Chromatic Goodbye

Reads
147
Votes
16
Parts
14
Vote
Report
Penulis NarayuPita

Bab 11 - Hangat Yang Tersisa

Soga menekan saklar lampu malam itu. Cahaya neon berubah menjadi cahaya orange kekuningan yang agak redup—menenangkan matanya yang berat dan kering.

Sambil berbaring dan menempelkan punggung tangannya di kening, Soga menatap langit-langit. Dengungan kecil di telinganya meredam bunyi jangkrik, serta gumaman rendah dari televisi di ruangan lain. Kakaknya masih terjaga dan menonton film.

Soga pikir seharusnya Rubi sudah tiba di griya, atau mungkin sedang dalam perjalanan pulang. Namun, belum ada pesan yang masuk. Ketika pikirannya mencoba fokus pada gadisnya, otaknya malah memproses segala hal yang dirasakan fisiknya sekarang.

Lapisan panas dan tebal terbentuk di bawah ubun-ubun, menjadi jejak radioterapi yang telah dijalaninya di rumah sakit sore tadi. Tekanan tumpul mengetuk tengkoraknya dari dalam, bagaikan ritme yang berdenyut tanpa henti. Jari-jarinya berkedut, ingin menggaruk kulit kepalanya yang terbakar ringan dan gatal.

Tidak tahan, ia mengusap bagian yang sensitif itu, dan meringis—aww, aduh, batinnya. Ia berdesis, dan menjauhkan tangannya dari sana. Rasanya perih seperti luka lecet.

Ponselnya bergetar di atas nakas, dan Soga mengambilnya. Gerakannya agak tersentak, memicu nyeri itu menghantam kepalanya lebih keras. Ia mengerang pelan sembari berbaring kembali. Ponselnya hampir terlepas dari tangannya.

Selama beberapa saat, Soga memandangi nama Rubi di layar ponsel. Dadanya naik turun, pelan-pelan mengambil napas. Setelah nyerinya sedikit mereda, ia menjawab panggilan Rubi.

“Halo? Kamu udah di rumah, Bi?”

“Sori baru telepon. Tadi aku mandi dulu. Gimana? Tugas bikin video-nya lancar?"

Kelopak mata Soga naik turun, menyimak suara Rubi yang mengalir melalui udara. Senyum kecil merekah, menyamarkan semburat pucat di wajahnya. Cara gadis itu bicara seakan mengusap tubuhnya yang lemas, dan menghangatkan tangannya yang dingin. Kenyataan bahwa Rubi baik-baik saja mengubah kekhawatirannya menjadi rasa syukur.

”Lancar, Bi,“ jawab Soga pelan. Dia berusaha sebisa mungkin agar terdengar sehat, walaupun hatinya perih karena—lagi-lagi—dia harus berbohong. Dia sama sekali tak mengerjakan tugas apa pun. ”Kamu udah makan 'kan?“

”Yap!" kata Rubi. Ucapannya manis sekali di telinga Soga, membuatnya tersenyum lebih lebar. “Aku tadi udah makan di Asmaraloka sama anak-anak band. Makan ini... apa namanya? Euuh... yugon.. eh.. udon.. eh.. bukan. Gyudon! Iya, gyudon! Enak banget itu. Gratis lagi, khusus dibuatin sama Egi. Kamu tahu enggak gyudon itu apa?”

“Apa coba?” Soga sedikit menggoda, pura-pura tidak tahu.

“Gyudon itu masakan Jepang. Dibikin dari daging sapi yang diiris-iris. Disajiin pake nasi di mangkok. Kayak semur daging tapi enggak ada kuahnya, dan rasanya beda," jelas Rubi. Suaranya berdering dipenuhi kebanggaan sekaligus kepolosan. ”Enak itu, Ga. Kamu mesti coba.“

Soga cekikikan mendengar penjelasan Rubi. Dia tahu, bagi Rubi, makan daging adalah hal istimewa. Gadis itu pernah bercerita sedikit tentang kehidupannya di panti asuhan. Mereka makan daging hanya tiga kali dalam setahun, atau kala ada sukarelawan yang membuka dapur khusus anak-anak yatim piatu.

”Aku udah pernah makan gyudon berkali-kali, Bi,“ aku Soga.

”Ah, masa'?“

”Iya. Kapan-kapan aku ajak kamu ke restoran Jepang yang ada di kota.“ Tiba-tiba dia menyesal telah mengatakan itu. Dia baru saja menyadari bahwa dia takut—takut tak bisa menghabiskan makanannya; takut tiba-tiba memuntahkannya di depan Rubi. ”Di sana porsinya lebih gede, jadi bisa muasin naga yang ada di perut kamu.“

”Asyik. Tapi... di perutku enggak ada naga.“

”Terus apa dong?"

"Ulet ijo.“

Soga cekikikan lagi. Ia melirik ke sesuatu yang berat dan tak terlihat, membebani kakinya. Gerakan kecil menghilangkan sensasi itu namun hanya sesaat.

”Ulet ijo yang suka ada di pohon sirsak itu. Yang gendut-gendut. Tapi banyak," lanjut Rubi di tengah tawa Soga.

Tawa mereka mereda, meresap ke dalam kesunyian. Bunyi-bunyi televisi masih terdengar dari luar kamar Soga. Tidak ada hal lain selain mereka yang menikmati kebersamaan walaupun hanya di telepon.

Dari seberang, Rubi berdeham. Suaranya melembut. “Kamu sendiri udah makan, Ga?"

