Chromatic Goodbye

Reads
147
Votes
16
Parts
13
Vote
Report
Penulis NarayuPita

Bab 2 - 5 Dibagi 0

Jatuh cinta pada pandangan pertama.

Tersindir, Soga menampik ide itu. Namun, dia bisa melihat sebagian dirinya di sudut yang jauh, mabuk seperti "orang konyol", tenggelam oleh manisnya sosok Rubi.

Walaupun terpisah beberapa gedung fakultas, "orang konyol" itu selalu mendorongnya supaya sengaja bertemu dengan Rubi, atau mengirim pesan-pesan singkat yang berisi obrolan receh.

Sesekali mereka bertemu di perpustakaan, mengerjakan tugas dan membaca buku sampai Rubi tertidur di meja. Soga diam-diam suka memotretnya, mengubahnya menjadi sketsa hitam putih di rumah, dan memamerkannya di media sosial.

Kadang-kadang, mereka berduaan di taman kampus. Soga akan meminta Rubi menyanyikan satu dua lagu. Soga tidak pernah memuji suara emasnya secara langsung, selain bilang, “Kamu nyanyi kayak burung gereja.” Dan dia menikmati bagaimana gadis itu menggerutu, lalu cekikikan mendengar candaannya.

Di lain waktu, mereka bertemu di kantin. Soga sering mencomot makanan Rubi, hanya demi melihat mulutnya cemberut, dan tangan kecilnya menarik-narik jaketnya. Kepala Soga mendongak penuh kemenangan, dengan bala-bala terjepit di antara bibirnya. Ia terkekeh, merasakan jari-jari Rubi meraba dagunya, berusaha mengambil kembali gorengan yang sudah digigit.

Di akhir pekan, mereka menghabiskan waktu di bioskop, menonton anime, film Indonesia, atau blockbuster Hollywood. Sambil menunggu pintu studio dibuka, mereka berlama-lama di konter camilan, bertukar lelucon, atau berhenti sejenak di depan papan LED yang menyala, mengomentari film-film mendatang.

Begitu pengumuman pintu dibuka, Rubi melompat ke punggung Soga, membuatnya terhuyung ke depan sambil cekikikan. Soga tak pernah protes. Dengan lengan yang menopang berat badan Rubi, ia berlari kecil dengan riang, menggendongnya menuju studio.

Hingga suatu hari, Soga membaca puisi yang ditulis Rubi di majalah kampus. Selama ini, ia tidak pernah terlalu tertarik pada puisi atau semacamnya, tapi karena yang menulisnya Rubi, ia memutuskan membacanya, sembari mencari tahu apa sebenarnya yang ada di kepala Rubi.

“Paling-paling puisi cinta.” Seringai kecil terbentuk di bibirnya, sedikit mencemooh. Sedetik kemudian, keningnya mengerut begitu dia membaca judulnya. “5 Dibagi 0,” gumamnya. “Apa ini? Puisi tentang matematika?”


Aku melangkah ke papan tulis hitam
sementara lantainya trampolin
dan setiap kali aku terpental dan jatuh
tawa tawa tak berwajah menggema di langit-langit

Angka lima berlari, perutnya menggembung,
terserap masuk ke mulut angka nol yang sombong,
yang terkekeh seperti pintu yang berderit
Aku juga tertawa—
tertawa sampai air mataku mengalir,
tapi air mata itu kembali lagi,
memasuki mulut dan hidungku

Pacarku muncul,
bibirnya bergelombang, wajahnya bengkok,
dia berbicara terbalik,
suaranya terdengar seperti organ Hammond
Aku ingin marah,
tapi aku malah terkikik,
karena dunia juga terbahak-bahak
bahkan bayanganku berguling-guling memegangi perutnya.

Di tengah kebisingan itu
aku mendengar bisikan—
tenang, dingin, berulang-ulang
"Kamu cuma perempuan nakal yang melanggar aturan...“

Dan tiba-tiba, suara-suara itu membeku,
warna-warna memudar, hingga aku sendirian dalam kegelapan
masih tertawa, masih menangis
masih terjebak dalam perhitungan yang tiada akhir:
5 dibagi 0.


Selama beberapa saat, Soga terpaku pada halaman itu, membaca ulang bait-baitnya. Ini terasa seperti mimpi demam, dia membatin, mencoba membangun citra-citra aneh dalam benaknya. Dia menebak-nebak, mengurai makna di baliknya. Sekilas, diamengangkat kepalanya ketika beberapa mahasiswa lewat di depannya, dan kembali menunduk ke majalah.

”Mustahil banget dia bikin puisi kayak gini," bisik Soga, tidak percaya sekaligus kagum. “Tapi, enggak mungkin juga dia nyontek karya orang. Ini mah dia kebanyakan nonton film thriller.” Tanpa sadar suaranya mengeras.

“Film thriller apaan, Ga?” suara Rubi mengejutkan Soga, majalahnya hampir terlepas dari jemarinya.

