalam hidupnya. Dan makin banyak dia liat campur tangan Allah, makin tenang hatinya. Karena dia tau, semua udah diatur sama Dzat Yang Maha Sempurna.
Other Stories
Makna Dibalik Kalimat (never Ending)
Rangkaian huruf yang menjadi kata. Rangkaian kata yang menjadi kalimat. Kalimat yang mungk ...
Cinta Di Ujung Asa
Alya mendapat beasiswa ke Leiden, namun dilema karena harus merawat bayi kembar peninggala ...
Aku Bukan Pilihan
Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...
First Snow At Laiden
Bunda Diftri mendidik Naomi dengan keras demi disiplin renang. Naomi sayang padanya, tapi ...
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara
Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...
Relung
Edna kehilangan suaminya, Nugraha, secara tiba-tiba. Demi ketenangan hati, ia meninggalkan ...