”Udah. Aku makan capcay kuah buatan Ibu tadi,“ jawab Soga. Aroma samar logam berhembus keluar dari mulutnya. "Tumben banget Ibu bikin capcay." Jakunnya naik turun, mengingat kembali betapa tersiksanya dia saat makan. Semua makanan yang dia kunyah berubah rasa menjadi seperti besi.

Tanpa sadar dia mengusap perutnya yang terasa penuh. Asamnya naik ke tenggorokkan, membentuk gumpalan yang sudah ada di sana sejak makan malam. Dia telah mencoba beberapa cara untuk menyingkirkan itu, seperti meneguk air banyak-banyak, atau sengaja batuk—tak ada yang berhasil.

“Duh, pasti enak banget ya. Aku jadi kangen masak-masak sama tante Wulan di rumah kamu. Kayak waktu kita ngeliwet dulu,” sahut Rubi, riang.

“Iya. Tapi, Ibu lagi sibuk banget sekarang. Banyak klien yang datang ke butiknya,” gumam Soga.

Hening.

“Soal kemarin...” Soga dan Rubi tanpa sengaja mengucapkan kalimat yang sama berbarengan. Mereka diam lagi.

Soga menarik napas dan ucapnya, “Gimana, Bi?”

Soal pertanyaan kemarin yang kamu sampein ke aku itu...” Rubi berhenti sejenak, “apa kamu memang mau denger penjelasan aku nanti?”

Mata Soga melebar. “Berarti bener 'kan kamu memang mengalami sesuatu? Lihat sesuatu?”

Rubi berpikir.

“Kalau kamu mau cerita, cerita aja, Bi,” lanjut Soga, “atau... kamu mau ceritanya nanti aja pas kita ketemu hari Minggu?”

“Iya. Mendingan begitu aja. Lebih enak kita ngobrol langsung biar kamu juga paham. Jam berapa kita bisa ketemu?”

Soga memandang ke jam dinding yang kini menunjukkan pukul 22:30. Dia memindah ponselnya ke telinga yang satunya dan berkata, “Jam satu atau dua siang, gimana? Soalnya aku mesti ke gereja dulu.” Sebenarnya, dia menghindari makan siang bersama Rubi. Tidak ingin Rubi melihat betapa buruknya selera makannya sekarang. “Apa perlu aku jemput?” tanyanya, menegang menunggu tanggapan Rubi.

Oh, oke. Umm.. kayaknya enggak perlu kamu jemput deh. Aku kan udah tahu rumah kamu." Rubi tertawa kecil.

”Yah,“ hela Soga, antara kecewa dan lega, ”siapa tahu kamu ujug-ujug lupa, terus masuk ke rumah orang. Lupa gara-gara... ahem...“ Soga nyengir, ”gara-gara mikirin aku seharian.“

Dih! Siapa juga yang mikirin kamu terus-terusan? Ge-er...“

”Ciee.. Enggak mau ngaku!“ sela Soga, membayangkan pipi tembam Rubi memerah.

Keduanya tertawa.

Masih sambil mengobrol di telepon dan membicarakan banyak hal, Soga meraih tabletnya dari nakas. Dia mengusap layarnya, dan membuka Galeri.

Cahaya layar tablet menerpa wajah Soga yang berbinar. Ia memandangi lukisan digital yang sudah dibuatnya: dirinya sendiri sedang duduk di rerumputan, dan Rubi yang mengayun pada ayunan kayu di bawah beringin. Di hadapan mereka, langit terbelah dalam warna biru muda, orange dan kuning—melingkupi matahari yang mencair putih. Sementara itu, gedung-gedung kampus dan perkotaan menggelap di kejauhan.

Aku mau bikin lukisan ini pake cat akrilik, pikir Soga, masih mendengarkan celotehan Rubi di ponsel. Gadis itu sedang menceritakan kejadian konyol yang dia alami di kampus hari ini.

Suara Rubi membuainya, memberatkan pandangannya. Di balik kabut kelabu, Soga melihat lukisan digitalnya seolah berubah menjadi debu-debu yang beterbangan, larut bersama kata-kata Rubi. Tabletnya terlepas dari genggamannya, meluncur ke samping.

Kadang-kadang dia mendengar Rubi mengatakan sesuatu yang lain— ”Kamu enggak sakit, Ga," atau “Penyakit kamu memang enggak ada sejak awal.” Hingga semuanya menjadi kabur.

"Kamu udah bobo, ya? Halo?" panggil Rubi.

Tak ada tanggapan, kecuali dengkuran halus Soga.

Rubi terkekeh lembut. “Oke, deh. Met bobo, ya.”

Klik!




Other Stories
The Truth

Seth Barker, jurnalis pemenang penghargaan, dimanfaatkan CEO Kathy untuk menghadapi perebu ...

Liburan Ke Rumah Nenek

Affandi, remaja gaul berusia 18 tahun tak dapat berlibur ke lain tempat seperti biasa. Lib ...

Hafidz Cerdik

Jarum jam menunjuk di angka 4 kurang beberapa menit ketika Adnan terbangun dari tidurnya ...

Bad Close Friend

Denta, siswa SMA 91 Cirebon yang urakan dan suka tawuran, tak pernah merasa cocok berteman ...

Bukan Cinta Sempurna

Pesona kepintarannya terpancar dengan jelas, rambut sebahunya yang biasanya dikucir ekor ...

After Meet You

Sebagai seorang penembak jitu tak bersertifikat, kapabilitas dan kredibilitas Daniel Samal ...

Download Titik & Koma