Soga mendongak. Matanya melebar, melihat Rubi sudah duduk di sampingnya. Tangan kanannya menggenggam es loli yang meninggalkan jejak kemerahan di bibirnya yang mengkilap basah, sedangkan tangannya yang lain memegang sebuah novel tebal, dan di punggungnya menggantung ransel ungu. Angin dari taman kampus berhembus, menyapu rambut Rubi. Tangannya yang memegang novel menyingkirkan helaian rambut yang menempel di sekitar mulutnya.

Kelihatannya repot sekali, pikir Soga, setengah meringis setengah nyengir. Dia ingin menyuruhnya memasukkan novelnya ke dalam tas, supaya dia nyaman menikmati esnya, tapi tidak. Alih-alih, Soga mengamati wajah Rubi, yang ceria dan kekanakkan, yang kontras dengan isi puisinya.

“Aku baru aja baca puisi buatan kamu,” kata Soga akhirnya, menunjukkan halaman pada majalah itu. “Ini.. apa maksudnya sih?”

Sambil lanjut mengemut es lolinya, Rubi menoleh ke halaman yang diperlihatkan Soga. Rona merah jambu mewarnai pipinya, senyumannya memperdalam cekungan kecil di pipinya.

“Oh, itu,” tatapan Rubi beralih ke Soga. “Itu puisi tentang aku yang bingung. Bingung denger penjelasan si Ari—mahasiswa MIPA—tentang kenapa sebuah bilangan yang dibagi nol itu jawabannya tidak terdefinisi. Dia ngomong panjang lebar banget. Padahal 'kan tinggal bilang aja, kita enggak bisa bagi-bagiin kue lapis legit kalau enggak ada orang di sekitar. Iya 'kan?” Rubi menggigit esnya.

“Hmm,” gumam Soga, mengangguk pelan. “Oke juga ide kamu. Mengubah kebingungan jadi puisi yang absurd.” Lidahnya berdecak. “Aku cuma heran, kenapa kamu tiba-tiba tanya soal beginian sama si Ari? Kamu 'kan enggak suka matematika.”

“Bukan aku yang tanya,” koreksi Rubi, ”melainkan Amelia yang tanya, dan sore itu aku memang lagi sama Amelia di lobi, jadi otomatis aku juga dengerin. Tapi,“ dia mendekat ke Soga, ”puisinya bagus 'kan?“

Soga membaca judulnya lagi, mengangguk dan mengernyit, bertingkah seolah dia dosen sastra. ”Yah,“ ujarnya, mengusap dagu, ”kalau aku baca ulang, ini bisa jadi mantra pemanggil setan ketindihan.“

”Setan ketindihan?“ Rubi melotot. Kesal, ia melempar stik es lolinya yang sudah bersih ke arah Soga, dan.. meleset. Stik itu meluncur menyedihkan, masuk ke tong sampah. ”Maksud kamu apa sih, Ga? Setan aja enggak sudi nindihin kamu, tahu?“

Suara Rubi menarik perhatian orang lain yang lewat.

Masih sambil cengengesan, Soga menjulurkan tangannya ke depan, mau menutup mulut Rubi, tapi Rubi menangkisnya. Mereka perang-perangan tangan. Detik itu juga, ingatan tentang pertemuan pertama mereka kembali menyeruak.

Tidak sedikit orang merasa geli dan risih menyaksikan perilaku Soga dan Rubi. Teman-teman mereka mengira keduanya berpacaran. Tanpa basa-basi, Rubi akan selalu menyangkal prasangka itu, sedangkan Soga tidak memberikan tanggapan apa-apa.

Dan mendengar pengakuan Rubi bahwa mereka hanya berteman, kekecewaan terbentuk di balik dada Soga. Dia tahu dia tidak punya alasan yang masuk akal untuk merasakan itu. Di sisi lain, ia juga seakan menyadari sekaligus menyimpulkan, bahwa itu akan menjadi jawaban Rubi andai suatu hari nanti dia menyatakan perasaannya.

“Aku sayang kamu.”

Kalimat yang sudah berkali-kali berbisik di benaknya lagi-lagi menumpuk di ujung lidah. Tangannya masih terkunci di tangan Rubi, merasakan jantungnya berdetak semakin cepat. Tawa dan olok-olok mereka yang bersahutan menenggelamkan keberaniannya.



Other Stories
Dante Fair Tale

Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...

Sebelum Ya

Hidup adalah proses menuju pencapaian, seperti alif menuju ya. Kesalahan wajar terjadi, na ...

Hidup Sebatang Rokok

Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...

2r

Fajri tahu Ryan menukar bayi dan berniat membongkar, tapi Ryan mengungkap Fajri penyebab k ...

Bungkusan Rindu

Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...

Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?

Asdar terpaksa menjalani perjalanan liburan akhir tahun ke kampung halaman sang nenek sela ...

Download Titik & Koma